
Paginya kami pun bersiap-siap. Sesampai di sana, aku lalu duduk di sofa. Entah kenapa, rasa kantukku tiba-tiba hadir.
Ay, kamu. Ya ALLAH dia tidur." Ucapnya seraya tersenyum dan menghampiri aku. Kasihan kamu ay, maaf ya hanya dengan begini, aku bisa memantau kamu. Ucapnya seraya mencium keningku dan perutku.
Sementara Bayu dan Nia, saling berdiam diri. Karena sibuk dengan urusan masing-masing. Dan disini aku yang masih terlelap, nampak dilirik suamiku terus. Hingga pekerjaan suamiku selesai pun, aku masih terjaga.
Tumben banget Riri tidurnya lama ?" Tanya suamiku. Mungkin dia lelah. Ucapnya lagi.
Tok...Tok...Tok...
Masuk.
"Mas, ini tolong bubuhkan tanda tangan kamu." Ucap Sovi seraya mendekati suamiku.
"Jaga jarak." Ucap suamiku.
"Maaf." Ucapnya.
Mendengar ada suara, aku lalu bangun dan menghampiri suamiku. Lalu duduk di pangkuannya dan tertidur di pangkuannya.
Melihat itu, Sovi langsung keluar. Sepeninggal Sovi, suamiku menggelengkan kepala tak percaya atas apa yang aku lakukan.
Lucu kamu ay. Ucapnya seraya tertawa dan mencium wajahku.
"Gung, ini aku pesankan makan siang buat kalian." Ucap Bayu seraya memandang aku.
"Ok, makasih." Ucap suamiku.
"Dia tidur ?" Tanya Bayu.
"Iya." Jawab suamiku seraya tersenyum.
"Macam-macam tingkah bumil." Ucap Bayu seraya melangkah keluar.
Sepeninggal Bayu, suamiku menungguku bangun. Tepat jam 12.30 siang, aku terbangun. Aku terkejut seraya bertanya lirih, kenapa aku bisa pindah disini ?
"Sudah bangun ?" Tanya suamiku lembut.
"Sudah." Ucapku lirih seraya beranjak.
"Maaf mas." Ucapku lagi.
"Iya ay." Ucapnya seraya tertawa.
Kami pun lalu makan, selesai makan aku minum vitamin dan duduk di depan suamiku seraya membaca.
"Ay, tunggu di sini ya." Ucapnya seraya beranjak keluar.
"Ya." Ucapku.
Sepeninggal suamiku, aku meneruskan kembali membaca. Saat asik membaca, aku di kejutkan kedatangan tamu.
"Siang mas." Ucap orang itu.
Spontan aku langsung menatapnya dan tersenyum.
"Siang, maaf suami saya sedang keluar." Ucapku.
__ADS_1
"Oh begitu." Ucapnya seraya menatapku penuh selidik.
Menyadari itu, aku lalu menghubungi Nia, alhamdulillah langsung di angkat.
("Halo, ada apa kak ?" Tanya Nia.)
("Halo, Nia suamiku ada disana enggak ?" Tanyaku.)
("Ada kak, ada apa ya ?" Tanya Nia.)
("Ada tamu." Ucapku.)
("Dia sudah keluar." Ucapnya seraya menutup panggilan.)
Tak lama, suamiku datang. Aku lalu mendekatinya dan menggenggam tangan suamiku.
Dingin banget tangannya. Ucap suamiku dalam hati.
"Maaf menumenunggu." Ucap suamiku seraya tersenyum dan mengajakku duduk di sampingnya.
"Enggak apa-apa, aku kesini karena ingin mengajukan pinjaman." Ucap orang itu.
"Oh, tapi sudah tahu syaratnya kan ?" Tanya suamiku.
"Sudah." Ucap orang itu lagi.
"Baiklah." Ucap suamiku seraya menelpon seseorang.
Tak lama seseorang itu datang, dan mengajak orang tadi keluar. Setelah mereka keluar, aku lalu memeluk tubuh suamiku dengan erat.
"Kenapa ?" Tanya suamiku lembut.
"Ya sudah, lain kali aku enggak akan lama ninggalin kamu." Ucap suamiku seraya tersenyum.
...Dia pun lalu kembali kerja, sementara aku langsung membaca lagi. Lama membaca membuatku lapar lagi, aku lalu beranjak berdiri dan mencari roti untuk ganjal perut. Suamiku tersenyum melihatku makan roti dan minum susu. Lalu mengelus perutku, sayang sehat terus ya. Ucapku lirih seraya melafaskan doa surat....
Sementara suamiku langsung menghampiri aku dan jongkok.
"Anak ayah yang sehat ya di dalam perut ibu." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Iya ayah." Ucapku menirukan suara anak kecil.
Membuat kami tertawa bersama, mas Agung lalu mencium perutku dan selesai mencium, dia berdiri.
"Yuk pulang." Ucapnya.
"Kerjaan kamu ?" Tanyaku.
"Kerjaanku sudah selesai. Besok kita kembali ke kampung." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Alhamdulillah." Ucapku senang.
"Seneng banget." Ucapnya.
"Ya mas, aku enggak terbiasa hidup di apartemen." Ucapku jujur.
"Oh." Ucapnya.
__ADS_1
"Yuk pulang." Ajaknya lagi.
"Yuhu." Ucapku seraya mengambil tas.
...Sesampai di parkiran, kami lalu masuk ke dalam mobil. Nampak Nia duduk di depan. Sementara Bayu duduk di belakang, kami yang melihat itu saling pandang dan tak lama suamiku mengajakku masuk. ...
"Haduh astagfirullahhallazim, baru saja senang sudah bertengkar lagi." Ucap suamiku seraya menatap arah depan.
Mendengar hal itu baik Nia dan Bayu, langsung menyahut.
"Dia tu yang enggak bisa ngerti." Ucap Bayu kesal.
"Dia tu kak, yang bikin aku pusing." Ucap Nia tak mau disalahkan.
Mendengar hal itu pak Madin menepikan mobilnya dan menghentikan mesin mobilnya.
"Maaf, saya orang luar. Selesaikan urusan ini dan akan saya tunggu di luar." Ucapnya seraya pamit.
Mendengar hal itu mereka terdiam, sementara aku hanya terdiam. Benar kata ibu, rumah tangga kalau enggak ada yang mau mengalah pasti hancur. Ucapku dalam hati.
Melihatku terdiam, suamiku menggenggam tanganku, spontan aku langsung menatapnya dan tersenyum.
"Bantu aku menasehati mereka." Ucapnya berbisik.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia lalu minta Bayu dan Nia duduk di samping kami. Mereka pun menurut, aku pun lalu bertanya sama Nia terlebih dahulu.
^^^"Nia, maaf ya bukan aku ingin ikut campur urusan rumah tangga kamu dan suamimu. Tapi aku sangat sedih, kamu seperti ini terus. Kasihan debaynya dalam perut kamu." Ucapku lirih seraya mengelus lembut perutnya.^^^
"Kakak aku capek nasehati dia kak." Ucapnya.
"Memangnya Bayu buat salah apa ?" Tanyaku lembut.
"Dia suka banget main game onlain, padahal aku kan sedang butuh perhatian darinya." Ucap Nia.
"Mungkin dia juga butuh waktu sayang, biar enggak pusing ngurus pekerjaan." Ucapku.
"Ck, tau ah enggak ada yang bisa ngerti. Besok kalau kamu dah hamil agak besar, kamu pasti juga sering marahan." Ucapnya ketus.
"Nia." Panggil suamiku.
Aku langsung mengelus lembut tangannya.
"Ya aku tau kok, aku masih hamil 2 bulan, kalau kamu kan 4 bulan. Jadi ya beda. Tapi aku akan berusaha ngerti posisi." Ucapku seraya tersenyum.
Nia pun hanya terdiam. Aku lalu beralih tanya sama Bayu.
"Benar begitu Bay ?" Tanyaku datar.
"Iya Ri." Ucapnya.
..."Bay, sebelum kamu lamar Nia kami semua bertanya sama kamu. Kamu yakin sama Nia ? Kamu jawab yakin. Akhirnya suamiku mengizinkan kamu melamarnya dan menikah dengannya. Namun makin kesini, kamu seperti belum menerima kekurangan Nia ?" Ucap dan tanyaku....
"Ya aku sadar aku salah, tapi aku selalu mencoba sabar. Namun selalu saja dia mengurung diri." Ucapnya.
"Mengurung diri ?" Tanya suamiku.
"Iya, setiap ribut dia selalu mengunci di kamar. Pernah pas waktu kerja sudah mepet, dia menamparku menyuruhku libur kerja." Ucap Bayu.
__ADS_1
^^^Mendengar hal itu suamiku langsung menghembuskan nafas panjang. Karena mendengar Nia seperti itu lagi. Ya Nia menuruni wataknya emak, yang temperamental. Dulu waktu masih umur 4 tahun, dia pernah di bawa ke psikologi. Alhamdulillah bisa sembuh, namun entah sejak kapan sifat temperamentalnya itu muncul lagi. ^^^
"Sebaiknya jangan saling mengungkit, perbaiki yang salah dan harus saling mengalah. Jangan hanya satu orang saja yang mengalah. Ingat, ada anak yang tak berdosa di rahim kamu Nia." Ucapku.