
Tak berselang lama terdengar bunyi suara pintu terbuka. Kami langsung keluar kamar bersama, namun kami terkejut bukan Bayu yang datang, tapi Bianca yang datang. Kami saling bertatap mata, dan diapun langsung bicara.
"Maaf, tadi Bayu menyuruhku membuka pintu rumahnya. Dan dia minta tolong sama kamu Gung, jangan pulang dulu." Ucapnya seraya pergi.
"Makasih mbak." Ucapku.
"Ya." Ucapnya seraya pamit pulang.
"Hati-hati mbak." Ucapku sedikit teriak.
"Ya." Ucapnya.
...Sepeninggal Bianca, kami pun keluar dan duduk di teras. Aku yang sudah sedikit enakan bisa tersenyum lebar melihat tanaman di sekitar. Sementara mas Agung nampak sibuk main gawainya. ...
"Triyani." Panggil seseorang.
Spontan aku dan suamiku langsung menatap orang yang memanggilku.
"Tari." Panggilku seraya tersenyum.
"Hai Tri, apa kabar ?" Tanyanya seraya memelukku erat.
"Alhamdulillah baik." Ucapku seraya tersenyum.
"Kamu sendiri apa kabar ?" Tanyaku lagi.
"Alhamdulillah baik juga." Ucapnya.
"Sama siapa ?" Tanyaku.
"Sama Sitok tu." Ucapnya seraya menunjuk Sitok yang sedang mendorong sepedanya.
"Macet lagi Tok ?" Tanyaku seraya mendekatinya.
"Iya nih, sampai pusing aku." Ucapnya lirih.
^^^Melihatku mendekati teman-teman tanpa izinnya, mas Agung menggelengkan kepala dan berkata lirih. Resiko nikahi anak abege ya gini. Tapi tetap bersyukur, perjuanganku tidak sia-sia. Ucapnya seraya beranjak. ^^^
"Ehem, ada apa ini ?" Tanya suamiku lembut.
"Ini mas, motor temanku macet lagi." Ucapku lirih.
"Oh, mungkin businya mati mas." Ucap suamiku seraya membantu.
"Baru saja diganti mas." Ucap Sitok.
"Terus karena apa ya ?" Tanya suamiku.
"Bensinnya habis mungkin." Ucapku kira-kira.
"Full bestie." Ucap mereka bersama.
"Cie jawabnya barengan, jodoh ni." Ucapku seraya tersenyum.
"Ye mentang-mentang sudah nikah main jodoh-jodohin saja." Ucap mereka bersama.
"Hahaha, kali saja." Ucapku seraya tertawa.
Membuat mas Agung tersenyum dan bersyukur melihatku sudah tidak murung karena kejadian kemarin.
"Di bawa ke bengkel saja Tok." Ucapku lirih.
"Jauh bestie." Ucapnya seraya menghapus keringat.
"Kan ada hp." Ucapku lagi.
"Iya juga ya, bodohnya aku." Ucapnya seraya tertawa.
Kami yang mendengar itupun ikut tertawa juga, sementara Tari juga demikian.
"Tri, tahu enggak Wulan sudah di lamar lho." Ucapnya lirih.
"Alhamdulillah." Ucapku seraya tersenyum.
"Cowoknya cakep dan tinggi juga putih." Ucapnya seraya duduk di depan Sitok.
Sementara aku di depan suamiku, hanya terhalang sepeda motor saja.
"Kamu kapan ?" Tanyaku seraya tersenyum.
"Wah aku masih lama, masih ingin nikmati masa muda." Ucapnya seraya merangkul bahuku.
"Hmm, jangan lupa undangannya ya frend." Ucapku seraya membalas rangkulannya.
"Insyaa ALLAH." Ucapnya seraya tersenyum.
"Tri, gimana rasanya nikah muda ?" Tanya Tari.
"Nano-nano Tar." Ucapku seraya mengerlingkan mata.
Membuat mas Agung yang sedari tadi menatapku langsung tersenyum.
"Rame dong." Ucapnya seraya tertawa.
"Banget." Ucapku.
"Sudah isi belum ?" Tanyanya lagi.
"Sudah." Ucapku.
"Serius kamu ?" Tanya mereka.
"Duo rius, isi nasi isi makanan dan minuman." Ucapku seraya tersenyum.
Membuat mas Agung berkata dalam hati, gimana mau isi nikah juga baru seminggu lebih. Ada-ada saja mereka.
Tak lama, service bengkel panggilan pun datang. Kami melihat cara kerja mereka dengan duduk di bebatuan saling bersebelahan. Dan tak lama, motornya Sitok pun berhasil nyala.
"Olinya mas, harus ganti." Ucap mas itu.
"Iya mas, berapa ya ?" Tanya Sitok.
"50 ribu mas." Ucapnya.
"Waduh, mahal ya." Celetukku tiba-tiba, membuat mereka menatapku seraya tersenyum.
"Ya namanya di panggil, beda kalau datang sendiri." Ucap mereka bersama.
__ADS_1
"Oh begono." Ucapku lagi.
"Begitu sayang." Ucap suamiku membenarkan.
...Mendengar hal itu aku hanya tersenyum. Selesai service, mereka semua pamit pulang kami pun mempersilahkan. Dan setelah kepulangan mereka, Bayu datang dengan muka kusut. Kaya baju yang belum di setrika. ...
"Kenapa kamu ?" Tanya suamiku.
"Ck, ninjau rumah peminjam eh malah ketemu musuh bebuyutan." Ucapnya seraya membuka sepatu.
^^^Sementara aku yang ada di dalam rumah, mendengar Bayu marah langsung ke dapur. Mending aku buatin ini saja, biar adem. Ucapku seraya mengucapkan kata bismillah.^^^
Dan di luar mereka saling ngobrol.
"Memangnya siapa ?" Tanya suamiku.
"Nyai ronggeng." Ucap Bayu.
"Siapa ?" Tanya suamiku lagi.
"Rena." Ucapnya seraya cemberut.
"Rena yang dulu di pecat itukah ?" Tanya suamiku.
"Iye siapa lagi kalau bukan die." Ucapnya seraya merebahkan tubuhnya di kursi.
"Sudah kali maafin saja, jangan lama-lama membenci enggak baik." Ucap suamiku memberi saran.
"Iya." Ucapnya seraya mencari seseorang.
Melihat itu mas Agung langsung bertanya.
"Cari siapa ?" Tanyanya.
"Istrimu mana ?" Tanyanya.
"Ada di dalam." Ucapnya.
"Tidur ?" Tanyanya.
"Enggak." Ucap suamiku.
"Terus ?" Tanya Bayu lagi.
"Di dapur tadi." Ucapnya lirih.
Sementara aku yang baru selesai membuat sop buah langsung keluar.
"Yeay yang seger-seger sudah jadi, siapa mau. Siapa mau." Ucapku seraya menawarkan.
Mendengar hal itu mereka berdua langsung menatapku dan berpindah ke nampan yang ku bawa.
"Boleh juga nih." Ucap Bayu setelah tahu isinya yang ku buat.
"Dapat darimana ay ?" Tanya suamiku.
"Di kulkas Bayu." Ucapku seraya menatap Bayu.
"Gila brow, kulkas kamu banyak buah dan macam sayur mayur, tapi enggak kamu olah. Keburu busuk nanti." Ucap suamiku.
"Ini mas." Ucapku seraya memberikan gelas kepadanya.
"Makasih ay." Ucapnya.
"Sama-sama." Ucapku.
Selesai minum sop buah, kami langsung mencuci dan pamit. Bayu pun mengizinkan, dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada kami. Kami pun mengiyakan.
...Tak berselang lama kami sudah sampai di rumah. Aku langsung bersih-bersih dan mandi. Sementara mas Agung menungguku di depan pintu....
"Kenapa ?" Tanyaku setelah membuka pintu kamar mandi.
"Enggak apa-apa." Ucapnya seraya masuk ke dalam.
Aku lalu melangkah ke dalam kamar dan sholat. Setelah selesai barulah aku berhias, lalu ke dapur memasak nasi. Saat membuka pintu dapur, aku di kejutkan seseorang. Ya dia Sonia, seragamnya kucel dan langsung menatapku.
"Nia." Panggilku seraya membuka pintu halaman belakang.
"Kak." Ucapnya seraya menangis.
"Masuk dulu yuk." Ajakku seraya menggenggam tangannya.
"Kak, aku kotor kak." Ucapnya seraya menangis.
"Enggak apa-apa sayang, nanti aku bersihin." Ucapku dengan lembut.
Sesampai di ruang makan, Sonia langsung sujud di kaki mas Agung.
"Kak, Nia minta maaf. Nia enggak bisa jaga mahkota Nia." Ucapnya seraya menangis.
Bagai petir di siang bolong, kami yang mendengar itu langsung mengucapkan kalimat istighfar. Aku langsung mendekati mereka.
"Nia, makan dulu ya." Ucapku seraya memegang tangan adik iparku.
Dia pun berdiri dan menganggukkan kepala. Sementara mas Agung terdiam. Dan langsung aku pegang tangannya.
"Mas, makan yuk." Ajakku lembut.
Dia menatapku lalu memelukku erat.
"Yuk, kasian Nia sendiri." Ucapku lirih.
"Baiklah." Ucapnya.
Selesai makan, aku lalu menyuruh nia Sholat bersama dengan kakaknya. Selesai sholat, kami bertiga pun duduk di depan tv.
"Siapa yang merusak kamu ?" Tanya suamiku datar.
"Aku enggak tahu kak, karena setelah minum jus aku sudah tak sadar." Ucapnya jujur.
"Memang kamu kemana dek ?" Tanyaku.
"Aku di kantin sekolah kak." Ucapnya lirih.
Mendengar hal itu mas Agung langsung menghubungi pihak sekolah Nia, Tak lama Wali kelas Nia datang.
"Assalamualaikum." Salam walikelasnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Ucapku seraya tersenyum dan mempersilahkan masuk.
^^^Dia pun masuk, dan langsung memberi rekaman cctv sekolah. Benar yang dikatakan Nia, dia tak sadarkan diri. Namun saat melihat sang pelaku, mas Agung langsung kenal. ^^^
"Br****ek." Ucapnya.
"Mas, istighfar." Ucapku.
Dia pun lalu menurut dan istighfar.
Sementara wali kelas Nia, menenangkan Nia.
"Sabar Nia,bu guru akan merahasiakan ini semua. Dan ibu guru akan melaporkan ini kepada keluarganya." Ucapnya.
"Makasih bu." Ucap Nia.
"Ya." Ucapnya.
...Sementara kami hanya bisa mengucapkan terima kasih dan tak lupa juga mengantar beliau hingga sampai ke teras. ...
Sepeninggal beliau, kami lalu masuk. Namun ditengah pintu, Suamiku berkata lirih. Cobaan apa lagi ini ya ALLAH.
Aku langsung mengelus lembut punggungnya dan tersenyum.
"Sabar mas." Ucapku.
"Insyaa ALLAH." Ucapnya seraya berlalu dan masuk kamar.
Sementara Nia, hanya terdiam. Aku pun langsung menghampiri Nia.
"Nia." Panggilku lembut.
"Iya kak." Ucapnya.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Aku mau pulang dulu kak." Ucapnya seraya membawa tas.
Namun langsung di cegah oleh suamiku.
"Kamu mau, emak dan bapak tahu ?" Tanyanya.
"Terus aku mau kemana kak ?" Tanyanya.
"Tidurlah dulu Nia, yuk ke kamar." Ajakku seraya menenangkan hati Nia.
Nia pun menurut, sementara suamiku langsung memintaku menyusul dia. Aku pun menurutinya.
"Sudah kak, samperin kakakku dulu daripada nanti kakak ipar di marahi." Ucapnya lirih.
"Iya, kamu cepetan tidur." Ucapku.
"Iya." Ucapnya.
Setelah menutup pintu kamar, aku lalu masuk kamar kami.
"Ada apa mas ?" Tanyaku lembut.
Dia langsung memelukku dan berkata.
"Tidurlah." Ucapnya lirih.
Mendengar hal itu aku tersenyum, dan mengelus lembut punggungnya.
"Ay, aku dan bapak tidak pernah merusak mahkota wanita, tapi kenapa adikku malah dirusak ?" Tanyanya seraya menahan tangis.
"Ambil hikmahnya mas." Ucapku lirih.
Dia lalu menatapku dan mengajakku ke rumah Bayu lagi. Namun aku menolak halus, akhirnya dia pergi sendiri.
^^^Sesampai di rumah Bayu, suamiku menceritakan yang telah dialami adik kandungnya. Mendengar hal itu, Bayu langsung terkejut dan langsung mengajak suamiku kembali. ^^^
Tiba di rumah kami, Bayu langsung membuka kamar yang di tempati Nia.
Sedangkan kami berada di luar.
"Mas, jangan melamun." Ucapku lirih.
"Enggak kok ay." Ucapnya seraya tersenyum.
"Mas, aku pengen rujak." Ucapku lirih.
"Ya udah yuk beli." Ajaknya.
"Tapi mereka ?" Tanyaku lembut.
"Enggak apa-apa Bayu memang playboy, tapi dia kuat menjaga syahwadnya." Ucapnya lirih.
"Kaya kamu dong." Ucapku seraya tersenyum.
"Beda sayang." Ucapnya.
"Maksudku tahan syahwadnya." Ucapku.
"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.
"Bay, aku tinggal dulu ya. Istriku pengen rujak." Ucap suamiku.
"Iya, sudah isikah ?" Tanya Bayu spontan.
"Belum. Doakan ya." Ucap suamiku.
"Ok, hati-hati." Ucapnya.
"Ok." Ucapnya seraya nitip rumah dan sang adik.
Bayu pun mengangguk.
Sepeninggal kami, Nia terbangun dan terkejut melihat Bayu ada di kamar.
"Kak Bayu, kapan kesini ?" Tanya Nia.
Mendengar itu Bayu langsung mendekati Nia dan memeluknya.
"Kamu yang sabar ya." Ucap Bayu.
"Insyaa ALLAH kak." Ucapnya.
__ADS_1