
Keempat perampok yang melihat temannya ditendang oleh Li Xiang langsung terkejut. Terlebih teman mereka langsung terlempar sampai beberapa meter.
Perlahan luka di telapak tangan Li Xiang sembuh. Namun masih ada darah di tangannya. Ia menatap keempat perampok dengan kesal, "Itu akibat karena sudah menghinaku!"
"Tunggu di sini, Fu'er." Ucap Xiao Lei.
Xiao Xing Fu mengangguk. Sementara Xiao Lei langsung menghampiri Li Xiang dengan cepat. Ia tidak ingin Li Xiang sampai membunuh kelima orang itu. Ia pun memegang pundak remaja itu, "Jangan bunuh mereka." Ucapnya dengan suara kecil.
Li Xiang melirik ke samping, "Mereka tidak mati. Atau mungkin.. belum?"
"Jangan lakukan. Kau lihat, ada Fu'er di sini."
Li Xiang tersenyum miring, "Kau pikir aku tidak tau? Lagi pula aku tidak akan melakukan hal itu. Kau terlalu khawatir."
Keempat perampok pergi menghampiri teman mereka untuk membantunya. Perampok yang baru saja ditendang oleh Li Xiang mendapat luka lecet di tubuhnya.
"Pembunuhan yang terjadi di kota tadi, pasti kau yang melakukannya 'kan?" Ucap Xiao Lei dengan suara pelan.
Li Xiang mengerutkan kening, "Kenapa kau menyalahkanku? Aku tidak tau apapun. Kau tau identitasku, tapi bukan berarti kau bisa menyalahkannya padaku, bukan?" Ucapnya yang juga dengan suara pelan. "Kau juga tidak memiliki bukti apapun untuk menuduh bila aku yang membunuh orang itu."
Salah satu perampok menatap Li Xiang dengan tajam, "Beraninya kau menyakiti teman kami!"
"Kalian yang mulai pertama kali. Kalian menghinaku." Ketus Li Xiang. "Lei, kau urus saja mereka. Aku tidak memiliki minat untuk mati di tangan salah satu dari mereka."
Xiao Lei mengangkat sebelah alisnya kala mendengar ucapan Li Xiang yang terdengar aneh baginya.
Kelima perampok itu berlari menghampiri Li Xiang dan Xiao Lei. Mereka langsung mneyerang secara bersamaan dengan senjata masing masing.
Melihat itu, Xiao Lei bergerak cepat dengan memukul satu persatu orang itu tanpa membuat mereka terluka parah.
Li Xiang berbalik dan berjalan menjauh dari pertarungan membosankan itu. "Sayang sekali mereka hanyalah orang lemah yang bahkan tidak bisa berkultivasi. Jika saja mereka orang yang kuat, kau pasti menghadapi mereka dengan lebih serius, dengan begitu akan ada tontonan menarik." Ia pun berdiri di samping Xiao Xing Fu dan menguap.
"Kenapa kau tidak membantu kakek?" Heran Xiao Xing Fu.
__ADS_1
"Untuk apa? Mereka hanyalah orang biasa yang mencoba untuk melawan kultivator. Kau kira Lei siapa? Hingga bisa kalah hanya dengan orang biasa seperti mereka. Lebih baik aku makan saja dulu." Li Xiang mengambil roti di dalam cincin ruang miliknya. Ia pun memberikan satu pada Xiao Xing Fu. "Makanlah, aku tadi membelinya di penginapan sebelum pergi."
Xiao Xing Fu mengambilnya dengan ragu, "Kau tidak memberikan racun pada roti ini, bukan?"
"Tidak mungkin ada racun di dalamnya. Lagi pula aku yang membeli roti itu. Jadi sudah dipastikan tidak akan ada racun di dalamnya."
"Aku tidak berpikir bila orang yang membuat rorti ini yang memasukkan racun ke dalamnya. Tapi aku berpikir bila kau yang akan memasukannya." Ucap Xiao Xing Fu datar.
"Tenang saja, tidak ada racun di dalamnya." Li Xiang tersenyum percaya diri. "Lei pasti akan sedikit lama mengatasi mereka. Karena dia tidak mau melukai mereka."
"Baiklah," Xiao Xing Fu langsung memakan roti yang diberikan Li Xiang. Begitupun dengan gurunya.
Xiao Lei mendecakan lidah kesal ketika melihat Li Xiang hanya bersantai sambil memakan roti. "Kau pikir aku sedang melakukan pertunjukan?!" Ia menatap Li Xiang sekilas.
"Pak tua, ternyata kau hebat sekali." Ucap salah perampok sambil memegangi perutnya. Wajahnya sudah lebam. Ia langsung melemparkan belati yang dipegangnya ke arah Xiao Lei.
Dengan cepat Xiao Lei menangkap pegangan belati dan membuangnya ke tanah. "Dia sangat menyebalkan. Aku akhiri saja dengan cepat." Ia menghilang dengan cepat dan muncul tepat di belakang salah satu perampok.
"Beristirahatlah untuk sekarang." Bisiknya.
Bukan hanya satu, tapi yang lain pun mulai pingsan setelah Xiao Lei memukul tengkuk mereka. Senjata berjatuhan satu persatu bersamaan dengan tubuh tubuh yang juga jatuh.
Xiao Lei kini sudah terlihat kembali. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Li Xiang kesal, "Kenapa kau hanya diam?!"
"Kau tidak mau kubantu. Yasudah aku diam saja." Jawab Li Xiang santai. Ia kembali menggigit roti di tangannya. "Bukankah roti ini cukup enak?" Ia melirik Xiao Xing Fu.
Xiao Xing Fu mengangguk, "Tidak ada racun di dalamnya, karena aku sudah memastikannya sendiri."
Li Xiang tersenyum kesal, "Kau masih berpikir bila di dalamnya ada racun? Bukankah tadi aku sudah mengatakan tidak ada racun di dalamnya?!"
Xiao Xing Fu cuek tanpa menjawab ucapan Li Xiang. Ia berdiri dan menghampiri Xiao Lei, "Apa kakek baik baik saja?"
Xiao Lei tersenyum, "kakek baik baik saja. Sekarang kita lanjut saja. Tidak perlu pedulikan rubah licik itu."
__ADS_1
Xiao Xing Fu mengangguk dan berjalan beriringan dengan Xiao Lei, masih dengan roti yang ia makan.
"Hei, jangan tinggalkan aku sendiri!" Teriak Li Xiang. Ia segera berjalan mengikuti sepasang kakek dan cucu itu.
***
Setelah beberapa hari, mereka melewati hutan, akhirnya mereka telah sampai di sebuah desa bernama Xiling pada saat pagi hari. Nampak semua penduduk sibuk dengan pekerjaan masing masing. Bukan bercocok tanam maupun hal lain yang seperti itu. Namun mereka seperti akan mengadakan sebuah perayaan.
"Yah... kita selalu saja datang di waktu perayaan." Ucap Li Xiang sambil memperhatikan sekitar.
Dari percakapan percakapan yang didengar oleh mereka bertiga, mereka mengetahui bila di desa Xiling akan segera diadakan perayaan. Semua terlihat mengagumkan. Bahkan lebih mengagumkan dari pada di desa Lingxue. Kain kain sebagai penghias yang mereka pakai berwarna emas. Sudut sudut di desa ini dihias dengan begitu rapi dan indah, walaupun belum semuanya selesai. Berbagai tanaman bunga menjadi salah satu penghias di desa ini.
"Perayaan yang ada di sini mengingatkanku pada desa Lingxue. Hanya saja di tempat ini lebih mengagumkan. Juga, kita sepertinya datang disaat yang cukup tepat." Ucap Xiao Xing Fu.
Xiao Lei mengerutkan kening dan menatap cucunya, "Kau tau desa Lingxue, Fu'er?"
Xiao Xing Fu mengangguk, "Saat itu aku dan guru pergi ke sana untuk singgah."
"Kapan?"
Xiao Xing Fu berpikir sejenak, "Em.. Mungkin satu minggu lebih yang lalu. Saat itu sedang diadakan perayaan hari dimana desa mereka dinamakan desa tanpa pengemis. Setahuku seperti itu."
Xiao Lei terkejut, "Lalu apa kau tau kejadian setelah satu hari perayaan itu?"
Xiao Xing Fu menggelengkan kepala, "Memangnya ada apa?"
"Terjadi penyerangan roh jahat pada desa Lingxue. Aku mendengarnya dari penduduk di kota yang kusinggahi saat itu. Jadi berarti kalian tidak ada di tempat itu saat penyerangan berlangsung?"
Xiao Xing Fu dan Li Xiang terkejut, "Tidak. Kami sudah pergi dari sana." Ucap Xiao Xing Fu. "Aku baru tau bila bencana terjadi di sana saat setelah perayaan. Lalu.. bagaimana dengan keadaan semua penduduk di desa itu? Apa mereka selamat?" Ia berekspresi prihatin.
Xiao Lei menggelengkan kepala, "Semua orang mati. Termasuk orang orang yang sedang mengunjungi desa."
"Berarti.. kakak itu dan orang tuanya.. mereka sudah mati?" Gumam Xiao Xing Fu. "Padahal mereka adalah orang yang baik. Semoga mereka bisa tenang." Ucapnya dengan sedikit sedih.
__ADS_1
Li Xiang mengangguk dan berekspresi seolah sedih, "Padahal kakak itu adalah orang yang cantik dan baik. Sayang sekali dia harus mati."