Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Pulang Malam


__ADS_3

"Ya selain itu juga kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kebahagiaan Riri terletak kepada kamu, begitu juga sebaliknya." Ucap Pak Roni.


"Ya pak, walau bagaimanapun hanya Riri yang tetap sabar dan mau terima aku apa adanya." Ucap Agung.


"Kita sudah sampai, jangan lupa formulir dan surat-suratnya." Ucap Pak Roni.


"Ya." Jawab Agung.


"Assalamualaikum." Salam Agung.


"Waalaikumsalam, cari siapa mas ?" Jawab dan tanyanya.


"Mas Gilangnya ada bu ?" Tanya Agung ramah.


"Enggak ada mas." Jawab ibu itu.


"Oh, begitu ya sudah bu kami permisi dulu. Mari." Ucapnya.


"Ya." Jawab ibu itu.


"Tadi bukannya nemuin kamu ?" Tanya pak Roni.


"Iya, mungkin kerja." Ucapnya.


"Hmm, ya sudah kita kembali lagi ke kantor." Ucap pak Roni.


"Ya." Jawabnya.


Sampai parkiran motor di kantor, Agung dan pak Roni nampak memperhatikan putrinya yang asik main air di halaman rumah.


"Riri kemana sih, anaknya dibiarin basah gitu ?" Tanya Agung lirih.


"Mungkin baru sibuk." Jawab pak Roni.


Di luar Agung nampak masih memperhatikan putrinya, sedangkan di dalam Riri sedang ketakutan karena ada 5 ekor ular berbisa di sana.


"Duh mbok, hpku bunyi lagi belum juga Rindu malah main di luar." Ucapku lirih.


"Ya bu, mana ularnya mendekat lagi." Ucap Simbok ketakutan.


"Ck, tidurkah dia ?" Tanya Agung.


"Ya sudah sana samperin jangan marah-marah terus. Puasamu batal nanti." Ucap pak Roni.


"Astagfirullah, ya juga ya." Ucapnya lalu menyerang dan masuk ke rumah.


"Sayang." Ucap Agung.


"Yayah." Panggil Rindu senang.


"Ibu kemana ?" Tanya Agung.


Rindu menunjuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum." Salam Agung.


"Waalaikumsalam mas." Jawab dan panggilku dengan teriak.


"Ay, kamu dimana ?" Tanya Agung.


"Aku di kamar, disini ada ular cobra lima." Ucapku masih teriak.


"Innalillahi, tunggu disitu dulu. Ucapnya lalu menelpon para sahabatnya. Tak lama mereka datang, dan membuka pintu kamar.


"Pak, ibu digigit ular." Ucap Simbok dengan suara bergetar.


"Innalillahi, cepat ada yang kena gigitannya." Ucap pak Roni.


"Rindu di sini dulu ya, ayah mau nolongin ibu." Ucap Agung kepada anaknya.


"Ya." Jawabnya.


"Son, titip bentar anakku." Ucap Agung panik.


"Ya, kamu hati-hati jangan panik." Ucapnya.


Tanpa menjawab, Agung langsung menghampiri Riri. Dan membawa keluar, ular yang menghalangi sudah di masukkan dalam karung oleh Bayu, pak Roni dan Bagus.


"Semuanya makasih, aku bawa istriku ke RS dulu." Ucapnya dengan membopong tubuh Riri.


"Ya." Jawab mereka.


Sampai di RS, Riri langsung ditangani. Beruntung racun ular tadi sempat dikeluarkan lebih dulu.

__ADS_1


"Gimana dok ?" Tanya Agung.


"Alhamdulillah, tinggal menunggu Mbaknya sadar." Ucap dokter itu.


"Alhamdulillah, makasih dok." Ucap Agung.


"Ya." Jawabnya lalu pamit pergi.


Agung pun langsung masuk ke dalam menemui Riri.


"Ay, maafin aku sudah sudzon sama kamu. Lekaslah sadar sayang, aku dan Rindu menunggu kamu. Ucapnya dengan menangis.


Di rumah, simbok yang masih syok langsung diminta duduk dan minum.


"Duduk sini mbok, dan minum dulu biar simbok tenang." Ucap Bayu.


"Makasih pak." Ucap Simbok.


Setelah terlihat tenang, simbok meneteskan air mata dan berkata.


"Ini semua gara-gara saya, kalau saya enggak buka jendela rumah yang di atas, ular-ular tidak akan masuk. Dan tidak mengenai ibu Riri." Ucapnya penuh menyesal.


"Jendela mana mbok ?" Tanya mereka.


"Jendela dekat gudang." Ucapnya.


Mereka pun yang paham, hanya menghembuskan nafasnya pelan.


"Sudah mbok, jangan salahin diri sendiri terus. Mungkin Riri dan simbok lagi kurang beruntung." Ucap Bayu.


"Ya, tapi ibu tadi rela mempertaruh nyawanya demi saya." Ucap Simbok.


"Maksudnya gimana ?" Tanya Bayu.


"Ya, tepat saya mau ambil sapu tiba-tiba ada ular yang mendekati saya. Alhamdulillah tangan saya ditarik oleh ibu, namun ular itu menyerang ibu berkali-kali." Ucapnya.


"Ya sudah mulai sekarang jendela di dekat gudang, jangan di buka ya mbok." Ucap Bayu lirih lalu pamit keluar menyusul yang lain.


"Ya pak, makasih." Ucapnya.


"Sama-sama mbok." Ucap Bayu.


Sesampai di luar, Bayu lalu menceritakan kronologisnya kepada Sony dan Bagus.


Yang langsung di senggol Bagus, mengingat Bayu sudah duda ditinggal meninggal Nia selamanya.


"Ups, maaf enggak ada maksud." Ucap Sony.


"Enggak apa-apa, dah biasa aku." Ucapnya lalu membawa Rindu ke dalam.


"Om." Panggil Rindu.


"Ya sayang." Jawab Bayu.


"Luk." Ucap Rindu lalu memeluk tubuh Bayu.


"Hehe ya sayang." Jawab Bayu langsung membalas pelukannya.


Hari pun sudah berganti malam, Rindu pun malam ini di bawa ke rumah Bayu dan tidur di sana.


"Dimana aku ?" Tanyaku lirih.


"Ay, kamu sudah bangun sayang ?" Tanya Agung lega.


"Sudah, kita dimana mas ?" Tanyaku.


"Di rumah sakit sayang, tadi kamu di gigit ular." Ucapnya lalu menciumku.


"Simbok gimana mas ?" Tanyaku.


"Alhamdulillah beliau baik-baik saja sayang." Ucapnya lirih.


"Alhamdulillah." Ucapku.


"Ya sudah, aku panggil dokter dulu ya." Ucapnya.


"Ya." Jawabku.


Tak lama dokter datang dan memeriksa aku.


"Gimana dok ?" Tanya Agung.


"Alhamdulillah hari ini bisa pulang, tapi tetap istirahat dan minum obat ya mbak." Ucapnya.

__ADS_1


"Obat ?" Tanyaku.


"Ya obat biar hilang semua racun ularnya. Takutnya ada yang tertinggal." Ucap dokter muda itu.


"Ya dok makasih." Ucapku.


"Sama-sama, semoga lekas sembuh." Ucapnya lalu pamit begitupun dengan kami.


"Mas." Panggilku.


"Hmm." Jawabnya.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Enggak apa-apa." Jawabnya.


Hmm, apa iya dia cemburu lagi dengan dokter tadi ? Tanyaku dalam hati.


Sampai parkiran motor dan naik motornya, kami pun langsung pulang.


"Mas" Panggilku lirih dengan tangan aku masukkan pada saku jaketnya.


"Hmm." Jawabnya datar.


"Kenapa sih, jutek amat." Ucapku.


Agung hanya diam, udah tahu cemburu masih saja tanya. Dasar enggak peka. Ucapnya dalam hati.


Kami pun akhirnya sampai di rumah, aku lalu membersihkan tubuhku dan ganti baju, lalu menghubungi Bayu.


"Mau telpon siapa ?" Tanya Agung.


"Bayu mas, nanyain Rindu." Jawabku.


"Sudah malam, Bayu udah tidur." Ucapnya.


"Terus Rindu ?" Tanyaku.


"Biarkan dia di sana dulu, kamu istirahatlah. Biar besok aku ambil dia." Jawabnya.


"Tapi aku rindu." Ucapku.


"Aku lebih rindu, tapi di luar hujan." Ucapnya.


"Hmm." Jawabku.


Kami pun tidur berdua, Agung memeluk Riri erat.


"Saat tahu kamu kena gigitan tadi, aku langsung takut ay. Aku takut kamu ninggalin kita." Ucapnya.


"Shht, jangan gitu ah, aku sudah sembuh dan kini sudah di sampingmu. Walau ada yang kurang." Ucapku.


"Maaf." Ucapnya.


"Ya." Ucapku lirih.


"Ay." Panggil Agung.


"Hmm." Jawabku.


"Aku terima nikahnya Triyani Susanti binti Wijaya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Ucap Agung berbisik.


"Sudah ku terima." Ucapku lirih lalu tersenyum.


"Terima kasih." Ucap Agung.


"Sama-sama suamiku." Ucapku.


"Ay." Panggil Agung.


"Ya mas." Ucapku.


Kami pun saling memandang dan langsung menciumi seluruh wajahku.


"Mas." Panggilku.


"Terus panggil aku ay, aku suka itu." Ucapnya.


"Ya mas." Ucapku lirih lalu menarik tangannya yang tengah memasuki rerumputan.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Geli." Ucapku.

__ADS_1


"Beli apa ?" Tanya Agung pura-pura tidak mendengar.


__ADS_2