
...Selesai sholat, aku langsung keluar dan mulai buat sarapan. Padahal bukan pemilik rumah,namun kaya yang punya rumah. Tapi mau gimana lagi, sudah laper. Ucapku lirih....
selesai masak telur dan nasi goreng, aku pun langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Mas bangunlah." Ucapku seraya mendekatkan nasgor itu.
"Hemm, harum banget. Pasti enak ni." Ucapnya seraya tersenyum.
"Enggak tahu, tapi semoga enak dan sesuai di lidah kamu." Ucapku.
"Pasti sesuai kok." Ucapnya.
"Aamiin." Ucapku.
Melihat dia akan memasukkan nasgor buatanku ke mulutnya, aku langsung memejamkan mata. Sementara dia memakan masakanku.
"Masyaallah enak banget". Ucapnya.
"Serius ?" Tanyaku.
"Serius." Ucapnya.
"Alhamdulillah." Ucapku.
Aku menatapnya dengan intens, dan dia pun menghabiskan nasi goreng buatanku dengan lahap.
"Alhamdulillah kenyang banget." Ucapnya lalu minum dan meletakkan piring bekasnya di nakas.
"Makasih ya." Ucapnya.
"Sama-sama." Ucapku.
"Ya sudah, bangun sana mandi." Ucapku seraya beranjak. Namun langsung di cegah olehnya, dan naasnya aku terjatuh tepat di tubuhnya.
"Auw." Teriakku.
"Shtt, diamlah." Ucapnya.
"Awas ih." Ucapku.
^^^Namun tubuhku langsung di tindih olehnya. Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tangan aku, membuat dia langsung ingin menarik tanganku. Tapi sayang seribu kali sayang, ada seseorang yang masuk kedalam dan melihat adegan kami.^^^
Akhhh...
"Emak, Aa Agung kumpul zina." Ucap seseorang itu.
"Maksudnya apa ?" Tanyanya.
Mereka langsung masuk ke dalam dan melihat kami duduk agak berjauhan.
"Kenapa nyak ?" Tanya Agung.
"Ini si Sindi kata kamu zina." Ucapnya.
"Ngaco kamu." Ucapnya seraya tertawa.
"Tadi aku lihat kalian berdua melakukan itu." Ucapnya.
"Enggak tahu jangan sok tahu." Ucapnya.
Sementara aku langsung takzim dan hanya menyimak.
"Oh ini gadis yang kamu ceritakan itu to." Ucapnya seraya tertawa.
"Kalau saling suka mending langsung Ke Kantor Agama saja. Buat nikah." Ucapnya.
"Iya mak, doakan kami." Ucap mas Agung.
"Aamiin." Ucap Emak mengaminkan.
__ADS_1
Sementara aku kini sedang menjemur bajuku yang masih basah. Belum juga kering, langit sudah mendung. Ucapku lirih.
"Sudah kering ?" Tanyanya.
"Belum ni." Ucapku.
Tunggu saja." Ucapnya.
"Ok." Ucapku.
Aku pun berdiam diri di dekat jemuran, seraya membalas pesan bapak dan teman-temanku.
"Lagi apa ?" Tanyanya dengan rambut basah dan hanya mengenakan handuk sepinggang. Membuatku spontan menoleh dan berteriak sekeras-kerasnya.
"Waaaaaaaaaaa..." Teriakku dengan menutup mata.
...Melihat aku teriak dia langsung membungkam mulutku, namun sayang tepat saat itu juga emak dan tetangga lain pada datang. Dan mereka pun menjadi salah paham, hingga akhirnya keluargaku harus datang....
Melihat itu aku sangat malu sementara mas Agung tersenyum lebar.
"Jelasin ke mereka dengan sebenar-benarnya dong mas. " Ucapku lirih.
"Percuma, karena mereka melihat kita demikian. Ditambah lagi, handuk yang ku kenakan lepas." Ucapnya.
"Ih, nyebelin." Ucapku dengan jantung berdebar-debar.
^^^Tak lama, bapak dan ibuku datang dan mereka langsung diceritakan kejadian yang menurutku sangat memalukan. Mendengar hal itu, ibuku tidak serta merta percaya. Dia lantas memanggilku.^^^
"Yan, memang benar kamu berbuat demikian ?" Tanya ibuku pelan.
"Enggak." Ucapku jujur.
...Hingga ibuku langsung bertanya dan aku langsung menjelaskan yang sebenarnya. Akhirnya orang tuaku mengatakan apa yang aku katakan. Dan sebaiknya tidak perlu langsung menikah. Mengingat usiaku masih remaja. Alhamdulillah mereka menyetujui, namun tetap hari ini juga kami mesti tukar cincin....
Setelah itu, aku langsung pamit pulang, untuk persiapan nanti malam. Sepeninggal aku, mereka langsung beli perlengkapan seserahan lamaran nanti.
Setibanya aku di rumah, aku mengurung diri di kamar dan tak lama ibuku datang lalu bertanya.
"Aku minta maaf sudah memalukan nama baik keluarga." Ucapku seraya bersujud di kakinya dengan menangis.
Ibuku langsung menarik tanganku lalu memelukku dan mengelus lembut punggungku.
"Iya,sudah ibu maafkan." Ucapnya seraya tersenyum.
"Makasih buk." Ucapku seraya mencium tangannya.
"Sama-sama. Sudah tidak perlu menangis, dia sudah tanggung jawab juga." Ucapnya seraya tertawa.
"Gimana enggak menangis, di usiaku baru hampir 17 tahun mata suciku melihat dia begitu." Ucapku seraya sesenggukan.
"Astagfirullah, jadi kamu sudah melihatnya ?" Tanya ibuku seraya menatapku.
"Iya." Ucapku lirih.
"Sholatlah minta ampunan kepada ALLAH !" Titah ibuku.
"Baik bu." Ucapku.
Aku langsung keluar dan segera melakukan apa yang di minta ibuku. Selesai sholat aku berzikir.
Malam pun tiba, aku yang sudah berhias dan memakai gamis dengan memakai hijab, hanya berdiam diri duduk di kamar.
"Assalamualaikum." Sapa rombongan calon suamiku.
"Waalaikumsalam." Jawab keluargaku.
"Mari masuk." Ucapnya seraya berjabat tangan.
"Iya pak." Ucapnya.
__ADS_1
...Setelah semua duduk, acara pun langsung dibuka, dan tak lama namaku di panggil. Aku lalu keluar, dengan mata berkaca-kaca. Ibuku yang melihatku langsung menghampiri dan mengelus punggungku lembut. ...
"Ayo, kamu jangan sedih. Mungkin ini yang terbaik." Bisik ibuku.
"Iya." Ucapku seraya duduk persis di hadapannya.
Dia melihatku dengan tersenyum dan tanpa ku tahu dia juga menangis.
"Idih mewek." Ucap pak Roni yang ikut mengantar dia.
"Aku menangis karena bahagia pak." Ucapnya.
"Ini usap dulu ingusmu." Ucapnya seraya memberikan tisu.
"Makasih." Ucapnya.
^^^Setelah percakapan itu, kami semua nampak hening dan kami berdua lalu diminta berdiri. Untuk tukar cincin, selesai tukar cincin kami langsung berfoto bersama. Tanpa ku tahu, dia selalu menatapku dengan tatapan teduh dan tersenyum.^^^
"Masyaallah, kamu cantik banget jika memakai kerudung." Ucapnya lirih karena masih harus berfoto.
Mendengar hal itu aku langsung tersenyum tak lupa berucap terimakasih.
"Makasih." Ucapku seraya tersenyum.
"Sama-sama istriku." Ucapnya seraya tertawa.
Membuat aku bagaikan wanita yang beruntung di milikinya.
Selesai berfoto, kami pun duduk bersebelahan dan mengambil minum. Duh kenapa rasanya beda banget ya ? Tanyaku dalam hati.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Enggak apa-apa." Ucapku seraya tersenyum.
"Beneran ?" Tanyanya.
"Iya." Ucapku seraya menatap atas.
Dia menatapku heran lalu bertanya.
"Di atas hanya ada genting dan kayu, kamu bakal capek lho ngitungnya." Ucapnya lirih seraya menatapku.
"Hehe, ngaco kamu by." Ucapku seraya tertawa dan alhamdulillah tidak menangis.
"Aku Agung bukan By." Ucapnya.
"Hubby." Ucapku.
Uhuk...Uhuk...Uhuk..
Suara batuknya mengundang mereka yang sedari tadi nampak tak melihat kini saling menatap kami.
"Minumnya pelan-pelan, enggak ada yang minta kecuali istrimu." Ucap emak membuyarkan suasana yang hening jadi banyak yang tertawa.
Kami pun hanya tersenyum malu.
Acara pun kini ditutup, dan aku pun langsung takzim kepada mereka semua.
"Jaga hatimu untukku." Ucapnya lirih seraya mencium bibirku sekilas.
Mataku membola, namun langsung tersadar karena tatapannya.
"Makasih vitaminnya hany." Ucapnya seraya tertawa.
"Nakal." Ucapku.
"Haha, sudah ya aku pulang dulu. Jangan rindu." Ucapnya.
"Hmm." Ucapku seraya tersenyum.
__ADS_1
...Aku yang masih diapit kedua orang tuaku, hanya menunggu sampai mobilnya tak terlihat. Selesai acara, kami semua langsung bersih-bersih dan ganti baju. Setelah selesai, barulah kami istirahat. ...
Paginya aku langsung bangun dengan tersenyum lebar. Karena melihat jari manisku sudah ada cincin yang melingkar. Semoga hingga jannah. Aamiin." Ucapku.