
Xiao Xing Fu akhirnya memilih untuk lanjut membaca. Ada beberapa halaman yang belum ia baca. "Ini benar benar seperti apa yang dikatakan orang itu. Sayap Pelindung tidak suka bila lehernya disentuh. Tapi.. kenapa?" Gumamnya.
"Kurasa menyentuh leher tidak masalah." Gumam Xiao Xing Fu kembali. "Hm.. Ngomong ngomong tentang itu.. aku jadi penasaran dengan apa yang ada dibalik perban lehernya. Aku tidak pernah melihat lehernya tanpa perban. Apa dia terluka karena selalu mencoba bunuh diri?
Tapi.. seharusnya lukanya akan sembuh dengan cepat. Karena regenerasi tubuhnya lebih cepat dibandingkan dengan orang lain. Jika bukan karena luka, lalu apa?"
Xiao Xing Fu awalnya tidak pernah memikirkan hal hal tentang Li Xiang. Ia juga awalnya tidak pernah penasaran dengan kehidupan gurunya. Tapi untuk yang satu ini, ia tiba tiba saja menjadi penasaran. Terlebih setelah mendengar umur Li Xiang dari kakeknya. Banyak yang tidak ia tau tentang Li Xiang. Bahkan hal dasar seperti apa yang disukainya, ia tidak tau.
"Aku jadi berpikir bila aku ini orang yang tidak peduli dengan kehidupan orang lain." Batin Xiao Xing Fu.
Xiao Xing Fu menopang dagunya dengan satu tangan. Ia membuka lembaran baru pada buku, "Tapi patung yang ada di pusat desa tadi.. benar benar seperti dia."
***
"Hah.. untung saja aku tidak sampai memberitahukannya." Gumam Xiao Lei saat dirinya berjalan jalan di desa untuk mencari penginapan yang sesuai.
"Aku memang ceroboh. Jika saja aku sampai memberitahukan itu... hah.." Xiao Lei menghela nafas. "Aku tidak peduli jika dia akan membunuhku. Tapi aku tidak mau bila dia juga akan membunuh cucuku. Jadi sebaiknya aku diam dan tidak mengatakan hal itu padanya."
Saat sedang berjalan, Xiao Lei tidak sengaja menabrak seseorang hingga orang itu terjatuh, "A-ah, maafkan aku. Aku tidak sengaja." Ia berjongkok menghadap orang yang ia tabrak. Ekspresinya langsung berubah terkejut saat melihat bila orang yang ia tabrak adalah Li Xiang.
"K-kau.. kau disini? Apa yang sedang kau lakukan?" Xiao Lei hendak membantu Li Xiang berdiri. Namun remaja itu sudah berdiri sendiri terlebih dahulu.
"Aku sedang berjalan jalan." Ucap Li Xiang.
Xiao Lei berdiri sambil menatap Li Xiang. Ia mengerutkan kening, "Wajahmu pucat. Ada apa? Apa kau kekurangan air? Kau baik baik saja?"
"Cih, aku baik baik saja." Li Xiang melirik ke belakang, "Mereka sangat mengerikan. Kurasa rasa takjub dan hormat mereka sangat berlebihan. Itu menakutkan." Batinnya dengan wajah pucat.
"Kurasa kau tidak baik baik saja. Apa kau sedang sakit?" Uxap Xiao Lei yang merasa sedikit khawatir.
Li Xiang menggelengkan kepala, "Tidak. Aku sedang ada urusan. Aku akan pergi sebentar. Jangan mengikutiku jika kau masih ingin kakimu utuh." Ia langsung pergi tanpa menunggu respon Xiao Lei.
__ADS_1
Xiao Lei menatap kepergian Li Xiang, "Dia sebenarnya kenapa? Apa dia sedang sakit? Aku ingin tau apa yang sedang terjadi padanya. Tapi bila dia tau aku mengikutinya, maka dia akan memotong kakiku. Sebaiknya aku tidak perlu mengikutinya."
Setelah beberapa menit berjalan, Xiao Lei berhenti. Ia melihat ke arah sebuah kuil. Terdapat patung yang sama dengan yang berada di pusat desa. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Ia bisa melihat bila terdapat dupa di dekatnya. Banyak juga orang yang terlihat seperti sedang menyembahnya. Satu persatu orang mengajukan permintaan mereka di depan patung.
"Sepertinya mereka bukan hanya menghormati Sayap Pelindung. Tapi mereka lebih dari sekedar hal seperti itu. Mereka sampai menyembahnya." Gumam Xiao Lei. Ia pun berlalu pergi.
Seorang laki laki saat ini sedang duduk bersandar pada pohon yang ada di tepian desa Xiling. Tidak ada orang lain kecuali dirinya di tempat ini. Wajahnya yang pucat kini membaik. "Mereka mengatakan 'menghormati', tapi mereka bahkan menyembahku." Gumamnya. Ia adalah Li Xiang.
Li Xiang menghela nafas lelah. Wajahnya tadi sampai pucat setelah melihat apa yang dilakukan penduduk desa Xiling. Raut wajahnya saat ini seakan mengatakan, 'ayolah, aku tidak sebaik itu sampai sampai kalian menyembahku.'
"Aku harus mencari keberadaan buku itu sekarang juga." Gumamnya.
***
Saat malam telah tiba, festival kini dimulai. Semua tampak meriah. Banyak dekorasi kain kain emas, lampion dan bunga bunga yang bermekaran.
Di tempat ini cukup sesak orang. Beberapa dari mereka adalah pengunjung yang secara sengaja ataupun tidak sengaja datang ke desa Xiling saat perayaan. Banyak penjual makanan dan minuman di beberapa titik desa. Ada pula yang menjual mainan dan pakaian.
"Kau kemana saja hampir seharian ini?" Ucap Xiao Xing Fu.
"Aku hanya berjalan jalan. Lagi pula, sangat bosan bila aku hanya duduk dan diam saja." Jawab Li Xiang dengan malas.
Seorang pria yang menjual makanan di dekat ketiganya tiba tiba saja menghampiri mereka "Terimakasih Tuan Muda karena sudah membantu saya tadi. Berkat saran Tuan Muda, banyak yang membeli sup daging buatan saya." Ia tersenyum senang sambil menatap Li Xiang.
Li Xiang berhenti. Ia memandang penjual itu dengan senyum, "Itu kau? Ah, tidak. Aku hanya memberikan sedikit saran saja. Baguslah bila saranku membantu. Aku ikut senang karena banyak yang membelinya."
Xiao Xing Fu dan Xiao Lei sejak tadi berhenti sambil memandang apa yang terjadi. Mereka nampak tidak mengerti dengan apa yang dikatakan penjual itu. Menurut mereka, mungkin penjual itu salah orang. Karena Li Xiang tidak mungkin memberikan bantuan tanpa imbalan.
"Ah, Tuan Muda, terimakasih sudah membantu saya tadi. Jika Tuan Muda tidak membantu, mungkin saya tidak akan bisa menyelesaikan biskuit buatan saya tadi dan terimakasih juga atas saran yang kau berikan. Sekarang biskuitku lebih enak. Bahkan aku tidak mengira bila biskuitku akan sampai seenak itu." Ucap seorang penjual wanita yang juga menghampiri Li Xiang. Ia tampak senang.
Li Xiang menatap penjual wanita itu dan tersenyum, "Itu bukan masalah besar."
__ADS_1
"Ah, mereka pasti salah orang." Batin Xiao Xing Fu dan Xiao Lei dengan datar.
Namun lagi lagi, seorang penjual lain menghampiri Li Xiang. "Tuan Muda, terimakasih karena sudah membantu saya memetik buah dan membantu saya membuat minuman. Aku sangat terbantu dengan apa yang Tuan Muda berikan. Terlebih Tuan Muda juga membantu saya membuat roti. Rasa rotiku jadi semakin lezat setelah Tuan Muda memberikan saran untukku." Ucapnya senang. Ia memberikan satu keranjang roti yang terlihat masih hangat pada Li Xiang, "Sebagai ucapan terimakasih, saya ingin memberikan ini pada Tuan Muda."
"Saya juga ingin memberikan ini, terimalah Tuan Muda." Ucap penjual yang pertama kali menghampiri Li Xiang. Ia menyodorkan 1 porsi sup daging.
"Saya juga ingin memberikan ini, terimakasih sekali lagi Tuan Muda." Penjual wanita menyodorkan satu keranjang biskuit pada Li Xiang.
"Hahaha, terimakasih. Aku akan menerimanya. Kalian baik sekali." Li Xiang mengambil sup daging dan satu keranjang roti. "Hei, tolong bantu aku membawanya. Kenapa kalian diam saja?" Ia menatap Xiao Xing Fu dan Xiao Lei.
Ketiga pedagang juga ikut menatap ke arah dua orang yang ditatap oleh Li Xiang.
"Ini.. pasti hanya imajinasiku." Gumam Xiao Lei.
"Kenapa kalian diam saja? Tolong bantu aku." Ucap Li Xiang kembali.
Xiao Xing Fu langsung menghampiri Li Xiang. Ia membantu membawakan keranjang roti yang dipegang gurunya. "Hah.. sepertinya tidak mungkin 3 orang sekaligus salah orang. Tapi tetap saja ini sulit dipercaya."
Li Xiang tersenyum. Ia pun mengambil keranjang biskuit yang disodorkan padanya. "Terimakasih semuanya. Aku akan menerima ini."
Ketiga penjual mengangguk dan tersenyum, "Terimakasih. Kalau begitu, kami harus kembali. Karena kami memiliki makanan yang harus kami jual." Ketiganya membungkukkan tubuh dan langsung pergi ke tempat jualan mereka masing masing.
Xiao Lei mulai menghampiri keduanya, "Kau benar benar membantu mereka? Tanpa.. imbalan?"
Li Xiang mengangkat kedua bahu dan tersenyum miring, "Begitulah. Memangnya kenapa?"
"Sulit dipercaya. Padahal kau akan menolong seseorang bila mereka memberikan imbalan padamu. Tapi sekarang kau tiba tiba saja menjadi baik. Ada apa?"
"Tidak ada apapun." Li Xiang memberikan satu keranjang biskuit pada Xiao Lei, "Kau bawa itu." Ia langsung berjalan lebih dahulu. "Aku belum lama berada di festival. Tapi aku sudah mendapatkan makanan gratis, enak sekali.." Li Xiang tersenyum. Ia melirik ke belakang, "Jangan dimakan. Aku yang akan memakan semuanya."
Xiao Xing Fu yang hampir saja memakan roti langsung berhenti, "Kenapa? Aku hanya ingin makan satu saja." Ketusnya. "Lagi pula, aku membantumu membawakannya."
__ADS_1
"Tidak boleh!"