
"Ish mulai deh enggak jelasnya." Ucapku lirih lalu menarik tangannya ke atas.
"Hehe, habisnya kamu lucu, gemesin, ngangenin dan makin cinta aku sama kamu." Ucap Agung penuh senyuman.
"Aamiin ya ALLAH." Ucap Riri.
"Aamiin." Jawab Agung.
"Mas." Panggil Riri.
"Ya." Jawabnya.
"Kenapa kamu milih aku, padahal di kantor dan di luaran sana banyak perempuan yang mau sama kamu ?" Tanya Riri.
"Istiqorohku terjawab di kamu." Ucap Agung.
"Tapi kan aku masih remaja, kenapa kamu nekat milih aku ?" Tanya Riri.
"Justru masa remaja itu masa yang berbahaya. Masa anak perempuan menjadi perawan, bunga-bunganya bermekaran. Jika salah menaruh cinta, akan rusak segalanya. Makanya pas tahu kamu deket cowok, aku selalu berdoa agar aku yang pertama dan terakhir yang dapetin kamu. Alhamdulillah sekarang tercapai. Ucap Agung.
"Aku nekat pilih kamu, karena kamu cinta ketigaku setelah ALLAH dan emak yang melahirkan dan membesarkan aku." Jawabnya.
"Co sweet banget sih." Ucap Riri dengan tawa khasnya.
"So sweet sayang." Ucap Agung.
"Hmm, ya itu." Jawab Riri.
Kami saling memandang dan tersenyum.
"Terima kasih sudah menerimaku menjadi pasangan kamu." Ucap Agung lirih.
"Sama-sama, makasih juga selalu membimbing aku." Ucap Riri.
"Ya." Jawabnya seraya menggenggam tanganku dan menciumnya.
"Tidurlah mas, sudah malam". Ucap Riri.
"Nanti saja, aku nunggu istriku tercinta aman dari gangguan dan tidur pulas. Baru aku bisa tidur nyenyak." Ucap Agung lirih.
"Hmm, bucin." Ucap Riri terkekeh.
"Alhamdulillah, Insyaa ALLAH selamanya begitu." Jawab Agung sumringah.
Pandangan matanya tak lepas dari Riri, membuat Riri bertanya lagi.
"Kenapa, ada yang salah dengan aku ?" Tanya Riri.
"Enggak." Ucap Agung.
"Terus ?" Tanya Riri.
"Aku dulu selalu teringat kamu, apalagi pas ke rumah. Yang ku tunggu adalah kamu." Ucap Agung.
"Masa ?" Tanya Riri.
"Iya, bahkan aku dulu selalu tanya sama kakak ipar." Jawabnya.
"Tanya apa ?" Tanya Riri.
"Menanyakan tentang kamu, kamu sudah punya pacar atau belum ?" Dan kakak ipar jawab, belum jangankan pacar yang mau deket pada enggak berani." Jawabnya.
"Hmm, masa sih ?" Tanya Riri.
"Iya." Jawabnya.
"Mas." Panggil Riri.
"Ya." Jawabnya.
"Kamu dan aku disatukan dalam pernikahan dan menjadi kita, butuh proses panjang dan tidak sebentar. Palagi menyatukan dua hati, apa kamu percaya sama aku sepenuhnya ?" Tanya Riri dengan lembut.
__ADS_1
"Percaya, karena sampai sekarang pun aku masih melanjutkan sholat Istiqoroh." Jawab Agung.
"Pernah terbesit enggak, kamu mau cari lain karena bosan denganku, bosan dengan dandanan aku dan bosan dengan segala yang ada pada diriku ?" Tanya Riri.
"Sayang, yang namanya pernikahan rasa bosan itu pasti ada, aku juga tidak munafik pernah tergoda dengan wanita. Namun saat itu juga, aku sadar dengan kekurangan aku yang banyak." Ucap Agung.
"Hmm, jujur mas aku takut." Ucap Riri.
"Takut kenapa ?" Tanya Agung.
"Takut gagal, dan ditambah lagi pendidikan aku yang sangat rendah." Ucap Riri lagi.
"Shtt, kita jalani saja sayang. Aku percaya kita bisa." Ucap Agung.
"Insyaa ALLAH Aamiin mas." Ucap Riri lalu memeluk Agung.
"Kamu belum ngantuk ?" Tanya Agung.
"Belum, kita ambil Rindu yuk mas." Ucap Riri.
"Di luar hujan sayang, tunggu besok ya." Ucap Agung.
"Tapi aku kangen." Ucap Riri.
"Sini, aku peluk lagi dan akan aku ceritakan tepatnya pas aku bucin banget sama kamu." Ucap Agung dengan terkekeh.
"Ish bohong banget sih." Ucap Riri.
"Sumpah demi ALLAH sayang." Ucap Agung.
"Hmm." Jawabku lirih.
"Sudah ?" Tanya Agung.
"Belum." Ucap Riri beranjak dari tempat tidur.
"Mau kemana ?" Tanya Agung.
"Hati-hati." Ucap Agung.
"Ya." Jawabnya.
Tak berselang lama Riri keluar dari kamar mandi, dan mengambil air minum dulu.
Tumben hujan-hujan gini aku kehausan, sebaiknya aku ambil minum dulu deh. Ucap Riri lirih.
Selesai minum, dia melihat sekelebat bayangan, apa itu tadi ? Tanya Riri.
Sedangkan di dalam, Agung memilih keluar menyusul Riri. Karna belum juga kembali masuk.
"Awh." Teriak mereka berdua.
"Mas." Panggil Riri.
"Hmm, kamu ngapain sih. Aku tunggu malah kesini, pantes saja lama." Ucap Agung.
"Shht, aku tadi habis ke kamar mandi haus, makanya aku ke dapur ambil minum. Pas mau balik, aku lihat sekelebat bayangan putih makanya aku samperin." Jawab Riri.
"Ya sudah lebih baik masuk saja yuk." Ajak Agung.
"Ya sudah ayo." Jawabku.
Sampai di kamar dan baring, Agung menatap Riri intens.
"Kenapa ?" Tanya Riri.
"Jangan ninggalin aku ya." Ucap Agung memohon.
"Insyaa ALLAH." Jawabku dengan tersenyum.
"Kok senyum ?" Tanya Agung.
__ADS_1
"Senang saja punya suami kamu." Jawab Riri.
"Alhamdulillah." Ucap Agung lalu menarik tangan Riri.
"Mas, mau apa ?" Tanya Riri.
"Peluk kamu." Ucap Agung senang.
Hening, dan tak berapa lama gawainya bunyi.
"Bayu." Ucapnya.
"Angkat saja, mungkin Rindu rewel." Ucap Riri khawatir.
("Ya Bay, ada apa ?" Tanya Agung.)
("Gung, gimana keadaan Riri ? Sory ya aku belum bisa jenguk, soalnya si kembar enggak ada yang jaga." Ucapnya.)
("Ya enggak apa-apa, Riri alhamdulillah sudah baikan, kami juga sudah sampai.Oh ya Rindu rewel enggak ?" Jawab dan tanya Agung.)
("Alhamdulillah kalau sudah pulang. Rindu nyenyak banget, ni anakmu dekat si kembar terus. Si kembar sudah habis susu 2 botol, anakmu belum minum." Ucapnya.)
("Alhamdulillah makasih ya sudah merepotkan kamu, Oh ya kalau aku kerumah kamu sekarang gimana ?" Tanya Agung.)
("Enggak perlu Gung, kasian Rindu. Sudah kalian tenang aja Insyaa ALLAH aku bisa handle semuanya." Ucap Bayu. Lalu memutuskan sambungan telepon.)
"Hmm, belum selesai sudah main matiin saja." Ucap Agung lirih.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Aku enggak tau harus ngomong apa sama kalian, kalian berdua laki-laki yang serba bisa." Ucapku terharu dan langsung menangis.
"Alhamdulillah ay, ini semua juga pemberian dari ALLAH. Sudah ya jangan nangis." Ucap Agung lirih dan langsung mendekati Riri.
"Makasih mas." Ucap Riri tulus.
"Sama-sama ay." Jawab Agung.
Kami pun berpelukan, lalu aku melerai pelukannya.
"Ay." Panggil Agung.
"Ya mas." Ucap Riri.
"Besok aku ditugaskan ke luar kota, kamu aku tinggal selama seminggu. Kamu enggak apa-apakan ?" Tanya Agung.
Deg..
Mendengar itu Riri terdiam terpaku dengan menundukkan wajahnya.
"Ay." Panggil Agung dengan lembut.
"Harus seminggu ya mas ?" Tanya Riri.
"Ya ay." Ucap Agung.
"Aku enggak apa-apa mas, tapi yang aku takutkan kamu dapat pesan lagi dari orang baru-". Ucap Riri terhenti.
"Ay, aku di sana kerja, dan kalau ada pesan masuk Insyaa ALLAH enggak akan terpancing lagi." Jawabnya.
"Syukurlah." Ucap Riri lega.
"Ya, tadinya aku pengen ajak kamu, namun sama istrinya bos dilarang." Ucap Agung lirih.
"Mungkin kamu mau di jadikan partner kerja putrinya." Ucap Riri spontan.
"Ay, anaknya bosku itu cowok semua, dan mereka semua juga sudah menikah." Ucap Agung.
"Oh cowok semua." Ucap Riri.
"Ya ay, lagipula hatiku hanya ada 3 nama." Ucap Agung.
__ADS_1
"Hmm." Jawab Riri