
Sepeninggal emak, mas Agung nampak memejamkan mata sejenak.
"Mas, tidur yuk." Ajakku seraya menggandeng tangannya.
"Iya." Ucapnya.
Sesampai di kamar, kami pun masih terjaga. Dan tak lama pintu rumah lagi-lagi di ketok ternyata yang datang saudara emak.
"Assalamualaikum." Salam pak lek.
"Waalaikumsalam." Ucap kami seraya membuka pintu rumah.
"Lek Cahyo, mari masuk." Ucap suamiku.
"Ya makasih." Ucapnya seraya tersenyum.
Sementara aku lalu masuk ke dapur membuatkan minuman dan cemilan yang ku buat tadi siang. Lalu keluar untuk menyuguhkan minuman dan makanan itu.
"Silahkan lek diminum dan dimakan." Ucapku seraya tersenyum.
"Walah ndok, kenapa repot-repot ?" Tanyanya.
"Enggak repot kok lek." Ucap kami bersama.
"Ya makasih, langsung ke intinya saja ya le Gung." Ucap lek Cahyo.
"Iya lek." Jawab kami bersama.
"Ini ada rezeki untuk kalian, tolong diterima." Ucapnya seraya menyerahkan tas besar itu kepada kami.
"Ini apa lek ?" Tanya suamiku.
"Itu uang dari almarhum bapakmu. Nia dan ibumu sudah dapat. Dan ini untuk kamu." Ucapnya lirih.
"Darimana bapak dapat uang segini lek ?" Tanya suamiku.
..."Bapakmu dulu itu tuan tanah le, tanpa sepengetahuan emakmu dan saudara lain. Karena dulu almarhum kerja di luar negri lama, dan saat pulang dia ingin melamar gadis. Namun sayang, gadis itu sudah dilamar lelaki lain. Akhirnya bapakmu mau menerima perjodohan dengan emakmu." Ucapnya....
"Terus kok bisa lek tahu, sementara yang lain tidak tahu ?" Tanya suamiku.
"Karena aku dulu temannya juga saat di perantauan." Ucapnya lirih.
"Oalah begitu toh." Ucapnya lirih.
"Iya." Jawab lek Cahyo.
"Ya sudah kalau begitu lek pamit dulu ya." Ucapnya seraya beranjak berdiri.
"Iya lek." Ucap kami.
^^^Sepeninggal lek Cahyo, Kami langsung mengunci pintu dan ke kamar lagi. Mas Agung lalu membuka brangkasnya dan memasukkan uangnya di brangkas tersebut.^^^
"Selesai menyimpan dia kembali keluar untuk mencuci tangannya. Alhamdulillah." Ucapnya seraya tersenyum.
"Iya." Ucapku.
"Tidurlah." Ucapnya seraya menatapku.
"Hmm." Ucapku seraya memeluknya.
...Tak lama kami pun tertidur, dan tepat jam 12 malam emak datang lagi. Entah apa yang beliau inginkan, hingga selarut ini pun beliau belum juga tidur....
"Ya mak." Ucapku seraya membuka pintu.
"Kamu mulai sekarang pindah ke rumahku, biar aku disini." Ucapnya.
"Mak, mak mau tidur sini boleh kok." Ucapku lirih seraya menahan pusing.
__ADS_1
Sementara suamiku masih terlelap. Aku yang hendak menutup pintu langsung di cegah olehnya.
"Kemasi pakaian kamu sekarang dan tinggalkan rumah ini !" Titah emak.
"Enggak ada yang bisa mengusir istriku selain aku." Ucap suamiku dengan nada tinggi.
Spontan aku langsung menatapnya dan menghampirinya. Lalu menggelengkan kepala agar tidak di dengar oleh lingkungan. Sementara emak langsung masuk ke kamar kami dan membuka almari, namun lagi-lagi mas Agung menahannya dan memeluk tubuhnya.
"Istighfar mak, kenapa emak jadi begini." Ucapnya seraya menangis.
"Pergi dari sini !" Titah emak.
Aku lalu menghubungi keluarga besar bapak. Dan tak lama mereka pun datang.
"Weni, istighfar Wen." Ucap Bude Marni.
"Diam kamu, enggak usah ikut campur." Ucapnya dengan suara keras.
^^^Sementara aku, aku hanya duduk di teras rumah. Sedangkan suamiku hanya menangis dan bersandar di dinding. Bulek Sinta mengelus dada, atas apa yang terjadi. Sedangkan budhe Marni terus memberi nasehat dan mengajak emak pulang.^^^
"Mbak, minum dulu mbak." Ucap Nia tiba-tiba.
"Kamu kapan datangnya ?" Tanyaku.
"Baru saja." Ucapnya seraya memelukku.
"Sabar ya mbak, dan maafin tingkah emak kami." Ucapnya.
"Insyaa ALLAH." Ucapku.
Sementara Bayu langsung mengajak Agung keluar juga. Sesampai di luar, aku menatapnya dengan tatapan kasihan.
"Mas." Panggilku lembut seraya memeluknya.
Dia pun juga membalasnya, dan meminta maaf kepadaku.
"Iya." Ucapku.
...Karena sulit di bujuk, akhirnya kami pun mengalah. Kami akhirnya membeli rumah baru di dekat kantor mas Agung. Kebetulan yang menjual masih sahabat terdekat om Cahyo. Setelah deal, dan membayar kami pun membawa barang-barang kami dan tak lupa pamit kepada lingkungan sekitar. Dan juga minta maaf kepada mereka jika ada salah. Mereka pun memaafkan....
Sesampai di rumah baru, kamu lalu membersihkan dan menata barang kami di sana. Dengan dibantu Nia, Bayu dan Pak Roni.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." Ucap kami bersama.
Sore hari, mereka langsung pamit pulang. Sepeninggal mereka suamiku menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Enggak apa-apa. Bangga saja memilihmu." Ucapnya seraya tersenyum.
"Kok bisa ?" Tanyaku.
"Iya, selalu sabar di saat banyak cobaan datang dan enggak pernah ninggalin aku." Ucapnya.
"Aamiin. Insyaa ALLAH selalu begitu." Ucapku lirih.
"Aamiin." Jawab suamiku.
"Ay, jalan yuk." Ajaknya.
"Kemana ?" Tanyaku.
"Ke rumah ibu." Ucapnya.
"Ya sudah yuk." Ucapku.
Namun baru mau beraiap, pintu rumah diketuk.
__ADS_1
"Siapa ?" Tanyaku.
"Emak." Ucapnya.
"Ya ALLAH mau apalagi dia ?" Tanya suamiku.
"Shtt, enggak boleh gitu." Ucapku.
Aku lalu mempersilahkan masuk dan beliau pun langsung duduk.
"Gung, kemasi barangmu dan kembalilah ke rumah." Ucapnya.
Entah apa yang beliau fikir hingga meminta kami kembali lagi. Tak ingin berdebat, suamiku langsung menghubungi Nia. Tak lama Nia datang lagi.
"Mak, ayo pulang." Ucapnya lirih.
"Enggak, mak mau rumah ini." Ucapnya tegas.
Aku lantas berlalu, dan mulai mengambil pisau. Mereka yang melihat pun langsung terkejut dan ingin merampas pisau yang ku bawa.
..."Emak, kemarin emak minta rumah dan gajinya putra emak. Aku ikhlas berbagi, sekarang emak minta kita pindah lagi. Lebih baik bunuh saya saja mak, daripada keluarga saya menanggung malu. Mak tahu, orangtua saya tahu tentang masalah ini. Hingga ibuku saya menyuruh saya pulang, namun saya enggak mau. Ucapku....
"Karena apa mak, karena saya enggak mau terjadinya perpisahan. Bila emak ingin putra mak kembali, ambil ini dan tikam saya." Ucapku seraya memberikan pisau itu kepadanya.
^^^Melihat reaksiku, Nia sadar aku sudah lelah dan Sabarku juga ada batasnya. Bayu sesekali menarik nafasnya dengan panjang. Sementara suamiku langsung memeluk dan membawaku keluar. ^^^
"Ay, yuk kita jalan." Ucapnya.
Aku menggelengkan kepala dan langsung duduk di teras.
"Ay." Panggil suamiku lirih seraya memegang pipiku.
"Tak perlu minta maaf, aku sedang lelah biarkan aku sendiri dulu." Ucapku seraya beranjak bangun dan melangkah ke dalam rumah menuju halaman belakang.
Sesampai di sana, aku meneteskan air mata dan menyebut nama ALLAH. Dan tak lama aku tertidur di kursi, tanpa ku tahu suamiku dan Bayu mengawasiku dari belakang pintu.
"Sabar, jangan biarkan dia begini lagi." Ucap Bayu.
"Iya." Jawab suamiku.
...Setelah itu mas Agung langsung membopongku dengan pelan dan mencium pipiku. Lalu membawaku masuk ke dalam. Sesampai di kamar, suamiku membaringkan tubuhku dan menutup tubuhku dengan selimut. Dia duduk di sampingku, dengan memandang wajahku. ...
^^^Ujian ini mungkin begitu berat untuk seusia kamu ay, tapi aku salut dengan keberanian kamu dan ketegasan kamu. Bahkan kamu tidak pernah cerita kepadaku, kalau mereka sudah tahu. Ucapnya lalu pindah ikut tidur denganku.^^^
Sementara di luar, Nia mengelus lembut perutnya yang sudah sedikit membuncit. Debay, kamu jangan bikin pusing ya sayang. Ucapnya lirih, namun masih bisa di dengar Bayu dan emak.
"Nia, mulai kurang ajar kau ya." Ucap emak lalu menarik tangan Nia dengan keras.
Melihat itu Bayu langsung melerai, dan berkata.
"Mak, ingat ini darah daging kamu." Ucap Bayu lantang.
Plak
Plak
Bukan Nia dan Bayu yang ditampar, namun emak yang di tampar oleh budhe Marni.
"Astagfirullah, sadar Wen." Ucap budhe lalu menyuruh kedua putranya untuk membawa paksa buleknya pulang.
"Budhe, kok budhe bisa tahu ?" Tanya Bayu.
"Ya, karena rumah kakakmu ini ada cctv yang langsung nyambung ke gawai putraku." Ucapnya lirih lalu beranjak pamit.
"Makasih budhe." Ucap mereka bersama.
"Ya." Ucapnya.
__ADS_1
Sepeninggal mereka, suamiku lalu keluar. Sementara Nia dan Bayu langsung pulang. Rumah nampak sepi, namun kali ini lebih tenang.