
"Ah iya maaf." Ucapku seraya tersenyum.
"Ngalamunin apa ?" Tanyanya.
"Enggak kok, teringat masalalu saja." Ucapku.
"Ada apa dengan masalalu kamu ?" Tanyanya.
"Dulu pas sholat idul Fitri, aku bertemu 2 cowok yang wajah, warna kulit dan rambutnya sama kaya kamu mas." Ucapku.
"Terus ?" Tanyanya.
"Ya mikir aja, apa diantara salah 1 dari kalian menjadi jodohku ?" Tanyaku to the poin.
"Memangnya kamu mau ?" Tanyanya.
"Hehe enggak tahu." Ucapku seraya tersenyum.
"Hmm." Jawabnya seraya menggelengkan kepala.
"Mas, kamu kerja sudah berapa lama ?" Tanyaku.
"Baru sebulan." Ucapnya.
"Oh, masih baru ya." Ucapku.
"Iya. Kenapa ?" Tanyanya.
"Tanya saja." Ucapku.
Hening.
...Aku menatapnya dengan intens, namun dia masih sibuk dengan gawainya. Tampan dan baik, namun sayang pasti sudah dimiliki cuma ngaku jomblo. Ucapku dalam hati. Bicara soal jodoh, ini umurku jelang 17, apa iya dia jodohku ? Tanyaku dalam hati....
"Ehem,kenapa ?" Tanya dia seraya menatapku.
"Enggak apa-apa, dari pacarnya ya ?" Tanyaku.
"Bukan, dari Pak Roni tanya tentang kerjaan." Ucapnya.
"Oh." Ucapku.
"Kenapa, enggak percaya ya ?" Tanyanya.
"Kebanyakan cowok tampan gitu, sudah punya pacar ngaku sendiri." Ucapku.
"Nih, coba saja kamu cek." Ucapnya.
"Siapa aku ?" Tanyaku.
"Kamu calon ibu untuk anak-anak aku." Ucapnya lirih.
Mendengar itu mataku membola, dan terdiam kaku menatapnya. Ya ALLAH mimpikah aku ? tanyaku dalam hati.
"Ish gombal." Ucapku seraya mengalihkan pandangannya.
"Demi ALLAH." Ucapnya.
"Owh." Ucapku.
"Iya, ayuk main." Ucapnya.
"Kemana ?" Tanyaku.
"Kemana pun." Ucapnya.
"Kamu enggak malu, jalan sama aku ?" Tanyaku.
"Kenapa mesti malu, justru aku malah senang." Ucapnya seraya tersenyum.
"Ya sudah aku izin dulu." Ucapku.
"Ya." Ucapnya.
Setelah izin dan di perbolehkan, kami pun akhirnya jalan. Sesampai di tempat yang jarang ku tahu, dia menghentikan motornya.
"Ini di mana mas ?" Tanyaku.
"Di taman." Ucapnya seraya menggandeng tanganku.
"Cantik ya." Ucapku.
"Lebih cantik kamu." Ucapnya seraya menatapku.
"Gombal lagi." Ucapku.
"Demi ALLAH." Ucapnya.
Sesampai di sana, netraku membola melihat dua sejoli ciuman bibir. Melihat ku demikian, mas Agung langsung menutupi mataku dengan tangannya.
__ADS_1
"Bocil dilarang lihat." Ucapnya lirih.
...Aku terdiam mematung di sampingnya, ya TUHAN pertama kali dia sedekat ini denganku. Kenapa jantungku berdegup kencang begini ya ? tanyaku dalam hati....
"Duduk yuk." Ajaknya seraya menarik tanganku.
"Ah iya." Ucapku.
"Gimana ?" Tanyanya lagi.
"Menyenangkan." Ucapku seraya tersenyum.
"Alhamdulillah,maaf ya aku baru bisa ngajak kamu jalan di sini." Ucapnya.
"Enggak apa-apa lagi,justru baru kamu lho yang berani bawa aku kesini." Ucapku seraya tersenyum.
"Serius ?" Tanya mas Agung.
"Duo rius." Ucapku.
"Alhamdulillah dong aku dapat awal." Ucapnya.
"Iya,tapi pasti dapat ke yang nomer sekian." Ucapnya seraya tertawa.
"Hehe,tahu saja." Ucapnya.
"Ya tahulah, cowok mana betah ngejomblo." Ucapku seraya tersenyum.
"Hmm." Ucapnya seraya tersenyum.
"Shht, jangan senyum terus ntar aku pingsan." Ucapku seraya tertawa.
"Humoris juga ya kamu." Ucapnya.
"Iyalah,biar awet muda. Hahahaha." Ucapku seraya tertawa keras.
"Tri,misalnya ada yang ngajak kamu pacaran,kamu mau enggak ?" Tanyanya.
"Belum tahu sih mas,dalam hati sudah ingin,namun pikiran takut." Ucapku jujur.
"Maksudnya ?" Tanya mas Agung.
"Maaf ralat,maksud aku pikiran mau, namun dalam hati menolak. Takut berbuat di luar batas." Ucapku jujur.
"Hmm gitu, kalau nikah ?" Ucap dan Tanyanya.
"Kalau di lamar mau enggak ?" Tanyanya.
"Mau sih,tapi siapa juga yang mau saya aku ?" Ucap dan tanyaku lirih.
"Kalau aku mau bagaimana ?" Tanyanya.
"Haha,canda kamu. Kamu tu terlalu tinggi untuk ku gapai." Ucapku jujur seraya tertawa.
"Kalau aku mau bagaimana ?" Tanyanya.
"Kamu bisa terima aku,namun keluarga kamu belum tentu." Ucapku lirih.
"Mereka setuju kok." Ucapnya seraya menatapku sambil tersenyum.
"Ah udah ah,jalan aja yuk. Ngobrol berdua malah kacau." Ucapku seraya beranjak.
"Hmm, ya sudah ayo." Ucapnya.
"Yeay." Ucapku senang.
...Saat tengah berjalan, netraku tanpa sengaja melihat Tari dan Agus. Mereka ngelakuin apa sih, pacaran kok gitu ya ? Tanyaku lirih, namun masih bisa di dengar mas Agung. Dia pun langsung menatap ke arah yang ku tatap, dengan gerak cepat dia menarik tanganku dan istighfar....
"Kenapa mas ?" Tanyaku.
"Enggak apa-apa kok." Ucapnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hmm, pulang yuk." Ajakku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Pengen pulang saja." Ucapku.
"Enggak asik ya jalan sama aku ?" Tanyanya.
"Aduh, bukan gitu mase, kamu asik dan tampan juga cocoklah buatku ajak jalan. Tapi ini sudah jelang mahgrib, langit juga sudah mendung." Ucapku seraya tersenyum.
"Oh gitu, jadi karena aku tampan kamu mau, kalau enggak tampan, kamu enggak mau ?" Tanyanya.
"Bukan gitu." Ucapku seraya menarik tangannya dan bergegas ke parkiran.
^^^Namun naas, aku menginjak rumput yang licin membuatku terjatuh. Beruntung aku langsung di bantu olehnya,kalau tidak bisa jatuh ke sungai.^^^
"Makasih." Ucapku.
__ADS_1
"Iya." Ucapnya.
"Lain kali hati-hati." Ucapnya seraya menurunkan aku dari gendongannya.
"Iya." Ucapku.
"Kita tunggu hujannya sampai reda dulu, baru aku antar kamu pulang." Ucapnya.
"Iya." Ucapku.
Hampir 1 jam, hujan juga belum berhenti membuatku mengantuk.
"Kenapa ? Tanyanya.
"Ngantuk mas, kira-kira masih lama enggak ya ?" Tanyaku.
"Enggak tahu." Ucapnya.
Tiba-tiba kepalaku ambruk, dan jatuh di bahunya. Spontan dia melirikku, astaga sudah tidur rupanya. Ucapnya seraya membaringkan tubuhku di pahanya.
"Wah pacarnya sampai ketiduran." Ucap tukang parkir itu.
"Bukan mas, dia calon saya." Ucapnya.
"Oh maaf kirain pacarnya." Ucap mas itu seraya tersenyum.
"Mohon doanya ya mas." Ucapnya seraya tersenyum.
"Oh iya mas pasti." Ucapnya lalu berlari.
Sepeninggal dia, kami pun tinggal berdua. Dan tidak lupa juga dia mengelus lembut kepalaku. Cantik, dan manis persis awal kita bertemu dulu. Ucapnya seraya tersenyum.
Makin malam, makin belum reda. Aku pun terbangun dari tidurku. Dan saat terbangun, aku langsung menatapnya.
Kasian dia tertidur dengan duduk. Ucapku lirih.
Astagfirullah jam 9 malam. Ucapku lirih. Aku langsung kirim pesan, ke bapakku.
("Assalamualaikum pak, maaf pak aku kejebak hujan." Tulisku dan langsung ku kirim ke nomer hpnya.)
("Oh iya enggak apa-apa. Waalaikumsalam." Balasnya.)
Alhamdulillah. Ucapku lalu beranjak dan membenarkan posisinya masih Agung. Namun sayangnya dia malah kebangun.
"Kamu sudah bangun ?" Tanyanya.
"Sudah." Ucapku seraya menahan dingin.
...Dia lalu menarikku dan mengajakku pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya badanku menggigil begitupun dengan dirinya. Lalu kami langsung ke kamar mandi dan ganti pakaian. ...
Selesai itu aku langsung bertanya.
"Ini rumahnya siapa mas ?" Tanyaku.
"Rumahku sendiri." Ucapnya.
"Oh." Ucapku.
"Hmm. Sudah malam tidurlah." Ucapnya seraya tersenyum.
"Ya baiklah." Ucapku langsung tidur di kursi, namun dihentikan olehnya.
"Anak gadis tidur di kamar jangan di sini." Ucapnya.
"Terus kamu ?" Tanyaku.
"Itu ada 3 kamar, cepatlah pindah." Ucapnya.
"Oh ya." Ucapku.
^^^Sesampai di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku. Dan memejamkan mataku, namun sayang hampir 1 jam aku belum bisa tidur. Hingga aku memilih keluar melihat tv. Kebiasaan ni,di temenin kalau tidur. Jadi enggak bisa tidur. Ah tau ah, mending lihat tv saja. Ucapku lirih.^^^
...Hingga akhirnya aku bisa terlelap,dengan tv masih menyala. Mas Agung yang tertidur, mendadak kebangun dan langsung keluar seraya berkata. Ck, siapa yang nonton tv tengah malam begini ? Perasaan rumah sudah sendiri-sendiri. Ucapnya lirih....
^^^Ya ALLAH rupanya dia. Ucapnya seraya mematikan tv dan memindahkan aku ke kamar. Dengan hati-hati dia menidurkan aku,setelah selesai barulah dia beranjak. Namun tangannya langsung aku genggam, temenin. Ucapku dengan mata masih terpejam. ^^^
Baiklah. Ucapnya seraya duduk di bawah tempat tidur.
Lucu juga kamu, kaya bayi enggak mau ditinggal. Ucapnya seraya tertawa.
...Tidak terasa pagi pun tiba. Aku terbangun dengan masih menggenggam tangan mas Agung, sementara mas Agung tertidur di dekatku dengan beralaskan karpet. ...
Ya ampun, so sweetnya. Ucapku lirih.
^^^Aku lalu beranjak dan ambil wudhu lalu sholat dengan menggunakan sarung mas Agung buat aurat bawah dan jaket dia dengan aurat atas. Maklum enggak ada mukena, yang penting ibadah jangan ditinggalkan. ^^^
...Selesai sholat, aku langsung bersih-bersih dan tak lupa juga memasak nasi secukupnya. Lalu mandi dan nunggu azan subuh. Selesai mandi, aku membangunkannya untuk sholat. Dia langsung ke kamar mandi dan tidur kembali....
Hmm, malah tarik selimut. Ucapku lirih. Ya sudahlah aku sholat dulu saja. Ucapku lagi.
__ADS_1