Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
52 -Mimpi


__ADS_3

Terlihat seorang anak laki laki yang nampak berumur 7 tahun sedang dikelilingi oleh anak anak lain. Ia memiliki rambut panjang berwarna putih dengan mata berwarna emas. Mereka sedang bermain dengan tawa kegembiraan yang terdengar. Namun tak lama, datang beberapa orang dewasa.


"Sudah berapa kali ibu mengatakan padamu agar kau menjauhi pembawa sial itu?! Kenapa kau masih bermain dengannya?!" Ucap seorang wanita dewasa sambil menarik tangan seorang anak.


"Tao'er, jangan bermain dengannya lagi. Jika kau terus bermain dengannya, keluarga kita akan mendapatkan sial," seorang pria dewasa menarik anak lainnya.


"T-tapi.."


"Tidak ada tapi. Kau harus menuruti ucapan ayah."


Satu persatu, anak anak itu dibawa oleh orang tua mereka masing masing dan kini hanya menyisakan anak berambut putih di bawah pohon yang rindang. Ia menundukkan kepalanya.


"Kenapa aku sering bermimpi ini?" Gumam seorang pemuda yang tak jauh dari tempat itu. Tubuhnya transparan. Ia pun tak bisa menyentuh apapun yang ada di tempat ini. Ia perlahan berjalan mendekati anak itu. Ada rasa kasihan dalam tatapannya saat melihat anak itu. Namun saat dirinya belum sampai, suasana dan tempat di sekitarnya perlahan berubah.


Tempatnya kali ini adalah di depan sebuah makam dengan banyak orang orang yang mengelilinginya. Termasuk anak yang dilihatnya tadi.


"Hiks.. hiks.. ibu.." Anak itu menangis dengan tubuh yang menghadap pada kuburan.


"Sudah kuduga, dia memang pembawa sial."


"Kenapa dia tidak pergi saja dari keluarga ini? Kita juga mendapatkan kesialan darinya."


"Tidak mungkin dia akan diusir. Lagi pula, dia adalah anak kepala keluarga dan kemungkinan dia akan menjadi penerus keluarga ini."


"Hah? Aku tidak sudi dia yang akan memimpin keluarga di masa depan. Jika itu terjadi, keluarga ini pasti akan musnah karena kesialannya."


"Jika saja dia tidak lahir, semua ini tidak akan terjadi."


"Bahkan karena keberadaannya, Nyonya Li meninggal. Dia benar benar pembawa sial."


Seoramg pria dewasa yang berjongkok di samping anak berambut putih itu tampak memeluknya dari samping. Ia pun berbisik untuk mengajak anaknya pulang. Ia tidak mau bila anaknya mendengar ucapan ucapan buruk orang orang di sekitar. Namun, anak itu tetap tidak mau berdiri dan pergi. Ia masih ingin melihat makam ibunya.


Pemuda yang sejak tadi memperhatikan semua kejadian dari dekat berekspresi datar. Namun ia sebenarnya kasihan dengan anak itu. Tetapi karena dia sering melihat kejadian ini, ia merasa sudah terbiasa.


Suasana di sekitarnya kembali berubah. Kali ini, tempat di sekelilingnya terlihat seperti pasar. Beberapa anak berdiri di depan anak berambut putih. Mereka sedang memukulinya hingga membuat anak itu terluka, "Kau pembawa sial! Setelah ibuku melarangku untuk bermain denganmu, ibuku langsung meninggal! Ini semua karenamu!"

__ADS_1


"Sejak kau lahir, pendapatan keluargaku jadi menurun! Padahal ayah mengatakan, sebelum kau lahir, semua baik baik saja!"


"Pembawa sial!"


"Lebih baik kau tidak pernah dilahirkan ke dunia! Kau jahat!"


"H-hentikan.. sakit.." Anak berambut putih itu hanya bisa meringkuk di tanah dan menerima semua perlakuan itu tanpa bisa melawan.


"Kau tidak pantas diampuni!"


Suasana kembali berubah. Kini tempat itu menjadi sebuah ruangan yang gelap tanpa adanya cahaya. Namuna anehnya, pemuda bertubuh transparan bisa melihat anak yang sejak tadi ia perhatikan.


"Kenapa jadi seperti ini? Kurasa saat itu aku tidak berada di tempat ini. Bahkan ini adalah pertama kalinya." Gumam pemuda itu. Jaraknya dengan anak di hadapannya hanyalah beberapa meter.


Anak berambut putih yang meringkuk itu merubah posisi tubuhnya menjadi duduk sambil memeluk lututnya. Wajahnya ia tenggelamkan diantara lutut.


"Apa aku harus mendekatinya?" Gumam pemuda itu. Saat ia hendak berjalan mendekat, sebuah suara keluar dari anak itu yang membuatnya berhenti.


"Kenapa.. kenapa mereka membenciku? Apa yang kulakukan? Apa aku melakukan kesalahan? Apa kehadiranku tidak dibutuhkan? Apa.. mereka membenci kehadiranku?" Ucapnya dengan suara parau.


Ruangan gelap yang awalnya kosong kini tergenangi oleh darah hingga mencapai mata kaki. Pemuda yang ada di sana terkejut. Ia melihat ke bawah, "Kenapa jadi seperti ini? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya padaku!" Ia kembali menatap anak di depannya. Namun ia tak menemukan kehadirannya. Ia langsung melihat sekeliling.


Seorang anak berambut putih kini berdiri di belakangnya dengan jarak beberapa meter. Tubuhnya berdiri dengan kepala tertunduk. Terdapat pedang di tangannya yang berlumuran darah. Tangannya pun memiliki percikan darah. Namun ia saat ini terlihat lebih tinggi dengan umur sekitar 14 tahun.


"Apa yang kulakukan?" Tubuhnya jatuh terduduk masih dengan pedang digenggamannya. "Aku.. membunuh seseorang.. aku tidak berniat membunuhnya.. aku tidak ingin.. membunuh siapapun.. tapi kenapa..," ia menatap kedua tangannya yang dilumuri darah.


Kepala anak itu mendongak ke atas, menatap pemuda di depannya yang hanya bisa memperhatikan sejak tadi. Matanya yang berwarna emas berubah menjadi merah dan hal ini langsung membuat pemuda di depannya terkejut. Air mata mengalir membasahi pipinya. Rautnya nampak sedih, "Mereka benar.. aku memang pembunuh.."


***


"Hah.. hah.. hah.." Seorang pemuda terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah engah. Ia memegangi kepalanya. Rasanya sedikit pusing. Setiap kali dia bermimpi tentang anak itu, ia pasti akan merasakan pusing.


"Mimpi apa itu tadi? Kenapa bisa seperti itu? Sebenarnya siapa anak itu? Aku tidak pernah bertemu dengannya sama sekali." Gumamnya dengan nafas terengah engah. "Padahal aku tidak mengenalnya. Tapi dia sering ada dalam mimpiku."


***

__ADS_1


"Hei, kau bantu aku! Jangan hanya diam saja. Cepat antarkan makanan makanan ini ke meja pembeli." Ucap Xiao Xing Fu pada Bai Nuan.


Bai Nuan yang baru saja sampai di dapur mengerutkan kening, "Aku kemari bukan untuk membantumu. Aku meminta makanan. Kau belum memberikanku makanan hari ini. Aku lapar dan berikan juga aku uang untuk membeli pakaian baru."


Xiao Xing Fu memandang Bai Nuan kesal, "Jika kau ingin mendapatkan uang, maka kau harus bekerja! Tidak ada uang untukmu bila kau tidak mau bekerja!"


Bai Nuan memandang Xiao Xing Fu dari belakang dengan kesal, "Kau pikir aku pembantunu? Jangan seenaknya saja menyuruhku!"


"Yasudah, aku tidak akan memaksa. Tapi kau tidak akan mendapatkan makanan apapun hari ini!"


"Cih," Bai Nuan mendekati Xiao Xing Fu, "Kalau begitu aku harus mengantarkan makanan mana dan kemana?!" Ucapnya tak ikhlas.


Xiao Xing Fu menunjuk dengan dagu, "Kau ambil itu dan tanyakan saja pada Fang."


Bai Nuan mengambil makanan dengan kesal, "Cih, kenapa aku harus melakukan ini?!"


"Cepatlah jika kau ingin mendapatkan makanan."


Bai Nuan segera pergi dari dapur dan menghampiri pelayan bernama Cao Fang untuk menanyakan dimana ia harus memberikan makanan di tangannya.


"Ah itu, Anda bisa memberikannya pada meja nomor 5." Ucap Cao Fang.


Bai Nuan mengangguk, "Terimakasih." Saat dirinya melihat Cao Fang pergi ke dapur, ia langsung melihat sekeliling, "Sepertinya ini tidak masalah, khihihi." Ia segera pergi menaiki tangga yang terletak di dekat dapur sambil membawa makanan dan minuman di tangannya.


Belasan menit kemudian, orang orang di meja 5 memprotes bila makanan mereka tidak juga sampai. Mereka mengatakan bila pelayanan di restoran tidak baik dan sangat lama. Padahal mereka sudah menunggu sejak tadi.


"Ah, maaf.. Kalau begitu, saya akan mengambil makanan secepatnya." Ucap Cao Fang dengan senyum bersalah. Ia segera pergi menemui Xiao Xing Fu yang sejak tadi memasak di dapur. "Tuan, pembeli di meja 5 mengatakan makanan mereka tidak juga sampai sejak tadi. Padahal saya lihat Nona Bai membawa makanan itu tadi untuk diantarkan."


Xiao Xing Fu mengerutkan kening dengan gigi yang menggertak, "Dia tadi sudah mengembalikan piring kotor padaku. Kukira dia sudah memberikannya pada pembeli. Dia itu... pasti dia yang memakannya."


"Jadi bagaimana ini Tuan?"


"Akan kubuatkan makanan baru. Katakan pada mereka untuk menunggu." Kesal Xiao Xing Fu.


"Baikah, Tuan." Fang segera pergi dari hadapan Tuannya.

__ADS_1


"Dia mengacaukan semuanya! Kurang ajar!" Gumam Xiao Xing Fu. "Dia lebih menyebalkan dari guru."


__ADS_2