Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Ke luar Kota


__ADS_3

Pagi pun menjelang, aku dan suamiku sudah berada di dalam mobil seraya menunggu adik ipar. Tak lama mereka pun datang, pak sopir berdecak kesal.


"Aduh, emak - emak lebay." Ucapnya lirih, namun masih bisa kami dengar.


"Maaf pak, kalau kurang berkenan. Karena wanita hamil bukan rempong, namun sudah kodratnya. Emangnya bapak mau merasakan menjadi wanita hamil ?" Tanyaku.


"Hehe ya neng maaf, tadi saya keceplosan saja." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ish keceplosan, jelas-jelas sengaja." Ucapku lirih, namun masih bisa di dengar oleh suamiku.


"Sabar." Ucapnya seraya tersenyum.


Aku langsung menyandarkan kepalaku di kursi mobil. Hingga mereka pun datang. Dengan wajah sama-sama masam. Aku yang penasaran, hendak bertanya, namun dicegah oleh suamiku.


Aku lantas pura-pura tidur, sementara suamiku langsung memeluk dan mencium pipiku. Pintar juga kamu aktingnya. Ucap suamiku dalam hati.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, kini Bayu dan suamiku saling pandang dan mengambil gawainya lalu kirim pesan. Padahal duduknya saling dekat, mungkin takut ganggu istri,mereka akhirnya bertukar pesan lewat hp.


("Nia kenapa Bay ?" Tanya suamiku di tulis pesannya itu.)


("Ribut sama emak." Jawab Bayu, lewat pesan juga.)


("Emak ke rumahmu ?" Tanya suamiku.)


("Enggak, kita yang kesana." Ucapnya.)


("Oh, gimana kabarnya emak ?" Tanya suamiku.)


("Baik, tapi di kunci di kamar sama bude Marni." Ucapnya.)


("Astagfirullah, kenapa ?" Tanya suamiku.)


("Sering keluyuran kalau malam. Tadi pas kami kesana, beliau minta Nia untuk bujuk kamu kembali. Namun Nia enggak menolak secara halus, tapi langsung ditampar emak." Ucapnya menjelaskan.)


("Astagfirullah." Tulis pesan mas Agung.)


Hening.


Dan satu jam perjalanan sudah kami lalui,kami pun juga sudah bangun. Kini giliran para suami yang tertidur. Sementara aku bersandar di jok kursi, sedang Nia merebahkan kepalanya di paha Bayu. Tak lama Bayu pun terbangun, dan menatap Nia.


"Tidurlah." Ucapnya lirih.


"Iya." Jawab Nia seraya menutup kepalanya.


...Sedangkan di jok mobil tengah, suamiku juga masih terlelap tidur. Karena lapar, aku lalu membuka roti dan tak lupa menawarkan pada mereka....


"Roti mau ?" Tanyaku pada mereka.


"Boleh." Ucap Bayu seraya menerima dan tersenyum ke arahku.


Begitupun dengan Nia, kami lalu makan.


"Makasih kak." Ucap mereka bersama.


"Ya." Ucapku seraya tersenyum.


Selesai makan, aku lalu minum. Dan barulah aku menawarkan pada pak sopir yang bernama Pak Madun.


"Pak, mau roti ?" Tanyaku.


"Ya neng, makasih ya." Ucapnya seraya menerima pemberian dariku.


"Sama-sama pak." Ucapku seraya tersenyum juga.


Bayu dan Nia melihat itu langsung tersenyum, pantas saja Agung rezekinya lancar istrinya suka sedekah. Ucap Bayu dalam hati. Kakak iparku memang contoh untukku, semoga aku bisa meniru kebaikannya. Aamiin. Doa Nia dalam hati.


Tak lama suamiku terbangun, aku lalu tersenyum menatapnya dan dia juga tersenyum kepadaku.

__ADS_1


"Sudah bangun ?" Tanyaku lembut.


"Sudah." Ucap suamiku.


"Minum atau makan dulu ?" Tanyaku.


"Minum dulu saja." Ucapnya.


Aku lalu mengambilkan minuman untuknya dan dia pun menerimanya lalu meminumnya.


"Bay, sudah bangun ?" Tanya suamiku.


"Dah daritadi." Ucapnya.


"Nia makan buah mau enggak ?" Tanyaku.


"Nanti saja kak." Ucapnya.


"Ok." Ucapku seraya mengupas buah.


"Kok aku enggak ditawari ?" Tanya suamiku.


"Sebentar sayang, baru aku kupasin". Ucapku.


"Makasih cinta." Ucapnya lirih.


"Ya." Ucapku.


Kami pun lalu makan buah. Dan saat makan buah tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti mendadak.


"Kenapa pak ?" Tanya suamiku.


"Macet." Ucapnya seraya menunjuk jalanan yang padat.


"Hmm." Ucap kami bersama.


"Tenanglah ada aku di sini." Ucap suamiku menenangkan.


"Dia hadir lagi mas." Ucapku seraya menangis.


"Tenang ya. Baca istighfar ay." Ucapnya.


"Iya." Ucapku lalu kembali tidur lagi.


Melihat diriku sudah terlelap, mas Agung lalu menjelaskan kejadian kemarin malam.


"Sindy ?" Tanya Nia.


"Ya." Ucap suamiku.


"Ya ALLAH." Ucap Nia.


"Kenapa hanny ?" Tanya suamiku.


"Enggak apa-apa kak." Ucap Nia.


"Hmm." Jawabnya.


...Akhirnya kami pun berhenti di rumah makan. Dan tak lama kami pun keluar dari mobil, lalu mencari bangku yang kosong. Setelah mendapatkan, kami lalu duduk di sana. Tak lama pelayan pun datang. ...


"Mari semuanya, mau pesan apa ?" Tanya pelayan itu.


"Kami pesan nasi rames ja mbak, kamu apa ay ?" Tanya suamiku.


"Aku lotek saja." Ucapku.


"Minumnya ?" Tanya pelayan itu.

__ADS_1


"Teh hangat 3, es jeruk 2." Ucap Bayu.


"Mohon tunggu sebentar ya." Ucapnya seraya menatap suamiku.


Bayu yang melihat itu nampak risih, lalu dengan sengaja menendang kaki suamiku.


"Apaan sih ?" Tanya suamiku ketus.


"Kamu diliat cewek tadi enggak risih apa ?" Tanya Bayu lirih.


"Risih, makanya aku nawarin istriku." Ucap suamiku seraya memeluk pinggangku.


"Kalau risih kenapa kamu tanggapi ?" Tanya Bayu.


"Ck, dia tanya pesanan. Masa iya aku diam saja." Ucap suamiku lagi.


Aku, Nia dan pak Madin saling berpandangan dan pak Madin pun menengahi.


"Biar nanti saya saja mas yang jawab." Ucapnya.


"Iya pak." Ucap mereka bersama.


Tak lama pesanan pun datang, kini suamiku juga pindah paling pojok. Sedangkan aku di tengah, barulah pak Madin. Melihat suamiku pindah, pelayan itu langsung cemberut.


"Istriku cantik banget sih." Goda suamiku tiba-tiba.


"Aamiin." Ucapku.


Sementara Bayu dan Nia menatap intens pelayan itu, lalu tak lama dia pun berlalu.


Ish, kenapa sih dia mesti pindah ? Tanya pelayan itu dalam hati.


Sementara kami, langsung menyantap makan siang kami dengan pelan. Baru satu suapan masuk ke mulutku, aku lalu memuntahkannya. Melihat itu suamiku bertanya.


"Kenapa ?" Tanya suamiku.


"Pedes banget." Ucapku seraya ambil minum dan mengusap air mataku.


Melihat itu mereka semua lalu mencobanya. Dan benar saja, lotek yang ku pesan rasanya pedas banget.


"Jangan di makan, biar aku panggil pelayan tadi." Ucap pak Madin.


"Udah pak enggak usah." Ucapku seraya berlari ke toilet, lalu di susul suamiku.


"Ay." Panggil suamiku.


"Astagfirullah, kamu kenapa ay ?" Tanya suamiku.


"Pedesnya enggak bisa hilang mas." Ucapku seraya menahan tangis.


"Ya ALLAH. Sini sayang ikut aku." Ucap suamiku seraya memelukku.


Tanpa terduga bos pemilik rumah makan langsung bertanya.


"Kenapa mas ?" Tanya ibu itu dengan sopan.


Suamiku menoleh dan langsung menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Mendengar hal itu, ibu itu lalu meminta maaf dan memberiku lotek yang baru. Bikinin ibu itu sendiri. Kami pun memaafkan dan langsung kembali.


Sekembalinya kami, mereka sudah selesai makan. Dan kembali ke mobil,sementara kami masih makan.


Selesai makan, kami lalu kembali lagi ke mobil. Karena makanan kami sudah selesai di bayar.


"Maaf ya nunggu kelamaan." Ucapku.


"Enggak apa-apa, malah saya bisa rehat bentar." Ucapnya seraya tertawa.


"Alhamdulillah." Ucapku.

__ADS_1


__ADS_2