Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
78 -Kesedihan


__ADS_3

Li Xiang yang berumur 7 tahun keluar dari dalam rumah. Ia berjalan ke arah taman belakang rumah. "Aku tidak sabar mencoba makanan yang dimasak kak Cheng. Pasti enak," gumamnya dengan semangat.


Baru saja ia sampai di tempat itu, seseorang muncul di depannya. Ia memakai kain yang menutupi kepala dan mulut dengan kain warna hitam, yang terlihat darinya hanyalah dahi sampai setengah hidungnya saja.


Li Xiang terkejut. Langkahnya terhenti, "S-siapa?"


Orang di depan Li Xiang menarik pedang yang tersarung di pinggangnya, "Heh, ternyata ini anak dari Tuan Li? Kau benar benar terlihat sangat lemah, seperti apa yang dikatakan orang orang.


Kau sudah membuat banyak kesialan di klan. Tapi kau masih bisa bersantai seperti ini ya? Padahal semenjak kau lahir, kau sudah membuat banyak kesialan di sini. Namun jangan berpikir, karena kau anak Tuan Li, maka tidak akan ada yang mencoba membunuhmu di sini." Ucapnya yang diakhiri dengan tatapan tajam.


Li Xiang termundur selangkah ke belakang saat melihat tatapan orang itu. Rasanya sangat menekan. Seolah beban berat sedang disimpan di atas pundaknya. "A-apa yang kau inginkan..?"


"Aku hanya ingin membunuhmu, atas permintaan dari klienku. Sayang sekali kau masih kecil, tapi harus mati. Namun aku juga sangat membencimu, jadi aku tidak peduli." Orang itu mengangkat pedang dan mengarahkannya pada Li Xiang.


Li Xiang terdiam membeku. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mencoba membunuhnya seperti ini.


Whuuss


Pedang diangkat dan mencoba untuk menebas Li Xiang. Namun anak itu hanya bisa memejamkan matanya. Kakinya seakan tidak bisa bergerak, "Ayolah.. bergerak.." ia merasa takut. Sangat takut.


Tringg


Benturan antara besi dengan besi terdengar di gendang telinga Li Xiang. Suara lain pun ikut masuk ke gendang telinganya, "Siapa kau?! Apa yang ingin kau lakukan?!"


Li Xiang membuka mata dan melirik ke samping dengan ekspresi terkejut, "Kak Cheng?!"


Yan Cheng mendorong pedang yang digunakan orang itu menggunakan belati. Ia sedang menjauhkan besi tajam itu dari Tuannya.


"Cih," orang itu melompat mundur dengan tatapan mengarah pada pemuda yang sudah mengganggu misinya.


"Tuan Muda, menjauhlah dari tempat ini," Yan Cheng melirik Li Xiang.

__ADS_1


"T-tapi.. bagaimana dengan kak Cheng?" Ucap Li Xiang ragu.


"Tidak perlu khawatirkan aku. Yang terpenting adalah Tuan Muda menjauh dari tempat ini sekarang. Aku tidak akan lama dan setelahnya, aku akan segera menyiapkan makanannya." Yan Cheng tersenyum.


Dengan ragu, Li Xiang akhirnya mengangguk. Ia percaya dengan Yan Cheng. Setelahnya, ia segera pergi dari sana.


"Tidak akan kubiarkan seseorang sepertimu menyentuh Tuan Muda."


"Hoho, aku sudah mendengarnya. Kau pasti pengawal baru itu 'kan? Hah.. untuk apa repot repot mengurus bocah sial itu? Kau sudah membuang buang waktumu. Apa karena bayaran dari Nyonya Li untukmu sangat besar, sampai kau tidak bisa menolak untuk menjadi pengawal Tuan Muda?" Nada orang itu terdengar meremehkan. "Bahkan kau rela ikut dibenci orang lain karena sudah menjadi pengawal untuknya. Bodoh sekali. Jika itu aku, diberikan bayaran sebesar apapun untuk menjadi pengawal bocah itu, aku tidak akan sudi."


Li Xiang hanya mendengar sedikit suara dari mereka berdua saat sedang berlari menjauh. Jika dipikir pikir, apa yang dikatakan orang itu ada benarnya. Kenapa Yan Cheng mau menjadi pengawal bagi orang yang dibenci banyak orang sepertinya? Apa mungkin dia mau melakukannya karena uang? Bahkan ia baru tau bila Yan Cheng dibenci oleh orang lain karena menjadi pengawal untuknya.


Namun jawaban yang diberikan Yan Cheng pada orang itu membuat Li Xiang berhenti melangkah, "Kau salah. Aku melakukan ini bukan untuk hal seperti itu, aku melakukannya karena aku ingin melindungi Tuan Muda dari orang orang yang hanya bisa menyalahkan semua kejadian buruk padanya.


Mereka tidak mau menerima kenyataannya dan melimpahkan semua itu pada Tuan Muda, seakan dia yang bersalah. Padahal itu tidak benar. Lalu kau sudah menghina Tuan Muda, maka kau akan merasakan akibatnya."


Setelah suara itu, Li Xiang bisa merasakan desiran desiran angin yang cukup kuat dari arah dimana Yan Cheng berada. Ia terdiam. Kakinya seakan tak bisa melangkah satu jengkal pun dari tempatnya berdiri. Ia termenung setelah mendengar ucapan Yan Cheng.


***


Walaupun namanya hutan, namun di tempat ini tidak ada hewan seperti di hutan. Apalagi monster. Lagi pula, klan Li berada saat ini memang di hutan. Mereka diusir oleh orang orang karena wabah yang sempat ada di klan Li selama 5 tahun. Walaupun sudah 2 tahun berlalu tanpa wabah itu lagi, namun orang orang tetap menjauhi klan Li. Mereka tidak mau ikut terkena wabah seperti mereka.


"Apa yang ingin ibu bicarakan denganku?" Gumam Li Xiang yang berusia 8 tahun.


Setelah sampai di tempat yang dikatakan, Li Xiang bisa melihat punggung ibunya yang berdiri tidak jauh di depan, "Ibu, ada apa?"


Li Hua membalikkan tubuhnya. Tempat di hutan buatan cukup gelap saat malam.


Li Xiang memiringkan kepalanya, "Ibu? Ada apa? Kenapa ibu diam saja?"


Li Hua berjalan mendekat dan langsung mencengkram leher Li Xiang. Ia bahkan mengangkat tubuh anak itu hingga kakinya tidak menapak ke tanah.

__ADS_1


Li Xiang terkejut. Ia merasa tidak bisa bernafas. Rasanya sangat sesak, "I-ibu..?" namun ia lebih terkejut ketika melihat iris mata ibunya berwarna merah. Ia memang tidak bisa berkultivasi. Namun bukan berarti pengetahuan yang diketahui kultivator tidak ia tau. Mata merah berarti orang itu sedang dirasuki roh jahat.


Li Xiang mencengkram kedua tangan ibunya dengan tangannya yang kecil. Ia berusaha membebaskan diri, "I-ibu.. ini aku.. Lepaskan.. Uhuk.."


Namun, Li Hua tidak juga melepaskan cengkaraman itu. Malah cengkramannya semakin kuat, "Mati kau.. mati.. mati saja.. anak sial.."


Deg


Walaupun tau ucapan itu bukan ibunya yang mengatakannya, namun itu tetap seperti Li Hua yang mengatakannya. Karena kata kata itu keluar dari mulut wanita itu, "Ibu..." Li Xiang melepaskan cengkraman tangannya dari Li Hua. Ia tidak mencoba melawan kali ini.


"Dasar anak pembawa sial.. lebih baik kau mati sekarang.."


Kepala Li Xiang yang sempat tertunduk terangkat kembali dengan iris mata merah.


"Xiang'er? Hua'er? Apa yang sedang kalian lakukan?" Sayup sayup Li Xiang dapat mendengar suara seseorang dari kejauhan yang berjalan mendekat. Namun sayangnya, ia tidak bisa mendengar atau melihat apapun lagi setelah itu.


***


"Hiks.. hiks.. ibu.." Li Xiang menangis dengan tubuh yang menghadap pada kuburan Li Hua.


"Sudah kuduga, dia memang pembawa sial."


"Kenapa dia tidak pergi saja dari keluarga ini? Kita juga mendapatkan kesialan darinya."


"Tidak mungkin dia akan diusir. Lagi pula, dia adalah anak kepala keluarga dan kemungkinan dia akan menjadi penerus keluarga ini."


"Hah? Aku tidak sudi dia yang akan memimpin keluarga di masa depan. Jika itu terjadi, keluarga ini pasti akan musnah karena kesialannya."


"Jika saja dia tidak lahir, semua ini tidak akan terjadi."


"Bahkan karena keberadaannya, Nyonya Li meninggal. Dia benar benar pembawa sial."

__ADS_1


Seorang pria dewasa yang berjongkok di samping Li Xiang memeluknya dari samping. Ia pun berbisik untuk mengajak anaknya pulang. Ia tidak mau bila anaknya mendengar ucapan ucapan buruk orang orang di sekitar. Namun, Li Xiang tetap tidak mau berdiri dan pergi. Ia masih ingin melihat makam ibunya. Ia tidak mengingat apapun tentang apa yang terjadi semalam. Namun saat paginya, ia mendapat kabar bila Li Hua meninggal.


"Tuan Muda.." Yan Cheng yang berdiri di belakang Li Xiang bergumam pelan. Ia ikut merasa sedih ketika melihat anak berambut putih itu menangis. Ini adalah kali pertama ia melihat Li Xiang menangis.


__ADS_2