Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
71 -Kenalan Lama


__ADS_3

Li Xiang sedikit menundukkan kepala dengan senyuman miring, "Mana mungkin aku melupakanmu. Kau adalah pengkhianat."


Roh jahat di depan Li Xiang langsung membuka suara, "Bagaimana bisa kau masih hidup? Seharusnya kau juga sudah mati! Matamu juga.."


"Hah... itu tidak ada urusannya denganmu pak tua." Ketus Li Xiang. "Jika kau ingin mengatakan sesuatu sebelum menghilang, maka katakan dengan cepat. Karena aku tidak akan memberikan banyak waktu untukmu, aku akan melenyapkanmu segera."


Roh jahat di hadapan Li Xiang terlihat marah, "Lancang sekali kau mengatakan itu padaku, hah! Kau hanyalah anak pembawa sial, pengecut! Kau tidak lebih dari sampah dan hanyalah pencemar keluarga Li!


Ayah mati bersamaan dengan kelahiranmu, muncul wabah di klan Li selama 5 tahun, membuat klan Li diasingkan dari masyarakat dan diusir! Menurunnya pendapatan ekonomi, melemahnya kekuatan, kurangnya bakat, kematian seluruh anggota keluarga Li! Kau anak pembawa sial! Kau menyebabkan banyak masalah! Apa kau sadar dengan itu, hah?!


Sudah banyak masalah yang kau timbulkan semenjak kelahiranmu. Sebelumnya, klan Li tidak pernah mengalami semua itu. Tapi setelah kelahiranmu, itu semua berubah! Kau juga bahkan sudah mencemari nama klan Li yang dikatakan kuat semenjak beratus ratus tahun yang lalu.


Semua keturunan dari kepala keluarga Li seharusnya memiliki bakat yang hebat. Mereka bisa melampaui semua bakat hebat rata rata seumurannya. Tapi kau..!! Kau bahkan tidak bisa mencapai kekuatan rata rata anak seumuranmu! Tubuh yang sering sakit sakitan, lemah, dan bakat yang sangat buruk! Kau sudah mencemari nama baik klan Li! Apa kau sadar itu?! Kau adalah aib klan Li!


Dan sekarang, kau muncul di hadapanku seperti ini mengatakan ingin melenyapkanku. Heh! Kau pikir kau bisa melakukannya, hah?! Orang lemah dan bakat buruk sepertimu tidak pantas mengatakan hal itu di depanku!


Ayahmu pasti malu mempunyai anak sepertimu. Anak yang hanya bisa bergantung pada pengaruh orang tuanya sebagai kepala keluarga. Anak yang tidak bisa berkultivasi karena sakit sakitan dan anak pembawa sial yang mencemari nama keluarga Li. Ayahmu juga pasti sebenarnya mencaci maki dalam hatinya karena memiliki anak sepertimu. Anak yang sudah merenggut nyawa ibunya sendiri." ia tersenyum merendahkan.


Li Xiang sejak tadi terdiam dengan wajah datar, namun sedikit dingin. "Apa kau sudah selesai bicara? Kau tidak berubah, bahkan setelah kau mati. Orang dengan sikap buruk sepertimu memang lebih baik mati.


Kau sudah mengkhianati ayahku. Kau ingin mengambil alih posisinya sebagai kepala keluarga Li. Maka dari itu, kau meracuninya dan membuatnya berada dalam kondisi kritis. Dia tidak pernah membuka matanya walaupun dia masih hidup, bahkan dia tidak membuka mata sebelum kematiannya.


Karena keserakahanmu, kau bahkan rela mengkhianati ayahku yang sudah memperlakukanmu dengan baik. Bahkan, bukan hanya ayahku yang kau khianati. Kau juga sudah mengkhianati ibuku. Kau yang membawa banyak roh jahat dan membuat ibuku dirasuki oleh roh roh jahat.


Sepertinya, kau sudah merencanakannya cukup lama ya saat itu.. Kau ingin ibuku membunuhku saat dia sedang dirasuki oleh roh jahat. Namun pada akhirnya, usahamu sia sia. Apa kau semurahan itu sampai tidak berani berhadapan langsung dengan ayahku untuk merebut posisinya?


Ah benar~ kau memang pengecut yang tidak berani melawan dari depan. Kau hanya berani melawan ayahku dari belakang. Kau yang berpura pura baik di depan aku dan ayahku, ternyata memiliki hati yang busuk. Sekarang aku mengerti, mengapa kakek lebih memilih ayahku menjadi pengganti kepala keluarga dibandingkan kau yang anak pertamanya.


Ayahku memang lebih pantas darimu. Dia lebih baik darimu. Bahkan bakat yang dimiliki ayahku pun jauh lebih baik dibandingkan dirimu. Kau tidak ada apa apanya dibandingkan dia."

__ADS_1


Roh jahat itu kini kembali marah setelah mendengar ucapan Li Xiang. Padahal awalnya ia ingin memancing amarah Li Xiang. Namun kini posisinya berbalik. Li Xiang yang berhasil memancing amarahnya. "Dasar anak tidak tau diri! Tidak tau diuntung!–"


"Ternyata itu ucapan terakhirmu?" Li Xiang memiringkan kepalanya. Ia mengangkat tangan setinggi dada. Seketika, api putih muncul di atas telapak tangannya. Ia melemparkan api itu langsung kepada roh jahat tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara lagi.


ARGHHH


Teriakan kesakitan terdengar sebentar dari mulut roh jahat itu sebelum ia menghilang sepenuhnya. Tidak ada bekas sama sekali setelah ia musnah. Bahkan hanya abunya atau asapnya saja tidak ada.


"Cih, tidak penting." Gumam Li Xiang. Ia mengambil kain hitam yang ia pakai tadi dan memakainya kembali untuk menutupi matanya.


Perlahan, tubuh Li Xiang memudar dan menghilang dari alam bawah sadar ini.


***


Li Xiang membuka matanya kembali dibalik kain hitam yang ia pakai. Ia pun menjauhkan jarinya yang menyentuh dahi Bai Nuan. Setelah itu, ia menangkap tubuhnya sebelum terjatuh ke lantai.


Mata gadis itu terpejam dan sedang tidak sadarkan diri saat ini. Kemungkinan ia akan sadar pagi nanti.


"Apa kau sekarang kembali menyesal setelah perasaanmu kembali?"


"Cih, kau diam saja." Ucap Li Xiang dengan jengkel.


***


Keesokan paginya, Xiao Xing Fu membuka mata. Ia mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk lewat jendela ke dalam ruangan. "Apa yang terja... Nuan! Dimana Nuan?!" Ucapnya yang tiba tiba menjadi cemas. Ia baru mengingat semua yang terjadi.


Xiao Xing Fu berniat bangun. Namun, luka di seluruh tubuhnya membuatnya tak bisa melakukan itu. Ia kembali terbaring, "Aahhh.. sshh.."


"Xing Fu? Kau sudah sadar?" Ucap suara yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Xiao Xing Fu melirik ke arah suara. Dilihatnya Lin Hao yang masuk ke dalam kamar sambil membawa makan dan minum. "Senior Lin? Kenapa kau ada di sini? Lalu, kenapa aku berada di kamar ini? Dimana Nuan?"


"Ming yang membawamu ke kamar ini. Sementara, adik Nuan sekarang sedang beristirahat. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Dia belum memberitaukan apapun padaku." Lin Hao meletakkan makan dan minum di atas nakas samping tempat tidur.


Xiao Xing Fu menghela nafas, "Jadi bagaimana kondisi Nuan?"


"Aku sudah mengatakannya tadi. Dia baik baik saja. Ming yang sudah mengobati adik Nuan. Sekarang lebih baik kau makan. Dia mengatakan jika kau kemungkinan akan sadar sekarang pagi. Maka dari itu, aku membuatkanku makanan. Yah... walaupun rasanya mungkin tidak terlalu enak. Jika rasanya benar benar tidak enak, kau tidak perlu memakannya."


Xiao Xing Fu mengangguk. Ia mencoba untuk duduk, namun tetap saja ia tidak bisa. Akhirnya Lin Hao membantunya, "Terimakasih."


Lin Hao mengambilkan makanan yang ada di atas nakas dan memberikannya pada Xiao Xing Fu. "Adikmu Ming sudah membuat pil itu dengan bunga harapan. Dia juga sudah memberikan pilnya pada guru. Jadi kau tidak perlu memikirkan tentang bunga harapan itu lagi."


"Dia sudah membuatnya? Kapan?"


"Saat malam."


"Lalu bagaimana kondisi Patriarch sekarang setelah meminum pil itu?"


"Kondisinya menjadi lebih baik. Wajahnya sudah tidak pucat lagi," Lin Hao tersenyum. Ada rasa senang dan sedih yang terpancar dari matanya. "Terimakasih karena sudah mau membantu adik Nuan menemukan bunga harapan itu. Berkat bantuanmu, Patriarch bisa tertolong."


Xiao Xing Fu tersenyum tipis, "Tidak masalah. Nuan juga sudah melakukan yang terbaik untuk menemukan bunga itu. Aku senang jika kondisi Patriarch sudah membaik."


Lin Hao tersenyum sambil mengangguk, ia pun berucap dengan menyesal, "Maaf.. aku sebagai muridnya tidak bisa melakukan apapun untuk guruku. Aku hanya bisa menemaninya di sini saja tanpa melakukan apapun."


"Jangan meminta maaf. Kau tidak salah. Lagi pula, kau juga sudah berperan penting dalam menjaga Patriarch." Xiao Xing Fu tersenyum.


Lin Hao hanya tersenyum lesu, "Mungkin."


"Lalu sekarang dimana gu–adikku?" Ucap Xiao Xing Fu dengan canggung. Baik Lin Hao maupun Bai Nuan, tidak ada yang tahu bila Li Xiang adalah gurunya. Maka dari itu, ia tidak bisa menyebut Li Xiang dengan guru. Sementara Bai Wei mengetahuinya langsung dari Li Xiang. Menandakan bila remaja itu memperbolehkan Patriarch mengetahui tentang hubungan Li Xiang dengannya.

__ADS_1


"Sepertinya dia ada di kamarnya. Semenjak aku bertemu dengannya saat di kamar guru ketika dia memberikan pil, aku tidak bertemu dengannya lagi."


Xiao Xing Fu mengerutkan kening, "Biasanya dia akan selalu ada di sampingku jika aku sadar dari pingsan." Batinnya. Sejak pertama kali bertemu dengan Li Xiang, remaja itu memang selalu ada di sampingnya. Lebih tepatnya saat dia bangun dari pingsan. Misalnya saja bila Xiao Xing Fu pingsan karena terluka parah seperti ini. Wajah yang pertama kali ia lihat selalu Li Xiang. Namun kali ini, remaja itu tidak ada di sampingnya. "Dia kemana?"


__ADS_2