
Xiao Lei menatap orang sektenya dengan canggung, "A-ah.. itu. ekhem.. aku akan memberimu 50 koin emas jika kau tidak memberitahukan semua yang baru saja kau dengar pada orang orang di sekte. Bagaimana?"
Kultivator itu semakin canggung kala mendengar ucapan Xiao Lei, "Patriarch tidak perlu memberikan itu pada saya. Saya akan menjaga rahasia ini. Jadi Patriarch tidak perlu khawatir bila hal ini akan bocor pada orang orang di sekte."
Xiao Lei berdehem. Ia mengambil sebuah botol yang berisikan 3 buah pil yang berada di dalam cincin ruangnya, "Aku tidak mau tau. Kau harus menerimanya dan sebagai gantinya kau tidak boleh mengatakan apapun soal ini." Ia menyodorkannya pada kultivator di depannya. "Ini adalah pil yang bisa mengobati luka yang cukup serius hanya dalam sehari. Kau bisa mengambilnya."
"Itu tidak perlu–"
"Ambil saja. Aku tidak menerima penolakan." Paksa Xiao Lei.
Akhirnya dengan terpaksa kultivator itu menerima pemberian Patriarchnya. "T-terimakasih. Saya berjanji tidak akan mengatakan apapun soal apa yang saya lihat dan dengar tadi." Ucapnya gugup.
Xiao Lei mengangguk, "Jika kau akan kembali ke sekte nanti, katakan pada semua tetua jika aku tidak akan kembali beberapa waktu karena aku sedang bersama cucuku dan ucapkan juga terimakasihku pada mereka karena mereka sudah mau membantuku mencari anakku."
"B-baik Patriarch. Kalau begitu, saya permisi. Ada hal yang harus saya lakukan di sini." Kultivator itu menundukkan kepala.
"Baiklah."
"Eh, terimakasih karena tadi sudah mau mengobrol denganku, senior." Ucap Xiao Xing Fu.
Kultivator itu melirik Xiao Xing Fu dan tersenyum. Ia mengangguk. "Em.. sampai jumpa. Semoga kita bisa bertemu lagi lain kali."
Xiao Xing Fu mengangguk dan tersenyum. Setelahnya, kultivator di hadapannya pergi, masuk kembali ke dalam rumah yang menjadi tempat pembunuhan terjadi saat malam.
"Dasar.. kau menyogok orang sektemu sendiri. Patriarch macam apa kau ini? Kau sudah mengajarkan hal tidak baik pada orang sektemu sendiri." Cibir Li Xiang.
Xiao Lei mendengus kesal. Seharusnya ia memperhatikan sekitarnya tadi. Tapi karena pikirannya dan pandangannya selalu terfokus pada Xiao Xing Fu, ia menjadi lupa dengan sekitar.
"Jadi? Apa yang kau lakukan di sini, Fu'er? Aku dengar jika di tempat ini baru saja terjadi pembunuhan." Ucap Xiao Lei mengalihkan topik pembicaraan.
"T-tidak ada. Aku kemari hanya untuk melihat bagaimana mayat itu dan ternyata dia adalah penjaga kemarin yang saat itu pernah mengusirku dan guru dari penginapan. Kondisinya mengerikan." Ucap Xiao Xing Fu.
Li Xiang terkejut, "Penjaga kemarin?" namun beberapa saat setelahnya, "Biarkan saja. Itu pasti hukuman yang diberikan takdir karena sudah mengusirku Yang Agung ini." Ucapnya sombong.
Xiao Xing Fu menjadi kesal, "Seharusnya kau prihatin, bukannya sombong seperti itu! Apalagi kau mengatakannya di depan rumahnya!"
"Memangnya bagaimana keadaannya, Fu'er?" Tanya Xiao Lei dengan penasaran.
__ADS_1
"Kedua tangannya terpotong. Begitu juga dengan satu kakinya. Sementara kaki satunya lagi tertancap pedang miliknya sendiri. Karena saat itu dia pernah mengacungkan pedangnya padaku dan guru, jadi aku tau bila itu adalah pedangnya. Lalu mulutnya sobek hingga ke pipinya, bahkan hampir sampai ke mata. Mengingatnya membuatku merinding." Ucap Xiao Xing Fu. Ia mengusap usap tangannya.
Mendengar itu, membuat Xiao Lei terkejut. "Kalau begitu kau tidak perlu melihat hal seperti itu, Fu'er. Kita pergi saja dari sini."
Akhirnya ketiganya pergi dari kota itu saat hari masih pagi. "Sekarang kita akan kemana?" Ucap Li Xiang sambil memperhatikan peta di tangannya. Peta ini adalah milik Xiao Lei. Ini adalah peta benua timur, dimana mereka berada sekarang.
Xiao Xing Fu ikut melihat peta yang berada di tangan Li Xiang, "Aku tidak tau. Tapi yang jelas kita harus menemukan pembunuh itu."
Saat mendengar ucapan cucunya, membuat Xiao Lei sedih. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak mau Xiao Xing Fu mengetahui hal yang sebenarnya bila identitas pembunuh yang selalu diucapkannya adalah ayahnya sendiri. Karena Li Xiang sudah memberitahunya banyak hal, ia jadi tau apa yang sedang Xiao Xing Fu cari.
Xiao Lei sendiri tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Xiao Xing Fu. Apa mungkin ia harus menyembunyikan ini selamanya? Tapi Xiao Xing Fu hanya akan mencari seseorang yang jelas takkan pernah bisa ia temui di dunia ini lagi. Mungkin untuk saat ini ia akan menyembunyikan kebenarannya dari Xiao Xing Fu. Tapi ia takut bila suatu hari kebohongan akan terbongkar, bahkan sebelum dirinya yang memberitahukan hal ini pada Xiao Xing Fu sendiri.
"Kakek?"
Xiao Lei tersadar dari lamunannya. Ia menatap Xiao Xing Fu, "A-ah, ada apa?"
Xiao Xing Fu menggelengkan kepala, "Um.. aku hanya ingin menanyakan pendapat pada kakek. Kita harus pergi kemana setelah ini? Aku tidak tau tempat."
"Menurutku, jika kau ingin pergi ke tempat yang ramai, kita bisa pergi ke desa Xiling. Walaupun tempat itu adalah sebuah desa, tapi tempat itu sangat ramai." Xiao Lei tersenyum.
"Xiling ya.. Baiklah." Xiao Xing Fu mengangguk. Ia terdiam sejenak, "Ngomong ngomong, kakek adalah ayah dari ayah 'kan?"
"Kalau begitu, bagaimana ayah saat kecil?" Xiao Xing Fu menatap kakeknya.
Xiao Lei mengerutkan kening.
"A-ah, maksudku seperti.. apakah ayah adalah orang yang sangat hebat? Apa sejak kecil dia tinggal di sekte kakek?" Xiao Xing Fu menjadi gelagapan. Ia pun menundukkan kepala.
Xiao Lei tersenyum, "Dia memang tinggal di sekte saat kecil. Tapi aku tidak tau banyak hal tentangnya." Ia menatap ke atas langit.
"...," Xiao Xing Fu memiringkan kepala.
"Aku tidak begitu dekat dengannya. Tapi aku tau, dia adalah pekerja keras dan disiplin. Dia baik. Dia lebih suka bertindak daripada mengucapkan sesuatu yang tidak berguna. Dia cukup jarang berbicara." Xiao Lei menatap cucunya kembali.
"Benarkah? Padahal ayah adalah orang yang sedikit cerewet." Ucap Xiao Xing Fu.
Xiao Lei menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum, "Bagus'lah bila dia bisa menjadi orang yang banyak bicara. Mungkin dia berubah setelah keluar dari sekte."
__ADS_1
Saat mereka sedang berjalan, sekelompok orang mencoba menghadang jalan mereka. Orang orang itu terdiri dari 5 orang dengan senjata kapak, belati dan pedang.
"Serahkan uang kalian jika kalian ingin selamat!" Ucap salah satunya dengan tatapan tajam.
Li Xiang menghela nafas, "Hah.., berandalan. Selalu saja ada di setiap tempat. Apa mereka tidak kapok dengan berita berita yang selalu dikatakan penduduk? Padahal banyak berandalan mati karena salah menargetkan target mereka. Tapi ini bisa menjadi salah satu percobaanku." Gumamnya.
"Jangan menghalangi jalan ka–Apa yang ingin kau lakukan, Jian?" Ucap Xiao Lei saat melihat Li Xiang jalan lebih dekat dengan para perampok.
"Mungkin dia ingin mengalahkan mereka." Gumam Xiao Xing Fu.
"Apa kau ingin melawan kami?!" Ucap salah satu perampok berbadan kurus.
Li Xiang berhenti setelah jaraknya dengan para perampok itu hanya tinggal 5 langkah lagi. Ia menatap kelimanya dengan senyum miring. Sementara, kelima perampok di depannya langsung mencengkram senjata mereka dengan kuat sambil menatapnya waspada. Mereka seakan bersiap bila Li Xiang akan menyerang.
"Kalian ingin uangku bukan?"
Kelima perampok saling menatap satu sama lain. Li Xiang mengatakan sesuatu yang aneh. Dia tidak melanjutkan kata katanya, membuat ucapannya bisa seakan penawaran ataupun akan mengancam.
"Jangan takut, aku hanya bertanya. Aku tanyakan sekali lagi, apa kalian ingin uangku?" Li Xiang tersenyum.
Kelima perampok dengan cepat mengangguk ketika mendengar ucapan Li Xiang. "Serahkan semua uangmu, bocah!"
"Kalau begitu, seharusnya kalian membunuhku. Bila kalian membunuhku, maka kalian bisa mengambil semuanya." Li Xiang semakin mendekati para perampok. Ia pun mencengkram ujung pedang yang dipegang oleh seorang pria, hingga telapak tangannya berdarah. "Tolong bunuh aku."
"Apa yang dia lakukan? Aku pasti salah mendengarnya tadi. Dia pasti mengatakan ancaman." Ucap Xiao Lei datar.
Xiao Xing Fu menatap punggung Li Xiang dari jauh dengan datar. "Kau tidak salah mendengarnya, kakek. Dia mengatakan agar mereka membunuhnya."
Kelima perampok malah semakin waspada dengan tindakan Li Xiang. Mereka menganggap remaja itu sudah tidak waras. "Dia kasihan sekali. Masih kecil sudah gila." Bisik salah satu perampok.
"Kau benar. Mungkin dia sangat tertekan dengan kehidupannya." Bisik yang lain.
"Heh, kita juga orang dewasa tertekan dengan ekonomi. Tapi kita tidak sampai menjadi gila seperti dia. Mungkin kehidupannya sangat sulit. Kasihan sekali." Bisik perampok lainnya.
Li Xiang yang mendengar ucapan ucapan yang dikatakan orang orang itu malah menjadi kesal. Ia melepaskan tangannya dari pedang. "Menyebalkan! Kalian mengatakan Yang Mulia ini orang gila?! Cih, tidak tau sopan santun!" Ia langsung menendang perut dari pemilik pedang yang ia pegang tadi.
Boomm
__ADS_1
Seketika, pria itu terpental jauh ke belakang hingga beberapa meter jauhnya. Bahkan pedang yang ia pegang tadi terjatuh saat terpental.