
Li Xiang melirik ke belakang dengan tatapan dingin, "Apa maksudmu?"
Lin Hao menelan ludah. Sepertinya, ia tidak seharusnya mengatakan hal seperti ini pada Li Xiang. Ia menundukkan kepala, tak berani menatap wajah remaja itu.
"Heh, hahahaha... kenapa ekspresimu seperti itu?" Ucap Li Xiang tiba tiba.
Lin Hao terkejut hingga seluruh tubuhnya merinding karena Li Xiang tertawa tiba tiba. Ia pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya kembali. Dilihatnya Li Xiang yang sedang tertawa seolah sedang melihat sesuatu yang lucu. "K-kenapa kau.. tertawa?"
"Hahaha.. ha.. hah~" Li Xiang berhenti tertawa. Senyuman terlukis di wajahnya, "Aku hanya heran saja, kenapa kau menanyakan hal seperti itu? Bukankah orang yang kau maksud sudah hidup ratusan tahun lalu? Jadi kenapa kau bertanya apa aku memiliki hubungan dengannya atau tidak. Padahal kau sudah tau sendiri. Dalam buku sejarah, dia lahir ratusan tahun lalu. Mana mungkin aku memiliki hubungan dengan orang ratusan tahun lalu yang sudah tiada."
"Ahaha.. haha.." Lin Hao tertawa canggung. Bahkan tawanya seperti dibuat buat. "B-begitu ya.. aku hanya bertanya saja.."
"Memangnya kenapa kau tiba tiba menanyakannya?" Heran Li Xiang.
"T-tidak ada. Aku hanya ingin tau saja. Lagi pula, dalam buku sejarah dikatakan bila dia memiliki rambut putih dan mata emas. D-dan kau juga seperti itu. Mungkin saja kau memiliki hubungan dengannya, begitu.." Ucap Lin Hao dengan sedikit gugup.
Li Xiang mengangguk angguk, "Ah, ternyata seperti itu. Tapi asal kau tau saja, di tempat lain pun pasti ada yang memiliki warna rambut dan mata sepertiku. Jadi tidak hanya aku satu satunya di dunia yang memiliki karakteristik rambut putih dan mata emas. Maka dari itu, jangan mengira seseorang memiliki hubungan dengannya hanya karena fisik yang dimiliki."
"A-ah ya.. baiklah.. aku akan mengingatnya." Ucap Lin Hao.
"Baguslah," Li Xiang tersenyum kekanakan. "Dia berbohong. Dia pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tidak bisa memaksanya untuk mengatakannya."
"K-kalau begitu, bagaimana bila kita ke kamar guru saja? Guru ingin bertemu denganmu. Dia baru saja sadar beberapa jam lalu."
Li Xiang mengangkat sebelah alisnya, "Dia sudah sadar? Baguslah. Kemampuan alkemisku memang yang terbaik," ucapnya bangga.
"Ah ya.." Lin Hao berucap dengan canggung, "Sebelum itu, aku ingin mengatakan terimakasih. Berkat bantuanmu, guru bisa sadar kembali dan racun di tubuhnya sudah tidak ada. Jika kau tidak di sini, mungkin aku hanya akan menyerah dan tidak melakukan apapun untuk membantu guru dan guru mungkin sudah tidak ada saat ini. Karena belum ada penawar dari racun lembah tengkorak, aku menjadi pesimis bila guru bisa sembuh. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah mengabulkan keinginannya untuk menikah dengan adik Nuan."
"Ah, aku mengerti. Tidak masalah.. tidak masalah.. ini adalah hal kecil." Li Xiang tersenyum, "Jika kau ingin benar benar berterimakasih, kau harus mentraktirku makan di luar sekte. Ajak aku berkeliling bersama Xing Fu. Kau yang akan membayar semua makanan yang kami makan. Bagaimana?"
"Ah, itu.." Lin Hao berpikir sejenak. Bila hanya Xiao Xing Fu dan Li Xiang pasti tidak akan masalah. Mereka berdua tidak mungkin makan sangat banyak hingga menghabiskan uangnya kan?
"Baiklah kalau begitu," Lin Hao mengangguk.
"Ya!" Li Xiang mengangkat satu tinju yang terkepal ke atas. Ekspresinya terlihat bersemangat. "Kalau begitu, bagaimana bila kita sekarang ke kamar Patriarch saja?"
__ADS_1
Lin Hao mengangguk. Ia dan Li Xiang pun keluar dari dalam kamarnya. Tempat kamarnya berada cukup jauh dari kamar Patriarch dan kamar tamu dimana Li Xiang dan Xiao Xing Fu tempati.
"Oh iya, aku melupakan sesuatu." Li Xiang berhenti berjalan. Melihat itupun, Lin Hao ikut berhenti. "Tapi sebelum itu, sebaiknya kau menutup matamu terlebih dahulu."
"Hm.. padahal kau memiliki cincin ruang. Kau pasti memiliki banyak uang untuk membelinya. Lalu kenapa ingin aku mentraktirmu?" Heran Lin Hao.
"Hehe~ sekali sekali, aku ingin ada yang mentraktirku makan." Li Xiang memperlihatkan deretan giginya.
Lin Hao menghela nafas. Ia pun menutup matanya, "Sudah, cepatlah."
"Sebentar..." Li Xiang mengambil sesuatu dari dalam cincin ruangnya. Setelah itu, ia menyembunyikannya di belakang punggung. "Kau bisa membuka mata sekarang."
Lin Hao mengerutkan kening. Ia perlahan membukanya, bersamaan dengan Li Xiang yang menyodorkan sesuatu padanya. "I.. ini.." ia terkejut saat melihat sebuah pedang yang disodorkan remaja itu padanya. "A-apa maksudnya ini..?"
"Aku memberikan ini untukmu." Li Xiang mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau pedang ini harus kuapakan. Jadi kuberikan saja padamu. Aku masih ada pedang lain yang lebih kuat dan tajam dibandingkan ini. Tapi pedang itu untuk muridku." Ucapnya dengan santai.
"Tapi.."
"Sudahlah, terima saja.."
"Tentu saja." Li Xiang mengangguk mantap.
Lin Hao terlihat senang. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, "Terimakasih Ming. Pedang ini sangat bagus. Aku menyukainya."
"Baguslah kalau begitu. Itu adalah bonus dari membasmi kecoa. Aku tidak membutuhkannya. Kalau begitu, sekarang kita temui Patriarch."
Lin Hao mengangkat kembali kepalanya dan mengangguk. Ia menyusul Li Xiang yang berjalan lebih dahulu, "Eh, tunggu! Membasmi kecoa? Apa maksudnya?"
***
"Halo Patriarch, aku datang. Kudengar kau ingin menemuiku. Kau pasti ingin mengatakan, 'Oh~ terimakasih Tuan.. karena Tuan, nyawa saya bisa selamat seperti ini. Jika Tuan tidak ada, mungkin saya sudah mati saat ini. Saya akan mempersembahkan jiwa dan raga saya hanya untuk Tuan, karena Tuan sudah menyelamatkan nyawaku'. Kau pasti ingin mengatakan itu 'kan?" Li Xiang tersenyum percaya diri saat dirinya baru saja masuk ke dalam ruangan.
Xiao Xing Fu yang mendengar pintu terbuka dan suara Li Xiang langsung melirik ke belakang. Begitupun dengan Bai Nuan. "Cih, sepertinya sifatmu itu tambah mengesalkan." Kesal Xiao Xing Fu. "Bukannya berubah menjadi lebih baik, tapi berubah menjadi lebih buruk."
"Heee jangan mengatakan hal kejam seperti itu padaku. Hatiku ini sangat lembut, kata katamu bisa melukai hatiku yang selembut sutra dan setenang air ini," Li Xiang berucap dengan dramatis.
__ADS_1
"Cih," Xiao Xing Fu mendecih kesal ketika melihat ucapan Li Xiang yang menjengkelkan.
"Ming'er! Kau sudah kembali? Kau darimana saja? Kenapa beberapa hari ini aku tidak melihatmu?" Ucap Bai Nuan.
"Ah, aku hanya sedang jalan jalan di luar. Aku bosan terus berada di sekte. Maka dari itu, aku pergi keluar," Li Xiang mengangguk angguk.
"Begitu?" Bai Nuan berucap dengan sedikit keraguan.
"Ming'er, terimakasih sudah mau menolongku. Berkatmu juga, nyawaku bisa selamat. Jika saja kau tidak ada, maka sekarang aku sudah tidak ada di sini. Aku juga berterimakasih padamu karena kau mau menjaga rahasiaku dari para tetua dan murid di sini, bila aku sedang sakit. Jika saja para tetua tau, mungkin beberapa dari mereka akan mengambil kesempatan dari kondisiku ini." Bai Wei tersenyum.
Li Xiang tersenyum, "Tidak masalah. Lagi pula, bila kau sembuh, kau akan membelikanku 5 karung teh krisan."
Bai Wei tersenyum lirih, "Aku pasti akan menepatinya. Jadi jangan khawatir."
"Oh ya, bisakah kalian semua keluar terlebih dahulu dari sini? Ada yang ingin kubicarakan dengan Wei."
Xiao Xing Fu, Bai Nuan dan Lin Hao saling berpandangan. Mereka pun menatap Li Xiang kembali, "Kenapa?" Ucap mereka serempak.
"Aku hanya ingin mengobrol sebentar dengannya saja." Ucap Li Xiang santai.
Bai Wei mengangguk sambil menatap kedua pemuda di sana dan anaknya, "Kalian bisa keluar terlebih dahulu. Ini pasti tidak akan lama."
Ketiganya mengangguk, "Jangan macam macam pada Patriarch," ucap Xiao Xing Fu ketus.
Li Xiang mendengus, "Kau pikir aku akan melakukan apa padanya? Aku tidak melakukan apapun. Keluar saja sana, huss huss.."
"Kau pikir kami kucing, bisa kau usir seperti itu?!" Kesal Xiao Xing Fu.
"Iya, kucing." Ketus Li Xiang. "Sudah sana, pergi.. hushhh.. hush.."
Bai Nuan mengangguk dan menarik Xiao Xing Fu pergi. Lin Hao yang berada di dekat pintu pun ikut keluar dan menutup pintu ruangan.
"Hah.. baiklah, aku akan mengatakannya setelah aku menggunakan segel," Li Xiang menggerak gerakan jari jarinya, lalu melakukan gerakan memutar pada jari telunjuk.
Bersamaan dengan itu, tiba tiba saja muncul sesuatu berwarna biru transparan menempel di dinding dinding sampai seluruh ruangan benar benar tertutupi oleh benda itu. "Nah, sekarang ruangan ini kedap suara. Mereka takkan mendengar apapun suara yang terdengar di dalam."
__ADS_1
Bai Wei mengerutkan kening tak mengerti, "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku sampai menyuruh mereka keluar? Terlebih kau juga membuat ruangan menjadi kedap suara."