Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
32 -Guru Dan Murid II


__ADS_3

Xiao Xing Fu terkejut ketika melihat bila Li Xiang tidak terluka sama sekali setelah terkena serangan petir miliknya.


Tanah yang dipijak Li Xiang tidak rusak sama sekali. Itupun hanya 1 meter darinya saja. Sementara di sekeliling yang lebih jauh dari itu rusak menjadi cekungan. Ia memakai kubah pelindung untuk melindungi dirinya sebelum petir menyambarnya tadi.


Li Xiang tersenyum miring. Ia tiba tiba muncul di hadapan Xiao Xing Fu hingga membuat anak itu kembali terkejut. Ia pun mencengkram leher Xiao Xing Fu dan mengangkatnya hingga kaki anak itu tidak menapak ke tanah.


"Engh.." Xiao Xing Fu kesulitan bernafas setelah Li Xiang mencengkram lehernya. Ia berusaha melepaskan tangan Li Xiang darinya. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Karena tidak bisa, Xiao Xing Fu mencoba memukul wajah Li Xiang.


Li Xiang langsung memiringkan kepalanya untuk menghindari serangan mudah dari muridnya. "Percuma. Kau takkan bisa mengalahkanku. Semua serangan yang kau lakukan tidak ada artinya sama sekali untukku." Ia langsung melepaskan cengkramannya dari leher Xiao Xing Fu, hingga membuat anak itu terjatuh di dekat kakinya.


"Uhuk.. uhuk.." Xiao Xing Fu memegangi lehernya yang merah dengan bentuk jari jari tangan. Nafasnya tidak stabil.


Li Xiang membalikkan tubuhnya, membelakangi Xiao Xing Fu. "Kau takkan bisa menghadapiku. Maka artinya, kau takkan pernah bisa membalaskan dendam orang tua angkatmu." Kakinya mulai melangkah untuk pergi meninggalkan muridnya. Namun, kakinya ditahan oleh tangan Xiao Xing Fu.


"Apa kau masih tidak ingin menyerah? Kau masih ingin melawanku? Bahkan sampai kau mati–"


"Jangan.. hah.. hah.. tinggalkan aku." Xiao Xing Fu memotong ucapan Li Xiang sambil memeluknya dari belakang. Nafasnya masih tidak stabil dan ia juga merasa lemas. Namun ia tetap berdiri untuk mencegah Li Xiang pergi.


Li Xiang terkejut ketika mendengar ucapan Xiao Xing Fu. Ia melirik ke belakang. "Apa maksudmu?"


"Kau.. satu satunya tempatku untuk kembali... aku tidak mau kau pergi." Air mata yang sejak tadi ditahan oleh Xiao Xing Fu akhirnya keluar. "Kata katamu tadi... sangat menyakitkan. Semua yang kau lakukan untukku.. seakan hanyalah kebohongan... kau menganggapku seakan hanyalah mainan untuk kesenanganmu. Padahal... aku menganggapmu sebagai guru dan kakakku yang bodoh. Sekaligus sebagai sahabatku.


Hari hariku terasa menyenangkan.. namun bila memikirkan jika semua itu hanyalah kebohongan..." Xiao Xing Fu mengeratkan pelukannya. Air mata masih saja mengalir di pipinya. "Aku.. percaya kau pasti bukan pelakunya. Aku percaya kau tidak akan... melakukan itu. Aku percaya padamu."

__ADS_1


"Kumohon katakan padaku.. bila semua yang kau katakan tadi hanyalah.. kebohongan. Katakan bila aku bukan hanya mainan untukmu.. katakan bila kau bukan pelakunya.. katakan bila semua yang kau lakukan bukan karena.. ingin mempermainkanku.. Jangan tinggalkan aku sendiri.. aku tidak bisa melakukan semuanya sendiri.. tanpamu, guru." Perlahan, pelukan Xiao Xing Fu mengendur dan akhirnya terlepas bersamaan dengan dirinya yang pingsan.


Li Xiang langsung membalikkan tubuhnya menghadap pada Xiao Xing Fu. Ia pun berlutut di samping muridnya. Tatapannya nampak sulit diartikan saat ini. "Apa aku terlalu berlebihan?" Gumamnya pelan.


Li Xiang akhirnya membawa Xiao Xing Fu ke tempat yang sedikit jauh dari tempat mereka bertarung tadi. Ia menyandarkannya pada sebuah pohon. Ia juga memasang kubah pelindung di sekitar agar tidak ada hewan buas yang mendekati dirinya maupun muridnya.


"Jangan pergi.." Lirih Xiao Xing Fu dengan mata yang masih menutup.


Li Xiang menyentuh dahi Xiao Xing Fu, "Dia demam. Apa ini karena dia terlalu lelah?"


"Kumohon jangan pergi. Hanya kau satu satunya.. tempatku kembali.."


Li Xiang menghela nafas, "Huft.."


Keesokan paginya, matahari mulai terbit, hingga sinarnya menerangi sebagian kawasan hutan menjadi terang.


"Hai~ kenapa ekspresimu seperti itu?" Ucap Li Xiang yang duduk di samping Xiao Xing Fu sejak semalam.


"K-kau.." Xiao Xing Fu tidak tahu harus mengatakan apa. Ia berpikir apa mungkin kejadian semalam hanya sebuah mimpi?


"Sshh.." Namun rasa sakit yang terasa di tangan kanannya membuat Xiao Xing Fu sadar bila kejadian saat malam bukanlah mimpi. Ia memegangi tangan kanannya yang terasa seperti akan patah kapan saja, "Eh?"


Xiao Xing Fu melihat tangannya yang sakit. Perban sudah melilit tangannya. Ia juga menyadari sesuatu. Ia langsung menyentuh kain yang ada di atas punggungnya. Ada kain tambahan di atasnya. Ia langsung mengambilnya dan menyadari bila itu adalah pakaian luar milik gurunya.

__ADS_1


"Hahaha.."


Xiao Xing Fu terkejut ketika Li Xiang tiba tiba tertawa. Ia sedikit menjauh dari gurunya dan duduk menghadap padanya.


"Ekspresimu itu lucu sekali, haha. Terlebih saat malam." Ucap Li Xiang sambil tertawa.


Xiao Xing Fu mengerutkan kening. Ia tidak mengatakan apapun. Entah kenapa rasanya situasi saat ini begitu aneh baginya. Li Xiang yang bersikap seperti biasanya. Namun dirinya kini bersikap waspada pada gurunya. "K-kenapa kau di sini?"


Li Xiang berhenti tertawa. Ia pun tersenyum kekanakan, "Kenapa? Hm.. tentu saja menunggumu bangun. Ngomong ngomong, ekspresimu saat malam lucu sekali. Aku tidak bisa menahannya lagi, hahaha."


"A-apa maksudmu?"


Li Xiang berhenti tertawa, "Saat malam aku hanya bercanda. Mana mungkin aku adalah pelakunya. Aku hanya kebetulan lewat di desa Yunxu saat itu untuk pulang ke hutan Yuelong. Lalu aku tidak sengaja melihatmu di sekitar kobaran api. Aku merasakan aura kehidupan diantara mayat mayat yang terbakar. Jadi aku menghampirimu."


Xiao Xing Fu mencerna ucapan Li Xiang beberapa saat. Ia pun langsung berekspresi terkejut, "J-jadi ucapanmu semalam bukan–"


"Ya, aku hanya berbohong untuk mengerjaimu. Yah.. lalu hasilnya cukup memuaskan. Melihat ekspresimu saat malam, membuatku ingin tertawa." Ucap Li Xiang dengan santai.


Xiao Xing Fu langsung berekspresi marah. "Kenapa kau berbohong seperti itu hanya untuk bercanda?! Apa kau tahu, ucapanmu saat malam sangat menyakitkan! Aku berpikir, jika tubuhku ini hanyalah tumpukan mayat dari orang orang yang ingin kubalaskan dendamnya, bukankah seharusnya aku yang mati sebagai balas dendam yang ingin kulakukan untuk orang orang di desa?!


Aku berpikir, apa mungkin selama ini aku hanya dipermainkan olehmu? Apakah aku akan kehilangan tempatku kembali seperti sebelumnya? Apa aku akan sendirian lagi? Apa aku akan kesepian lagi seperti saat itu..?" Suaranya lama kelamaan memelan bersamaan dengan kepalanya yang tertunduk. "Apa aku akan kehilangan orang terdekatku lagi? Apa aku akan selamanya sendiri..?"


Kepala yang awalnya tertunduk itu perlahan terangkat menatap Li Xiang dengan mata yang berkaca kaca, "Kau keterlaluan! Apa kau tidak memikirkan perasaanku saat kau mengatakan semua itu?! Semua kebohonganmu itu! Hanya untuk bercanda, kau menyakiti perasaanku! Apa begitu menyenangkannya untukmu saat menyakiti perasaanku?!"

__ADS_1


Li Xiang tertegun ketika mendengar ucapan Xiao Xing Fu. Secara tidak sadar muridnya itu mengatakan semua perasaan yang dirasakannya. Padahal jarang sekali Xiao Xing Fu akan mengatakan itu. Hanya awal saat mereka tinggal bersama saja Xiao Xing Fu mengatakan semua tentang perasaannya.


Li Xiang sendiri tidak menyangka bila Xiao Xing Fu akan bereaksi seperti itu saat malam. Ia mengira bila Xiao Xing Fu akan terus menyerangnya dan tidak akan menahannya saat ia akan pergi. Terlebih ucapan anak itu sebelum dirinya pingsan. Semua di luar dugaannya.


__ADS_2