Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Makan Rujak Bersama


__ADS_3

...Sesampai di rumah, aku lalu melangkah ke dapur. Bayu hanya menatapku sekilas, lalu menarik tangan suamiku....


"Kamu enggak salah beli rujak sebanyak itu ?" Tanya Bayu.


"Enggak." Ucap suamiku.


"Yakin istrimu habis sendiri ?" Tanya Bayu.


"Ya enggaklah Bay, tadi pak Roni kirim pesan minta tolong juga dibeliin rujak." Ucap suamiku.


"Owh, kirain istrimu saja." Ucap Bayu.


"Kamu pikir perut istriku karet ?" Tanya suamiku.


"Hehe maaf bang." Ucapnya seraya tertawa.


"Hmm." Jawab suamiku.


"Bay, Nia masih tidur ?" Tanyaku.


"Masih." Ucapnya.


"Aku lalu meletakkan rujakku di meja, dan memanggil Nia.


Namun sayang dia masih terlelap tidur. Akupun kembali lagi, dan makan lagi.


"Mau ?" Tanyaku pada mereka.


"Boleh." Ucap mereka bersama.


"Ambillah." Ucapku.


Mereka lalu mendekati aku dan mengambil rujaknya.


"Kurang gula dikit." Ucap Bayu.


"Iya." Jawab kami bersama.


Selesai makan rujak, aku lalu minum dan menonton film.


Sedangkan mereka asik mengobrol.


"Gung, Riri pernah enggak sih bangunin kamu malam-malam buat minta yang aneh-aneh ?" Tanya Bayu?


"Alhamdulillah enggak." Ucap suamiku.


"Wah beruntung ya kamu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Emang Nia pernah ?" Tanya suamiku.


"Sering, makanya tubuhnya sekarang gemuk." Ucap Bayu.


"Hmm." Jawab suamiku.


"Hmm terus ?" Tanya Bayu kesal seraya melihat Agung sedang chat dengan siapa.


Melihat itu, Bayu menggelengkan kepala lalu berkata.


"Cuma tinggal jalan saja pakai kirim chat." Ucap Bayu.


"Biarin." Ucap suamiku.


"Gung, kamu masih ngasih uang ke emak ?" Tanya Bayu.


"Masihlah Bay, tapi enggak separuh juga. Aku juga mesti kasih istri dan calon anakku." Ucap suamiku.


"Terus listrik dan lain-lain ?" Tanya Bayu.


"Gajiku sebulan langsung ku berikan sama istri semua." Ucapnya jujur.


"Sama dong." Ucap Bayu.


"Jadi kita enggak perlu mikir kebutuhan dong ya ?" Tanya Bayu lagi.


"Ya tetaplah. Kadang aku izin keluar sama istri buat main, itu aku buat ngojek dan terkadang juga diajak pak Roni kerja." Ucap suamiku.


"Tunggu, jadi pas kamu lagi berantem sama Riri, kamu kerja ?" Tanya Bayu.


"Iyalah. Lagipula mana cukup gajiku buat sebulan." Ucap suamiku.


"Iya juga sih, aku ja kalau enggak ikut onlain mungkin juga enggak cukup." Ucap Bayu.


"Ya itulah susahnya menghidupi anak orang." Ucap suamiku lagi.


"Tapi aku heran, istrimu pintar banget atur keuangan." Ucap Bayu.


"Dia di didik oleh ibu, kalau ada uang sisa di masukkan tabungan. Kalau sudah terkumpul, beliin emas." Ucap suamiku.


"Wah benar juga ya." Ucap Bayu.


Sementara aku di sini, sudah bosan melihat tv. Aku lalu mematikan tv dan beranjak melangkah menatap area halaman rumah. Ya ALLAH seger banget. Ucapku.


"Neng, orang baru ya ?" Tanya ibu sebelah rumah.


"Iya buk." Ucapku seraya tersenyum.


"Waduh, semoga betah yak." Ucapnya.


"Iya bu insyaa ALLAH." Ucapku.


"Main-main sini neng biar akrab." Ucap ibu itu.


"Insyaa ALLAH bu." Ucapku seraya pamit. Lalu menutup pintu kembali, takut suamiku marah.


Aku lalu menyusul mereka, dan mengobrol bersama.


"Sudah ?" Tanya suamiku.


"Ya, bosen juga." Ucapku.


"Main yuk, ke rumahku." Ajak Bayu.


"Lain kali saja, badanku capek banget masihan." Ucapku jujur.


"Ya juga ya, pantes aja biniku betah tidur." Ucapnya seraya tersenyum.


...Sementara suamiku hanya tersenyum seraya mengambil gambarku diam-diam. Karena saat ini, aku melepas hijab. Namun rambut di ikat atas, terlihat jelas semuanya. Tapi tetap pakai pakaian sopan, bukan daster bukan juga celana panjang. Tapi setelan baby dool, berwarna abu-abu....


"Bay, bangunin napa ?" Tanyaku.


"Marah dia kalau di bangunin." Ucap Bayu.


"Dah mau mahgrib enggak baik, buat tidur." Ucapku.


"Hmm. Ya deh." Ucapnya seraya beranjak.


Sepeninggal Bayu, aku lalu melihat gawaiku. Tidak ada pesan dari siapa pun, aku lalu meletakkan gawaiku di nakas dan memilih ke dapur.


Itu istri enggak pernah bisa diam, cari kerjaan melulu. Ucap suamiku lirih.


Tak lama aku pun kembali, membawa selang air. Lalu menyirami tanaman di luar.


"Mas, aku izin keluar dulu ya." Ucapku.


"Kemana ?" Tanya suamiku.


"Menyirami tanaman." Ucapku.


"Iya." Jawab suamiku.


Aku meletakkan selang di depan pintu, lalu masuk ke dalam kamar. Selesai memakai rok panjang dan hijab, aku lalu keluar menyirami bunga.


Tanpa ku tahu, dari arah kantor teman mas Agung berdecak kagum.


"Itu istrinya Agung bukan sih ?" Tanya Sony.


"Iya." Jawab pak Roni.


"Rajin banget dia, baru juga tadi siang pulang, sekarang baru jam 4 sudah menyirami bunga." Ucap Sony.


"Namanya juga kewajiban." Ucap pak Roni.

__ADS_1


"Ya juga ya pak." Jawab Sony.


"Ya sudah yuk pulang" Ucap Sony lagi.


"Bentar, aku mau ke rumah Agung dulu. Ambil pesananku." Ucap Pak Roni.


"Oh yang tadi." Ucapnya.


"Iya." Jawab pak Roni.


Sesampai di rumah kami, pak Roni menyapaku.


"Riri." Panggil Pak Roni.


"Ya pak." Ucapku seraya tersenyum.


"Ambil pesanan." Ucap pak Roni.


"Ok, masuk dulu pak." Ucapku.


"Ya." Ucapnya seraya turun dari motor.


Melihat suamiku hampir tertidur, aku menyuruh pak Roni masuk dengan suara pelan.


"Masuk pak, duduk dulu." Ucapku.


"Ya." Ucapnya dengan keras.


Membuat suamiku terbangun, weh bapaknya datang. Ucapnya lirih.


"Duduk pak." Ucap suamiku seraya pamit cuci muka.


"Selesai itu, suamiku lalu menemui pak Roni. Gimana pak ?" Tanya suamiku.


"Ck, harus sabar. Mending nagihnya sama kamu daripada sama dia." Ucapnya.


"Emang kenapa pak, kan enak sama Doni dan bu Erin." Ucap suamiku.


"Enak dengkulmu itu, dikit-dikit ngeluh pusing, dikit-dikit kencing. Kalau Doni, cerewet banget." Ucap pak Roni.


"Haha, masa sih pak." Ucap suamiku seraya tertawa.


"Iya." Jawabnya.


"Ini pak." Ucapku seraya menyerahkan pesanannya.


"Ok, makasih ya Ri." Ucap pak Roni.


"Sama-sama pak." Ucapku seraya pamit keluar.


Setelah keluar, aku lalu menyapu daun-daun yang jatuh. Lah ini apa ya ? tanyaku lirih seraya mengambil benda itu.


Kalung, kalung siapa ini ? Tanyaku lirih. Tak mau salah sangka dan asal, aku lalu meneruskan menyapaku dan setelah selesai aku lalu cuci tangan terus masuk ke dalam rumah.


Ku lihat pak Roni, sudah melangkah keluar.


"Pulang pak ?" Tanyaku.


"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.


"Hati-hati pak." Ucapku.


"Ok." Ucapnya seraya berlalu.


Sepeninggal pak Roni, aku celingak celinguk mencari adik ipar, namun tidak aku temukan.


"Cari siapa ?" Tanya suamiku.


Tanpa menjawab aku lalu menarik tangan suamiku, membawa dia masuk ke kamar. Aku lalu mengeluarkan kalung tadi.


"Mas, ini punya siapa ?" Tanyaku.


"Enggak tahu." Ucap suamiku.


"Kamu dapat darimana ?" Tanya dia ?"


"Aku tadi pas nyapu, nemu ini." Ucapku jujur.


Dia lalu mengambilnya, dan melihat dengan seksama. Ya ALLAH ini kan punya Sony. Ucapnya dalam hati.


"Makasih ay, kemarin Sony bertanya sama aku. Dirumah kamu ada kalung enggak ? Aku jawab enggak ada, dia juga menunjukkan foto kalung ini." Ucapnya seraya mencium pipiku.


"Ya sudah, lebih baik berikan saja sama Sony." Ucapku.


"Ya sudah, yuk ikut." Ajak suamiku.


"Capek mas." Ucapku.


"Bentar saja, sekalian periksa debaynya." Ucapnya seraya tersenyum.


"Serius ?" Tanyaku.


"Duo rius." Ucap suamiku.


"Ya sudah yuk." Ajakku.


"Iya." Jawab suamiku seraya tersenyum.


Sesampai di luar, kami pun berangkat tak lupa juga pamit sama Bayu. Karena Nia juga masih tidur.


Tak berselang lama, kami pun sampai ke rumah Sony.


"Assalamualaikum." Salam kami berdua.


"Waalaikumsalam." Ucap Sony dan Lisa.


"Tumben kesini, ada angin apa ni ?" Tanya Sony.


"Enggak ada, hanya mau ngembaliin kalung kamu saja yang terjatuh di rumahku." Ucap suamiku.


"Masuk dulu." Ucapnya seraya mempersilahkan duduk.


"Ini." Ucap suamiku seraya menyerahkan kalungnya itu pada Sony.


"Thanks brow. Kalau boleh tahu ketemu dimana ni ?" Tanya Sony.


"Yang nemu istriku, pas nyari tadi sore." Ucap suamiku.


"Thanks ya Ri" Ucap Sony.


"Sama-sama." Ucapku datar.


Tak lama Lisa keluar, membawa minuman dan snack serta buah.


"Mari silahkan dicicipi." Ucapnya seraya tersenyum.


"Aduh enggak perlu repot-repot kali Lis." Ucap suamiku seraya tersenyum.


"Enggak kok." Ucapnya seraya menatapku.


Kami pun langsung menikmati cemilan dan minuman tersebut. Dan setelah selesai, barulah berbincang kembali lalu minta tolong Lisa.


"Lis, mumpung di sini juga, tolong periksain istriku dan calon anakku ya." Ucap suamiku.


"Ya, sini." Ucap Lisa seraya mengajakku masuk.


Selesai diperiksa, kini suamiku bertanya.


"Gimana ?" Tanya suamiku.


"Alhamdulillah sehat semua." Ucapnya seraya tersenyum.


"Alhamdulillah, kalau dipakai enggak apa-apa dong ?" Tanya suamiku lirih.


"Asal pelan." Jawab Lisa.


"Makasih ya, berapa ni ?" Tanya suamiku.


"Udah enggak usah." Ucap Lisa.


"Beneran enggak ni, nanti aku pulang ngomel lagi." Ucap suamiku seraya tersenyum dan merangkul bahuku.

__ADS_1


"Sumpah ya, daridulu sampai sekarang enggak pernah berubah kamu." Ucap Lisa ketus.


"Cie, gitu saja marah. Canda Lisa." Ucapnya.


"Gimana ?" Tanya Sony, setelah kami sampai di luar.


"Alhamdulillah baik semua." Ucap suamiku.


"Alhamdulillah." Ucap Sony lagi.


"Ya sudah, kalau gitu kami pamit dulu ya." Ucap suamiku.


"Ok." Ucap mereka bersama.


Tak lupa kami salaman dan mengucapkan terima kasih, barulah kami pamit.


Sesampai di depan pintu, sayup-sayup terdengar suara Nia menangis lagi. Aku dan suamiku langsung masuk.


"Assalamualaikum." Salam kami berdua.


"Waalaikumsalam." Ucap Bayu.


"Nia kenapa ?" Tanya kami bersama.


"Itu." Ucap Bayu seraya menunjuk tv.


Melihat itu kami langsung menggelengkan kepala seraya duduk di sofa. Sementara Bayu, tertawa kecil melihat kami khawatir.


"Ketawa aja kamu." Ucap suamiku gemas.


"Haha, gimana enggak ketawa datang pergi dengan wajah khawatir gitu." Ucap Bayu seraya tertawa.


Mendengar jawaban Bayu, suamiku langsung melempar bantal sofa ke arah Bayu. Membuat Bayu makin tertawa.


"Dasar adik ipar lucnut." Ucap suamiku seraya membopongku ke kamar.


"Aduh, masih sore woy." Ucap Bayu.


"Bodo amat." Ucap suamiku.


Mendengar mereka bertengkar aku hanya tersenyum.


"Kenapa senyum ?" Tanya suamiku sesampai di kamar dan merebahkan tubuhku di kasur.


"Lucu saja." Ucapku seraya tersenyum.


"Oh kamu mau juga." Ucap suamiku.


Aku langsung tertawa geli dengan apa yang dilakukannya. Dan tak lama kami pun terdiam, barulah mulai berbincang.


"Ay, kamu tahu enggak ?" Tanya suamiku.


"Enggak." Ucapku.


"Dengerin dulu." Ucap suamiku lagi.


"Ya." Ucapku.


"Aku dulu pernah jatuh dari motor." Ucapnya.


"Iyakah ?" Tanyaku.


"Sakit banget, tapi pas tahu ada bidadari rasa sakitku hilang." Ucapnya lirih.


"Memangnya siapa bidadari itu ?" Tanyaku.


"Kamu." Ucapnya.


"Kok bisa aku ?" Tanyaku.


"Iya, aku suka kamu dari sejak kamu Sd." Ucap suamiku seraya tersenyum.


"Bohong." Ucapku.


"Serius." Ucap suamiku.


"Aamiin ya ALLAH." Ucapku seraya tersenyum.


"Ya robbal allamiin." Ucap suamiku.


Pantes dulu pas ku tanya ibuku, ibuku kenal kamu." Ucapku seraya memejamkan mata.


Begitupun dengan suamiku. Kami pun tertidur dengan pulas. Sementara Bayu, kini menemani Nia nonton.


"By, ngantuk." Ucapnya.


"Ya sudah, yuk tidur." Ucapnya.


"Gendong." Ucapnya.


"Sini." Ucap Bayu lalu membopong Nia.


Sesampai di kamar, mereka pun tidur kembali.


Tepat jam 10, aku terbangun begitupun dengan suamiku.


"Lapar ?" Tanya suamiku.


"Enggak." Ucapku.


"Sakit ?" Tanyanya.


"Enggak." Ucapku seraya tersenyum.


"Terus kenapa ?" Tanya suamiku.


"Peluk." Ucapku.


"Masyaallah, sini sayang." Ucapnya seraya tersenyum.


Aku pun lalu mendekati dan memeluknya. Tak lama kami pun terlelap lagi.


Paginya, aku sama sekali belum bangun dan masih terlelap tidur. Sementara suamiku, sudah bersiap kerja lagi.


Aku berangkat dulu ya sayang." Ucapnya seraya mengecup keningku dan perutku.


"Tumben ?" Tanya Bayu tiba-tiba.


"Tumben apa ?" Tanya suamiku.


"Enggak sama istri ?" Tanya Bayu.


"Kamu juga ?" Tanya suamiku balik.


"Masih tidur dia, semalam dia nangis lagi." Ucapnya.


"Oh, kalau Riri bentar-bentar bangun." Ucap suamiku.


"Kenapa ?" Tanya Bayu.


"Pertama pengen peluk, kedua pengen susu, ketiga pengen buah dan yang terakhir pengen mandi." Ucap suamiku.


"Busyet, banyak banget ?" Tanya Bayu.


"Iya, makanya tadi habis subuh aku tidur lagi." Ucap suamiku lagi.


"Ya sama." Ucap Bayu seraya sarapan.


"Gung, kamu sering bangun tu pusing enggak ?" Tanya Bayu.


"Alhamdulillah enggak." Ucap suamiku jujur.


"Kok bisa ?" Tanya Bayu.


"Karena sudah niat." Ucap suamiku.


"Oh begitu." Ucap Bayu seraya beranjak dari meja makan. Dan mencuci piring.


Tak berselang lama suamiku juga begitu.


Selesai semua, mereka pun berangkat, namun sebelum berangkat suamiku mengunci semua pintu rumah.

__ADS_1


Lalu masuk kantor.


__ADS_2