Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Periksa Kandungan


__ADS_3

"Besok jam berapa kita periksa ?" Tanyaku.


"Besok sore ay, sepulang aku kerja." Ucap suamiku.


"Baiklah." Ucapku lirih lalu memejamkan mata.


...Kini kami pun tertidur pulas, dan saling berpelukan. Tepat sepertiga malam, aku terbangun dan mulai beraktifitas kembali seperti yang pernah aku lakukan....


Ya ampun banyak juga ya, baju kotor kami. Ucapku lirih seraya mengisi air di bak, dan merendam baju kotor kami. Selesai itu, aku wudhu dan sholat. Barulah aku mulai masak nasi dan mengerjakan pekerjaan rumah.


Bismillah, harus kuat enggak boleh manja. Ucapku lirih seraya mengelus lembut perutku yang masih rata.


...Tepat jam 5 pagi, aku sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, tiba-tiba perutku terasa lapar. Aku lalu ambil buah. Entah kenapa hari ini aku pengen rujak. Aku pun langsung inisiatif membuat sendiri, selesai semua aku lalu makan rujak itu dengan hati gembira....


Namun belum juga masuk ke mulut, tanganku di genggam oleh suamiku.


"Mas, aku lagi mau." Ucapku lirih.


"Boleh, tapi makan nasi dulu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ish, enggak mau nasi aku lagi pengen rujak." Ucapku seraya cemberut.


Melihat hal itu, suamiku langsung memeluk dan memberiku pengertian.


"Ay, aku enggak melarang kamu makan apapun, tapi ini masih pagi dan juga kamu dari kemaren enggak makan nasi. Debaynya juga butuh gizi, nutrisi dan juga kalsium." Ucapnya lirih seraya mencium pipiku.


"Ya sudah, aku makan nasi dulu." Ucapku seraya beranjak melangkah ke dapur.


Alhamdulillah, memang benar kata ibumu ay. Menasehati kamu harus dengan kelembutan. Ucapnya lirih seraya tersenyum.


Selesai ambil nasi dan lauk, aku kembali ke meja makan.


"Mas, kamu mau ?" Tanyaku lembut.


"Nanti saja." Ucapnya seraya tersenyum.


^^^Mendengar hal itu, aku langsung mendahului sarapan. Tak lama sarapanku sudah selesai, dan kini makan rujak. Sementara suamiku tersenyum melihatku sudah habis sarapan.^^^


Selesai semua, barulah mas Agung ijin mau mandi dulu. Aku pun mengiyakan dan melangkah ke kamar, untuk mengambilkan baju kantornya.


Tak berselang lama suamiku nampak masuk kamar dan menghampiri aku.


"Ay, doakan aku ya." Ucapnya.


"Pasti mas suamiku." Ucapku seraya tersenyum.


"Makasih." Ucapnya.


"Sama-sama." Ucapku lirih.


...Selesai pakai baju, mas Agung langsung keluar dan mengambil sarapan. Sementara aku yang hendak ingin menyusul, memilih duduk kembali. Entah kenapa pusing di kepalaku muncul lagi....


"Ya TUHAN." Ucapku seraya memegang kepalaku.


"Ay." Panggil suamiku setelah melihatku memegangi kepala.


"Sakit mas." Ucapku seraya menangis.


^^^Melihat dan mendengar rintihanku, suamiku langsung bergegas membopongku dan tak lupa mengunci pintu rumah. Lalu membawaku ke rumah sakit.^^^

__ADS_1


Sesampai di RS, aku langsung diperiksa dokter. Beruntung pagi itu masih sepi, jadi langsung ditangani oleh dokter. Hampir satu jam, suamiku menungguku di ruang tunggu UGD. Dia nampak gelisah, dan selalu berdoa semoga tidak terjadi apa-apa ya ALLAH. Aamiin. Ucap suamiku.


Pintu UGD pun kini sudah terbuka, suamiku langsung berlari menghampiri dokter yang menangani aku.


"Dok, gimana keadaan istri saya dok ?" Tanya suamiku.


"Alhamdulillah tidak ada apa-apa pak, istri bapak terlalu kelelahan dan soal sakit di kepalanya, tidak perlu risau. Tapi tetap di pantau ya pak." Ucap Dokter itu.


"Maksudnya dok ?" Tanya suamiku.


..."Jadi begini, istri bapak suka memendam sakit, penghinaan dan terlalu over thinking. Itulah mengapa kepalanya terasa sakit. Saran saya, jangan biarkan istri anda memendam dan membuat dia kepikiran." Ucapnya seraya pamit....


^^^Sepeninggal dokter itu, suamiku langsung masuk dan menatapku dengan rasa penuh bersalah. Maafin aku, yang sudah menghina kamu. Ucapnya lirih. Sementara aku masih terdiam membisu, karena tidak tahan dengan sakitnya dokter terpaksa memberiku obat penenang. Dan kini aku sedang terlelap.^^^


Mas Agung nampak memandangi aku, dan tertidur di sampingku. Tak berselang lama terdengar bunyi suara pintu terbuka dan aku pun di periksa kembali. Sementara suamiku membalas senyuman sang dokter muda itu.


"Mohon maaf pak, apa istri bapak sedang hamil ?" Tanya dokter itu.


"Iya dok, tapi belum tahu berapa bulannya. Karena tadi rencana mau periksa USG setelah saya pulang kerja, namun sayangnya pagi ini dia mengeluh kesakitan." Ucap suamiku.


"Oh baiklah, permisi bentar saya izin periksa dulu ya." Ucapnya lirih.


"Ya silahkan dok." Ucap suamiku seraya menatap kami.


Selesai memeriksa, dokter Rion itu menjelaskan.


"Alhamdulillah sudah stabil semua." Ucapnya lirih.


"Stabil apanya dok ?" Tanya suamiku.


"Hb dan tekanan darahnya sudah kembali normal." Ucap dokter Rion.


"Oh. Terus tentang kepalanya dok ?" Tanya suamiku.


Namun langkahnya terhenti, dia langsung berucap.


"Hari ini juga bisa kok pak di USG. Tapi tunggu istri bapak sadar dulu." Ucapnya.


"Alhamdulillah baik dok." Ucap suamiku.


Sepeninggal dokter Rion, suamiku langsung mencium kening dan perutku. Sehat terus ya kesayanganku. Ucapnya lirih.


Tepat jam 12 siang, aku sudah sadar. Dimana aku ? tanyaku lirih yang kini sendirian di ruang UGD. Sementara suamiku, sedang di luar.


"Ay, sudah bangun sayang ?" Tanyanya mengejutkan aku.


"Sudah mas, mas aku dimana ?" Tanyaku lembut.


Suamiku pun menjelaskan semuanya. Mendengar penjelasannya, aku langsung mengucapkan terima kasih.


"Makasih mas, sudah membawaku kesini." Ucapku lirih.


"Shht, sudah kewajibanku. Jangan sedih dan selalu ngomong sama aku ya. Jika aku berbuat salah sama kamu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Insyaa ALLAH." Ucapku.


"Ya sudah, aku panggil perawat dulu ya." Ucapnya seraya beranjak keluar.


"Iya." Ucapku.

__ADS_1


Sepeninggal suamiku, aku mengelus lembut perutku. Sayang, yang kuat dan sehat ya. Ucapku.


...Tak lama suamiku dan perawat datang, alat infus yang terpasang di tanganku, dilepas oleh perawat cantik itu. Sementara mas Agung memelukku dari belakang, tangannya tak pernah berhenti mengelus lembut perutku yang masih rata. ...


"Mas, malu ih dilihat suster." Ucapku lirih, namun masih bisa di dengar oleh mereka.


"Enggak apa-apa bu, kami sudah biasa." Ucapnya seraya tersenyum.


^^^Mendengar hal itu aku hanya tersenyum dan menatapnya. Namun saat ku cermati, suster itu tak henti-hentinya menatap suamiku. Melihat itu, aku langsung membalas pelukannya.^^^


Selesai melepas infus, suster itu langsung pamit pergi. Dan kini tinggal ada kami berdua. Sepeninggal suster itu, barulah suamiku menatapku.


"Kenapa ?" Tanya suamiku.


"Ck, suster itu natap kamu terus." Ucapku kesal.


"Tapi kan aku enggak nanggapi dia ay." Ucapnya lirih.


"Tetap saja, nanti lama-lama-." Ucapku terhenti.


"Shht, percaya sama ALLAH ay, aku pasti bisa menjaga perasaan kamu. Insyaa ALLAH atas izin ALLAH aku pasti bisa." Ucapnya.


"Aamiin." Jawabku.


Selesai itu, kami lalu keluar dan membayar administrasi dan sekalian bertanya.


"Misi mbak, ruang USG dimana ya ?" Tanya suamiku.


"Oh lurus saja pak, terus belok kanan." Ucapnya seraya mengembalikan uang kembalian.


"Makasih mbak." Ucapnya.


"Iya." Jawab mbak itu.


Tak terasa kami pun sampai di tempat USG, kami pun langsung daftar, dan menunggu antrian.


"Kenapa ?" Tanya suamiku.


"Lapar.' Ucapku.


"Tunggu ya, aku pesankan delivery dulu." Ucapnya.


"Ya." Ucapku seraya tersenyum.


...15 menit berlalu, kini makanan pun sudah sampai. Aku dan mas Agung langsung makan. Tak lama setelah selesai makan, nama kami di panggil. Dengan langkah pasti,kami pun masuk dan aku terkejut melihat temanku ada di dalam. ...


"Yani." Panggilku.


"Riana." Panggil dia juga.


"Apa kabar ?" Tanyaku.


"Alhamdulillah baik." Ucapnya seraya tersenyum.


Setelah obrolan ringan itu, aku pun diminta berbaring. Dan dokter Dion langsung memeriksaku.


"Alhamdulillah." Ucap Dokter Dion.


"Gimana dok ?" Tanya suamiku.

__ADS_1


"Alhamdulillah sesuai dan sudah 3 minggu." Ucapnya.


"Alhamdulillah." Ucap kami bersama.


__ADS_2