Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
70 -Cerminan Diri


__ADS_3

Setelah selesai membalut semua luka Xiao Xing Fu, memberikan obat untuknya dan mengganti pakaian pemuda itu yang sudah kotor, Li Xiang keluar dari dalam kamar. "Kau masuk saja ke dalam untuk beristirahat. Sekalian juga untuk menjaga Xing Fu." Ucapnya pada Lin Hao yang terduduk di depan ruangan kamar.


Li Xiang membawa masuk Xiao Xing Fu ke kamarnya saat tadi, yang berada tepat di depan kamarnya.


"Bagaimana dengan adik Nuan?" Lin Hao berdiri secara perlahan. Ia kini sudah merasa lebih baik dibandingkan saat tadi. "Dimana dia?"


"Aku akan segera membawanya. Kau jaga Xing Fu di dalam. Jangan meninggalkannya sendiri."


"Em.." Lin Hao berpikir sebentar, "Sebagai bayarannya, aku akan meminta banyak penjelasan padamu nanti dan kau harus menjawabnya."


"Tergantung bagaimana pertanyaanmu padaku," Li Xiang membalikkan tubuhnya dan pergi menuju ruang tamu untuk mengatasi roh jahat yang merasuki tubuh Bai Nuan.


Setelah mendengar jawaban Li Xiang, Lin Hao masuk ke dalam ruangan dimana Xiao Xing Fu berada.


***


Bai Nuan yang dirasuki melihat ke arah datangnya Li Xiang. Ia menatap remaja itu dengan marah, "Lepaskan aku!"


"Satu satunya cara mengeluarkan dia tanpa melukai Nuan hanyalah dengan masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan memusnahkan dia di sana." Batin Li Xiang.


Api putih yang mengelilingi tubuh Bai Nuan menghilang. Li Xiang juga tiba tiba berada di depan gadis itu, "Sekarang kita lihat, roh jahat seperti apa yang sudah mengganggu ketenanganku." Ia menyentuh dahi Bai Nuan dengan dua jari.


Pandangan Li Xiang awalnya gelap. Namun akhirnya ia bisa melihat sesuatu yang berada di depannya. Salah satu tempat yang ada di sekte, lebih tepatnya sebuah danau buatan yang berada di dekat kediaman Patriarch.


Bai Nuan yang asli saat ini berhadapan dengan dirinya sendiri. Namun cerminan dari dirinya memiliki iris mata merah.


Bai Nuan yang asli tampak menangis sambil terduduk di tanah. "Tidak, kau tidak benar, hiks.. ayahku menyayangiku. Dia peduli padaku."

__ADS_1


"Oh ya? Lalu kenapa dia selalu mementingkan sektenya dibandingkan kita? Bahkan saat Ibu kita masih hidup, dia hanya mengurus sektenya tanpa memperhatikan kita sama sekali. Dia tidak peduli! Pada kita ataupun Ibu! Yang dia pikirkan setiap hari hanya sekte, sekte dan sekte." Ucap cerminan Bai Nuan. Matanya berkaca kaca, "Dia menghabiskan banyak waktu hanya dengan kak Hao. Mengajarinya, memberinya perhatian dan mempedulikannya.


Tapi apa dia pernah memberikan kita perhatian yang sama seperti itu? Kenapa dia lebih peduli dengan kak Hao dibandingkan kita? Kita anak kandungnya, bukan dia. Aku juga ingin dia memperhatikan kita seperti bagaimana dia memperhatikan kak Hao.


Aku iri dengannya, aku iri karena dia bisa menghabiskan banyak waktu dengan ayah. Aku iri dengannya karena dia bisa mendapatkan perhatian dari ayah. Sekeras apapun aku berusaha untuk menjadi lebih baik dari kak Hao, aku tidak pernah bisa. Ayah lebih menyayanginya. Pasti karena dia memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan diriku.


Lalu, kenapa hanya kak Hao yang tahu tentang racun di tubuh ayah? Sementara aku sebagai anaknya tidak tahu apapun tentang itu. Kenapa ayah menyembunyikannya dan tidak mengatakannya padaku? Aku merasa menjadi orang asing.


Kenapa selalu kak Hao yang mendapatkan apa yang kuinginkan? Jauh di dalam lubuk hatiku, aku membencinya. Aku sangat membencinya. Aku ingin dia lenyap dari dunia ini. Aku benci saat dia bersikap baik padaku. Dia pasti berpura pura baik di depanku.


Aku sangat kesepian. Tidak ada yang mengerti. Aku ingin ayah memperhatikanku."


"Cukup, hiks.." Ucap Bai Nuan. Kini hatinya terasa sepi, benci, semua perasaan negatif dirasakannya. Semua prasangka buruk, rasa sakit dari perasaannya terasa jelas. Apa yang semua dikatakan cerminannya itu memang benar benar isi hatinya dan pemikirannya.


Li Xiang berjalan mendekati Bai Nuan. "Kenapa kau menangis hanya karena ucapan itu?"


Bai Nuan terkejut saat mendengar suara Li Xiang. Ia melirik ke samping, "M-ming'er.."


Bai Nuan terdiam ketika mendengar ucapan Li Xiang. Orang yang memiliki fisik sama dengan Bai Nuan pun hanya diam sambil memperhatikan Bai Nuan. Ia tidak melirik Li Xiang sama sekali, seolah ia tidak melihat kehadirannya ataupun mendengar suaranya.


"Kurasa.. dia mengurus sektenya dengan cukup baik. Dia bukan tidak peduli padamu ataupun pada ibumu dan dia juga tidak mementingkan sektenya lebih darimu. Dia hanya tidak ingin bila tempatmu, tempatnya dan tempat ibumu menghilang atau bisa dikatakan, dia tidak mau tempatmu di sekte menghilang. Dia tidak mau kehilangan tempatnya tinggal. Maka dari itu, dia menjaga sekte sebaik yang dia bisa lakukan. Bukan karena menganggap sekte lebih penting darimu. Tapi karena dia tidak mau kehilangan tempat dimana dia bisa kembali, dimana dia bisa berkumpul dengan keluarganya dengan rasa damai."


Pupil mata Bai Nuan bergetar saat mendengar ucapan Li Xiang, "Dari mana kau bisa tahu itu?"


"Dia pernah mengatakannya padaku." Li Xiang mengangkat kedua bahunya, "Lalu ayahmu memberikan perhatian lebih pada Hao, bukan karena ayahmu lebih menyukainya karena dia berbakat. Tapi karena dia berhutang budi pada orang tua Hao yang sudah meninggal. Maka dari itu, dia membesarkan Hao dengan baik dan mengajarinya banyak hal.


Lalu alasan mengapa ayahmu tidak mengatakan tentang racun di tubuhnya, itu karena dia tidak mau membuatmu khawatir. Semua itu dilakukan untukmu.

__ADS_1


Bukan dia yang membuatmu merasa kesepian, tapi kau sendiri yang membuatnya dengan berbagai prasangkamu sendiri tanpa mengetahui kebenarannya. Kau ingin ayahmu memperhatikanmu dan mengerti tentangmu. Tapi kau sendiri tidak ingin tahu apapun yang dirasakannya. Kau 'lah yang membuat perasaan negatifmu sendiri."


"Hiks.. kau benar.. aku tidak tahu apapun soal ayah.. hiks.." Bai Nuan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Cerminan dari Bai Nuan perlahan memudar. Langit yang awalnya sedikit mendung pun kini berubah menjadi terang tanpa adanya awan sama sekali.


"Kembaliah ke tempat ayahmu berada. Jangan terlena oleh perasaan negatifmu. Kau hampir saja masuk ke dalam kegelapan dan menghilang. Jika saja itu terjadi, kau sudah menghilang karena jiwamu dimakan oleh roh jahat itu." Ucap Li Xiang. Ia mengulurkan tangan.


Bai Nuan menunduk dengan mata yang masih sedikit berair. Ia menerima uluran tangan Li Xiang, "Maafkan aku.."


"Jangan dipikirkan lagi. Aku yakin ayahmu pasti menyayangimu."


Bai Nuan mendongak dan tersenyum, "Terimakasih.. Ming'er..," perlahan tubuhnya berubah menjadi transparan dan menghilang menjadi butiran butiran cahaya yang naik ke atas.


"Sekarang hanya tinggal menemukannya." Li Xiang berjalan pergi.


Belum lama ia berjalan, pemandangan di sekitarnya berubah. Kini tempat itu menjadi padang rumput yang luas dengan langit malam tanpa bintang. Dari arah belakang terdengar langkah kaki seseorang yang mendekati Li Xiang.


"Kau berani juga masuk kemari, bocah." Ucapnya.


Li Xiang membalikkan tubuhnya. Di jarak beberapa meter darinya, seorang pria dengan banyak luka di tubuhnya muncul. Terdapat garis merah yang melingkar di lehernya. Tubuh pria itu mengeluarkan bau busuk.


Li Xiang meletakkan kedua tangannya ke belakang kepala. Bukan terlihat untuk santai. Namun ia sedang membuka penutup matanya. Saat penutup mata sudah terlepas dari wajahnya, matanya terpejam. Ia memasukkan kain hitam itu ke balik pakaiannya, lalu membuka matanya perlahan. Namun bukan iris mata emas yang terlihat di matanya. Melainkan merah!


Mata roh jahat itu melebar saat menyadari sesuatu. Wajah yang sangat ia kenali. "K-kau.. Xiang.. bagaimana mungkin kau masih hidup?!"


"Hah? Apa aku mengenalmu?" Li Xiang berekspresi bingung.

__ADS_1


Roh jahat itu terdiam ketika mendengar ucapan Li Xiang. Namun ekspresinya masih terlihat terkejut.


Li Xiang sedikit menundukkan kepala dengan senyuman miring, "Mana mungkin aku melupakanmu. Kau adalah pengkhianat."


__ADS_2