
"Pagi sayang." Ucap suamiku yang sukses membuat aku terkejut.
"Mas, sudah bangun ?" Tanyaku lirih.
"Sudah, karena aku tahu kamu tiap hari senin selalu puasa. Aku pengen puasa juga." Ucapnya.
"Alhamdulillah, ya sudah mau sahur pakai apa ?" Tanyaku.
"Apa saja, yang penting masakan kamu." Ucapnya.
"Ya." Ucapku lalu menggoreng ikan nila.
Tak lama masakan yang ku masak pun sudah matang, kini tinggal sahur bersama.
"Ehem, ay semalam dia telfon lagi." Ucap suamiku di sela-sela makannya.
"Sahur dulu mas." Ucapku dengan tersenyum dan mengelus tangannya.
Dia menatapku dan menganggukkan kepala. Selesai sahur, aku lalu membersihkan dapur dan mencuci piring dan gelas kami.
Selesai semua, kami duduk di ruang tamu dan berbicara.
"Ay, aku udah sering blokir nomer hpnya, tapi dia selalu ganggu terus. Padahal dia tahu kalau aku sudah menikah dan punya anak." Ucap suamiku.
"Itu karena dia sudah obsesi sama kamu. Lebih baik, kamu hindari dia dan kalau pun terpaksa bertemu hindari kontak mata dengannya. Tapi ingat jangan balas dia dengan keburukan." Ucapku.
"Iya." Ucap suamiku.
"Ya sudah, aku bangunin Rindu dulu ya terus mandi dan ajak dia jalan-jalan." Ucapku.
"Iya." Ucapnya lalu ikut beranjak pergi.
Sesampai di kamar, aku pun bangunin Rindu.
"Sayang bangun yuk." Ajakku.
"Hmm, mamam." Ucapnya.
"Ya yuk." Ajakku.
Dia pun langsung mendekati aku dan minta gendong. Suamiku yang melihat itu langsung menggantikan aku menggendong Rindu. Dan kini aku mengisi bak mandi Rindu dengan air panas dan ku tambahkan air dingin. Lalu melepas pakaian Rindu dan diapresnya.
"Yeay." Ucap Rindu saat badannya masuk kedalam bak.
"Senang ya sayang." Ucap kami bersama.
"Ya." Jawabnya.
Suamiku lalu merekam kami Rindu dan sesekali aku juga ikut terekam. Setelah itu dia menguploud ke aplikasi warna biru dan hijaunya. Dengan ditambahkan tulisan, Bahagia itu sederhana melihat istri mandiin anak terasa bahagia banget.
Baru satu menit dikirim, sudah banyak yang kasih komen dan like. Terlihat banyak komentar yang kecewa, karena rupanya Agung sudah menikah dan punya anak.
Aku yang baru selesai memakaikan pakaian putriku dan memberinya bedak, langsung keluar.
"Mbok, aku pergi jalan-jalan dulu ya." Ucapku.
"Ya bu." Jawab simbok ramah.
"Salim dulu sayang sama simbok !" Titahku pada anakku.
Rindu pun langsung salim, dan menirukan aku mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam bu, non hati-hati. " Ucapnya.
"Ya." Ucapku.
Sesampai di ruang tamu, mas Agung menatap kami lalu tersenyum lebar.
"Anak ayah mau kemana nih ?" Tanya Agung.
"Halan." Ucap Rindu.
"Ayah ikut ya." Ucapnya.
"Yuk." Jawab Rindu.
__ADS_1
Kami pun keluar bersama dan jalan bertiga.
"Cie, mau kemana nih ?" Tanya ibu komplek.
"Jalan-jalan bu." Jawab kami bersama.
"Awas jangan lewat di sana." Peringat ibu komplek itu.
"Memangnya di sana ada bu ?" Tanyaku.
"Banyak pedagang mainan disana, nanti anakmu pasti pengen." Ucapnya.
"Hehe, makasih bu mari." Jawab suamiku lalu menarik pinggangku.
Saat sudah berhasil lolos dari ibu itu, mas Agung menjelaskan ke aku.
"Ay, tadi pas kamu ngeliat arah yang ditunjuk oleh ibu itu, anak perempuannya keluar dan tersenyum ke arahku. Makanya aku tadi tarik kamu." Ucapnya.
"Shtt, ada anak kita mas. Dia walau belum ngerti, tapi dia mengingatnya." Ucapku lirih.
"Maaf." Ucapnya.
"Iya." Ucapku.
Dan benar saja, setelah sampai di tempat ini, tempat yang di tunjuk ibu tadi memang benar banyak aneka mainan. Rindu pun langsung mendekat, dan minta pada sang penjual mainan.
"Ni." Ucap Rindu.
"Sayang mau ini ?" Tanya suamiku.
"Ya." Jawabnya.
"Satu saja ya." Ucapku.
"Wa." Jawab Rindu.
"Pintar nawar ya kamu dek." Ucap pedagang itu.
"Iya mas." Ucap suamiku lalu membayar dan menarik tanganku.
Aku lalu mencium Rindu, dan memberi nasehat.
"Rindu, mainan Rindu udah banyak besok kalau jalan-jalan kesini lagi, berjalan lurus ya." Ucapku.
"Ya." Jawabnya sambil memainkan mainan tadi.
"Kenapa ?" Tanyaku lirih.
"Senang saja, melihat kamu dan anak kita." Jawabnya.
"Yang benar ?" Tanyaku.
"Beneran." Ucap suamiku tulus.
"Aamiin." Ucapku.
"Tahu gini, sudah daridulu aku lamar kamu." Ucapnya.
"Maksudnya ?" Tanyaku yang belum paham.
"Tahu begini, sudah sejak umur 8 tahun aku lamar kamu." Ucapnya lagi.
"Hmm, dasar suamiku ini." Ucapku dengan tersenyum.
"Semoga kita selalu melewati semua ujian darinya. Aamiin ya ALLAH." Ucap mas Agung.
"Aamiin." Ucapku.
Kami pun langsung melangkah meninggalkan tempat itu dan mengajak Rindu pulang.
Sesampai di rumah, aku lalu menyiapkan baju untuk kerja suamiku. Dan keluar kembali, mengajak Rindu main. Tak berselang lama, mas Agung selesai mandi dan sudah bersiap berangkat ke kantor.
"Mas." Panggilku lalu mencium tangannya.
Begitupun dengan Rindu, dia takzim sama ayahnya.
__ADS_1
"Ayah berangkat kerja dulu ya sayang, nurut apa kata ibu dan istirahat tepat waktu." Ucap mas Agung.
"Iya." Ucap Rindu langsung dada.
"Bentar ayah pamit sama ibumu dulu. Ay, aku kerja dulu ya." Ucapnya seraya mencium kening dan pipiku.
"Iya mas hati-hati." Ucapku langsung takzim.
"Iya." Ucapku.
Sesampai di kantor, Agung lalu di panggil Pak Roni.
"Gung, ada yang cari kamu tu." Ucapnya.
"Siapa ?" Tanya Agung.
"Gilang." Ucap pak Roni.
"Owh, dimana dia ?" Tanya Agung.
"Tu di ruang tunggu." Ucap pak Roni.
"Makasih pak." Ucapnya lalu menemui Gilang.
"Pagi." Ucap Agung.
"Pagi, maaf ganggu masnya." Ucap Gilang dengan sopan.
"Iya, ada apa ya ?" Tanya Agung.
"Begini, saya kesini mau minta maaf atas tindakan adik saya kepada masnya dan ketidak nyamannya keluarga mas Agung." Ucap Gilang.
"Tunggu saya belum paham, maksudnya gimana ya ?" Tanyanya.
Gilang pun menceritakan kronologis kemarin malam, tentang sang adik tercinta.
"Maka dari itu saya mewakili adik saya, mohon maaf kepada masnya." Ucapnya tulus.
"Sudah saya maafkan kok mas, dan saya juga berharap agar adik anda bisa ikhlas menerima kenyataan ini." Ucapnya.
"Iya mas makasih, kalau begitu saya pulang dulu ya mas." Ucap Gilang lalu pamit.
"Oh ya mas hati-hati." Ucap Agung.
"Ada apa Gung ?" Tanya Pak Roni.
"Dia minta maaf, karena adiknya sudah mengganggu aku." Ucapnya.
"Loh, memangnya dia masih ganggu kamu ?" Tanya pak Roni.
"Masih pak, bahkan kemarin saja dia masih ganggu aku. Sampai-sampai Riri cemburu." Ucap Agung lirih.
"Ya jelaslah, namanya juga perempuan." Ucap Pak Roni.
"Ya udah yuk siap-siap kerja." Ucapnya.
"Ya." Jawab Agung.
"Kita kemana dulu pak ?" Tanya Agung lagi.
"Ke tempat yang lebih deket dulu." Ucapnya.
"Kemana ?" Tanya Agung lagi.
"Yayah." Panggil anaknya.
"Ya." Ucapnya seraya dada.
"Itu anakmu Gung ?" Tanya pak Roni.
"Iya." Ucap Agung.
"Wah, makin cantik dan gendut dia." Ucap pak Roni.
"Alhamdulillah pak, Riri selalu memberi asupan gizi terbaik." Ucap Agung.
__ADS_1