
"Oh sudah enggak mau tidur sekamar lagi ?" Tanyanya dengan menatapku yang melipat mukena.
Aku hanya terdiam, dan enggan menjawab. Lalu aku pindah ke kamar kami.
"Jawab kenapa diam ?" Tanyanya.
"Aku takut kamu marah." Ucapku datar.
"Alesan, bilang aja mau ketemu Sitok." Ucapnya seraya ke kamar mandi.
Tak sengaja emak yang ingin mampir kemari, langsung mengurungkan niatnya. Sabar ya nduk, Agung memang begitu. Ucapnya lirih.
Sepeninggal emak, aku berdiri di pintu kamar mandi. Tak lama dia membuka pintu dan keluar.
"Mas, aku izin beli sayur untuk besok." Ucapku lembut.
Dia menatapku lalu membawaku masuk ke dalam.
"Kamu mulai sekarang enggak boleh keluar dan enggak boleh kemana-mana." Ucap suamiku.
"Baiklah." Ucapku lirih seraya merebahkan tubuhku di kasur.
Dia menatapku tak percaya, dengan jawabanku.
"Oh aku lupa kamu anak rumahan. Tapi sayang, aku malah nikah sama kamu." Ucapnya.
Mendengar hal itu, aku tidak menjawab dan langsung memakaikan baju untuknya. Namun dia langsung menolaknya.
"Enggak sudi aku dipegang kamu." Ucapnya menyakitkan hatiku, namun masih bisa ku tahan.
Aku terdiam duduk di kasur, tak terasa bulir-bulir air mataku jatuh. Ya ALLAH, apa yang ku takutkan kini terjadi. Hamba pasrah kepadamu ya ALLAH. Aamiin." Ucapku dalam hati.
...Dia langsung mengunciku di dalam rumah. Bahkan semua kunci pintu, dia bawa. Lelah menangis, aku tertidur dan terbangun tepat makan siang. Perutku yang sudah keroncong, membuatku langsung beranjak keluar dari kamar. ...
Aku makan yang ku masak tadi dengan pelan. Selesai semua, aku lalu sholat dan mengaji hingga azan ashar.
^^^Sementara di kantor mas Agung kembali dapat kiriman gambarku. Dia mengepalkan jarinya. Sial, kupikir dia lugu dan polos faktanya melebihi gadis nakal. Ucapnya lirih. ^^^
Pak Roni dan Bayu langsung melihat gawainya.
"Astagfirullah, kamu percaya ini gambar istrimu ?" Tanya mereka bersama.
"Ya." Ucapnya seraya meninggalkan kantor.
Sesampai di rumah, aku yang baru selesai mandi langsung takzim. Dan membuatkan dia minuman untuknya.
Bismillah semoga lekas ketemu solusinya. Aamiin. Ucapku lirih. Sesampai di kamar aku meletakkan gelas di nakas, lalu menyiapkan bajunya.
"Di minum mas, mumpung masih anget." Ucapku lirih.
"Hmm, sok polos dan sok lugu." Ucapnya seraya melihatku.
"Aku mau nonton tv." Ucapku datar.
Dia membiarkan aku sendirian. Hingga tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi di banting, membuatku mengucapkan istighfar dan mematikan tv. Lalu duduk di teras luar.
"Ada apa mbak ?" Tanya Ibu Ninda tetangga sebelah rumah.
"Itu bu, suamiku kebelet." Ucapku seraya tersenyum.
"Oalah, hahahaha." Ucapnya seraya tertawa.
Selesai mandi dia lalu memakai baju yang bukan aku siapkan, namun mengambil di almari. Ck, sok polos sok lugu. Ucapnya seraya berlalu tanpa menghiraukan aku.
"Lagi berantem ya mbak ?" Tanya ibu Nindi.
"Enggak kok bu, maklum urusan kantor." Ucapku berdusta.
"Sabar mbak." Ucapnya.
"Iya bu." Ucapku seraya tersenyum.
...Tepat azan mahgrib, kami saling masuk rumah dan menutup pintu rumah. Aku lalu sholat dan ngaji sampai azan isya. Barulah aku sholat lagi dan mengaji, lalu makan malam sendiri. Selesai itu, aku lalu menyimpan sisa lauk di kulkas. Tak lama terdengar suara sepeda motor berhenti. ...
Aku lalu membuka pintu dan senyumku terbit melihat orang tuaku datang. Aku lalu takzim dan mengajaknya masuk.
"Suami kamu mana ?" Tanya mereka.
"Lagi keluar, ada urusan kerja." Ucapku lirih.
"Oh. Ini ibu belikan makanan kesukaan kamu dan buah kesukaan kamu." Ucap ibuku.
"Makasih bu." Ucapku senang.
Dan lalu memakannya. Hingga tepat jam 9 malam, mereka pamit pulang. Aku pun mengantar mereka hingga teras depan.
"Ibu dan bapak pulang dulu ya." Ucap mereka.
"Iya bu, pak." Ucapku seraya takzim.
^^^Sepeninggal mereka, aku lalu beranjak masuk dan menutup pintu, namun terlihat mas Agung mendorong pintu dengan keras. Membuatku terjatuh, aku langsung berdiri seraya mengucapkan kata istighfar. ^^^
"Berani ngadu ya sekarang." Ucapnya seraya menutup pintu. Sementara di jalan, ibuku minta putar balik.
"Mau ngapain ?" Tanya bapak sedikit membentak.
"Hpku ketinggalan." Ucap ibuku.
Sedangkan di rumah, dia memaki aku. Hingga ibuku dan bapakku mendengarnya. Bapakku yang enggak terima, langsung membuka pintu. Spontan kami menatapnya.
"Oh, jadi begini perlakuan kamu sama putriku ?" Tanya bapak dan ibu bersama.
"Ayo yan, kemasi barangmu dan kita keluar dari sini." Ucap kedua orang tuaku.
"Baik pak, bu." Ucapku lirih.
...Mendengar itu mas Agung langsung bersimpuh di kaki kedua orang tuaku. Dia lalu menjelaskan duduk perkaranya. Sementara aku yang sudah siap, langsung di tahan suamiku. ...
Namun ibuku langsung membawa tasku dan mengajakku turut serta pulang.
Sepeninggal kami, mas Agung terdiam dan mengunci pintu rumahnya.
Sesampai di rumah, aku memutuskan untuk istirahat, dan di susul ibuku.
"Yan." Panggil ibuku.
...Namun aku sudah tertidur terlelap. Hmm sudah tidur rupanya. Keterlaluan suaminya, dia lebih percaya orang lain di bandingkan istrinya. Ucap ibuku kesal. Lalu ikut tidur di sampingku seraya memelukku erat. ...
^^^Jam 3 pagi, aku sudah bangun dan mulai aktivitas. Tepat jam 8 pagi aku izin sama ibu untuk belanja. Beliau pun langsung mengizinkan, dan tak lama aku dapat mini bus. Apes mungkin, karena lagi dan lagi banyak mini bus yang aku tumpangi mengalami ban meledak lagi. ^^^
Saat asik menunggu, netraku melihat mas Agung menatap pemilik warung, melihat itu aku langsung istighfar dan beralih ke tempat yang tidak terlihat.
Tapi sayang, pak Roni melihatku.
"Kemana pak ?" Tanya suamiku.
"Keluar sebentar." Ucapnya seraya menyebrang jalan.
Dia langsung menghampiri aku, lalu mengajakku ke warung, namun aku menolak dengan halus.
"Kasian anakku nitip sesuatu sama kamu." Ucapnya.
__ADS_1
Yang membuatku akhirnya luluh mau ikut kesana. Aku sama sekali pura-pura tidak melihatnya, begitu juga dengan dirinya.
"Ini, Aisyah nitip ini sama kamu." Ucapnya seraya memberikan bingkisan kecil itu kepadaku.
"Wah makasih pak." Ucapku seraya tersenyum.
"Iya sama-sama." Ucapnya.
"Ya sudah pak, saya pamit dulu." Ucapku.
"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.
Aku pun langsung melangkah keluar, dan tanpa menyapa dirinya. Ck, kenapa hubungan kita jadi begini ? Tanyanya lirih, namun masih bisa di dengar oleh pak Roni.
"Karena kecemburuan kamu." Ucapnya seraya berlalu.
Sementara aku kembali ke tempat semula, mereka sudah kembali bekerja. Sudahlah jika memang ini yang terbaik, yang terpenting aku
sudah usaha. Ucapku dalam hati.
Sebulan berlalu, kami tanpa kabar dan dia juga tidak sama sekali melihatku. Membuat orang tuaku kesal. Namun lagi-lagi ibuku menasehati bapakku. Sabar. Ucapnya.
Dan tepat makan malam, aku di panggil ibuku.
"Yan." Panggil ibuku.
"Iya bu." Ucapku.
"Sini ikut ibu." Ucapnya seraya menarik tanganku pelan.
Sesampai di luar, aku terkejut melihat kedatangan keluarga mas Agung. Mas Agung langsung bersimpuh di kakiku dan minta maaf.
"Aku sudah maafin kamu mas." Ucapku seraya tersenyum.
...Kami langsung duduk dan berbincang. Kedua orang tuaku dan orang tuanya saling berbicara. Dan mertuaku minta maaf atas perlakuan anaknya. Orang tuaku pun memaafkan, namun untuk membawaku kesana orang tuaku belum mengizinkan. ...
Mereka pun mau tidak mau akhirnya menyetujui, dan kini giliran mas Agung tinggal di rumah orang tuaku.
Sepeninggal mereka, kami langsung masuk kamar.
"Sudah makan ?" Tanyaku lembut.
"Sudah." Ucapnya seraya menunduk.
"Ya sudah, aku ngantuk mau tidur." Ucapku seraya merebahkan tubuhku di kasur.
Dia pun langsung menyusul.
"Maafin ucapanku dulu." Ucapnya penuh sesal.
"Iya." Ucapku seraya membalas pelukannya.
^^^Tepat jam 10 malam, aku terbangun. Terdengar tangisan seseorang. Aku mengerjabkan mataku dan mengumpulkan nyawaku terlebih dulu. Setelah terkumpul, barulah aku mengelus lembut tangannya. Dia menolehku dan minta maaf lagi. Aku menganggukkan kepala seraya tersenyum.^^^
"Sudah mas." Ucapku lirih seraya memeluknya.
...Dia lalu pindah posisi dan memelukku, lalu bersembunyi di dadaku. Setelah tenang, aku lalu melihat dirinya yang sudah tertidur. Alhamdulillah. Ucapku lirih lalu aku ikut tidur. ...
Paginya, kami semua sudah selesai membersihkan rumah. Mas Agung tiba-tiba mengeluh pusing, aku lalu menyuruh dia makan dan minum obat. Lalu istirahat lagi. Tepat jam 8 pagi, dia sudah mulai berangkat kerja.
"Yakin sudah sembuh ?" Tanya kami bertiga.
"Insyaa ALLAH." Ucapnya.
Dia pun lalu takzim ke bapak dan ibu, lalu baru aku yang takzim.
"Hati-hati." Ucapku.
"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.
Tepat jam 9, aku selesai mencuci dan menjemur baju kami. Terdengar suara sayur keliling.
"Sayur ndok." Ucap mbak Ami.
"Iya mbak." Ucapku.
Saat sedang memilih sayur, aku dipanggil kakakku. Aku langsung keluar.
"Ada apa ?" Tanyaku lembut.
"Suamimu jatuh tu." Ucapnya seraya menunjuk arah kamar.
Aku langsung masuk ke kamar.
"Kenapa kok bisa gini ?" Tanyaku lembut.
"Dia ditabarak." Ucap Bayu.
"Innalillahi." Ucapku seraya membantu memapahnya.
Sepeninggal Bayu, aku lalu menemani mas Agung.
"Yang mana yang sakit ?" Tanyaku lembut.
"Di kaki." Ucapnya seraya menatapku.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Enggak apa-apa, mungkin ini karma untukku." Ucapnya seraya tersenyum.
"Sudah kali mas, yang berlalu biarkan saja." Ucapku lirih.
"Iya ay, makasih sudah memaafkan aku." Ucapnya.
"Iya." Ucapku.
Aku lalu keluar, sementara dia tertidur di kamar. Sesampai di dapur, ibuku bertanya ?
"Kenapa dia ?" Tanya ibuku.
"Ditabrak orang." Ucapku.
"Innalillahi, terus jadi sakit enggak ?" Tanya ibuku.
"Alhamdulillah cuma lecet sama lebam-lebam di kaki." Ucapku.
"Urus suaminya yang sabar, insyaa ALLAH jadi ladang pahala dan surga untukmu." Ucapnya lirih.
"Aamiin." Ucapku.
^^^Setelah obrolan itu aku lalu membantu ibuku memasak, selesai masak aku lalu sarapan. ^^^
Tepat sore hari, rekan kerja suamiku datang menjenguk. Mereka semua bertanya kronologinya bagaimana, dan suamiku pun menjelaskan.
"Gung ini rumah mertuamu ya ?" Tanya mereka.
"Iya." Ucapnya lirih.
"Kok bisa sih kamu ditabrak, apa kamu melamun ?" Tanya mereka.
"Enggak, aku posisi di lampu lalu lintas, dan pas berhenti." Ucapnya lirih.
__ADS_1
"Lagi apes saja mungkin kamu." Ucap pak Roni.
"Iya." Jawab mereka.
Aku dan ibuku pun keluar, membawa aneka cemilan dan minuman.
"Mari pak, dan mbak, cemilan dan minumannya." Ucapku seraya tersenyum.
"Walah repot-repot mbak, ibu." Ucap mereka bersama.
"Enggak repot kok mbak." Ucapku seraya tersenyum.
Mereka pun langsung mengambil makanan dan minuman. Tak lama, aku menyusul keluar menemani suamiku dan rekan-rekan kerjanya.
"Sudah isi belum mbak ?" Tanya Bagus.
"Belum mas." Ucapku seraya tersenyum.
"Wah kurang hot berarti kamu Gung." Ucapnya seraya tertawa.
"Haha bisa saja kamu." Ucap suamiku seraya tertawa.
...Saat asik mengobrol, tiba-tiba Sitok datang bersama Tari. Aku lalu minta izin, alhamdulillah suamiku mengizinkan. Aku lalu pamit sebentar sama mereka semua. Dan tepat di luar, Tari tiba-tiba memelukku erat seraya menangis. ...
"Dia kenapa Tok ?" Tanyaku.
"Biasa putus cinta." Ucapnya seraya menggelengkan kepala.
"Duduk dulu Tar." Ajakku.
Namun dia langsung terduduk di bebatuan halaman rumahku.
"Tri, dia merit sama temanku." Ucapnya seraya menangis.
"Berarti bukan yang terbaik untukmu." Ucapku.
^^^Tanpa kami tahu, suamiku dan rekan-rekan kerjanya menatapku. Karena posisiku yang menghadap ke arah kiblat, sementara Tari menghadap kiri. Sedangkan Sitok, berteduh di pohon mangga. ^^^
"Temannya bodynya sexy gitu, pantes saja istrimu juga sexy brow." Ucapnya seraya tertawa.
"Hmm." Ucap suamiku tanpa mengalihkan pandangannya.
Sedangkan aku terus menenangkan Tari.
"Sudah dong, kan masih ada Sitok. Ya enggak Tok. Ucapku seraya tersenyum.
"Iya, kamu tenang saja masih ada aku baby." Ucapnya.
"Cie buruan di lamar Tok." Ucapku menghibur Tari.
Dan Tari pun langsung tertawa. Begitupun dengan Sitok.
"Ah, ayo lamar aku." Ucap Tari.
"Ayo." Ucapnya seraya menggenggam tangan Tari.
"Pulang dulu Tri. Makasih ya." Ucap mereka bersama.
"Ok." Ucapku.
Sepeninggal mereka, tiba-tiba ada motor berhenti di tepat depanku. Dia menatapku dengan tatapan teduh.
"Cari siapa mas ?" Tanyaku tanpa expresi.
"Cari Anto mbak. Mas Antonya ada ?" Tanya orang itu.
"Oh tunggu bentar ya mas." Ucapku.
"Iya mbak." Ucapnya seraya menatapku tanpa berkedip.
Aku melangkah ke halaman belakang.
"Mas dicariin temanmu tu." Ucapku.
"Siapa ?" Tanyanya.
Enggak tahu." Ucapku seraya kembali ke teras.
Sesampai di teras, aku langsung masuk dan menemui mereka. Tak lama mereka pamit pulang, dan mendoakan kesembuhan suamiku.
"Cepat sembuh Gung, terus bikin anak." Ucapnya.
"Iya." Jawab mas Agung seraya menggenggam tanganku erat.
"Mbak, pamit dulu ya." Ucap mereka semua.
"Iya, makasih lho semuanya." Ucapku seraya tersenyum.
Tanpa ku tahu, Bagus menatapku dengan tersenyum. Melihat itu pak Roni langsung mencubit Bagus.
"Jangan dilihat terus, ketauan Agung bisa perang lagi." Ucapnya lirih.
"Waduh serem amat pak." Ucap Bagus.
Sepeninggal mereka, Bayu dan Nia datang.
"Assalamualaikum." Salam mereka.
"Waalaikumsalam." Ucap kami.
"Masuk dulu." Ajakku.
"Iya." Ucap mereka.
Selesai membersihkan piring dan gelas, aku pun langsung membuatkan mereka minum dan cemilan lagi.
"Silahkan." Ucapku seraya tersenyum.
"Makasih kak." Ucapnya seraya memakan makanan yang aku hidangkan.
Melihat Nia begitu, aku dan mas Agung saling pandang. Dan langsung menatap Bayu.
"Kenapa ?" Tanya Bayu.
"Nia hamil ?" Tanya suamiku lirih.
"Enggak tau, katanya sih belum haid sehari." Ucapnya.
"Kamu hamil Nia ?" Tanyaku to the poin.
"Belum lah kak." Ucapnya.
"Hmm." Ucapku lirih.
"Kak, pulang yuk." Ajaknya.
"Sabar dek." Ucapku lirih.
"Ck, kakak sih bikin ulah, akhirnya orang tuanya melarangkan." Ucapnya.
"Maaf." Ucapnya seraya menunduk.
__ADS_1
"Duh, sudah dong jangan bahas masalalu." Ucapku seraya tersenyum.
"Hehe, maaf kak." Ucap Nia.