Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
36 -Xiao Lei


__ADS_3

Pria yang berdiri di hadapan Li Xiang masih terdiam. Jiwanya seolah terguncang karena terkejut.


Li Xiang menjadi semakin kesal ketika melihat lawan bicaranya hanya diam seerti patung, "Apa kau akan mulai bicara jika aku sudah memenggal kepalamu?!"


Pria di hadapan Li Xiang mulai tersadar dari lamunannya. Namun sorot matanya tetap saja sama. "Bagaimana mungkin.. Jian.. tubuhmu.. kenapa tubuhmu masih sama seperti puluhan tahun lalu?"


Li Xiang cemberut, "Jadi kau berpikir bila aku seharusnya sudah menjadi tulang belulang di bawah tanah?"


Pria di hadapannya berekspresi serius, "Bagaimana mungkin tubuhmu masih sama seperti dulu? Kau bahkan tidak bertambah tinggi sedikit pun. Kau masih saja cebol."


Li Xiang berekspresi kesal, "Jangan mengataiku cebol, cih. Apa kau mau aku merobek mulutmu agar kau tidak akan bisa mengataiku lagi?"


Pria di hadapan Li Xiang langsung menutup mulutnya. Ia seakan takut bila Li Xiang benar benar akan merobek mulutnya. "Kenapa kau bisa ada di tempat ini? Dan kenapa kau tidak bertambah tua sedikitpun?" Ucapnya. "Apa mungkin.. kau tidak bisa betambah tua?" Ucapnya serius. Ia perlahan menurunkan tangannya.


"Jika kau masih ingin berbicara padaku sekarang, jangan di sini." Li Xiang memperhatikan sekitar yang cukup sepi. Namun ia tetap saja tidak mau berada di lorong penginapan ini.


Pria di hadapannya langsung mengangguk. Ia berjalan sedikit ke depan. Setelahnya, ia langsung membuka pintu dengan kunci yang ada di tangannya dan masuk ke dalam ruangan kamar.


Li Xiang yang melihat itu langsung mengikutinya masuk. Pintu langsung ditutup olehnya setelah masuk ke dalam kamar.


Tiba tiba, pria yang ia ikuti langsung menaruh satu tangannya di samping kepala Li Xiang, membuatnya tak bisa bergerak dan hanya bisa menyandar pada pintu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Ucap pria itu dengan serius.


Li Xiang menyipitkan matanya dan tersenyum, "Kenapa? Apa aku tidak boleh ke tempat seperti ini, Xiao Lei? Atau harus kupanggil patriarch sekte giok bulan?"


Pria yang dipanggil Xiao Lei terkejut ketika mendengar ucapan Li Xiang. Ia langsung menurunkan tangannya yang ada di samping kepala Li Xiang. "A-apa maksudmu?"


"Kau berpura pura tidak mengerti, huh?" Li Xiang berekspresi datar. "Kau kira aku tidak tahu, kau adalah bagian dari sekte giok bulan, sekte aliran putih, salah satu sekte terbesar di benua ini. Kau menyembunyikan identitasmu dariku."

__ADS_1


Xiao Lei terdiam beberapa saat ketika mendengar ucapan Li Xiang. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah kau mengetahuinya?"


"Tidak ada." Li Xiang berekspresi santai kembali. "Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."


Xiao Lei mengerutkan kening, "Apa yang ingin kau katakan?" Ucapnya.


"Kau sekarang semakin tua. Rambutmu menjadi putih. Sekarang kau menjadi tua bangka, hahahaha." Ledek Li Xiang.


Xiao Lei terdiam ketika mendengar ejekan Li Xiang. Namun beberapa saat setelahnya, ia langsung memukul kepala Li Xiang dengan keras hingga membuat kepalanya benjol. "Jangan mengejekku! Rambutmu juga berwarna putih! Itu pasti karena kau sudah sangat tua!" Kesalnya.


Li Xiang mengusap kepalanya yang benjol. Rautnya menjadi sedih, "Kau jahat sekali padaku, pak tua. Kau menukul anak tak berdosa sepertiku dengan sangat kejam."


"Tak berdosa, kepalamu!" Kesal Xiao Lei.


"Heh, biar kukatakan padamu. Rambutku berwarna putih bukan karena aku sudah tua. Tapi sejak lahir rambutku memang berwarna putih." Li Xiang melipat tangannya di dada. Ia mendengus. Rambutnya memang berwarna putih, sangat jarang ada seseorang yang dilahirkan dengan rambut berwarna putih. Biasanya hanya orang yang sudah tua saja yang memilikinya.


"Katakan padaku, kenapa tubuhmu masih sama seperti dulu? Dan katakan apa yang kau inginkan dariku?" Xiao Lei berekspresi serius lagi.


Li Xiang berjalan menuju tempat tidur yang ada di dalam ruangan ini. Ia pun duduk di atasnya dengan tubuh yang ditopang oleh kedua tangan. Ia menatap Xiao Lei sambil tersenyum, "Bagaimana jika aku katakan padamu bila aku ini Abadi dan aku tidak bisa bertambah tua? Aku tidak bisa mati. Bahkan bila aku mati, aku akan bangkit kembali. Apa kau akan percaya?"


Xiao Lei berkedip beberapa kali. Jika dipikirkan secara akal sehat memang sangat mustahil. Kultivator dengan tingkat immortal saja tidak mungkin tidak bisa mati. Ia bisa mati bila ada yang membunuhnya. Walaupun umurnya panjang, belum tentu dia akan selamanya hidup. Memiliki kemungkinan bila orang orang di tingkat immortal mati bahkan sebelum menginjak usia 500 tahun, entah karena racun, penyakit ataupun orang lain yang membunuhnya.


Tapi bila Xiao Lei pikirkan lagi, itu mungkin saja bila untuk Li Xiang. Ia sudah tahu siapa Li Xiang yang sebenarnya puluhan tahun lalu. Ia juga dulu pernah berpikir mustahil bila seorang anak remaja seumuran dengan Li Xiang bisa melakukan 'itu'.


"Pantas saja kekuatanmu sangat besar walaupun kau terlihat seperti anak kecil belasan tahun dan kau bisa melakukan 'itu'." Ucap Xiao Lei datar. "Jadi berapa usiamu yang sebenarnya sekarang ini?"


Li Xiang berpikir sebentar. "Aku sudah hidup sangat lama. Bahkan terkadang aku melupakan kapan hari lahirku. Tapi kurasa, umurku sekarang baru 750 tahun."


Xiao Lei hampir tersedak ludahnya sendiri. Apa ia tidak salah dengar? 750.. tahun? Yang benar saja! Ia tidak pernah berpikir bila Li Xiang bisa setua itu. Bahkan lebih tua darinya yang saat ini baru berusia 160an tahun. Padahal ia sering memperlakukan Li Xiang seperti anak kecil saat dulu. Karena ia mengira bila Li Xiang baru saja berumur 13-14 tahun. Kenyataan yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali!

__ADS_1


Li Xiang tertawa, "Melihat reaksimu, sepertinya kau tidak pernah berpikir bila aku sudah berumur ratusan tahun."


"Bahkan aku tak pernah membayangkannya!" Ucap Xiao Lei. "Kalau begitu, kau ingin aku memanggilmu senior Jian atau kakek Jian?"


Li Xiang menjadi kesal, "Jangan panggil aku kakek! Kau lihat sendiri, wajahku ini tidak keriput, tidak sepertimu. Tidak pantas orang sepertiku disebut kakek kakek. Panggil saja aku seperti biasa."


Xiao Lei memperhatikan Li Xiang dari atas sampai bawah. Ia masih tak menyangka bila Li Xiang begitu awet muda. "Walaupun umurnya sudah ratusan tahun, tapi sifatnya masih saja kekanakan sekarang. Apa mungkin ini pengaruh dari tubuhnya? Tapi bahkan sifatnya lebih kekanakan daripada perwujudan tubuh fisiknya." Batinnya.


"Apa rahasiamu?" Ucap Xiao Lei.


"Rahasia? Rahasia apa?" Bingung Li Xiang.


"Rahasiamu, bagaimana kau bisa menjadi awet muda seperti ini? Apa kau minum semacam pil awet muda?" Xiao Lei berekspresi serius.


Li Xiang menggelengkan kepala, "Aku.. tidak tahu. Memangnya kenapa?"


Xiao Lei menatap Li Xiang, "Mungkin saja aku bisa menjadi muda lagi. Lalu dengan begitu, aku bisa mendapatkan banyak wanita cantik. Lagi pula, aku sangat tampan saat usiaku masih muda. Bahkan banyak wanita yang melamarku dulu."


Raut wajah Li Xiang berubah kesal, "Jangan terlalu percaya diri! Tidak mungkin ada banyak wanita yang melamarmu. Mungkin saja wanita yang melamarmu dulu adalah nenek nenek yang usianya tidak akan panjang lagi dan besoknya mati. Kau ditinggalkan, selesai."


Kini Xiao Lei yang menjadi kesal dengan ucapan Li Xiang, "Tentu saja bukan!"


"Bila kau menjadi awet muda, menikah lagi, lalu bagaimana dengan istrimu? Kau mengatakan bila istrimu sangat cerewet. Bahkan kau mengatakan dia seperti singa betina yang galak. Dia pasti tidak akan membiarkanmu menikah lagi dan malah akan menendangmu keluar dari rumah, hingga kau menjadi gelandangan." Ejek Li Xiang.


Xiao Lei tiba tiba terdiam. Wajahnya sedikit murung, "Istriku sudah meninggal. Saat anakku berumur 12 tahun, dia meninggal karena dibunuh oleh seorang kultivator aliran hitam yang menyusup kedalam sekte. Patriarch baru yang berasal dari sekte itu tidak menyukaiku. Lalu dia memerintahkan 3 orang tetua di sektenya untuk membunuhku. Namun dia tidak berhasil melakukannya. Disaat dia hampir membunuhku, istriku melindungiku dan akhirnya mati. Semenjak kejadian itu, hubunganku dengan anakku tidak begitu dekat.


Saat usianya menginjak 20 tahun, dia tidak lagi belajar berkultivasi dan mengatakan padaku bila dia tidak mau menjadi kultivator. Lalu, dia pergi dan mengatakan untuk tidak mencarinya. Dia benar benar tidak mau lagi terlibat dengan dunia para kultivator dan berhenti berkultivasi.


Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Karena aku tidak pernah mencarinya, seperti apa yang dia mau. Tapi 3 tahun lalu, aku mendapatkan mimpi buruk jika dia mati. Semenjak hari itu, aku mulai mencarinya dengan dibantu oleh tetua di sekte."

__ADS_1


__ADS_2