
"Alhamdulillah." Jawab kami semua.
"Makasih dok, boleh kami masuk ?" Ucap dan tanyaku.
"Boleh, tapi jangan berisik. Pasien perlu istirahat total dan sementara bayinya tidak bisa digendong dulu." Ucap Dokter itu.
Kami semua menganggukkan kepala paham dan masuk ke dalam.
"Hai Sa, gimana ?" Tanyaku.
"Sakit mbak." Ucapnya seraya menangis.
"Ya gitu rasanya melahirkan ndok, jadi jangan pernah menuntut orang tua terus." Ucap Bude Marni dan lek Sinta.
Rudi pun mengelus lembut tangan sang istri. Sementara suamiku menatapku dengan tatapan tajam.
"Semuanya aku pamit dulu ya, pengen liat debaynya." Ucapku seraya pamit pada mereka.
"Iya silahkan." Ucap mereka.
Aku lalu menggenggam tangan suamiku dan mengajaknya keluar. Namun sesampai di pertengahan jalan, suamiku marah.
"Seneng, diperhatikan dokter tampan." Ucapnya penuh penekanan.
"Enggak, aku lebih senang diperhatikan suamiku yang berhidung mungil ini dan ditatap Rindu." Ucapku jujur.
"Ck, bohong." Ucapnya.
"Serius." Ucapku seraya mencium tangannya dan pipinya.
Dia lalu melepas genggaman tanganku dan pergi ke kamar bayi.
Astagfirullah. Ucapku lirih.
Tanpa ku tahu, dokter yang menangani Risa tadi melihat aksi kami. Dikasih istri sabar dan baik, malah di sia-siakan. Ucapnya lirih.
Sesampai di Inkubator, suamiku melihat keponakan kecilnya dengan menangis.
Kasian kamu nak, belum waktunya lahir, tapi sudah dipaksa lahir. Ucapnya lirih.
"Mungkin itu yang terbaik untuknya mas." Ucapku.
"Ck, ngapain kamu kesini ?" Tanya suamiku.
"Ya liat debaylah." Ucapku seraya memeluknya dari belakang.
Melihat itu dia lalu membalikkan badan dan berkata.
"Aku enggak rela, milikku dilihat orang lain." Ucap suamiku lirih seraya menciumku.
Mendengar itu aku tersenyum bahagia, dan bersyukur. Bersyukur karena apa yang aku butuhkan dan inginkan ada di dirinya, sosok lelaki yang ku pilih jadi pasangan hidupku. Terima kasih ya ALLAH, KAU hadirkan dia untuk melengkapi hidup hamba. Ucapku dalam hati.
Lagi asiknya berpelukan, tiba-tiba terdengar suara bude Marni memanggil nama kami.
"Agung, Riri kapan nyusul lagi." Ucapnya seraya tersenyum.
Kami lalu saling pandang dan melerai pelukan kami lalu menjawab.
"Tunggu Rindu besar dulu bude." Ucap kami bersama.
"Kan sudah mau setahun." Ucapnya.
__ADS_1
"Masih kecil bude." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Dulu Galuh malah baru 6 bulan, sudah punya adik." Ucapnya.
"Hehe ya bude." Ucap suamiku lirih.
Aku hanya menyimak dan tersenyum. Rasa takut melahirkan tiba-tiba muncul dalam benakku. Namun sedetik kemudian lamunanku sirna karena tangan suamiku memelukku tanpa aba-aba.
"Aku tahu kamu takut." Ucapnya berbisik.
...Aku hanya tersenyum ke arahnya dan ikut menyimak obrolan mereka. Beruntung esok suamiku libur, jadi aku bisa temani mereka. Saat asik mengobrol, mataku ngantuk banget dan aku pun terpejam di sandaran kursi ruang tunggu dekat suamiku....
Lek Sinta yang melihatku tertidur langsung memberi tahukan pada Agung.
"Ya ALLAH nak, tidur kok di kursi." Ucapnya lirih seraya menghampiri aku ke kursi lalu menepuk bahu suamiku yang keasyikan ngobrol sama mas Galuh.
"Kenapa lek ?" Tanya suamiku.
"Cemburumu besar, tapi sayang enggak peka. Ni liat istrimu tertidur tu." Ucapnya seraya menarik tangan Galuh.
"Kemana lek ?" Tanya mas Galuh.
"Temani bulek ke ruang dokter." Ucapnya.
Sepeninggal mereka suamiku langsung istighfar dan meminta maaf. Walau aku enggak dengar. Astagfirullah, maaf ya ay terlalu fokus sampai lupa kamu tertidur. Aku pesan gojek dulu, terus pamit pulang. Ucapnya lirih.
Sambil membopongku, suamiku pamit sama Rudi.
"Rudi, aku pamit dulu ya. Insyaa ALLAH besok aku datang lagi." Ucapnya.
"Iya kang. Makasih ya dah repot-repot mau datang. Maaf juga ganggu istirahat kalian terutama mbak Riri." Ucapnya.
"Enggak perlu sungkan, lagipula kita ini kan saudara enggak ada yang direpotin." Ucap suamiku seraya tersenyum dan pamit.
"Kenapa ?" Tanya Rudi.
"Enggak apa-apa bang." Ucapnya dusta.
Dan disini, suamiku menidurkan aku di jok belakang gojek. Sementara suamiku keluar lagi.
"Pak tolong ikuti arah motor saya ya pak." Ucapnya.
"Iya mas." Ucap bapak itu seraya tersenyum.
Bapak itu masuk dan menjalankan mobilnya mengikuti arah suamiku. Hingga tak terasa, mereka pun sampai. Suamiku lalu membopongku lagi dan menidurkan aku di sofa dulu. Lalu membayar ongkos ojek dan memasukkan motornya.
Alhamdulillah. Ucapnya setelah selesai memindahkan aku ke kamar. Lalu keluar kembali untuk bersih-bersih tubuhnya.
Makin hari aku makin cinta sama kamu Ri. Ucapnya lirih lalu mencium wajahku dan memelukku erat. Tak lama suamiku tertidur.
Paginya aku terbangun, menatap putriku yang tersenyum ke arahku.
"Sayang, sudah bangun ya ?" Tanyaku.
"Haha, dah." Ucap Rindu seraya tertawa.
^^^Aku lalu mencium dan memeluknya. Lalu beranjak bangun dan memandikan putriku terlebih dulu. Selesai mandi, aku lalu membawanya masuk lalu memberikan dia baju dan memberi dia bedak.^^^
Alhamdulillah selesai. Cantik banget anak ibu. Ucapku seraya tersenyum.
Kami pun tertawa bersama, membuat mas Agung terbangun.
__ADS_1
"Eh sayangnya udah bangun ya." Ucapnya lirih.
"Dah." Ucap Rindu seraya mendekati ayahnya.
"Aduh - aduh sakit sayang." Ucap suamiku.
Aku lalu naik ke atas tempat tidur dan mengambil Rindu.
"Naiknya di sini ya, kasian ayah perutnya ayah sakit. Kalau sakit, ayah enggak bisa kerja." Ucapku memberi nasehat untuk Rindu.
"Ya." Ucapnya.
"Eh pinter ya." Ucap ayahnya seraya tertawa dan memelukku karena posisi Rindu ada di depanku.
"Aamiin ayah." Ucapku.
Rindu lalu membuka hijab minta asi. Aku pun lalu memberikannya. Melihat itu suamiku langsung menggoda Rindu.
"Ayah minta dong." Ucapnya.
Rindu menggelengkan kepala seraya mengangkat 1 jari telunjuknya.
"Enggak boleh ayah." Ucapku.
Suamiku menatapku dengan tersenyum dan membisiku.
"Mandi bersama lagi ya." Ucapnya.
"Ya." Ucapku.
Selesai minum, Rindu lalu main kembali. Sementara kami melihat Rindu dengan sesekali tersenyum karena ulahnya.
Dan tepat jam 8 pagi, rindu tidur lagi. Melihat Rindu terlelap aku lalu beranjak keluar dari kamar. Mas Agung yang baru keluar dari dapur pun menatapku keheranan.
"Jalannya kok gitu, kenapa ?" Tanya suamiku.
"Rindu tidur." Ucapku seraya tersenyum.
"Oh." Ucapnya seraya melihat penampilanku.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Ikut aku." Ucapnya seraya melangkah masuk kamar sebelah.
"Mau ngapain ?" Tanyaku.
"Pakailah." Ucapnya.
"Aku lalu melepas bajuku dan memakai setelan piyama yang diberikan oleh suamiku. Sudah." Ucapku.
Dia menatapku dengan tersenyum dan mengajakku makan. Selesai makan, kami menonton tv. Sedang asik menonton, gawai suamiku berdering. Dia lalu mengambilnya dan membaca pesan masuk.
("Ketemuan yuk husband." Tulis pesan itu.)
"Ck, husband siapa orang ini ?" Tanya suamiku.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Ada nomer nyasar." Ucapnya seraya meletakkan kembali gawai itu ke nakas.
"Hmm, ya sudah enggak perlu ditanggapi." Ucapku.
__ADS_1
"Ya istriku." Ucapnya seraya memelukku.