Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
30 -Menyatukan Kembali


__ADS_3

Desa Lingxue, yang dikenal juga dengan julukan desa tanpa pengemis ini, dikenal sebagai desa yang memiliki kepedulian tinggi. Karena dikatakan bila setiap pengemis yang masuk ke sana, maka mereka akan mendapatkan tempat tinggal dan makanan selama beberapa waktu sampai orang tersebut bisa menghasilkan uang untuk dirinya sendiri.


Orang orang mengatakan bila warga desa Lingxue sangat baik dan murah hati karena mau menolong siapapun yang dalam kesulitan. Bahkan bila orang tersebut tidak mereka kenal sekalipun.


Apa yang diketahui semua orang hanyalah kebaikan para warga desa ini saja. Mereka tidak tahu hal gelap yang disembunyikan warga desa dari masyarakat luas.


Sebenarnya, setiap pengemis yang datang memang mereka perlakukan dengan baik. Namun, itu hanyalah 5 hari. Mereka memberikan makan dan tempat tinggal hanya selama itu. Lalu saat hari keenam, maka semua berubah. Warga desa akan membunuh para pengemis itu sebagai bayaran atas apa yang mereka lakukan untuknya.


Lalu mayat mayat dari orang yang mereka bunuh akan dikubur di bawah tanah kebun mereka, menjadikannya pupuk yang menyuburkan tanah.


Tanah desa Lingxue sebenarnya tidak begitu subur saat dulu. Namun setelah semua yang mereka lakukan, tanah mereka menjadi subur. Walaupun harus melakukan hal keji seperti itu, mereka tidak peduli. Yang mereka pikirkan hanyalah keuntungan semata bagi mereka.


Di sekitar sawah dan kebun yang mereka miliki terdapat segel segel yang dipasang oleh seorang kultivator dari desa mereka. Walaupun kultivator itu tidak begitu kuat, namun dirinya bisa membuat kertas segel yang kuat agar roh jahat dari para pengemis yang mereka bunuh tidak pergi ke desa untuk menyerang mereka.


Lama kelamaan semakin banyak pengemis yang mereka bunuh, maka semakin banyak roh jahat yang bersemayam di bawah sawah dan kebun mereka. Segel yang dipasang oleh kultivator itu pun masih berfungsi hingga akhirnya musnah setelah puluhan tahun. Karena segel yang tidak kuat menahan para roh jahat dan aura negatif, akhirnya segel terbakar dan musnah, membuat roh roh jahat dari para pengemis yang dibunuh keluar dan langsung membalaskan dendam mereka pada warga desa Lingxue.


Penduduk desa Lingxue tidak peduli dengan kapan waktu mereka harus membunuh pengemis. Asalkan sudah 5 hari berlalu setelah pengemis tinggal, maka mereka akan langsung membunuhnya. Tidak peduli apakah di hari itu merupakan perayaan ataupun tidak.


Seharusnya kultivator mengetahui bila terdapat aura negatif roh jahat di desa Lingxue. Namun karena segel, kultivator lemah takkan bisa mengetahuinya. Bahkan seorang kultivator di tingkat jenderal sekalipun. Bila mereka memperhatikan dengan benar, mereka pasti akan merasakannya walau hanya sedikit.


Itulah kenyataan dari desa Lingxue yang sebenarnya. Mereka tidak benar benar peduli dengan orang lain. Mereka adalah orang orang keji yang hanya memikirkan keuntungan mereka sendiri. Terlihat manis namun sebenarnya busuk.


***


Karena hari sudah malam, Li Xiang dan Xiao Xing Fu beristirahat di dalam hutan. Mereka tidak melewati kota ataupun desa setelah keluar dari desa Lingxue. Jadi mau tak mau, mereka harus berhenti di tempat ini, karena malam sudah tiba.


Hutan tempat mereka berada saat ini tidak memiliki monster di dalamnya. Hanya hewan hewan biasa. Seperti kelinci, rusa, harimau dan lainnya. Maka dari itu, Xiao Xing Fu tidak begitu cemas bila akan ada hewan buas yang menyerang. Ia dan gurunya saat ini duduk di bawah pohon dengan sebuah api unggun di depan mereka. Mereka juga saat ini sedang membuat makanan. Lebih tepatnya, Li Xiang yang membuat makanan.


"Kau hanya memperhatikan saja. Apa kau tidak mau membantuku?" Ucap Li Xiang saat dirinya tengah memotong sayuran.


"Aku tidak bisa memasak. Jadi aku hanya bisa memperhatikanmu memasak saja. Bila aku ikut campur, mungkin rasanya akan menjadi tidak enak." Balas Xiao Xing Fu.


Li Xiang mendengus, "Hmph! Maka dari itu belajarlah memasak! Bila kau tidak bisa memasak, kau tidak akan bisa makan makanan enak bila sedang berada di tempat seperti ini saat sendiri. Seperti saat tes pelatihan hidup. Kau pasti hanya makan daging gosong 'kan?" Ejeknya disertai dengan senyum kekanakan.


Xiao Xing Fu membuang muka kesal, "Cih, biarkan saja. Memamngnya kenapa? Lagi pula, hanya aku yang memakannya! Jadi itu tidak masalah."


"Hahaha, ternyata ucapanku benar. Kau hanya makan daging gosong. Bagaimana rasanya? Pahit? Hambar?" Ejek Li Xiang.


"Cih, biarkan saja!" Kesal Xiao Xing Fu.


"Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu memasak." Ucap Li Xiang.


Xiao Xing Fu langsung menatap Li Xiang yang saat ini masih memotong sayuran, "Benarkah? Kau mau mengajariku?" Ucapnya dengan mata berbinar.


Li Xiang melirik Xiao Xing Fu dan tersenyum tanpa menjawab ucapan anak itu.

__ADS_1


Xiao Xing Fu mengartikannya sebagai 'ya'. Ia pun menjadi semangat dan antusias. "K–" Namun belum sempat Xiao Xing Fu berucap, Li Xiang sudah mendahuluinya. "Tentu saja tidak. Aku tidak mau mengajarimu memasak. Kalau kau ingin belajar memasak, minta saja pada koki yang ada di restoran. Mereka pasti akan mengajarimu jika kau memberikan mereka uang. Tentunya kau harus memakai uangmu sendiri. Jangan meminta padaku. Karena aku tidak akan memberikannya."


Mata Xiao Xing Fu yang awalnya berbinar menjadi redup. Tatapannya menjadi kesal, "Jangan memberikan harapan padaku, jika kau memang tidak mau membantu mewujudkannya!" Ia langsung menginjak kaki Li Xiang.


Li Xiang kehilangan fokus, hingga pisau yang ia gunakan memotong jarinya. Darah bercampur mengenai wortel yang sedang dipotongnya.


Xiao Xing Fu terkejut, "Jarimu lepas! Patah!" Pekiknya tanpa sadar. Ia menunjuk nunjuk tangan Li Xiang.


"Sshhh.." Li Xiang mendesis kesakitan. Ia meniupi tangan kirinya yang kehilangan satu jari.


Xiao Xing Fu menjadi panik. Ia langsung mengambil tangan yang sedang ditiupi oleh Li Xiang. Ia menekannya, hingga membuat darah yang keluar semakin banyak.


"Akh!" Li Xiang terkejut, "Kau mau membuatku kehabisan darah?!" Ia menarik tangannya dari genggaman Xiao Xing Fu.


Xiao Xing Fu ikut terkejut saat menyadari kesalahannya menekan tangan Li Xiang. "M-maafkan aku, maafkan aku.." Ucapnya dengan panik dan rasa bersalah.


"Sshhh.. aku saat ini sedang tidak ingin mencoba untuk mati. Karena aku akan memasak makanan. Bila aku mati, lalu bagaimana dengan makananku?!" Kesal Li Xiang. "Bukannya tenang, aku malah akan gentayangan karena tidak mendapat makanan di saat terakhirku!"


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terluka."


"Huft.. ini bukan masalah. Jika aku mati lalu hidup kembali, maka jariku ataupun anggota tubuhku yang rusak dan terpotong akan menyambung kembali."


"Jadi kau akan bunuh diri agar jarimu kembali?!" Ucap Xiao Xing Fu terkejut.


"Heh, tidak. Bila aku bisa menyambungkan jariku kembali tanpa mati terlebih dahulu, lalu untuk apa aku melakukan bunuh diri? Terlalu lama. Kau bantu aku satukan jariku kembali."


"Ambil jariku dan sambungkan kembali dengan tanganku."


Xiao Xing Fu nampak tidak mengerti. Namun ia melakukan apa yang dikatakan oleh Li Xiang. Ia mengambil jari gurunya dengan perasaan ngeri. Setelahnya, ia menyatukannya dengan tangan Li Xiang.


Li Xiang menunjuk jarinya yang terpotong dengan tangan kanan. Lalu tiba tiba benang berwarna biru cerah keluar dari jarinya yang sedang menunjuk. Benang itu bergerak seolah sedang menjahit jarinya yang terpotong.


Xiao Xing Fu menelan ludahnya sendiri. Satu tangannya masih memegang jari Li Xiang agar tidak terjatuh. "A-apa yang dia lakukan? Apa dia sedang menyatukan jarinya?" Batinnya.


"Selesai, kau bisa melepaskan jariku." Ucap Li Xiang.


Xiao Xing Fu segera melepaskannya dan secara menakjubkan, jari Li Xiang benar benar menyatu kembali. Jarinya tidak terjatuh setelah Xiao Xing Fu melepaskannya. "B-bagaimana mungkin–"


Li Xiang berekspresi sombong, "Kau lihat? Jariku menyatu kembali. Aku menggunakan Qi untuk menyatukannya. Kau lihat sendiri, aku ini sangat luar biasa."


"Tak pernah kupikirkan dia bisa melakukan hal semacam ini." Batin Xiao Xing Fu yang masih terkejut. "Bagaimanapun, ini terasa sangat mustahil dilakukan. Sebenarnya seberapa kuat dia itu?"


"Karena jariku sudah kembali, aku akan lanjut memasak." Ucap Li Xiang. Ia berniat memotong wortel yang kini sudah bercampur dengan darah.


"Kau akan menggunakan wortel itu?" Ucap Xiao Xing Fu sambil melihat wortel yang akan dipotong.

__ADS_1


"Ya, memangnya kenapa? Wortel ini masih bagus."


"Masih bagus matamu! Wortel itu sudah tercampur dengan darah! Gunakan wortel lain!" Ucap Xiao Xing Fu yang tiba tiba menjadi kesal.


"Sayang sekali bila dibuang." Li Xiang cemberut.


"Buang!" Xiao Xing Fu langsung mengambil semua wortel dan melemparnya.


"Yah.. kenapa kau membuangnya?!" Kesal Li Xiang.


"Wortel itu sudah kotor! Kau tidak bisa membedakan makanan yang masih bersih dan sudah kotor, ya?! Kau ingin meracuni makanan?!"


"Iya." Celetuk Li Xiang dengan entengnya.


"Aku juga akan memakan makanan yang kau buat. Jika kau ingin menambahkan racun agar mati, maka aku juga akan ikut mati karena memakannya!" Xiao Xing Fu menjadi kesal.


"Kalau begitu, berarti kita akan mati bersama! Bagus!" Ucap Li Xiang semangat.


"Mati saja sendiri sana!" Xiao Xing Fu langsung memukul wajah Li Xiang hingga membuat remaja itu terjatuh ke belakang.


***


Setelah makan malam yang cukup berisik dengan keributan, Li Xiang dan Xiao Xing Fu kini duduk di atas pohon yang sama, namun berbeda dahan. Posisi keduanya saling membelakangi.


"Kau belum juga tidur?" Ucap Li Xiang. Ia menatap langit yang sedikit terhalangi oleh dedaunan pohon.


"Hm.. belum."


"Cepatlah tidur. Jika kau tidak segera tidur, kau akan semakin bertambah pendek." Ucap Li Xiang diselingi dengan tawa mengejek.


"Cih, kau mengatakan aku pendek. Padahal kau sendiri yang pendek. Dasar cebol."


Li Xiang hampir tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar Xiao Xing Fu menyebutnya cebol. "Cih, kau murid yang kurang ajar sekali!" Kesalnya.


"Biarkan saja." Ketus Xiao Xing Fu.


Keduanya terdiam selama beberapa saat. Hingga Li Xiang mulai membuka suara, "Kau masih memikirkan orang yang membunuh warga di desamu? Kau ingin menemuinya dan membalaskan dendam padanya?"


"Ya..." Entah kenapa perasaan Xiao Xing Fu menjadi tidak enak ketika Li Xiang mulai membahas itu. Apalagi dengan suaranya yang datar tanpa candaan sama sekali.


"Bagaimana bila orang yang kau cari selama ini selalu ada di sampingmu? Bagaimana bila aku adalah orang yang sudah membunuh semua orang orang di desamu itu?"


Xiao Xing Fu merasa tenggorokannya tercengkat ketika mendengar ucapan gurunya. Ia seakan tak bisa mengatakan apapun, "Itu tidak mungkin!" Ucapnya setelah beberapa saat.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua bisa saja terjadi bahkan tanpa kau duga sama sekali. Sekarang pertanyaanku adalah.. bagaimana bila orang yang membunuh semua orang di desamu adalah aku? Apa kau akan tetap melakukan balas dendam seperti apa yang selalu kau katakan? Atau kau akan mengkhianati semua orang orang itu, termasuk orang tua angkatmu yang sudah merawatmu selama hampir setahun, hanya karena aku adalah pelakunya?

__ADS_1


Sekarang katakan padaku, Fu'er. Siapa yang akan kau pilih jika aku adalah pelakunya? Semua orang orang itu, termasuk orang tua angkatmu? Atau aku yang merupakan gurumu?" Ucap Li Xiang dengan nada yang terdengar begitu serius. "Keadaan bisa saja berubah tergantung dengan jawaban yang kau berikan."


Untuk pertama kalinya Li Xiang menyebut Xiao Xing Fu dengan Fu'er. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah memanggilnya dengan nama.


__ADS_2