Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
H-1


__ADS_3

"Assalamualaikum." Salamnya."


"Waalaikumsalam." Jawab kakakku.


"Ririnya ada ?" Tanya calon suamiku.


"Ada di kamarnya, mungkin sedang sholat." Ucap kak Anto.


"Oh." Ucapnya.


"Masuk dulu dek Agung." Ucapnya seraya tertawa.


"Iya mas." Jawabnya seraya menggelengkan kepala.


...Tak lama aku pun keluar kamar, sambil main gawaiku. Tanpa tahu dia sudah sampai di sini, ya saat dia datang aku mengenakan headseatku sambil ngaji. Itulah sebabnya aku tidak mengetahui dan mendengar kedatangan dan Ucapannya. ...


"Ehem. Asik banget main gawainya, sampai-sampai aku di cuekin." Ucapnya.


Mendengar suara mas Agung, reflek aku langsung menatapnya dan minta maaf.


"Astagfirullah, maaf mas enggak tahu." Ucapku seraya takzim.


"Masa sih enggak tahu ?" Tanyanya.


"Aku setelah sholat tadi, mengaji dengan menggunakan headseatku itulah mengapa aku jawab enggak tahu." Ucapku jujur.


"Oh." Ucapnya seraya menatapku.


"Ya." Ucapku.


"2 minggu lagi kita di pingit, mumpung masih boleh ketemu jalan yuk." Ajaknya.


"Boleh." Ucapku seraya beranjak, namun langsung dia cegah.


"Gelang kamu baru ?" Tanyanya.


"Alhamdulillah iya, tadi dapet rezeki lebih dari calon suamiku." Ucapku menjelaskan sejujurnya.


"Oh, kirain dari siapa." Ucapnya seraya tersenyum.


"Mas besok aku izin main ya." Ucapku lirih.


"Kemana ?" Tanyanya.


"Ke rumah Wulan." Ucapku lembut.


"Siap-siap dulu sana. Nanti kita bahas di rumahku." Ucapnya.


"Ya." Ucapku seraya melangkah masuk kamar lagi.


^^^Selesai ganti baju dan berhias, kini kami pamit sama ibu dan kakakku. Mereka pun mengizinkan, sepanjang perjalanan dia terdiam begitupun dengan aku. Hingga tepat di rumahnya, dan masuk ke dalam rumah dia menjawab.^^^


"Riri." Panggil calon suamiku.


"Hmm." Jawabku seraya menatap wajahnya.


"Kamu mau main ke rumah Wulan ?" Tanyanya lembut.


"Iya." Ucapku lirih.


"Boleh, tapi untuk terakhir." Ucapnya seraya menatapku.


..."Terakhir kamu nginap di rumahnya, karena sebentar lagi akulah teman hidupmu." Ucapnya lembut, dan menatap aku teduh. ...


"Makasih mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Sama-sama." Ucapnya seraya tersenyum.


Hari pun telah berganti, dan hari jelang nikah sudah di depan mata. Simbokku, menemaniku di kamar.


"Haha, masih remaja sudah dapat jodoh." Ucapnya seraya tertawa.


"Aamiin mbok." Ucapkuseraya tersenyum.


"Wah besok ramai orang ni." Ucapnya lagi.

__ADS_1


"Iya mbok." Ucapku seraya mengatur nafas.


^^^Malamnya, aku dirias, karena malam ini malam midodareni. Malam sebelum akad nikah dimulai, saat sibuk menyalami tamu saat itu pulalah calon pengantin pria datang. ^^^


Aku yang baru saja, bercanda sama tamu langsung di panggil ibuku.


"Pacar kamu datang." Ucapnya lirih.


"Oh." Ucapku seraya pamit dan menyalami dia beserta rombongannya.


"Cie, yang bentar lagi halal." Goda Bayu dan yang lainnya.


"Shht, berisik." Ucapnya seraya tersenyum.


"Cantik juga, pantes saja diburu terus." Ucap Bayu absurd.


"Emang kambing diburu ?" Tanya pak Roni.


"Bukan pak, tapi macan." Ucapnya seraya tertawa.


Sementara aku asik ngobrol sama teman-teman di depannya.


"Tri, kenalin sama dia napa ?" Tanya Tari.


"Yang mana ?" Tanyaku.


"Yang di sebelah calon kamu." Ucap Wulan.


Spontan aku menatap Bayu, lalu bergidik. Dan berbalik bertanya.


"Kamu yakin, mau sama dia ?" Tanyaku lirih.


"Aduh bukan dia." Ucap Tari.


"Lha tadi katanya sama dia ?" Tanyaku balik.


"Itu mah pilihan Wulan." Ucapnya.


"Terus yang mana ?" Tanyaku.


"Di belakang calon kamu." Ucapnya lirih.


"Kenapa ?" Tanya mereka bersama.


"Dia sudah nikah bestie." Ucapku.


"Yah telat dong aku." Ucapnya.


"Hmm sabar." Ucapku seraya mengelus punggungnya pelan.


Tanpa kami sadari, mereka berbisik.


"Calon kamu kenapa tu, liatin kita sampai begitu ?" Tanya Bayu.


"Mungkin temannya naksir kamu." Ucap mas Agung asal.


"Waduh tahu saja aku paling tampan di sini." Ucapnya penuh percaya diri.


"Iya tampan, tapi udah dol." Ucap pak Roni.


...Mereka pun semua tertawa lepas, sementara Bayu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hingga makan malam pun tiba, mereka semua dapat makan dan minum teh hangat. ...


"Tri ini banyak banget." Ucap Tari.


"Emang segitu porsinya." Ucapku.


"Makan aja, tinggal makan saja bawel." Ucap Wulan.


^^^Selesai makan dan minum, mereka lalu memasukkan uang di kotak yang sudah tersedia. Dan mereka pun pulang, namun sebelum pulang, mas Agung ijin ke kamar mandi dulu. Setelah itu, dia memberiku sebungkus jamu. ^^^


"Jangan lupa di minum." Ucapnya seraya mencium keningku dan berlalu.


Aku hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum. Tak lama temanku juga pamit.


Malam pun semakin larut, ibuku yang masih sibuk di dapur langsung aku hampiri.

__ADS_1


"Enggak tidur buk ?" Tanyaku lembut.


"Enggak bisa tidur, lihat tempat kotor gini." Ucapnya.


"Sini aku bantu." Ucapku menawarkan diri.


"Sudah sana, kamu tidur saja. Besok bangun pagi." Ucapnya.


"Enggak, aku mau bantuin dulu baru tidur." Ucapku.


Mendengar hal itu ibuku akhirnya memperbolehkan aku membantunya. Sementara kakakku asik di luar, ngobrol sama temen-temennya.


...Selesai membersihkan dapur, kami pun tidur di kamar berbeda. Hingga tak sadar, pagi pun tiba. Aku bangun lalu mandi dan bergegas ke rumah bulekku, untuk dirias. ...


"Lho lha ini pengantin cowoknya mana ?" Tanya mui atau permasalahan pengantin.


"Ada mbak, lagi di jalan jawab seseorang di sana.


"Kalau bisa suruh cepet ya mas, soalnya takut enggak tepat waktu." Ucapnya.


"Asiap mbak." Ucapnya.


Tepat 5 menit, mas Agung datang. Dia mematung memandang aku. Aku yang belum sadar, masih terdiam. Hingga suara Mui satunya Mengagetkan kami semua.


"Mas, melamun saja. Sini duduk di sini." Ucapnya.


"Ah iya mbak." Ucapnya seraya tersenyum.


"Pangling ya sama calon istrinya ?" Tanyanya.


"Hehe, iya mbak." Ucapnya seraya tertawa kecil.


^^^Sementara aku hanya tersenyum. Selesai di rias, dia pun di bawa ke rumah terlebih dulu. Karena aku meminta sebelum sah, jangan di sandingkan dulu. Dan alhamdulillah mereka mau menuruti keinginanku. ^^^


"Kenapa mbak ?" Tanya mbak perias itu.


"Enggak apa-apa mbak." Ucapku seraya tersenyum.


"Grogi ya mbak ?" Tanyanya lagi seraya tertawa.


"Haha, bukan grogi lagi mbak. Tapi gemetaran." Ucapku polos membuat mereka yang mendengar tertawa keras.


"Tenang mbak." Ucapnya seraya mengelus lembut punggungku.


Sementara di rumah orang tuaku, sudah ada pak penghulu dan para saksi nikah dan juga calon pengantin pria.


"Sudah siap mas ?" Tanya pak penghulu.


"Insyaa ALLAH pak." Ucapnya.


"Rileks mas, jangan tegang." Ucapnya seraya tertawa.


"Hehe iya pak." Ucapnya lirih.


"Kalau tegang, salah sebut nama bahaya lho. Nanti istrimu menolak diajak hubungan." Ucapnya seraya tertawa kecil.


"Jangan sampai lah pak." Ucapnya lagi.


"Ya makanya jangan tegang." Saran pak penghulu.


"Iya pak." Ucapnya.


"Nama lengkap calon istrinya hafal ?" Tanyanya.


"Insyaa ALLAH hafal pak." Ucapnya lagi.


"Sudah siap ?" Tanyanya lagi.


"Insyaa ALLAH siap pak." Ucap mas Agung.


Bismillah. Ucapnya dalam hati.


"Jangan salah sebut nama dan bintinya ya mas." Ucapnya lagi.


"Iya pak." Ucap mas Agung lirih.

__ADS_1


Membuat mereka yang mendengar tertawa keras.


"Mari kita mulai." Ucapnya seraya menggenggam tangan calon suamiku.


__ADS_2