Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
61 -Bunga Harapan


__ADS_3

Setelah perbincangan sedih antara anak dan ayah itu, kini suasana kembali tenang ketika Li Xiang sudah mengatakan bila ia bisa menyembuhkan racun dalam tubuh Bai Wei.


"Benarkah? Kau bisa membuatkan penawar racun untuk ayah, Ming'er?" Ucap Bai Nuan dengan ekspresi senang.


Li Xiang mengangguk angguk dengan bangga.


"Apa itu karena kau memiliki kenalan seorang alkemis? Atau salah satu orang di keluarga kalian adalah seorang alkemis?" Ucap Bai Nuan dengan semangat.


"Tidak, aku sendiri yang membuatnya."


Bai Nuan langsung terdiam dengan wajah terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan Li Xiang, "Tidak mungkin kau bisa membuat pil, Ming'er. Kau bukan alkemis ataupun kultivator dengan elemen api. Terlebih kau masih terlalu kecil untuk mengetahui banyak hal tentang pengobatan. Menjadi alkemis bukan hal yang mudah, yang bisa dilakukan dengan cepat. Butuh setidaknya bertahun tahun untukmu bisa mulai membuat pil dengan tingkat rendah."


Li Xiang cemberut, "Kenapa kak Nuan tidak percaya padaku? Aku tidak berbohong. Aku bukan anak nakal. Aku anak baik." Ucapnya dengan mata berkaca kaca. "Benar 'kan kakak?" Ia melirik Xiao Xing Fu.


Xiao Xing Fu tidak memandang Li Xiang yang duduk di dekat tempatnya berdiri. Ia seolah tidak mendengar apa yang dikatakan Li Xiang.


"A-ah, bukan seperti itu. Aku tahu Ming'er bukan anak nakal." Ucap Bai Nuan dengan senyum memaksa. "Tapi menjadi alkemis memang hal yang sulit. Alkemis adalah orang yang dihormati banyak orang. Tidak banyak yang bisa menjadi alkemis, bahkan bila orang itu memiliki elemen api untuk membuat pil. Lalu untuk menjadi alkemis, seseorang harus memiliki sumber daya. Karena mereka membutuhkannya untuk berlatih membuat pil dan semua sumber daya itu tidak pasti akan berhasil dibuat."


"Aku tidak mengerti dengannya sama sekali. Sebenarnya bagaimana sifat aslimu?" Batin Bai Wei sambil menatap Li Xiang. Ia melirik putrinya, "Ah, Nuan'er.. kau bisa percaya padanya. Dia sudah menunjukan sedikit kemampuannya tadi padaku. Yah.. walaupun cara membuatnya sedikit aneh."


Bai Nuan melirik ayahnya, "Apa benar begitu? Tapi itu tidak mungkin. Ming'er tidak mungkin bisa membuat pil penawar racun itu. Karena setahuku, belum ada yang mengetahui penawar untuk racun ular lembah tengkorak."


"Percaya saja padaku," Li Xiang memukul dadanya dengan bangga, "Aku adalah alkemis hebat. Aku bisa menciptakan berbagai pil yang luar biasa. Yang kubutuhkan untuk membuat pil penawar racun itu hanya bunga harapan. Itu adalah tanaman obat yang langka. Biasanya tumbuh di hutan berbahaya ataupun di sekitar kuil.


Bunga harapan memiliki bentuk seperti bunga melati. Tapi bunga harapan berwarna biru dengan bagian tengah berwarna hitam dan bunga harapan tumbuh sendiri dengan satu batang kecil, tidak seperti melati. Bunga harapan juga tidak memiliki daun, tapi memiliki duri. Aku hanya memerlukan bahan itu saja. Tinggal tersisa 2 bulan lagi untuk ayah kak Nuan bisa hidup."


"Kalau begitu, aku yang akan mengambilnya. Aku akan mencarinya sebelum waktu itu tiba." Ucap Bai Nuan dengan tatapan tegas.


"Bunga ini tidak akan mudah didapatkan. Kau yakin bisa mengambilnya sebelum 2 bulan itu?" Ucap Li Xiang dengan santai.

__ADS_1


"Aku akan melakukan apapun untuk ayah! Aku ingin ayah sembuh, agar dia tidak meninggalkanku dan menyusul ibu.."


"Nuan'er.." Bai Wei melirik putrinya dengan sedih.


"Baiklah bila kak Nuan mengatakan itu. Semua tergantung padamu. Lebih baik kak Nuan segera mencarinya besok pagi. Tapi bukan berarti kak Nuan bisa menemukan bunga itu, walaupun kak Nuan ada di sekitar kuil maupun berada di hutan berbahaya."


"Aku mengerti. Aku pasti bisa menemukan bunga itu secepatnya."


Li Xiang tersenyum, "Baguslah bila seperti itu."


***


Keesokan paginya, Bai Nuan segera bersiap. Hari masih sangat pagi, bahkan orang orang belum bangun dari tidur mereka. Ia akan pergi tanpa mengganggu ayahnya yang sedang tidur. Ia ingin segera pergi untuk menemukan bunga yang dimaksud oleh Li Xiang.


Saat Bai Nuan baru saja menutup pintu di luar, ia melihat seseorang yang berdiri di bawah pohon dekat rumah. "Xing Fu?"


Bai Nuan mengerutkan kening, "Kau? Kenapa kau di sini? Apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku menunggumu. Aku akan ikut denganmu untuk mencari bunga harapan agar Patriarch bisa sembuh."


"Kenapa kau ikut denganku? Ini tidak ada urusannya denganmu."


"Ini juga termasuk urusanku. Bukankah aku ini kekasihmu? Tidak mungkin aku membiarkan calon mertuaku meninggalkan calon istriku ini." Xiao Xing Fu tersenyum.


Pipi Bai Nuan menjadi merah, "A-apa yang kau katakan?! Itu hanya pura pura saja! Mana mungkin aku mau denganmu! Kita hanya berpura pura saja, ingat?!"


Xiao Xing Fu tertawa, "Aku hanya bercanda, hahaha. Lihat, wajahmu menjadi merah seperti tomat."


Bai Nuan yang kesal langsung memukul perut Xiao Xing Fu hingga membuat pemuda itu merintih, "Berisik! Cepatlah jika ingin ikut denganku! Jangan menyulitkanku!" Ia langsung berjalan pergi meninggalkan Xiao Xing Fu.

__ADS_1


Xiao Xing Fu tertawa pelan, "Baiklah, Yang Mulia Ratu, hahaha.."


***


1 jam kemudian setelah kepergian Xiao Xing Fu dan Bai Nuan, beberapa murid dan yang lain mulai bangun dari tidur mereka masing masing. Begitupun dengan Li Xiang yang saat ini baru saja bangun, "Dia malah pergi tanpa mengatakan apapun padaku."


"Lalu kenapa kau tidak menghentikannya tadi? Kau sudah menyadarinya sejak awal. Kau bisa menghentikannya." Tiba tiba terdengar suara dalam kepala Li Xiang yang hanya bisa didengar oleh remaja itu saja.


"Karena aku akan menjadikan ini sebagai latihan untuknya."


"Lalu kenapa kau tidak mengirimku untuk mengikutinya? Apa kau tidak khawatir dengannya? Dia muridmu bukan?" Suara itu terdengar lagi, namun dengan nada yang sinis.


Li Xiang tidak menjawab. Ia hanya diam sambil memperhatikan keluar melalui jendela yang terbuka.


"Heh, kau mengabaikanku."


***


Beberapa saat setelah bersiap siap, Li Xiang keluar dari rumah Bai Wei tanpa sepengetahuan pria itu. Bukan maksud untuk pergi secara sembunyi sembunyi, tapi ia merasa tidak perlu melapor pada Bai Wei bila ingin berjalan jalan di sekte.


Tempat bagi Patriarch cukup luas di sekte pedang langit ini. Halamannya pun sama luasnya dengan tanaman bambu yang tumbuh di sekitar.


Setelah beberapa saat keluar dari wilayah tempat tinggal Patriarch, Li Xiang melihat seorang murid yang sedang berjalan menuju sebuah bangunan yang berdiri puluhan meter darinya. "Hai~" Li Xiang melambaikan tangan dengan senyum lebar.


Mendengar adanya suara, pemuda yang terlihat berumur 20 tahun melirik ke arah suara berasal. Ia terkejut ketika melihat wajah remaja yang melambaikan tangan padanya. "K-kau orang yang kemarin."


Li Xiang berjalan mendekati pemuda itu dengan senyum lebar serta mata tertutup, "Kau orang yang bertarung dengan Xing Fu kemarin, bukan? Kalau tak salah, Wei mengatakan namamu.. hm.. Lin.. Ho? Ah bukan, tapi Lin Hao."


"Y-yah.. itu namaku." Ucap Lin Hao dengan canggung saat menatap Li Xiang. "A-ada apa? A-apa kau mencariku?"

__ADS_1


__ADS_2