
Paginya, kami pun nampak sedang sibuk bersihkan rumah. Sesampai di gudang, aku teriak keras. Karena ada ular besar di dekat koper mas Agung.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Itu ada ular besar." Ucapku seraya bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Astagfirullah, besar banget ya." Ucapnya.
...Suamiku lalu menutup pintu dan minta tolong tetangga dekat untuk membawa keluar itu dari gudang. Kira-kira 9 orang, yang di panggil mas Agung. Sementara aku memilih menunggu di luar. ...
"Ada apa mbak ?" Tanya ibu itu.
"Ada ular bu." Ucapku lirih.
"Ealah, ada ular to. Tapi masuknya darimana ?" Tanyanya.
"Enggak tahu bu." Ucapku seraya tersenyum.
"Ya gimana enggak kemasukan ular, awal di bangun saja jarang di bersihkan." Ucapnya seraya menatapku.
Aku yang ditatap demikian, langsung tersenyum.
"Makanya kalau bersihin rumah yang rajin." Ucapnya seraya berlalu.
"Sudah mbak, diemin saja. dia memang gitu orangnya." Ucap ibu-ibu itu.
"Iya bu." Ucapku seraya tersenyum.
^^^Tak lama para bapak-bapak yang diminta tolong suamiku pun membawa ular pyton itu keluar. Sementara mas Agung nampak pucat, aku pun langsung pamit masuk dan mendekati suamiku. ^^^
"Kamu kenapa kok pucat banget ?" Tanyaku lembut.
"Ularnya sudah bertelur di sana. Untung saja bapak-bapak tadi cekatan.
"Sudah berapa lama tempat ini tidak kamu bersihkan ?" Tanyaku lembut.
"Baru 3 bulan." Ucapnya.
"Hmm, pantes." Ucapku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Pantes, Ularnya sudah bertelur." Ucapku.
"Kamu kapan ?" Tanyanya.
"Maksudnya ?" Tanyaku balik.
"Hamilnya." Ucapnya seraya tersenyum.
"Udah ah, bersih-bersih dulu." Ucapku mengalihkan obrolan.
Dia hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Kenapa aku secinta ini sama kamu ? Tanyanya lirih.
Tepat siang hari, acara bersih-bersih selesai. Tepat jam 1 siang, kami mandi dan menjalankan kewajiban. Barulah makan siang, sambil nonton tv.
...Selesai makan, kami duduk di teras. Sementara suamiku sedang asik dengan gawainya, aku melihat bunga-bunga di sekitar rumah yang cantik. Saat sedang asik melihat bunga, terlihat seorang laki-laki menatapku dengan tatapan mata penuh nafsu. Aku lalu lari masuk ke dalam. Melihatku lari, mas Agung langsung menyusulku dan bertanya....
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Ada pria mata keranjang." Ucapku seraya bergidik ngeri.
"Hmm, sabar ay." Ucapnya seraya memelukku.
"Iya mas." Ucapku.
"Ya sudah lebih baik kamu istirahat saja di sini. Aku tutup pintu dulu." Ucapnya seraya beranjak.
"Iya." Ucapku seraya tersenyum.
Sepeninggal mas Agung, aku lalu main gawaiku sebentar. Ya semenjak menikah, gawaiku jarang ku buka.
Masyaallah sebanyak ini." Ucapku seraya tersenyum.
Ada 25 panggilan tak terjawab dan 150 pesan belum dibaca. Saat asik membaca, suamiku datang. Dengan wajah menahan amarah. Melihat itu, aku langsung menaruh gawaiku di nakas.
"Kenapa ?" Tanyaku lembut.
"Kita batal ke Bandung." Ucapnya seraya menatapku.
"Alhamdulillah." Ucapku seraya tersenyum.
"Kok senang ?" Tanyanya.
__ADS_1
"Iyalah, kan batal." Ucapku seraya mendinginkan suasana hatinya.
"Kok kamu seneng ?" Tanyanya seraya menatapku.
"Ya senanglah mas, kan enggak perlu capek-capek pindah." Ucapku seraya mengerlingkan mata.
"Haha, kamu genit sekarang." Ucapnya seraya tertawa.
"Kan yang ngajarin kamu." Ucapku seraya tersenyum.
"Hehe." Tawanya.
"Tidur dulu yuk." Ajakku.
"Ayuk." Ucapnya.
Kami pun memilih tidur siang, dan tepat jam 2 terdengar pintu di ketuk. Aku pun lalu membangunkan mas Agung.
"Mas, ada tamu tu." Ucapku lirih.
"Hmm, iya." Ucapnya seraya berjalan keluar.
"Waalaikumsalam." Ucapnya seraya teriak.
"Kemana saja sih kamu ?" Tanya seseorang itu.
Mendengar suara perempuan, aku langsung keluar. Dan melihat di ruang tamu, betapa terkejutnya aku melihat suamiku terdiam saat di sentuh wanita lain.
"Mas." Ucapku seraya teriak.
"Astagfirullah, ay ini enggak seperti yang kamu lihat." Ucapnya seraya mengejarku.
"Tega kamu mas." Ucapku dengan terisak.
"Ay dengerin aku dulu." Ucapnya dengan nada keras. Membuat aku terdiam.
"Ini enggak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelasin. Ayo ikut aku keluar." Ucapnya seraya menggenggam tanganku.
Sesampai di luar, perempuan itu tersenyum ke arahku. Lalu menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kalian berdua, maaf sudah buat kalian bertengkar dan salah paham. Aku kesini di suruh pak Roni, untuk menemui suamimu. Menandatangani surat batal tugas di luar kota. Ucapnya
Namun, saat menyerahkan formulir itu, kakiku kepleset dan suamimu menolong aku. Kami tidak melakukan apapun lho ya." Ucapnya seraya tertawa."
Sepeninggal Vera, mas Agung langsung menatapku.
"Gimana ?" Tanyanya seraya merangkul pinggangku dan mencium pipiku.
"Ish, malu kali dilihat orang." Ucapku seraya menepuk tangannya pelan.
"Enggak ada." Ucapnya seraya tersenyum.
"Tau ah." Ucapku seraya masuk rumah.
Dia hanya tertawa tipis, saat akan masuk mas Agung melihat laki-laki bersembunyi di belakang dinding.
Aku harus bilang pak Rt ni, enggak tenang ninggalin istriku sendiri. Ucapnya dalam hati.
"Mas." Panggilku lembut.
"Iya." Jawab suamiku.
"Aku pengen sup buah." Ucapku.
"Ya sudah, yuk beli." Ucapnya.
"Ayuk." Ucapku.
"Pegangan." Ucapnya seraya matanya melirik ke arah rumah depan. Membuat bapak itu, tak bisa berkutik.
"Sudah ?" Tanyanya.
"Sudah." Ucapku seraya memeluknya.
Sepanjang perjalanan suamiku melirikku terus. Hingga sesampai di tempat penjual sop buah, kami berhenti.
"Pak beli sop buah." Ucapnya.
"Berapa Gung ?" Tanyanya.
"2 bungkus saja pak." Ucapnya.
"Ok." Ucap bapak itu.
__ADS_1
Tak berselang lama, pesanan pun jadi, mas Agung langsung membayar dan langsung pulang. Namun sebelum pulang, dia mampir ke apotek dan mampir juga ke toko cctv.
"Mau ngapain ?" Tanyaku.
"Beli cctv." Ucapnya.
"Jangan mas." Ucapku lirih.
"Kenapa ?" Tanyanya lembut.
"Kita mesti hemat." Ucapku.
Mendengar itu mas Agung pun langsung putar arah. Dan sesampai di rumah, kami langsung masuk. Astagfirullah dia masih disana? Tanyanya dalam hati.
"Mas." Panggilku.
"Ya." Ucapnya seraya duduk di teras depan rumah.
"Alhamdulillah." Ucapku seraya tersenyum.
"Mau lagi ?" Tanyanya.
"Sudah kenyang." Ucapku.
"Ay, kamu ikut aku ya." Ucapnya.
"Iya mas." Ucapku.
Setelah selesai, aku lalu membawa mangkok itu ke dalam dan mencucinya. Selesai mencuci, aku lalu kembali lagi keluar.
"Mas, sholat dulu yuk." Ajakku.
"Iya." Jawab suamiku.
Selesai sholat dan mengaji, aku kami lalu ke depan. Aku yang asik liat tv, sementara mas Agung asik balas pesan.
"Mas ngantuk." Ucapku lirih.
"Jangan tidur pas sore." Ucapnya.
"Iya, kamunya jangan main hp terus dong." Ucapku manja.
"Iya. Ayuk jalan-jalan." Ucapnya.
"Enggak mau." Ucapku lirih.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Takut, sama bapak mata keranjang." Ucapku.
"Hmm, terus kemana ?" Tanyanya.
"Disini saja." Ucapku seraya menyandarkan kepalaku di lengan tangannya.
"Ya sudah, tapi enggak boleh tidur." Ucapnya.
"Insyaa ALLAH." Ucapku.
Saat sudah mulai, aku lalu melihat dengan antusias. Dan terkadang tanpa sadar aku mencubit lengannya.
Membuat dia meringis kesakitan.
"Sayang sakit." Ucapnya.
"Maaf, habisnya itu cowoknya enggak peka." Ucapku gemas.
"Hmm." Ucapnya seraya merebahkan tubuhku di pahanya.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Yang enggak peka siapa yang dicubit siapa ?" Tanyanya seraya tersenyum.
"Maaf." Ucapku seraya tersenyum.
Saat akan terbangun, tiba-tiba aku merasa mual. Aku lalu berlari ke dapur dan muntah di sana.
"Sayang kamu kenapa ?" Tanyanya lembut.
"Enggak tahu mas, mual banget." Ucapku.
"Kita ke bidan yuk." Ajaknya.
"Enggak perlu mas, mungkin masuk angin." Ucapku seraya masuk ke kamar.
__ADS_1