
Li Xiang dan Xiao Xing Fu kini pergi bersama sama, melihat perayaan di desa Lingxue.
"Ternyata yang mereka maksud adalah ini." Xiao Xing Fu berhenti dan melihat sebuah poster yang tertempel di papan pengumuman pusat desa.
Li Xiang ikut melihat apa yang sedang dilihat muridnya, "Hm.. pertunjukan. Gratis. Kita ke sana tengah malam nanti." Ucapnya.
"Heee? Kenapa kau tiba tiba ingin pergi ke sana?" Heran Xiao Xing Fu. "Kau menyukai pertunjukan teater?"
Li Xiang menggelengkan kepala, "Tidak terlalu. Tapi di sini gratis. Tidak boleh melewatkan sesuatu yang gratis." Ucapnya semangat.
"Payah." Xiao Xing Fu berekspresi datar ketika mendengar ucapan gurunya. Ia pun berjalan meninggalkan Li Xiang.
"Tunggu. Jangan meninggalkanku sendiri di sini." Li Xiang menyusul Xiao Xing Fu, "Bagaimana denganmu? Kau mau ikut? Gratis, jadi kau tidak perlu membayar pertunjukan yang akan mereka tampilkan."
"Tidak. Aku tidak tertarik. Kau saja pergi sendiri ke tempat itu."
"Ayolah.. akan sia sia jika kau melewatkan sesuatu yang gratis begitu saja. Kau akan menyesalinya nanti." Bujuk Li Xiang. "Temani aku ke sana, agar aku tidak sendiri."
"Tidak mau. Pergi saja sendiri. Aku sudah mengatakan, bila aku tidak tertarik. Sekalipun pertunjukan itu gratis, tapi aku tidak mau pergi ke sana untuk melihatnya."
Li Xiang cemberut, "Yah.. ayolah.. sebentar saja. Kau mungkin akan terhibur. Kau tidak akan bisa menyaksikannya lagi bila hari ini sudah terlewat. Karena kita juga akan pergi dari sini besok."
Xiao Xing Fu berhenti berjalan. Ia melirik Li Xiang yang ada di sampingnya, "Bukankah kau memesan penginapan selama 2 malam? Seharusnya masih ada satu hari kita di tempat ini." Herannya.
"Aku mengubah jadwal. Kita akan pergi besok pagi. Dengan begitu, kau juga akan semakin cepat bertemu dengan orang yang kau cari, bukan?" Li Xiang menaik turunkan alisnya.
Xiao Xing Fu berpikir sejenak, "Kau ada benarnya. Tapi bagaimana dengan kau yang membayar penginapan? Kau membayar lebih. Apa kau akan mengambil uangnya kembali?"
"Hanya itu? Tidak masalah. Mereka bisa mengambil uang lebih sebagai rasa terimakasih karena mereka sudah bersikap ramah pada kita."
Xiao Xing Fu mengangguk, "Baiklah. Berarti kita berangkat besok pagi. Kalau begitu, aku akan ikut denganmu tengah malam nanti."
"Bagus!" Ucap Li Xiang semangat. "Karena kau ikut, aku tidak sendiri ke sana."
***
Sambil menunggu pertunjukan yang akan dilakukan tengah malam nanti, Li Xiang mengajak Xiao Xing Fu untuk bersenang senang. Karena banyak hal yang bisa mereka lakukan di perayaan ini.
Xiao Xing Fu sangat menikmati semua yang terjadi hari ini padanya. Hari yang sangat menyenangkan. Terlebih Li Xiang yang mentraktirnya. Jadi ia tidak perlu membayar apapun. Lagi pula, ia memang tak memiliki uang.
Lalu saat tengah malam tiba, Li Xiang dan Xiao Xing Fu pergi ke sebuah teater yang diadakan dalam sebuah rumah yang besar dan luas. Terdapat panggung teater yang cukup besar. Bukan hanya drama, namun mereka juga menampilkan sebuah tarian.
__ADS_1
Dugaan Xiao Xing Fu tentang pertunjukan yang membosankan sirna ketika melihat semua drama dan tarian yang ditunjukkan. Ia bahkan orang yang sangat bersemangat diantara orang lainnya. Saat pertunjukan, ia juga melihat orang orang yang saat tadi ditemui olehnya di dalam sebuah rumah. Ternyata mereka memang pemain drama. Ia cukup takjub dengan pertunjukan yang diperlihatkan orang orang itu.
Setelah teater selesai, Li Xiang dan Xiao Xing Fu kembali ke penginapan. Mereka sudah sangat lelah.
Perayaan di desa Lingxue akan diadakan sampai pagi hari. Maka dari itu, masih banyak orang yang berlalu lalang di jalanan. Banyak juga orang luar yang datang ke perayaan. Entah secara kebetulan perayaan sedang diadakan ataupun yang memang memiliki tujuan kemari.
Pagi kini telah tiba. Setelah bersiap siap dan sarapan, Li Xiang dan muridnya benar benar pergi dari desa Lingxue. Mereka juga sudah berpamitan dengan Tian Rou dan kedua orang tuanya.
Tian Rou sendiri sedikit sedih saat kedua orang yang baru ditemuinya saat malam akan pergi. Namun ia tidak bisa menahan mereka untuk tetap tinggal.
***
"Kita akan kemana setelah ini?" Ucap Xiao Xing Fu.
"Kenapa bertanya padaku? Seharusnya aku yang bertanya padamu seperti itu. Kita akan kemana?" Ucap Li Xiang.
"Aku tidak tahu tempat."
"Kalau begitu, seharusnya kau membeli peta di desa Lingxue, bodoh!"
Xiao Xing Fu berekspresi kesal. Ia melihat Li Xiang yang berjalan di sampingnya, "Aku tidak memiliki uang! Tidak perlu dibahas tentang itu. Dan lagi, kau sendiri kenapa baru mengatakannya sekarang?! Seharusnya kau mengatakan tentang peta padaku sejak tadi!"
"Seharusnya kau tahu sendiri tentang itu, bodoh! Pergi tanpa persiapan apapun, sama saja bodoh!" Celetuk Li Xiang.
"Memangnya kenapa? Kau sendiri selalu mengatakan itu padaku. Sekarang aku yang mengatakannya padamu, bodoh!"
"Tidak ada guru yang mengatakan bila muridnya bodoh! Jika dia mengatakannya, berarti dia yang bodoh! Guru, tapi tidak bisa mengajari muridnya menjadi pintar! Murid dikatakan bodoh, pertanyaannya siapa yang mengajarinya? Guru!" Ucap Xiao Xing Fu dengan kesal.
"Apa maksudmu aku lebih bodoh darimu, huh?!" Kesal Li Xiang. Ia berhenti berjalan dan menghadap pada Xiao Xing Fu. Begitupun dengan muridnya.
"Tidak. Aku tidak mengatakannya. Kau yang mengatakannya sendiri! Jadi kau sendiri yang mengakui bila dirimu bodoh." Ucap Xiao Xing Fu dengan tidak peduli.
Li Xiang mengepalkan tangannya dan memperlihatkan kepalan tangannya di depan wajah, "Minta maaf padaku sekarang juga! Jika tidak, maka aku akan memberimu pelajaran!"
"Tidak mau! Kenapa aku harus meminta maaf? Aku tidak salah sama sekali."
Li Xiang langsung menarik telinga Xiao Xing Fu dengan keras, "Jadi kau tidak mau mengatakannya ya?"
"A-aduh.. sshhh.. s-sakit.. lepaskan! Lepaskan aku!" Xiao Xing Gu meringis kesakitan.
"Hmph! Minta maaf terlebih dahulu padaku! Setelah itu, aku akan melepaskannya!"
__ADS_1
"Tidak mau! Aku tidak salah! Aku tidak mau meminta maaf!"
***
Waktu terus berjalan dan hari kini menjadi malam di desa Lingxue. Udara terasa dingin di tempat ini. Perayaan sudah selesai dan desa menjadi hening saat malam tiba. Di desa ini masih ada beberapa orang luar yang masih tinggal. Beberapa bahkan merupakan kultivator. Walaupun mereka memang bukanlah kultivator kuat.
Di gelapnya malam, kabut kabut hitam tiba tiba saja muncul dari arah sawah sawah dan kebun yang ada di desa ini. Aura mencekam mulai terasa di setiap desiran angin yang menyentuh kulit.
"Aarkkhhh!"
Tak lama dari itu, teriakan mulai muncul di salah satu rumah, disusul dengan teriakan yang juga terdengar dari bangunan lain. Suara yang terdengar begitu nyaring dan keras. Beberapa orang langsung berhamburan keluar dari dalam rumah.
Orang orang tiba tiba saja bertingkah aneh. Ada banyak orang yang melukai dirinya sendiri. Ada pula yang menyerang orang lain. Malam yang seharusnya tenang dan damai, berubah menjadi malam yang menakutkan bagi orang orang desa Lingxue.
"Ada apa ini?!"
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?! Aakhh!"
"Aarghh.."
"Banyak roh jahat yang masuk ke dalam tubuh mereka." Ucap salah kultivator yang ada di sana.
"Roh jahat? Bagaimana mungkin mereka sebanyak ini?! Dari mana mereka berasal?"
"Tolong!"
"Jangan banyak bicara, kita harus menyelesaikan mereka terlebih dahulu!"
"Kita tidak akan bisa melakukannya. Mereka terlalu banyak."
"Siapapun, tolong aku!"
"Kalau begitu apa kita akan membiarkan ini bergitu saja, hah?! Pengecut!"
"Aarggh.."
"Selamatkan aku! Jangan bunuh aku!"
Desa Lingxue kedatangan banyak roh jahat yang mengganggu para warga. Kultivator yang kebetulan berada di desa mencoba membantu dengan membasmi mereka semua. Namun, mereka tidak membuat perubahan besar. Korban korban terus saja berjatuhan. Beberapa bangunan roboh akibat pertempuran yang dilakukan kultivator dengan warga yang dirasuki roh jahat. Bukan hanya para warga saja yang dirasuki, namun kultivator yang mencoba membantu pun ikut dirasuki.
Teriakan ketakutan terdengar disetiap sudut desa. Darah memercik ke segala arah, membuat desa yang awalnya damai menjadi tidak terkendali. Perlahan warga desa mulai mati satu persatu. Bahkan Tian Rou dan kedua orang tuanya tak lepas dari serangan para roh jahat. Bangunan penginapan yang dibangun susah payah oleh orang tua Tian Rou kini harus hancur dan berubah menjadi puing puing bangunan.
__ADS_1
Desa Lingxue yang baru saja mengadakan perayaan malam lalu kini menghilang dalam sekejap mata.