Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
47 -Menang Taruhan


__ADS_3

"Kau tidur di lantai." Ucap Xiao Xing Fu.


"Apa ini sebagai balas dendammu karena aku selalu menyuruhmu tidur di bawah?" Li Xiang cemberut.


"Iya." Jawab Xiao Xing Fu tanpa pikir panjang.


Li Xiang menghela nafas, "Baiklah.. lagi pula ini lebih baik dari pada aku harus tidur di luar." Ia berbaring di lantai dekat tempat tidur. Sementara Xiao Xing Fu, ia langsung tidur di atas tempat tidurnya.


***


Saat malam sudah sangat larut, lebih tepatnya subuh. Festival sudah berakhir sejak tengah malam. Banyak penduduk yang tertidur dengan lelap dalam keadaan bahagia. Namun juga lelah.


Seseorang tampak berdiri di atas sebuah rumah. "Jadi di sini mereka menyimpannya?" Gumamnya pada diri sendiri. Ia segera melompat turun dan menghadap pada rumah.


"Tidak ada penjagaan sama sekali di sini." Ia berjalan mendekati pintu sambil melihat sekitar. Lalu saat melihat jendela yang terbuka di dekat pintu, ia langsung menghampirinya dan masuk ke dalam dengan perlahan, tanpa menimbulkan suara.


Saat masuk ke dalam, ia berada di dalam sebuah ruang tamu. Ia terus berjalan melewati beberapa ruangan tanpa berhenti. Langkahnya terhenti hanya saat dirinya menemukan sebuah ruangan dengan pintu tertutup yang memiliki pahatan bunga matahari. "Di sini kah? Mn.. awalnya kukira mungkin ada di sana. Tapi ternyata mereka menyimpannya di rumah kepala desa." Ia membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


Ruangan itu dipenuhi dengan banyak buku beragam warna dan ukuran. Terdapat pula sebuah kursi dan meja bundar yang terdapat di pojok ruangan. Ia menutup pintu yang sempat dibuka. Setelahnya, ia mendorong salah satu buku dari ribuan buku yang ada di tempat ini. Buku itu memiliki warna merah dengan lukisan higanbana.


Buku yang didorong olehnya seakan masuk ke dalam. Tak lama dari itu, rak buku yang berada di sampingnya membuka ke arah samping, memperlihatkan sebuah jalan tangga yang menuju ke bawah. "Ternyata kalian menyimpannya di bawah sana." Ia tersenyum sinis. "Lihat saja, kalian takkan bisa melihatnya lagi."


***


Xiao Xing Fu membuka matanya kala hari sudah mulai pagi. Ia mengucek matanya dan turun dari atas tempat tidur, berjalan ke depan jendela. "Hoams.. apa sekarang sudah pagi?" Gumamnya. Ia perlahan membuka jendela hingga angin dingin khas pagi hari masuk ke dalam. Matahari baru saja akan keluar saat ini.


Ia melirik ke belakang saat mendengar dengkuran keras sejak tadi. "Dia berisik sekali." Kesalnya. "Apa perlu aku menyumpalnya dengan bantal?" Ia berjalan mendekati Li Xiang yang tertidur di lantai.


"Bangun, bodoh!" Teriak Xiao Xing Fu.


"Eng.. Mn.. Mn.." Li Xiang hanya menggumam gumam tidak jelas tanpa membuka matanya. Ia seakan enggan untuk bangun.

__ADS_1


Xiao Xing Fu berjongkok di samping Li Xiang dan menggoyangkan tangannya, "Bangun!!"


"Eng.. Mn.. Mn.. Hm.. diam.."


"Cih, terus saja tidur!" Kesal Xiao Xing Fu. Ia membuang muka ke arah lain. Namun ia kembali menatap Li Xiang ketika mengingat sesuatu. "Benar.. jika dia masih tidur, aku bisa mencoba melihatnya."


Ia mulai menyentuh leher Li Xiang dan berniat membuka perban di lehernya.


"Mn? Apa yang ingin kau lakukan?"


Xiao Xing Fu terkejut saat pergelangan tangannya ditahan oleh Li Xiang, bahkan sebelum ia sempat membuka perbannya. Gurunya membuka mata dan menatapnya dengan malas.


"A- itu.." Xiao Xing Fu tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Li Xiang masih menatap Xiao Xing Fu dengan malas dan mengantuk. "Jangan menggangguku. Aku ingin tidur, hoams.."


Xiao Xing Fu menarik tangannya dari cengkraman tangan Li Xiang, "Sekarang sudah pagi! Jangan tidur terus!"


Li Xiang memejamkan matanya kembali, "Hoams.. tapi aku mengantuk. Sangat melelahkan. Aku ingin tidur lebih lama. Jika kalian akan pergi, aku akan bangun dan bersiap siap pergi bersama kalian. Untuk sekarang jangan bangunkan aku." Ia kembali mendengkur dengan keras.


***


Hari terus berjalan, hingga kini sudah 1 bulan semenjak Xiao Lei ikut bersama dengan Xiao Xing Fu. Sesuai dengan perjanjian, Xiao Lei tidak bisa membawa cucunya karena selama sebulan ini Xiao Xing Fu tidak sekarat dalam perjalanan bersama Li Xiang.


"Hehehe.. aku memenangkan taruhan ini. Berikan aku 500 koin emas dan kau pergi kembali ke sektemu." Li Xiang menggosok kedua tangannya. Ia seakan tidak sabar dengan uang yang akan diberikan Xiao Lei.


Xiao Lei menghela nafas. "Kenapa aku harus melakukan taruhan seperti ini dengannya? Aku terlalu ceroboh. Jika seperti ini, aku tidak akan bisa membawa Fu'er ke sekte."


Xiao Lei melemparkan sekantung penuh koin emas pada Li Xiang secara tiba tiba, hingga membuat remaja itu terjatuh dengan tumpukan koin emas dalam kantung yang ada di atas perutnya.


"Hehe.. aku akan selalu menang bertaruh denganmu. Karena aku memiliki keberuntungan mutlak!" Sombong Li Xiang.

__ADS_1


"Cih, terserah kau saja." Xiao Lei menghadap pada Xiao Xing Fu dengan sedih, "Sepertinya sampai di sini saja kakek bisa ikut denganmu. Tapi berjanjilah suatu saat kau akan berkunjung ke sekte untuk menemui kakek, Fu'er." Ia langsung memeluk Xiao Xing Fu.


Xiao Xing Fu balas memeluk kakeknya. Ia tersenyum lirih, "Ya.. aku akan mengunjungi kakek suatu saat. Terimakasih karena sudah menemaniku kakek."


Setelah beberapa saat, akhirnya keduanya melepaskan pelukannya. Xiao Lei tersenyum ke arah Xiao Xing Fu, walaupun sebenarnya ia merasa sedih. "Ini untukmu, Fu'er. Memang tidak banyak, tapi kakek ingin kau menerimanya. Di dalamnya terdapat token milik ayahmu."


Xiao Xing Fu langsung mengambil cincin ruang yang disodorkan Xiao Lei padanya, "Token milik ayah? Terimakasih.. kakek." Ia memandang Xiao Lei dengan sedih. Selama sebulan bersama kakeknya, ia sudah merasa nyaman dan terbiasa dengannya. Tapi kini ia harus berpisah dengannya.


Xiao Lei mengangguk, "Maaf kau harus mengalami semua itu, Fu'er. Maaf pada saat itu kakek tidak ada di sampingmu.. Padahal saat itu, kau pasti sangat ketakutan dan kesepian.. Tapi kakek tidak ada untukmu. Maafkan kakek.." Ia menundukkan kepala sebagai tanda penyesalan.


"Tidak," Xiao Xing Fu menggelengkan kepala. "Kakek tidak melakukan hal salah apapun padaku. Jadi tidak perlu meminta maaf."


Xiao Lei tersenyum tipis, "Kalau begitu kakek pergi sekarang."


Li Xiang tiba tiba menarik tangan Xiao Xing Fu dan membuat cucu dan kakek itu sedikit menjauh. Ia menarik muridnya berjalan menjauh dari Xiao Lei.


"Hei, apa yang kau lakukan?!" Kesal Xiao Xing Fu. "Jangan tiba tiba menarikku! Aku ingin melihat kakek sebentar lagi!" Ia melirik ke belakang untuk melihat Xiao Lei yang juga tampak kesal dengan Li Xiang.


"Baiklah, sampai jumpa Lei. Mungkin lain kali kita bisa bertemu kembali." Li Xiang melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.


"Awas saja jika sesuatu yang buruk terjadi pada Fu'er ku, Jian! Aku akan mencarimu!" Teriak Xiao Lei. "Tidak peduli apa yang akan terjadi padaku, aku akan tetap mencarimu jika sesuatu yang buruk terjadi padanya! Hei, Jian! Kau mendengarku?!"


"Ya.. aku mendengarmu pak tua. Tidak perlu berteriak seperti itu." Teriak Li Xiang dengan malas.


"Lepaskan aku. Aku ingin melihatnya sebelum dia pergi!" Xiao Xing Fu mencoba melepaskan tangannya dari Li Xiang. Namun, gurunya tidak mau melepaskannya.


"Jika kau melihat kepergiaannya, kau hanya akan bertambah sedih. Jadi jangan melihat ke belakang. Lihat saja ke depan. Lagi pula, kau bisa bertemu dengannya lagi suatu hari nanti." Ketus Li Xiang.


Xiao Xing Fu melirik ke belakang. Xiao Lei sudah mulai berjalan pergi meninggalkan tempatnya, berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Pada sore hari ini, di padang rumput, mereka harus berpisah.


"Sudah kukatakan, jangan melihat ke belakang."

__ADS_1


Ketika mendengar ucapan Li Xiang, Xiao Xing Fu kembali melihat ke depan, "Iya, iya.. sekarang lepaskan tanganku."


Li Xiang melepaskan tangan Xiao Xing Fu darinya. "Sudah."


__ADS_2