
"Ayahmu khawatir denganmu. Aku tidak bisa mengacuhkan Patriarch. Karena dia mengkhawatirkan anaknya. Maka dari itu aku menyusulmu."
Bai Nuan mengangkat wajahnya dan menatap Xiao Xing Fu kembali ketika mendengar apa yang telah dikatakan oleh pemuda itu. "Kau tidak mengerti apapun, pergi."
"Tidak. Jika aku pergi, maka aku harus membawamu. Kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi? Ayahmu mengkhawatirkanmu."
"Katakan padanya untuk tidak khawatir padaku, tapi khawatirkan saja dirinya sendiri." Ucap Bai Nuan dengan suara yang masih sedikit serak karena menangis. "Aku pergi dari rumah dan menjauh dari ayahku tanpa tahu bila apa yang dilakukannya bukan karena apa yang kupikirkan selama ini."
"Ceritakan apa yang terjadi padaku. Aku akan mendengarkannya. Lalu dengan begitu, aku tahu apa masalahmu. Jika kau hanya diam dan mengusirku, aku tidak akan pernah mengerti apa yang sedang terjadi dan aku juga tidak akan pergi tanpa membawamu pada Patriarch."
Bai Nuan berekspresi kesal, "Kenapa kau keras kepala ingin tetap di sini?!"
"Karena aku ingin membantu Patriarch dan kau. Aku tidak ingin hubungan kalian merenggang. Aku ingin membantu menyelesaikan masalah itu." Xiao Xing Fu terdiam beberapa saat. Ia menundukkan kepalanya, "Kau masih memiliki seorang ayah, berbeda denganku. Kedua orang tuaku sudah meninggalkanku sejak aku berumur 8 tahun. Aku hanya sendiri saat itu. Aku berpikir bila aku akan mati kelaparan pada saat itu."
Bai Nuan terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan pemuda itu. Ia tidak tahu ternyata Xiao Xing Fu memiliki nasib yang lebih buruk darinya.
"Namun ternyata masih ada orang yang peduli padaku dan merawatku sampai saat ini." Xiao Xing Fu mengangkat kembali kepalanya, "Maka dari itu, jangan menyia nyiakan kehadiran ayahmu. Jika kau sudah kehilangan orang tuamu, maka kau baru akan merasakan betapa berharganya mereka melebihi apa yang kau pikirkan."
Mata Bai Nuan sedikit melebar kala mendengar apa yang dikatakan Xiao Xing Fu. Ibunya dulu meninggal karena sakit, lalu setelah itu hanya ada ayahnya yang merawatnya. Ia tentu tahu betul bagaimana rasanya ketika kehilangan orang tua. Apa yang dikatakan Xiao Xing Fu benar. Matanya kembali berkaca kaca karena merasa sedih ketika mengingat ibunya dan mengingat apa yang diobrolkan ayahnya.
"Aku mendengar ayahku berbicara dengan Ming'er, hiks.. aku mendengar.. jika ayah ingin menikahkanku dengan kak Hao karena ayah memiliki racun di tubuhnya, hiks.. aku juga mendengar, bila umur ayah tidak akan lama lagi.. Jika itu terjadi, maka aku tidak akan memiliki siapapun lagi..
Ayah menyembunyikan hal ini dariku, hiks.. lalu saat ayah mengatakan ingin aku menikah dengan kak Hao, aku berpikir ayah melakukannya karena ayah sangat menyayangi muridnya.. sampai sampai dia ingin menjadikan kak Hao sebagai pasanganku agar ayah dengan kak Hao memiliki ikatan yang lebih kuat.
Aku tidak ingin menikah dengan kak Hao, maka dari itu aku pergi dari rumah tanpa mengatakan apapun pada ayah.. aku menjauhinya dan menghindarinya, hiks.. aku merasa diriku begitu bodoh karena berpikir seperti itu pada ayah. Seharusnya aku tidak pergi dari rumah dan meninggalkannya, hiks.." Bai Nuan menenggelamkan kepalanya diantara lutut dengan suara isakan yang kini kembali terdengar.
__ADS_1
Xiao Xing Fu mengangguk angguk faham. Ia ikut merasa sedih ketika mendengar apa yang dikatakan Bai Nuan. Ia pun mengusap rambut gadis itu, "Kalau begitu, lebih baik kita menemuinya dan berbicara tentang ini. Kau juga harus meminta maaf pada ayahmu."
***
Di sisi lain, Li Xiang masih berada di ruang tamu bersama dengan Bai Wei. Mereka sudah membicarakan syarat yang dikatakan Li Xiang tadi. Dan ternyata apa yang diinginkannya sedikit sulit bagi Bai Wei. Bahkan pria itu belum memutuskannya apakah ia akan menerima tawaran Li Xiang dengan syarat itu atau tidak.
"Haish.. terima saja." Li Xiang menyeruput tehnya. "Aku hanya meminta 5 karung saja. Tidak banyak."
"Itu termasuk banyak. Harganya sangat mahal saat ini. Bahkan untuk satu keranjang saja." Ucap Bai Wei.
"Kau ternyata pecinta teh. Bahkan kau lebih memilih mati dari pada membelikan 5 karung teh krisan untukku." Ucap Li Xiang dengan sinis. "Ternyata putrimu sangat tidak penting untukmu–"
"Baiklah, aku setuju. 5 karung teh krisan bukan? Lalu kau akan membuatkan pil penawar racun untukku?"
Li Xiang tersenyum lebar, "Sepakat." Ia berjabat tangan dengam Bai Wei. "Tapi untuk satu bahan langka itu, aku tidak mau mengambilnya. Aku malas. Jadi bila kau ingin aku membuatkan pil itu, maka kau harus memberikan bahan terakhir yang kukatakan tadi."
Li Xiang mengangguk, "Tapi tidak hanya tumbuh di tempat seperti itu. Bunga harapan juga bisa tumbuh di tempat dengan banyak orang yang memiliki harapan. Maka dari itu, bunga harapan dinamakan dengan bunga harapan. Mereka tumbuh karena adanya harapan yang muncul dari banyak orang di satu tempat.
Bunga harapan bisa menjadi penyembuh bagi banyak penyakit. Namun bila tanaman itu diolah dengan cara yang tidak benar, maka bunga itu hanya akan menjadi racun yang mematikan."
"Tempat dengan banyak orang yang memiliki harapan?" Gumam Bai Wei, "Memanya dimana tempat itu?"
Li Xiang tersenyum, "Kau tidak tahu? Padahal jawabannya sangat mudah. Tempat dimana banyak harapan muncul, banyak orang berharap tentang sesuatu di tempat itu. Kuil. Kuil adalah tempat yang cocok untuk bunga itu tumbuh. Tempat dimana banyak orang berdoa dan mengharapkan keinginan terkabul."
Bai Wei terkejut, "Jadi aku bisa mendapatkan bunga harapan di sekitar kuil?"
__ADS_1
"Tidak di semua kuil. Hanya beberapa tempat saja yang memilikinya."
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Li Xiang, dua orang masuk ke dalam. Mereka tak lain adalah Xiao Xing Fu dan Bai Nuan.
Bai Wei melirik ke arah dimana keduanya berada. Ia langsung terkejut ketika melihat kedatangan putrinya, hingga ia berdiri tanpa sadar. "Nuan'er.."
"A-ayah.. maafkan aku.." Bai Nuan berlari menghampiri Bai Wei dan langsung memeluknya. "Maafkan aku ayah, karena pergi tanpa mengatakan apapun padamu. Maaf karena aku sudah berpikiran buruk tentangmu, maaf karena aku tidak tahu apa yang tejadi denganmu ayah, hiks.. seharusnya saat itu, aku tidak pergi meninggalkanmu ayah, hiks.."
Bai Wei membalas pelukan putrinya. Ia tersenyum lembut, "Aku mencemaskanmu, Nuan'er. Ayah kira kau akan marah dengan ayah karena aku sudah menyembunyikan sesuatu darimu."
Bai Nuan menggelengkan kepala dalam pelukan ayahnya, "Tidak, aku yang seharusnya meminta maaf pada ayah.."
"Nuan'er.." Bai Wei mengelus kepala Bai Nuan, "Kau tidak salah sama sekali dan maafkan ayah karena sudah tidak mengatakan yang sejujurnya padamu. Ayah hanya tidak ingin membuatmu cemas."
"Hiks.." Bai Nuan tidak mengatakan apapun. Ia malah menangis dalam pelukan ayahnya.
Li Xiang berdiri dan menghampiri Xiao Xing Fu yang sejak tadi hanya memperhatikan ayah dan anak itu. Ia merentangkan kedua tangannya ke depan dengan senyum kekanakan, "Peluk aku, kau juga pasti ingin meminta maaf padaku karena pergi tadi, 'kan?"
Xiao Xing Fu menatap Li Xiang. Ia pun langsung menjauh kala menyadari kehadiran remaja itu di depannya. Wajahnya berekspresi seakan sedang melihat sesuatu yang menakutkan, "Jangan mendekat! Aku tidak mau memelukmu! Dan aku juga tidak salah apapun, jadi aku tidak akan meminta maaf padamu."
Li Xiang malah berjalan semakin mendekati Xiao Xing Fu dengan tangan yang masih direntangkan ke depan. Sementara, Xiao Xing Fu semakin menjauhinya, "Kenapa kau terus menjauh? Kau pikir aku harimau yang akan menerkammu dan menyantapmu sampai puas?"
"Tidak, tapi jangan dekati aku sampai jarak 2 meter." Ucap Xiao Xing Fu yang masih mundur ke belakang.
Li Xiang berhenti. Ia menurunkan tangannya dengan wajah cemberut, "Menyebalkan. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Tidak ada," Xiao Xing Fu membuang muka.