Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Berangkat Bareng


__ADS_3

..."Kita bareng saja." Ucap suamiku....


"Ok." Ucapnya.


Mereka pun berangkat bersama dengan memakai motor mas Agung. Tak berselang lama motor suamiku berhenti di tepat lampu merah.


"Enggak nyangka istrimu begitu." Ucap Bayu.


"Maksudnya ?" Tanya suamiku.


"Ya tadi jam 3.30, dia sudah bangun terus bersih-bersih rumah. Enggak nyangka saja, umur masih 17, tapi sudah kamu ajak nikah." Ucapnya seraya tertawa.


"Kaya kamu enggak saja." Ucap suamiku seraya menatap arah depan.


"Yah terlambat dong." Ucap seseorang itu, yang langsung ditatap mas Agung dan Bayu bersamaan.


"Telat apa mbak ?" Tanya Bayu.


Yang tanpa sengaja mendengar ucapan perempuan tadi, karena jaraknya yang dekat.


"Terlambat ngajak jadian." Celetuk teman perempuan itu.


"Jadian sama siapa ?" Tanya Bayu yang Kepo.


"Sama teman masnya." Ucapnya seraya melajukan motor dengan cepat.


"Widih, cewek zaman sekarang beda banget sama yang dulu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ingat bentar lagi nikah." Ucap suamiku mengingatkan Bayu.


"Iye." Ucapnya.


Tak berselang lama, mereka sudah sampai di kantor.


"Gung,cewek tadi gimana ?" Tanya Bayu.


"Ck, maaf aku sudah menikah." Ucapnya seraya berlalu.


"Hmm." Ucapnya.


Sesampai di dalam kantor, banyak rekan-rekan menyapa suamiku.


"Weh, pengantin baru ketemu calon iparnya ni." Ucap mereka bersama.


"Bisa saja kalian." Ucapnya seraya tersenyum dan langsung bekerja kembali.


Sementara aku berada di rumah sendiri, Nia berangkat sekolah dan suamiku berangkat kerja. Saat asik menyirami bunga, terdengar penjual sayur lewat. Aku lalu menghampirinya, dan belanja di sana.


"Ck, sudah banyak pengeluaran eh sekarang tambah banyak ada yang punya hajatan." Keluh ibu itu.


"Iya ya bu, benar juga. Apalagi bentar lagi adiknya Agung nikah." Ucap ibu satunya lagi.


"Iyakah ? Yang sudah rusak itukah ?" Tanya ibu itu, yang langsung di cubit temannya karena melihatku ada di sini.


"Kalau ngomong di filter, tu ada istrinya Agung." Ucapnya lirih.


Sementara aku tidak menggubris sama sekali, hanya tersenyum saja. Dan setelah selesai, barulah aku mulai membayar belanjaanku.


"Berapa pak ?" Tanyaku.


"45 ribu mbak." Ucapnya.


"Ini pak." Ucapku seraya memberikan uang.


^^^Setelah selesai membayar, aku lalu pamit pulang. Ibu-ibu itu pun mengiyakan. Sesampai di rumah, aku langsung mencuci dan menyimpan sayuran, buah dan ikan tadi di kulkas.^^^


...Setelah selesai, barulah aku istirahat. Hmm bikin apa ya ? tanyaku dalam hati. Aha, mending aku buat cemilan saja. Ucapku lirih....


^^^Tepat jam 12, akupun selesai mengolah cemilan. Alhamdulillah selesai. Ucapku lirih. Aku lalu memasukkannya ke dalam toples, barulah aku menutup pintu dan lalu berwudhu.^^^


...Selesai sholat, dan mengaji aku lalu ke dapur kembali membersihkan ruangan dapur. Setelah selesai barulah aku langsung istirahat sejenak. Tepat jam 2 siang, Nia sudah pulang....


"Baru pulang Nia ?" Tanyaku lembut seraya tersenyum.


"Iya kak, kak anterin Nia ke warung ya." Ajaknya.


"Tumben ?" Tanyaku.


"Iya, kak Bayu nyuruh kita kesana." Ucapnya.


"Tunggu dulu, kakak izin dulu sama kakakmu." Ucapku seraya mengambil gawaiku.


"Ish enggak usah kak." Ucapnya.

__ADS_1


"Enggak boleh dek, kita enggak boleh keluar rumah tanpa seizin pasangan kita." Ucapku lirih.


"Aku juga tahu kak, tapi kak Bayu sudah minta izin dan kakakku juga sudah mengizinkan." Ucapnya lirih.


"Ya sudah. Aku siap-siap dulu." Ucapku.


"Ok kak." Ucapnya seraya tertawa.


Setelah selesai ganti baju dan berhias, aku lalu keluar kamar dan mengunci semua pintu dan jendela rumah. Barulah aku naik ke motornya Nia.


"Sudah kak ?" Tanya Nia.


"Sudah." Ucapku seraya tersenyum.


Sepanjang perjalanan, aku hanya tertunduk. Tak berselang lama kami pun sampai di warung.


Hmm, nostalgia lagi ni. Ucapku mengenang pertemuan aku dan dirinya.


"Ish, kak ayo malah melamun." Ucapnya seraya menggenggam tanganku erat.


Kami pun masuk, tanpa kami tahu suamiku, pak Roni dan Bayu menatap wajah kami.


"Cie senyum." Ucap pak Roni kepada mereka.


Mereka lalu menatap pak Roni dan gegas menutup wajahnya dengan masker dan tubuhnya ditutupi jaket. Sementara kami menatap sekeliling warung, mencari Bayu.


"Kamu yakin dia makan di sini ?" Tanyaku lembut.


"Iya, ini pesan dari dia." Ucapnya seraya menunjukkan gawainya kepadaku.


"Kita tunggu saja." Ucapku seraya pesan air mineral, sementara Nia pesan teh hangat.


...Aku yang hendak melangkah duduk di bangku kosong langsung berbalik, lho pak Roni tumben dia sendiri ? Tanyaku lirih dan langsung mendekatinya. ...


"Assalamualaikum." Salamku.


"Waalaikumsalam." Ucap pak Roni.


"Tumben pak sendiri ?" Tanyaku lembut seraya duduk di depannya. Sementara Nia hanya mengekori aku.


"Iya ni, tadi suamimu keluar." Ucapnya dusta.


"Oh." Ucapku.


"Gimana apanya pak ?" Tanyaku seraya mengambil sedotan, untukku minum.


"Sudah isi belum ?" Tanyanya seraya melirikku.


"Belum pak." Ucapku lirih.


Setelah percakapan itu, kami pun terdiam. Sesekali mata kami bertatap membuat dia langsung menundukkan muka.


"Mana Bayu dek ?" Tanyaku lembut seraya tersenyum.


"Ck, enggak tahu kak. Sudah tahu lapar, masih saja di suruh tunggu." Ucapnya kesal.


"Sabar, mungkin macet." Ucapku menenangkannya.


"Masa sampe setengah jam." Ucapnya seraya cemberut.


"Belajar sabar dek." Ucapku mengingatkan.


Mendengar hal itu Bayu dan mas Agung tersenyum. Lalu mereka berdiri bersama. Kami yang melihatnya merasa heran, karena tanpa sepatah kata pun mereka langsung pergi.


"Tu orang lesbi bukan sih kak ?" Tanya Nia.


Yang membuat pak Roni langsung tersedak, karena Ucapannya. Aku langsung memberikan minum pak Roni kepada beliau.


"Aduh, sakitnya." Ucapnya seraya memegang dadanya.


"Hati-hati pak." Ucapku lembut.


^^^Dan tanpa ku tahu, Bayu menyanyikan lagu ulang tahun untuk Nia. Mendengar itu, Nia langsung berbinar dan langsung menangis memelukku. Sementara mas Agung, terdiam di depan pintu seraya menatapku. ^^^


"Selamat ulang tahun calon istriku." Ucapnya seraya memeluk Nia.


"Makasih kak." Ucap Nia.


Aku lalu mengucapkan selamat kepada Nia, setelah itu barulah aku menghampiri mas Agung. Lalu takzim, dia tersenyum menatapku.


"Yuk." Ajakku lembut.


"Iya." Ucapnya.

__ADS_1


"Selamat ya ndok." Ucap suamiku seraya memeluk sang adik.


...Begitupun dengan pak Roni, dia mengucapkan selamat juga. Setelah itu barulah tiup lilin dan pemotongan nasi kuning. Suapan pertama untuk suamiku dan yang kedua untukku, lalu barulah Bayu. ...


"Yeay genap 15 tahun." Ucapnya seraya tertawa.


"Aamiin." Jawab kami semua.


^^^Selesai makan, kami langsung pulang. Aku membonceng Nia, pak Roni di belakang motor Nia, Begitupun dengan Bayu. Tak terasa kami sampai rumah dengan selamat, sedangkan mereka bertiga, langsung ke kantor. ^^^


Sorenya aku langsung beberes rumah, dan tak terasa sudah jam 4 sore, aku langsung mandi. Sementara Nia tengah tertidur, karena kecapean.


Selesai mandi, sholat, mengaji dan berhias. Aku langsung keluar kamar. Menyediakan minuman untuk suamiku.


Tak berselang lama, suara motor mas Agung berhenti.


"Assalamualaikum." Salam mereka.


"Waalaikumsalam." Ucapku seraya takzim.


"Nia mana Tri ?" Tanya Bayu.


"Tidur, kecapean dia." Ucapku seraya tersenyum.


"Oh." Ucapnya.


"Aku mandi dulu." Ucapnya seraya berlalu.


"Iya." Ucapku seraya masuk kamar, mengambilkan baju gantinya.


Setelah selesai mandi aku tersenyum kepada dia, dan membantunya memakai baju.


"Sudah enggak perlu." Ucapnya ketus.


Mendengar hal itu aku langsung istighfar lalu memeluknya.


"Marah di tempat kerja, jangan dibawa sampai ke rumah. Apalagi bicara kasar sama istri." Ucapku lembut.


Mendengar hal itu, dia langsung menyerahkan gawainya padaku.


"Foto siapa ?" Tanyaku lembut.


"Itu foto kamukan ?" Tanya suamiku.


"Bukan." Ucapku jujur.


"Bohong." Ucapnya.


...Aku langsung video call Wulan, dan dia pun langsung menjelaskan bahwa itu bukanlah aku. Tapi nampaknya percuma, mas Agung tetap percaya bahwa itu aku. ...


"Aku sudah jujur, mau percaya alhamdulillah enggak juga terserah. Aku capek." Ucapku seraya ambil keluar kamar.


Sepeninggal aku, suamiku langsung menarik tanganku dan membawaku ke dalam kamar.


"Mau kemana kamu, mau menyusul Sitok ?" Tanya suamiku ketus.


Membuat Bayu langsung menutup pintu kamarnya. Ya ALLAH, jadi dia ngamuk di kantor karena dapat pesan gambar. Kasian kamu Tri. Ucap Bayu.


"Minum dulu mas." Ucapku lirih.


"Enggak perlu." Ucapnya.


Astagfirullah. Ucapku lirih seraya menghapus air mataku.


Bersyukur Nia belum bangun, jika sudah aku takut dia akan bilang ke mertua. Ucapku lirih. Aku lalu mengantarkan minum ke kamar.


"Ini mas minumnya, di minum ya." Ucapku lembut.


"Kita pisah saja." Ucapnya lirih, namun masih bisa ku dengar.


"Jangan mengambil keputusan saat marah mas, enggak baik." Ucapku mengingatkan dan memeluknya.


^^^Dia terdiam, lalu tertidur. Setelah tertidur aku lalu keluar dengan mata sembab. Aku ambil wudhu lalu sholat. Setelah itu aku mengaji dan berzikir. Hingga isya, kami sama sekali belum keluar. Aku menangis di sujudku. Barulah tepat jam 8, kami keluar. ^^^


"Malam kak." Ucap Nia.


"Malam." Ucapku seraya tersenyum.


...Sementara mas Agung langsung berlalu keluar. Bayu yang tahu langsung izin pulang. Kami mengizinkan,sementara Nia juga memilih pulang karena rindu kamarnya. Aku mengizinkan, kini hanya ada aku. Aku makan sendiri di depan tv. Selesai makan, aku langsung membersihkan dan mencuci piring. Barulah aku menutup pintu rumah. ...


Jelang pagi, mas Agung baru pulang. Aku tetap takzim dan tanpa banyak bertanya. Dia langsung ke kamar, lalu tidur di sana.


Sementara aku, masih melakukan aktivitas bersihkan rumah. Alhamdulillah selesai juga. Ucapku seraya tersenyum.

__ADS_1


Karena takut membuatnya marah lagi, aku memutuskan tidur di kamar lain dan sholat di sana.


__ADS_2