
Hehe, author ga punya ide buat plot bagian pertengahannya. Jadi langsung ke 5 tahun kemudian😁Note:Kejadian ini sering terjadi sama author.
Seorang pemuda nampak terbaring di atas atap rumah yang berada di tengah kota pada saat malam hari. Ia memiliki rambut panjang berwarna hitam dengan mata berwarna biru seperti laut yang jernih. Wajahnya tampak begitu sempurna dengan senyum tipis yang terpampang di wajahnya. Ia adalah Xiao Xing Fu yang sekarang ini sudah berumur 18 tahun.
Matanya memandang langit yang gelap dengan bintang bintang bertaburan di malam hari. Suasana di kota yang ia tempati selama 1 tahun ini begitu tentram. Walaupun ada beberapa pencurian di tempat ini, namun Xiao Xing Fu selalu membantu orang orang untuk menangkap pencuri. Li Xiang juga membolehkannya melakukan itu asalkan tidak mengganggu dirinya untuk meminta bantuan.
Xiao Xing Fu begitu berubah dengan dirinya yang dulu. Dulu ia sangat kekanakan dan 'manja' seperti apa yang dikatakan Li Xiang saat itu. Tapi ia kini menjadi orang yang lebih dewasa. Ia juga memiliki uang sendiri sekarang. Karena ia memiliki restoran yang ia bangun dengan bantuan Li Xiang. Jadi hari harinya terkadang sedikit sibuk. Bahkan baru saja beberapa bulan ia membuka restoran, sudah banyak orang yang tahu tentang restorannya. Sudah banyak pula pelanggan tetap yang membeli di tempatnya setiap hari. Kecuali hari disaat restoran tutup tentunya. Dengan begini, ia tidak perlu meminta uang pada Li Xiang lagi.
Restoran yang dibeli dari toko barang bekas yang sepi pengunjung direnovasi menjadi sebuah restoran yang ramai pengunjung. Restorannya memang bekas toko yang sepi dan lalu dijualkan padanya dengan harga sedikit murah. Sangat menguntungkan. Apalagi letaknya yang strategis yaitu berada di pusat kota, membuat banyak orang bisa menemukan restorannya dengan mudah.
"Sudah lama sekali sejak kejadian itu. Tapi aku belum juga menemukannya." Gumam Xiao Xing Fu. "Aku bahkan tidak tahu. Apakah dia masih ada di benua timur ini atau tidak." Ia menghela nafas.
"Kau ternyata ada di sini. Seperti biasa."
Tanpa Xiao Xing Fu menatap sumber suara, ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. "Memangnya kenapa? Apa kau mencariku? Kau ada urusan denganku?"
"Tidak."
Orang yang mendekati Xiao Xing Fu tak lain adalah Li Xiang. Tubuhnya tidak berkembang sama sekali. Ia duduk di jarak yang sedikit berjauhan dengan Xiao Xing Fu di atas atap ini.
Li Xiang memeluk kedua lututnya dengan pandangan yang ia dongakkan ke atas langit. "Sudah 5 tahun semenjak kita keluar dari hutan Yuelong. Kita sudah jauh dari tempat itu."
Xiao Xing Fu melirik gurunya, "Memangnya kenapa?"
Li Xiang menatap Xiao Xing Fu dan tersenyum tipis, "Tapi anehnya, kenapa aku tidak mati juga?" Ia cemberut, "Padahal selama diperjalanan kita selalu menghadapi banyak bahaya. Tapi percobaan bunuh diriku selalu gagal. Bahkang saat aku melompat ke dalam gunung berapi."
Xiao Xing Fu memutar bola matanya malas. Ia kira bila Li Xiang akan mengucapkan sesuatu yang serius. Ia memang tidak boleh berharap Li Xiang bisa serius. "Hah... aku jadi penasaran, apa kau tidak pernah jera dengan rasa sakit dari 'mati'?"
Li Xiang mengangkat kedua bahunya, "Hidup sulit. Matipun sulit, hah..."
__ADS_1
"Bagaimana rasanya masuk ke dalam gunung berapi, huh? Apa setelah kejadian itu kau masih belum juga jera?" Ketus Xiao Xing Fu.
Li Xiang menggelengkan kepala, "Tidak. Aku tidak akan pernah jera untuk melakukan percobaan. Apa kau memiliki ide, bagaimana caranya agar aku bisa mati?" Ia melirik Xiao Xing Fu.
"Cih, kenapa kau tidak bertanya pada orang sepertimu ataupun orang gila untuk menjawabnya? Mereka pasti memiliki jawabannya."
"Apa kau sedang menyamakanku dengan orang gila?!"
"Tidak, tapi kau sendiri yang mengakuinya."
"Cih, lebih baik aku tanyakan saja pada pelayan restoranmu besok."
"Jangan lupa kau harus membayarnya jika dia menjawab pertanyaanmu."
"Dasar pelit! Aku hanya ingin meminjamnya sebentar saja besok."
"Tidak boleh! Satu pertanyaan, kau harus membayarnya 5 koin emas!"
Xiao Xing Fu mendengus, "Apapun yang kau katakan, aku tidak peduli."
"Huh, kau jahat!" Li Xiang berdiri dari posisi duduknya dan langsung melompat turun dari atas atap restoran.
"Dia selalu saja bertingkah kekanakan. Kakek memang benar. Dia sangat sulit ditebak. Mungkin maksudnya karena pemikirannya adalah pikiran anak kecil yang seperti baru saja berumur beberapa tahun." Gumam Xiao Xing Fu. "Padahal 'kan dia sudah tua."
***
Keesokan harinya, Li Xiang menemui seorang pemuda yang sedang membereskan meja di dalam restoran. "Hei, bisakah kau kenjawab pertanyaanku?" Ucapnya seperti anak kecil.
Pelayan pria itu berhenti dan menatap Li Xiang. Tuannya memperkenalkan Li Xiang sebagai adiknya bernama Xiao Ming. "Tentu, apa itu Tuan Muda?" Ia tersenyum ramah.
__ADS_1
Li Xiang memegangi dagunya, "Hm.. menurutmu, bagaimana cara mati dengan benar? Maksudku, bagaimana cara mati dengan cepat? Yah.. mungkin saja kau memiliki ide."
Pemuda di depan Li Xiang tertegun ketika mendengar ucapan Li Xiang. Ia pun menjadi cemas, "Tuan Muda! Jangan melakukan hal itu! Jangan mencoba bunuh diri. Bagaimana bila Tuan sedih nanti saat melihat Anda mati?"
Li Xiang mengangguk angguk dengan ekspresi seperti anak kecil, "Kau benar juga. Dia pasti akan sedih bila aku benar benar mati."
Pelayan itu menghela nafas lega ketika mendengar ucapan anak di depannya. Namun setelah beberapa saat, ia langsung kembali menjadi cemas saat mendengar lanjutan ucapan dari Li Xiang, "Tapi tidak mungkin. Ayolah, beritahu aku saranmu. Mungkin kau memiliki saran bagus tentang cara mati dengan cepat.
Aku sudah membaca beberapa buku bagaimana cara mati dengan benar. Tapi aku hanya menemukan satu buku saja yang benar benar memberikan saran. Karena buku lainnya hanya bertuliskan nasehat nasehat. Mereka mengatakan, jangan menyerah pada hidupmu dan kata kata membosankan lainnya.
Tapi walaupun ada satu buku yang benar benar memberikan saran, sarannya tidak pernah bisa membuatku benar benar mati. Jadi aku ingin pendapat dan saranmu. Bagaimana cara agar aku bisa mati dengan cepat?" Ucap Li Xiang panjang lebar.
"Tuan Muda, Tuan pasti akan sedih bila Anda mati. Jadi jangan mengatakan hal seperti itu. Apa Anda tidak menyayangi kakak Anda? Dia sudah bekerja keras agar bisa menghidupi dirinya sendiri dan untukmu." Ucap pelayan dengan cemas.
"Sepertinya kau salah paham. Dia bekerja seperti ini bukan untukku, tapi untuk dirinya sendiri. Lagi pula, aku membiayai hidupku dengan uangku sendiri." Batin Li Xiang.
"Heh, katakan saja bila kau tidak memiliki ide. Dasar payah. Apa sebaiknya aku katakan saja pada kakak agar dia memecatmu?" Kedua tangan Li Xiang berada di pinggang, sementara dagunya sedikit terangkat. Ia seakan ingin menunjukkan keangkuhan dan arogannya pada pelayan itu.
"Ja-jangan Tuan Muda! Jika saya dipecat, bagaimana dengan orang tua saya? Jangan katakan pada Tuan untuk memecat saya." Pelayan itu langsung memeluk kaki kanan Li Xiang. Ia seakan sangat takut bila dirinya akan benar benar dipecat.
"Heh, baiklah.. baiklah.. tapi katakan saranmu. Jika aku puas dengan saranmu, aku akan memberikan uang tambahan untuk bulan ini. Sekarang lepaskan kakiku."
"B-baiklah, Tuan Muda," Pelayan itu langsung bediri. Ia pun berucap kembali, "S-saran saya, lebih baik Tuan Muda sekarang minum susu dan tidur. Lalu bayangkan Tuan Muda mati di dalam mimpi. Dengan begitu, Tuan Muda bisa mati."
Mata Li Xiang berbinar, "Menakjubkan! Aku belum pernah mencobanya. Mungkin saranmu bisa berhasil!" Ia mengeluarkan sekantung uang koin dari dalam cincin ruang miliknya. Ia pun langsung memberikan itu pada pelayan.
"A-apa ini Tuan Muda?"
"Itu untukmu. Aku sudah mengatakannya tadi. Jika aku puas dengan saranmu, aku akan memberikan uang tambahan bulan ini. Jadi aku memberikannya padamu sekarang." Li Xiang berucap dengan semangat. Ia pun lari untuk naik ke lantai atas, "Aku akan melakukan saranmu!"
__ADS_1
Pelayan memandang kepergian Li Xiang dengan heran, "Dia percaya begitu saja? Apa Tuan Muda sedang mempermainkanku?"