
Setelah masuk ke dalam salah satu kamar yang ditunjukkan Bai Wei pada keduanya, Li Xiang menutup pintu setelah Xiao Xing Fu ikut masuk. "Buka pakaianmu."
"Kau ingin apa?" Ucap Xiao Xing Fu.
"Aku akan mengobatimu. Pasti ada luka di balik pakaianmu. Aku akan mengobatinya. Kau duduk saja di tempat tidur."
Xiao Xing Fu mengikuti apa yang dikatakan gurunya. Ia melepas pakaian atasnya dan menaruhnya, lalu duduk di atas tempat tidur. Terlihat beberapa bekas sayatan senjata tajam di tubuhnya. Bahkan terlihat bila lukanya belum begitu mengering, sehingga ada beberapa darah yang masih keluar dari luka itu.
Li Xiang menghela nafas, "Jika saja lukanya lebih banyak dari ini, maka aku akan benar benar membunuh Patriarch itu."
"Kau bercanda 'kan? Tidak mungkin kau bisa menang melawan Patriarch. Apalagi kau juga nanti harus melawan orang orang yang berada di pihak Patriarch jika kau ingin melawannya." Ucap Xiao Xing Fu dengan tidak percaya.
Li Xiang menarik dagu Xiao Xing Fu. Tatapannya terlihat serius. Senyum miring terpampang di wajahnya. Ia menatap tepat pada mata Xiao Xing Fu, "Aku memang tidak pernah serius dengan ancamanku bila aku mengatakannya padamu. Tapi bukan berarti itu berlaku untuk orang lain." Ia pun melepaskan dagu muridnya setelah mengatakan itu. "Ah, lupakan saja apa yang kukatakan."
Li Xiang mengambil pil dari dalam cincin ruanganya. Ia juga mengambil salep untuk dioleskan ke luka Xiao Xing Fu agar lukanya lebih cepat sembuh. "Minumlah." Ia menyodorkan pil di tangannya.
Xiao Xing Fu perlahan mengambil pil yang disodorkan Li Xiang padanya. Ia menjadi termenung ketika memikirkan ucapan Li Xiang tadi. Tatapannya benar benar serius. Ia bisa saja percaya, tapi ia bisa juga tidak mempercayai ucapan Li Xiang. Karena bagaimanapun, Li Xiang adalah orang yang suka menjahilinya. Jika ia percaya mungkin saja Li Xiang tertawa karena apa yang ia katakan sebenarnya hanyalah lelucon. Tapi bagaimana bila itu kebenaran? Ia jadi bingung ketika memikirkannya. Kakeknya mungkin benar. Li Xiang orang yang sulit ditebak.
"Kenapa? Kau takut bila terdapat racun dalam pil itu?" Li Xiang memandang Xiao Xing Fu dengan remeh.
"Tidak," Xiao Xing Fu langsung menelan pil di tangannya.
"Baguslah," Li Xiang mulai membersihkan beberapa darah yang keluar dari luka dengan menggunakan kain yang baru ia ambil dari dalam cincin ruang. Setelah selesai, ia mengoleskan salep ke tubuh Xiao Xing Fu.
Diantara keheningan dari keduanya, Xiao Xing Fu memberanikan diri untuk bertanya, "Bagaimana kau bisa tahu aku berada di sini?"
__ADS_1
"Hm.. itu karena aku diberitahukan oleh pelayanmu. Dia sudah menceritakan apa yang terjadi padaku. Lalu aku kemari dengan berlari. Jaraknya cukup jauh dari restoran." Ucap Li Xiang dengan santai. Ia menatap Xiao Xing Fu.
"Berlari? Tidak mungkin. Sekte pedang langit pasti berada jauh dari kota. Bagaimana bisa kau sampai di tempat ini dengan sangat cepat? Setidaknya membutuhkan waktu berhari hari dari kota untuk kemari. Kau pasti menggunakan kertas teleportasi." Xiao Xing Fu menatap gurunya dengan selidik.
"Apa kau masih belum juga mengerti dengan cara kerja kertas teleportasi?" Ucap Li Xiang malas, "Aku tidak akan bisa berpindah ke tempat yang kumau sesukaku dengan kertas teleportasi. Karena aku tidak menempelkan tanda kertas teleportasi di sekte ini. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu?
Setiap kertas teleportasi akan dijual sepasang. Karena jika kau ingin berteleportasi membutuhkan dua kertas teleportasi yang sudah ditandai dengan sedikit Qi milik penggunanya. Satu kertas teleportasi kau taruh di tempat yang ingin kau tuju. Lalu satu kertas lainnya kau pegang. Bila ingin berpindah ke tempat yang pernah kau tandai dengan kertas teleportasi itu, maka kau perlu menyobek kertasnya dengan sedikit tambahan Qi.
Lalu bila kau ingin pergi ke tempat lain yang tidak kau tandai sama sekali oleh kertas teleportasimu, maka itu tidak akan berhasil. Kau takkan bisa melakukannya."
Xiao Xing Fu terdiam beberapa saat, "Lalu kenapa kau bisa secepat ini sampai di sekte? Bagaimana kau bisa tahu letak tempat ini? Dan juga, kenapa kau menyusulku? Padahal kau sudah mendengar bagaimana masalahnya dari Fang. Kau pasti bisa menyimpulkan bila aku baik baik saja."
"Aku memiliki jurus yang dapat mempercepat gerakanku. Maka dari itu aku bisa sampai dengan cepat," Ucap Li Xiang dengan bangga. "Lalu aku bisa mengetahui letaknya karena aku memiliki peta benua timur. Harga peta sangat mahal. Lalu untuk pertanyaan terakhir.. em.."
Saat mengoleskan salep ke bahu Xiao Xing Fu, Li Xiang juga nampak berpikir dengan pertanyaan terakhir yang diajukan oleh muridnya. "Lupakan saja. Tidak perlu menanyakannya. Karena kau sudah tahu jawabannya."
Li Xiang mengangguk, "Kata kata yang kadang aku ucapkan bila kau berada dalam situasi seperti ini."
"Karena aku adalah gurumu?"
Li Xiang mengangkat kedua bahunya dan tersenyum, "Kau sudah tahu jawabannya. Jadi tidak perlu menanyakan–"
"Hidungmu berdarah." Xiao Xing Fu memotong ucapan gurunya dan menunjuk hidung Li Xiang.
Li Xiang masih saja terus mengoleskan salep ke tubuh Xiao Xing Fu. Ia tersenyum kekanakan, "Mungkin ini karena melihat tubuhmu. Kau memiliki tubuh tegap dan bagus. Aku suka. Apalagi aku bisa menyentuhnya sekarang. Aku sangat menikmatinya, bagaimana rasa saat menyentuh setiap bagian tubuhmu. Apalagi bila aku bisa menyentuh semua bagian tubuhmu benar benar tanpa melewatkan satu inci pun."
__ADS_1
Xiao Xing Fu langsung menepis tangan Li Xiang yang berniat mengoleskan salep lagi ke tubuhnya. Tatapannya seakan sedang melihat sesuatu yang menakutkan. Ia menjauh dari Li Xiang sambil merebut salep dari tangan gurunya dengan cepat, "Pergi dari sini! Aku bisa melakukannya sendiri!"
Li Xiang memiringkan kepala dengan ekspresi polos, "Kenapa? Aku bisa membantumu. Hanya tinggal sedikit lagi aku bisa menyelesaikannya."
"Tidak! Aku bisa sendiri! Kau keluar saja! Jangan masuk kemari sebelum aku memperbolehkanmu masuk. Terserah kau ingin pergi kemana!"
"Kenapa dengan ekspresimu? Seakan aku ingin melakukan sesuatu padamu." Ucap Li Xiang masih dengan ekspresi polos.
"Pergi saja! Aku bisa melakukannya sendiri!" Teriak Xiao Xing Fu.
"Heh, baiklah.. baik." Li Xiang mengusap darah di bawah hidungnya. Setelah itu, ia pergi keluar dari dalam kamar dan menutup pintu.
Xiao Xing Fu berekspresi lega setelah melihat Li Xiang keluar dari dalam kamarnya.
***
Setelah keluar dari dalam kamar Xiao Xing Fu, Li Xiang tidak langsung pergi ke ruang tamu. Ia malah pergi ke kamar yang saling berhadapan dengan kamar muridnya yang ditunjukkan Bai Wei tadi untuk tempatnya beristirahat. Karena pria itu memberikan mereka masing masing satu kamar.
Li Xiang segera masuk ke dalam dan menutup pintu. Tangan kirinya berpegangan pada tembok di dekatnya. Nafasnya tidak beraturan. Perlahan, tubuhnya jatuh terduduk di lantai. Darah tiba tiba saja keluar dari sudut bibirnya dan menetes mengenai lantai. Ia mengukir senyum tipis, "Untung saja dia percaya."
Sebenarnya ia tadi hanya berbohong pada Xiao Xing Fu agar pemuda itu membiarkannya pergi dengan sendirinya. Karena jika ia tiba tiba pergi, maka Xiao Xing Fu pasti akan bertanya. Lalu kejadian tadi sangat tepat dengan apa yang sedang terjadi. Jadi ia bisa membuat alasan dengan baik.
Kejadian ini sama seperti yang terjadi saat di desa Lingxue, dimana kejadiannya tepat sekali dengan kedatangan wanita berpakaian sedikit terbuka. Jadi hal ini sangat menguntungkan dirinya untuk membuat alasan mengapa hidungnya tiba tiba mengeluarkan darah.
Li Xiang tidak ingin ada yang mengetahui bagaimana kondisi tubuhnya yang sebenarnya. Maka dari itu ia membuat alasan yang konyol seperti tadi agar ia tidak berada di hadapan muridnya dan bersembunyi saat kejadian seperti ini akan terjadi. Apalagi saat ini ia sampai mengeluarkan darah dari mulutnya. Ini adalah pilihan yang benar benar tepat untuk pergi bersembunyi.
__ADS_1
"Aku ingin terbebas selamanya dari rasa sakit ini." Gumam Li Xiang. "Uhuk.." Li Xiang menutup mulutnya saat ia terbatuk. Sehingga darah yang baru saja keluar tadi kini mengenai telapak tangannya. Pandangannya menjadi buram dan kepalanya pun terasa pusing. Namun ia masih bisa menjaga kesadaran dirinya. Karena bagaimanapun, ia sudah terbiasa merasakan semua ini. Walau begitu, tetap saja rasanya selalu sakit. Apalagi ketika hidung ataupun mulutnya sampai mengeluarkan darah.