Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Pergi ke Butik


__ADS_3

"Yakin enggak apa-apa ?" Tanyanya lagi.


"Iya." Jawabku.


"Makan dulu yuk." Ajaknya.


"Ya." Ucapku seraya beranjak berdiri.


Sesampai di dapur, aku lalu mengambilkan 2 piring untuknya.


"Nasinya seberapa mas ?" Tanyaku.


"Dikit saja ay." Ucapnya.


"Segini cukup ?" Tanyaku.


"Ya." Ucapnya.


...Selesai itu, kami mengambil lauk sendiri-sendiri. Setelah selesai, kami istirahat sejenak di depan tv. Aku yang masih asik liat tv, tidak sadar di foto olehnya. Tepat saat aku tersenyum, setelah berhasil mencuri gambarku dia menatapku dengan tatapan teduh dan langsung merebahkan kepalanya di bahuku....


"Kenapa mas ?" Tanyaku lembut.


"Enggak apa-apa, enggak nyangka saja penantianku membuahkan hasil yang manis." Ucapnya lirih.


"Bersyukur mas, dan tetap berdoa walaupun sudah terkabul." Ucapku.


"Insyaa ALLAH." Ucapnya seraya tersenyum.


Setelah istirahat sebentar, dia lalu mengajakku ke butik. Tak lupa juga kami berpamitan dengan keluarganya.


"Hati-hati." Ucap mereka semua.


"Iya." Jawab kami bersama.


^^^Sepanjang perjalanan, dia tersenyum menatapku lewat kaca spion motornya. Awalnya aku belum tahu, karena asik melihat pepohonan sekitar, namun setelah sadar aku membalas menatapnya. ^^^


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Cantik." Ucapnya seraya tersenyum.


"Nyetir yang benar, nanti kita bisa jatuh." Ucapku tanpa membalas ucapannya.


"Iya ay, maaf." Ucapnya seraya menatap jalan raya.


Tak terasa kami sudah sampai di depan butik, dia lalu menggenggam tanganku dan mengajakku masuk.


"Pagi mas dan mbak, ada yang bisa kami bantu ?" Tanya karyawan butik itu dengan ramah.


"Pagi. Saya mau ketemu Alda ada enggak ya mbak ?" Tanya calon suamiku langsung to the poin.


"Ada mas, mari saya antar." Ucapnya.


"Ya." Ucapnya seraya menggenggam tanganku.


Sesampai di tempat kerjanya, kami pun langsung di persilahkan masuk. Kami pun langsung masuk.


"Cie yang bentar lagi resmi." Ucapnya seraya tertawa.


"Langsung saja kenapa ?" Tanya calon suamiku.


"Iya." Ucapnya seraya mengukur tubuh kami, untuk buat baju pernikahan.


"Kalau bisa yang tertutup ya Da." Ucapnya.


"Iya bawel." Ucap Alda.


Selesai mengukur, dan memilih modelnya dan deal barulah calon suamiku memperkenalkan dia padaku.


"Ay, ini teman kampusku dulu. Cuma beda jurusan. Aku kenal dengannya juga karena dia pacar temanku." Ucapnya jujur.


"Makanya jangan kaget ya, kalau aku bisa akrab sama calon kamu." Ucap Alda.

__ADS_1


"Iya mbak." Ucapku.


"Sekarang giliran aku tanya sama kamu, apa ini cewek yang kamu taksir dari SMP dulu Gung ?" Tanyanya.


"Iya." Ucapnya seraya tersenyum dan menatapku.


Mendengar hal itu, netraku membola. Ya ALLAH ya Qarim selama itu dia memendamnya ? Tanyaku dalam hati.


"Setia juga ya kamu." Ucap Alda seraya tertawa.


"Insyaa ALLAH akan begitu terus." Ucapnya seraya menatapku.


"Aamiin." Ucapnya.


Selesai mengobrol, kami lalu pamit pulang. Dia menatapku dengan tatapan teduh.


"Hai, ayo." Ajaknya, menyadarkan aku dari lamunanku.


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Makasih sudah mencintaiku selama itu." Ucapku tulus.


"Sama-sama sayang." Ucapnya seraya menjalankan motornya.


Sepanjang perjalanan pikiranku dan hatiku tak henti-hentinya bersyukur, karena di takdirkan kembali bersamanya.


"Kita berhenti di sini dulu ya." Ucapnya.


"Iya." Ucapku.


"Mikirin apa ?" Tanyanya seraya tersenyum.


"Mikirin esok." Ucapku.


"Esok ? Memangnya ada apa dengan esok ?" Tanyanya.


"Aku takut disaat kamu tahu keburukan aku, kamu akan bosan dan lalu meninggalkan." Ucapku lirih.


"Aamiin." Ucapku lirih.


Dia lalu memandangi aku, dan tak lama kami melanjutkan perjalanan membeli sepatu dan makan siang. Sesampai di toko sepatu, kami berhenti.


"Pilihlah." Ucapnya.


"Aku bingung." Ucapku.


"Pilihlah yang menurut kamu bagus." Ucapnya.


"Baiklah." Ucapku seraya menggenggam tangannya.


Selesai memilih dan membayar, kami keluar bersama. Dan berhenti di warung makan.


"Mas, pesan mie ayam 1 dan bakso 1 ya. Minumnya es jeruk dan teh hangat." Ucap mas Agung.


"Baik mas." Ucapnya seraya berlalu.


"Masih mikirin itu lagi ?" Tanyanya seraya menggenggam tanganku.


"Enggak." Ucapku seraya melihat sekitar.


...Tanpa sengaja netraku menatap seseorang yang sedang menatap mas Agung. Aku lalu mengalihkan pandanganku, menatap calon suamiku. Kenapa dia menatap mas Agung begitu tajam ? Tanyaku lirih....


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Ada yang menatap kamu." Ucapku lirih. Membuat dia langsung menatap perempuan itu.


"Sari." Ucapnya.


"Siapa ?" Tanyaku.


"Dia Sari, mantan tunanganku dulu." Ucapnya jujur.

__ADS_1


"Kenapa dia menatap kamu sampai begitu ?" Tanyaku.


"Karena dulu aku memilih mundur." Ucapnya seraya menatapku.


"Kenapa mundur ?" Tanyaku.


"Dia-." Ucapnya terhenti karena Sari dan pesanan kami sudah diantar.


"Makan dulu." Ucapku.


15 menit, kami sudah selesai makan. Dia lalu menceritakan kejadian itu kepadaku. Sementara Sari, sudah pergi tepat makanan kami sampai di meja.


"Dulu di usiaku ke 20 tahun, aku melamar dia. Keluarga dia setuju, begitupun dengan keluargaku. Selesai melamar, jelang akad nikah aku dapat kabar dari pak Roni." Ucapnya.


"Enggak perlu dilanjutkan kalau buat hatimu nanti sakit." Ucapku lirih.


Namun dia menggelengkan kepala, dan meneruskan kembali bercerita.


^^^"Dia tidur di hotel bersama lelaki lain. Aku awalnya tidak percaya, mengingat dia gadis polos dan lugu. Namun saat aku di perlihatkan fotonya, aku langsung ke hotel. Saat itu juga, aku tahu seperti apa dirinya." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.^^^


"Bersyukur mas, ALLAH menyelamatkan kamu dari orang yang salah." Ucapku seraya tersenyum.


"Iya ay." Ucapnya.


"Pulang yuk." Ajakku.


"Ayuk." Ucapnya.


Sore harinya, dia mengantarku pulang. Tak lupa juga dia menjelaskan semua kepada keluargaku. Alhamdulillah keluarga percaya. Dan dia main sebentar. Tepat malam hari, barulah dia pamit pulang.


Pagi harinya, aku melakukan aktivitas yang sama, begitu pula dengan dirinya.


Siang harinya, aku yang tengah tertidur dibangunkan oleh ibuku.


"Calon suami sudah datang tu." Ucap ibuku.


"Aku lalu bangun, dan langsung cuci muka. Sudah lama mas ?" Tanyaku.


"Belum kok. Bangun tidur ya ?" Tanyanya seraya tersenyum.


"Iya, capek banget." Ucapku.


"Yuk siap-siap." Ucapnya.


"Kemana ?" Tanyaku.


"Ke keluarga besar aku. Minta doanya restu." Ucapnya.


"Kamu sudah pulang ?" Tanyaku.


"Belum." Ucapnya.


"Terus ?" Tanyaku.


"Aku ajak kamu ke kantorku dulu." Ucapnya.


...Aku menurut dan langsung ganti baju tak lupa juga berhias. Setelah selesai, barulah aku keluar. Kami pun pamit kepada keluargaku. Sesampai di kantor, aku dibawa ke meja kerjanya. ...


^^^Tak terasa sore sudah tiba, kami semua pun pulang. Di perjalanan ke rumah budhenya, mas Agung tak sengaja bertemu dengan teman sekelasnya dulu. Dan berbincang sebentar. ^^^


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Emang bajuku kelihatan terbuka ya ?" Tanyaku.


Spontan dia menatapku dari atas sampai bawah, dan menjawab.


"Enggak." Ucapnya jujur.


"Kok teman kamu tadi, nglihatin dadaku terus ?" Tanyaku lirih.


"Dia memang begitu." Ucapnya langsung menarik tanganku.

__ADS_1


__ADS_2