
"Ini adalah anakku." Ucap seorang wanita cantik berambut hitam dengan mata biru langit malam. Ia tersenyum sambil mengelus kepala anak kecil yang ada di sampingnya.
Seorang pemuda yang terlihat berumur sekitar 20an tahun tersenyum ramah sambil menatap anak di samping wanita itu. Ia pun berlutut di depannya, "Halo! Perkenalkan, namaku Yan Cheng. Mulai dari sekarang, aku akan melindungimu, Tuan Muda."
Anak laki laki yang terlihat berumur 7 tahun itu bersembunyi ke belakang tubuh ibunya. Ia seolah merasa takut dengan Yan Cheng. "I-ibu.. siapa dia? Aku.. aku takut.." Ia melihat Yan Cheng dari balik tubuh ibunya.
Wanita yang dipanggil ibu itu tertawa pelan. Ia merasa gemas dengan apa yang dilakukan anaknya, "Mulai dari sekarang, Yan Cheng akan menjadi pengawalmu, Xiang'er. Dia akan melindungimu dari orang yang ingin melukaimu."
"Tapi.." anak kecil bernama Li Xiang itu terlihat ragu.
"Tidak apa, dia baik. Selain menjadi pengawal, Cheng'er pun akan menjadi temanmu."
Li Xiang menengadah ke atas, "Teman?"
"Iya, teman. Bukankah sekarang kak Cheng ini akan menjadi teman pertamamu?" Wanita itu tersenyum.
Yan Cheng mengangguk angguk sambil tersenyum pada Li Xiang. Ia mengulurkan tangannya, "Jangan takut, aku akan terus melindungimu, Tuan Muda. Bahkan bila taruhannya adalah nyawa. Saya siap mengorbankannya." Ia tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Perlahan, Li Xiang akhirnya tidak bersembunyi di balik tubuh ibunya lagi, "A-apa kak Cheng benar benar mau.. menjadi temanku?" Ucapnya ragu.
Yan Cheng mengangguk, "Kalau Tuan Muda percaya padaku, maka raihlah tanganku. Aku akan setia sebagai pengawal dan teman untukmu, Tuan Muda."
Li Xiang melirik ibunya. Seolah ia menanyakan pendapat. Wanita di sampingnya mengangguk dengan senyum. Li Xiang pun kembali menatap tangan Yan Cheng yang terulur padanya, "Em.. B-baiklah, aku.. percaya pada kak Cheng." Ia segera meraihnya.
"Terimakasih, Tuan Muda."
***
Plakk
"Pergi sana! Jangan menyentuh daganganku! Walaupun kau anak Tuan Li, kau tetaplah pembawa sial. Aku tidak mau gara gara kedatanganmu, daganganku menjadi tidak laku!" Ucap seorang pedagang yang berada di sebuah pasar. Ia menjual berbagai macam buah buahan yang disimpan di dalam keranjang besar.
__ADS_1
Li Xiang yang berumur 7 tahun langsung memegangi pipinya yang merah karena tamparan yang dilakukan pedagang itu padanya. Saat ini Yan Cheng sedang tidak bersamanya. Karena pemuda itu sedang membeli pil yang berada di toko sekitar tempat itu. Li Xiang sendiri pergi tanpa memberitaukannya pada Yan Cheng.
Padahal sejak awal Yan Cheng pun tak mau bila Li Xiang sampai ikut. Ia tau, banyak orang yang membenci Tuan Mudanya. Ia tidak mau bila Li Xiang mendapat caci maki dari orang orang. Namun Li Xiang memaksa, karena ingin berjalan jalan di luar. Ia jarang sekali pergi keluar karena kondisi tubuhnya yang mudah sakit. Karena Li Xiang yang sangat memohon padanya, Yan Cheng membiarkannya ikut mengambil pil yang dipesan untuk pasukan klan Li.
Li Xiang menggigit bibirnya. Pipi yang baru saja terkena tamparan pedagang itu terasa panas. Bahkan telinganya sampai berdengung. Ia rasanya ingin menangis, namun ia tidak mau melakukannya. Ia tidak mau bila Yan Cheng menemukannya dalam keadaan menangis. Jika itu terjadi, mungkin pemuda itu akan memberi beberapa pukulan pada pedagang itu, "M-maaf.. a-aku tidak bermaksud seperti itu.. a-aku.. hanya ingin membelinya saja.." Ia menundukkan kepala, tak berani menatap wajah penjual di depannya.
"Hei, dia tetaplah anak Tuan Li. Jika kau melukainya seperti itu, kau akan dapat masalah. Apalagi kau tau sendiri, dia sangat lemah. Mungkin setelah terkena tamparanmu, dia akan langsung demam, hahaha.." Ucap pedagang yang berada di dekat sana.
"Haha, kau benar juga. Dia memang lemah.. Bahkan kudengar, dia tidak bisa berkultivasi. Baru belajar sebentar saja, dia langsung sakit. Dia benar benar lemah." Pedagang di depan Li Xiang memandang anak itu dengan tatapan remeh.
Li Xiang semakin menggigit bibirnya. Tangannya terkepal erat. Apa yang dikatakan orang orang itu tak salah. Dia memang sangat lemah. Bahkan hanya berjalan sebentar saja ia bisa langsung merasa lelah. Ia tentu tidak mau terus lemah seperti ini. Tapi walaupun dia berusaha untuk berlatih fisik ataupun kultivasi, maka ia akan langsung demam hanya dalam beberapa kali latihan saja. Maka dari itu, ia dilarang melakukannya oleh ayah ataupun ibunya.
***
Kini tempat kembali berubah menjadi sebuah lapangan yang cukup luas. "Hei kau! Apa kau ingin ikut bermain? Kau hanya memperhatikan saja, itu tidak seru." Ucap seorang anak laki laki yang seumuran dengan Li Xiang. Di belakangnya berdiri anak anak lain yang juga berumur sama ataupun berbeda 1-2 tahun.
"A-apa aku boleh ikut bermain?" Ucap Li Xiang dengan gugup.
Li Xiang menyentuh bahu yang sempat dipegang oleh anak itu tadi, "A-aku ikut bermain?" Gumamnya. Karena ia sudah melihat permainan sejak tadi, maka Li Xiang tau apa yang harus dilakukannya. Ia pun tersenyum senang dan mulai berlari, "Hihi.. aku akan menangkap kalian.."
Mereka terus berlarian dan mengejar satu sama lain. Li Xiang beberapa kali terbatuk dan merasa lelah. Namun senyuman terus terpampang di wajahnya selama permainan berlangsung.
Namun baru saja mereka bermain belasan menit, orang tua dari anak anak itu datang dan membuat permainan yang mereka lakukan terhenti. "Sudah berapa kali ibu mengatakan padamu agar kau menjauhi pembawa sial itu?! Kenapa kau masih bermain dengannya?!" Ucap seorang wanita dewasa sambil menarik tangan seorang anak.
"Tao'er, jangan bermain dengannya lagi. Jika kau terus bermain dengannya, keluarga kita akan mendapatkan sial," seorang pria dewasa menarik anak lainnya.
"T-tapi.."
"Tidak ada tapi. Kau harus menuruti ucapan ayah."
Satu persatu, anak anak itu dibawa oleh orang tua mereka masing masing dan kini hanya menyisakan Li Xiang seorang diri di sana. Li Xiang berdiri di bawah pohon yang rindang sambil terbatuk. Ia menatap kepergian anak anak itu. Untuk pertama kalinya ia bisa bermain dan tertawa bebas seperti itu bersama dengan anak anak seumurannya. Namun semua itu harus berakhir hanya dalam hitungan menit.
__ADS_1
"Tuan Muda? Astaga, Tuan Muda.. aku mencarimu kemana mana. Lain kali bila ingin pergi ke suatu tempat, katakan padaku terlebih dahulu. Kau membuatku cemas." Yan Cheng tiba tiba datang dari arah kanan.
Li Xiang tersenyum tipis. Walaupun hatinya terasa ingin menangis setelah melihat tatapan orang orang dewasa tadi. Seolah ia menjijikan, pantas untuk dibenci. Tatapan tidak suka, benci, intimidasi, mereka memperlihatkan semua tatapan itu padanya. Ia selalu bertanya tanya, sebenarnya apa yang ia lakukan hingga mereka sangat membencinya? Apa ia pernah melakukan kesalahan pada mereka?
"Apa yang Tuan Muda lakukan? Pakaianmu terlihat sedikir kotor dan kau juga batuk. Apa kau baru saja berlari?" Tanya Yan Cheng dengan cemas. Ia berjongkok di hadapan Li Xiang dan mengusap keningnya, "Tuan Muda berkeringat. Apa Tuan Muda baik baik saja?"
Li Xiang mengangguk sambil tersenyum, "Aku baik baik saja, kak Cheng. Terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku. Aku tadi pergi hanya untuk berjalan jalan di luar saja."
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita pulang saja. Di tempat ini panas, Tuan Muda bisa sakit. Lebih baik kita segera pulang."
Yan Cheng langsung menggendong Li Xiang ala bridal style. Karena Li Xiang orang yang mudah sakit, maka ia tidak bisa membiarkan anak itu jalan sampai ke rumah. Jadi ia menggendongnya.
Li Xiang hanya mengangguk, "Baiklah."
Yan Cheng pun mulai berjalan meninggalkan lapangan. Saat ini matahari berada tepat di atas kepala, karena hari sudah siang. Maka dari itu, udara terasa panas. Jika Li Xiang terlalu lama berada di bawah panas matahari, maka ia akan sakit.
"Kak Cheng.."
"Hm? Ada apa Tuan Muda?"
"Kenapa.. mereka tadi menatapku seperti itu?"
Yan Cheng mengerutkan kening dan langsung menatap wajah Li Xiang yang saat ini sedang menatap ke arah lain.
"Kenapa.. semua orang membenciku?"
Yan Cheng tertegun. Mulutnya seolah sulit untuk mengucapkan satu katapun setelah mendapat pertanyaan itu dari Li Xiang. Ia pun tersenyum sambil menatap ke depan, "Apa Tuan Muda yakin semua orang membencimu? Bagaimana dengan Tuan Li dan Nyonya Li? Apakah mereka membencimu, Tuan Muda?"
Li Xiang menatap Yan Cheng, lalu langsung menggelengkan kepala, "Tidak... T-tentu saja tidak."
"Tidak semua orang membencimu Tuan Muda. Termasuk diriku. Aku tidak membenci Tuan Muda sama sekali. Mungkin memang banyak orang yang membenci Tuan Muda di klan ini. Tapi Tuan Muda masih memiliki Tuan Li, Nyonya Li dan diriku di sini." Yan Cheng tersenyum sambil menatap Li Xiang kembali.
__ADS_1
Perlahan, senyuman muncul di wajah Li Xiang, "Dan jangan lupakan paman!" Ucapnya semangat.