Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
63 -Lebih Cepat


__ADS_3

Setelah berkeliling sekte selama berjam jam, Lin Hao kini mengajak Li Xiang untuk makan di balai makan. Tempat ini juga adalah tempat terakhir yang belum dikunjungi.


Terlihat beberapa murid yang berada di sana. Ini adalah waktu istirahat bagi mereka. Maka dari itu banyak murid yang pergi ke tempat ini di waktu yang sedikit siang.


Tempat ini hampir terlihat seperti restoran, karena memiliki meja resepsionis untuk memesan makanan beserta kursi dan meja yang mirip seperti di restoran. Hanya saja tempat ini lebih besar dibandingkan restoran kebanyakan dan mereka tak perlu membayar untuk makanan yang sudah mereka makan.


"Kau tidak perlu membayar semua makanan atau minuman yang sudah kau pesan dan kau makan. Karena semua itu gratis di tempat ini." Ucap Lin Hao ketika melihat Li Xiang baru saja akan mengeluarkan uang dari kantung kecil di tangannya.


Li Xiang melirik Lin Hao dengan mata berbinar, "Benarkah? Jadi aku bisa memakan semua yang ada di sini tanpa membayar?"


Lin Hao mengangguk. Sementara, Li Xiang tersenyum senang. Ia menaruh kembali kantung uang di tangannya ke balik pakaian. "Kalau begitu, kita hanya perlu mencari tempat duduk dan menunggu makanan, ayo!" Ia langsung pergi dari depan meja resepsionis.


"Junior Hao, apakah dia adalah orang yang sedang dibicarakan banyak orang saat ini?" Ucap orang yang menjadi resepsionis dibalik meja.


Lin Hao memandang respsionis wanita itu dan mengangguk dengan senyum memaksakan, "Begitulah."


"Lalu kenapa dia masih berada di sini? Bukankah dia seharusnya diusir pergi? Lagi pula, dia sudah melakukan kekacauan di sekte kemarin dan kudengar dia sudah mengintimidasi orang orang di sana. Apa itu benar?"


"Y-ya, memang begitu. Mereka tidak salah mengatakannya. Karena yang terjadi kemarin memang seperti itu."


"Lalu kenapa dia masih berada di sini? Apa Patriarch tidak mengusirnya?"


"Dia sekarang menjadi tamu di sini. Jadi kita harus memperlakukannya dengan baik. Walaupun guru memang tidak mengatakan secara langsung padaku bila dia adalah tamu sekarang."


"Apa tidak berbahaya membiarkannya terus di sini? Orang orang mengatakan kekuatannya mengerikan."


"Mn.. kurasa.. tidak. Untuk saat ini."


Resepsionis melihat sekilas ke arah dimana Li Xiang duduk saat ini. Remaja itu terlihat tidak mempedulikan sekitar ataupun bisikan diantara para murid. Ia malah mengomentari bagaimana bentuk balai makan ini beserta barang barang yang ada di dalamnya.


"Walaupun orang orang mengatakan kekuatannya menyeramkan, tapi kenapa aku tidak merasakan kekuatan spiritual darinya sama sekali? Dia terlihat seperti anak biasa." Ucap resepsionis dengan heran.


Lin Hao terlihat sedikit bingung. Ia memang tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan seniornya. Karena ia juga memang tidak tahu jawabannya. "B-begitulah, aku juga tidak tahu senior."


Respsionis itu terdiam sejenak. Ia pun memperhatikan tubuh Lin Hao, "Bagaimana dengan lukamu? Aku mendengar dari orang orang bila kau terluka karena mendapatkan serangan dari orang yang menjadi lawanmu."


Lin Hao tersenyum tipis, "Aku baik baik saja senior. Hanya masih sedikit sakit saja."


"Lalu tentang pernikahanmu dengan Nona Bai?"

__ADS_1


Lin Hao tertegun, "Mungkin dibatalkan. Karena adik Nuan sudah memiliki pasangan yang dipilihnya sendiri." Ucapnya.


"Apa kau tidak sedih?"


"Untuk apa? Aku ikut senang bila adik Nuan senang. Lagi pula, aku menganggapnya seperti adikku. Tidak lebih. Kalau begitu, aku permisi senior." Lin Hao sedikit menundukkan kepalanya dan langsung pergi dari depan meja resepsionis, karena Li Xiang sudah memanggil manggil namanya dan jika ia tidak segera menghampirinya, suara Li Xiang akan mengganggu murid lain lebih lama.


"Kenapa kau lama sekali? Aku sudah memilih meja yang tepat." Ucap Li Xiang dengan cemberut.


"Maaf," Lin Hao duduk berhadapan dengan remaja itu.


"Berapa lama lagi makanan sampai? Aku sudah lapar~" Li Xiang menopang dagunya dengan dua tangan.


"Mungkin sebentar lagi." Lin Hao tersenyum tipis.


"Baiklah!" Li Xiang tersenyum senang. "Selama menunggu kita bisa berbicara sebentar." Ia kemudian menopang dagunya hanya dengan satu tangan disertai senyum miring, "Bagaimana? Apakah apa yang kuberikan padamu dulu cukup berguna?"


Lin Hao mengerutkan kening, "Apa yang kau berikan dulu? Kurasa.. kau salah orang. Kita baru saja bertemu sejak kemarin."


Li Xiang tersenyum remeh, "Tentu saja aku tidak akan salah. Itu memang kau. Aku bisa merasakannya. Bahkan di jarak yang cukup jauh."


"Aku tidak mengerti."


"Ah, lupakan saja. Mungkin lain kali aku akan mengatakannya padamu."


***


Xiao Xing Fu dan Bai Nuan akhirnya sampai di sebuah desa setelah berjalan berjam jam. Desa ini terlihat cukup tenang, orang yang ada di dalamnya pun tidak banyak, begitupun dengan jumlah rumah yang berada di sana. Hari saat ini sudah hampir sore.


Keduanya pergi ke berbagai sudut desa untuk mencari kuil. Tentunya mereka juga menanyakan keberadaannya secara langsung ke penduduk desa. Mereka menemukannya, namun mereka tidak menemukan adanya bunga harapan dengan bentuk seperti yang dikatakan oleh Li Xiang.


Karena waktu yang tersisa hanyalah dua bulan, maka Bai Nuan tidak ingin menyia nyiakan waktunya untuk istirahat. Ia mengajak Xiao Xing Fu agar pergi ke tempat lainnya. Pemuda itu pun mengerti dengan apa yang terjadi, maka dari itu, ia setuju dengan ucapan Bai Nuan.


Mereka terus mencari ke berbagai desa dan kota yang berbeda untuk menemukan bunga harapan. Bahkan waktu istirahat bagi keduanya hanya sebentar, sekitar 3 jam perhari saja. Bukan itu saja. Mereka juga harus melewati berbagai rintangan. Entah saat berada di hutan ataupun dengan orang orang yang ingin menyerang keduanya. Kebanyakan dari orang orang itu menginginkan Bai Nuan, karena parasnya yang cantik.


Hingga akhirnya kini sudah minggu ke 7, tinggal tersisa 1 minggu lagi. Tempat yang mereka pijaki pun jauh dari sekte. Desa yang mereka kunjungi hari ini sering didatangi oleh roh roh jahat hampir setiap malam. Maka dari itu, terdapat beberapa kultivator yang berada di sini untuk melindungi para warga. Keduanya pun baru mengetahui hal ini dari warga setempat.


"Sekarang sudah sore, sebaiknya kita makan terlebih dahulu. Kita belum makan sejak pagi. Aku sudah lapar." Keluh Xiao Xing Fu.


Bai Nuan terdiam sejenak dan berpikir, "Baiklah." Ia mengangguk dan berjalan pergi bersama Xiao Xing Fu untuk mencari restoran.

__ADS_1


Saat pertama kali masuk ke dalam restoran, mereka melihat banyak orang dengan pakaian yang terlihat berasal dari berbagai sekte.


Keduanya segera duduk walaupun banyak mata yang tertuju pada keduanya. "Kalian berasal dari sekte mana?" Ucap salah satu kultivator wanita. Ia memakai pakaian berwarna merah.


Xiao Xing Fu melirik ke arah suara, "Ah, kami bukan berasal dari sekte manapun. Kami hanya pengelana biasa." Ia tersenyum.


Bai Nuan sendiri hanya diam. Ia sedang melamun memikirkan waktu tersisa yang ia miliki.


"Tampannya~" Gumaman wanita itu bisa didengar oleh orang orang di sekitarnya, termasuk oleh Xiao Xing Fu yang duduk tak jauh darinya. Bukan hanya dirinya yang mengatakan itu, namun kultivator wanita lainnya pun ikut menggumamkannya, baik secara lisan maupun batin.


"Apa kalian kemari untuk ikut membasmi roh roh jahat yang sering ke desa ini sejak 3 bulan lalu?" Ucap seorang pemuda. Ia melirik Bai Nuan karena tertarik dengan kecantikan gadis itu.


"Tidak, kami kemari karena ingin singgah sejenak." Ucap Xiao Xing Fu dengan senyum memaksa. Ia bisa melihat tatapan tidak baik dari pemuda itu, seolah dia ingin melakukan hal buruk pada Bai Nuan. Kejadian seperti ini cukup sering terjadi. Bai Nuan memang bisa menjaga dirinya. Namun bila saja saat itu ia tidak datang diwaktu yang tepat untuk menolong Bai Nuan, mungkin pria yang membawa gadis itu sudah melakukan hal buruk padanya. Karena saat itu Bai Nuan tidak sanggup mengalahkan beberapa pria yang membawanya.


Maka dari itu, Xiao Xing Fu khawatir bila hal itu terjadi lagi. Jika saja ia lengah, maka mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi pada Bai Nuan.


Pemuda yang baru saja berbicara tadi langsung menghampiri meja keduanya. Ia melirik Xiao Xing Fu, lalu mengalihkan tatapannya pada Bai Nuan yang melamun, "Saudaraku, apa gadis cantik ini adalah temanmu?"


"Ya." Ucap Xiao Xing Fu dengan mata menatap pemuda itu.


Bai Nuan langsung tersadar dari lamunannya saat pergelangan tangannya dipegang oleh seseorang. Ia langsung melirik ke samping dan mengerutkan kening, "Kau siapa? Dan bisakah kau melepaskan tanganku?" Ucapnya dengan dingin.


***


"Guru! Guru!"


Li Xiang langsung berjalan pergi ke arah sumber suara kala mendengar suara keras di depan kediaman Patriarch. "Ada apa? Kenapa kau teriak seperti itu? Memangnya jika kau sedang berlatih dengan Wei harus meneriakkan kata itu?" Ucapnya dengan malas.


Ia pun akhirnya sampai di luar. Matanya melihat Bai Wei yang tergeletak di tanah dengan Lin Hao yang duduk di samping Bai Wei.


Li Xiang segera menghampiri keduanya, "Apa yang terjadi dengannya?"


Lin Hao menggelengkan kepala dengan ekspresi khawatir, "Aku tidak tahu. Saat pagi hingga siang tadi guru baik baik saja. Tapi saat kami sedang berlatih tadi, dia tiba tiba jatuh dan tak sadarkan diri."


Lin Hao dan Bai Wei memang sudah mulai latihan kembali sejak 3 minggu lalu. Walaupun pemuda itu terus menolak ajakan Bai Wei karena tahu kondisi gurunya, tapi tetap saja Bai Wei memaksa. Jadi ia tidak bisa menolaknya lagi.


Li Xiang mengecek leher Bai Wei sejenak, "Kita tidak memiliki banyak waktu.


Racun itu memakan energi kehidupannya jauh lebih cepat dibanding yang seharusnya. Mungkin dia hanya bisa bertahan sampai 3 hari ini."

__ADS_1


Lin Hao terkejut, "Tapi adik Nuan dan Xing Fu belum kembali."


"Jika mereka telat, maka gurumu akan mati." Li Xiang menjauhkan tangannya dari Bai Wei.


__ADS_2