
"Jadi maksudmu.. kekuatan yang kudapat adalah kekuatanmu?!" Ucap Lin Hao dengan terkejut. "Tapi bagaimana bisa?"
"Haish.. aku sudah mengatakannya padamu tadi. Saat dulu, mungkin 8 tahun lalu. Aku memberikan sebagian kekuatanku padamu. Lalu yang kulakukan malam itu adalah untuk melepaskan segel waktu yang kugunakan padamu." Ucap Li Xiang dengan malas. "Jadi semua kekuatanku yang disegel dalam tubuhmu sudah menjadi milikmu seutuhnya sekarang."
"Yang benar saja.." Gumam Lin Hao yang masih tak percaya, "Kalau begitu, siapa kau sebenarnya? Jika kau melakukan itu padaku 8 tahun lalu, berarti seharusnya kau masih berumur 6 tahun. Sementara, kekuatan yang kurasakan cukup besar dan dalam jumlah banyak. Tidak mungkin di umur itu–"
"Ya, kau memang benar. Aku bukan adik Xing Fu. Aku adalah gurunya."
"G-guru?" Lin Hao melihat Li Xiang dari atas sampai bawah. Tubuh kecil yang terlihat tidak meyakinkan, ditambah wajah kekanakan. Sangat tidak mungkin. "Kau pasti bercanda. Katakan yang sejujurnya. Ada hubungan apa antara kau dengan Xing Fu?"
"Sudah kukatakan tadi. Aku adalah gurunya. Wei juga sudah tau karena aku mengatakannya. Tapi jangan katakan ini pada Nuan, karena dia tidak mengetahui apapun tentang ini. Apa kau mengerti?" Ucap Li Xiang dengan wajah kesal.
"Kenapa kau terlihat kesal?" Heran Lin Hao.
"Karena kau meragukanku. Hanya karena tubuh kecil dan imut ini, jangan meragukan kemampuanku." Li Xiang menggelembungkan pipinya. "Aku memang tampan dan imut, aku juga sudah tau itu. Jadi kau tidak perlu mengatakannya padaku lagi."
"Dia terlalu percaya diri," batin Lin Hao.
"Xing Fu pun mendapatkan sebagian kekuatannya dariku. Lebih tepatnya, sebagian besar kekuatannya berasal dariku. Sementara sisanya adalah kekuatannya sendiri." Li Xiang menghela nafas. "Dia tidak memiliki kemampuan dalam berkultivasi. Bakat kultivasinya sangat buruk. Jika bukan karena kekuatanku, maka dia hanya akan menjadi sampah dan diejek banyak orang.
Bahkan setelah menggunakan teknik kultivasi terbaik milikku, perkembangannya tetap saja lambat. Bahkan sangat lambat. Dia sangat payah dalam kultivasi."
Lin Hao terkejut ketika mendengar ucapan Li Xiang. Ia baru tau bila Xiao Xing Fu juga mendapatkan kekuatan dari Li Xiang. "A-apa aku juga berkembang pesat karena kekuatanmu itu?" Ucapnya gugup.
Li Xiang menggelengkan kepala, "Tidak. Sebagian besar kekuatan yang kau miliki adalah kemampuanmu sendiri. Kau berbeda dengan Xing Fu. Bakatmu sangat baik dalam berkultivasi. Wei beruntung memiliki murid sepertimu."
Lin Hao menghela nafas lega. Ia kira, mungkin saja kekuatan yang selama ini ia miliki hanyalah kekuatan Li Xiang. "K-kalau begitu, kenapa kau ingin menjadikan Xing Fu muridmu? Bukankah kau mengatakannya tadi? Bakat Xing Fu.. setiap guru pasti menginginkan murid dengan bakat baik. Atau setidaknya, bakat yang tidak terlalu bagus. Namun akan menjadi lebih baik bila dilatih. Sementara Xing Fu, seperti katamu.. dia bahkan tetap saja tidak banyak berkembang walaupun menggunakan teknik kultivasi terkuat yang kau miliki."
Li Xing terdiam dengan wajah datar memandang Lin Hao.
__ADS_1
"A-apa aku salah bicara?" Lin Hao yang ditatap pun menjadi gugup. "M-maaf bila menyinggungmu. A-aku tidak bermaksud–"
"Memang benar apa yang kau katakan tadi. Bukankah lebih baik aku mencari murid lain yang mudah diajari dan memiliki bakat luar biasa? Pemikiranmu memang tidak salah sama sekali." Li Xiang mengelus dagunya, "Tapi awalnya aku juga tidak berniat memiliki murid sama sekali.
Tujuanku adalah untuk mati. Maka dari itu aku memberikan kekuatanku pada orang lain untuk mencoba, apakah aku akan mati bila tidak memiliki kekuatan? Itulah alasanku memberikan kekuatan pada orang lain, termasuk dirimu."
Lin Hao mengangguk angguk, "Oh begi–eh?! Tunggu! Mati?!"
Li Xiang mengangguk, "Awalnya aku berencana memberikan itu pada 4 orang. Tapi akhirnya, aku hanya memberikan itu pada 3 orang saja, salah satunya kau. Lalu karena sejak awal niatku adalah membaginya menjadi 4 dan kau menjadi orang kedua yang kuberikan sebagian kekuatanku, maka sisa kekuatanku yang seharusnya kuberikan pada 2 orang malah menjadi 1 orang. Sehingga Xing Fu orang yang mendapatkan kekuatan lebih banyak dibanding kalian berdua."
Lin Hao menghela nafas untuk mengatur nafasnya. Bukan saat yang tepat menanyakan tujuan yang Li Xiang katakan untuk saat ini, "Lalu kenapa kau memberikan sebagiannya padaku? Banyak orang lain di dunia ini. Lalu kenapa aku?"
"Tidak ada alasan khusus. Aku memperhatikanmu selama seharian pada saat kau keluar dari sekte saat itu. Kau memberikan uang pada pengemis dan memberi makan kucing yang kelaparan saat di jalan. Jadi aku mengikutimu dan memperhatikanmu selama sehari itu. Lalu kuputuskan untuk memberikannya padamu, karena kurasa kau bukan orang yang sombong." Ucap Li Xiang dengan santainya.
"Karena itu saja?" Batin Lin Hao. "Tunggu dulu! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?"
Li Xiang mengangkat sebelah alisnya heran, "Apa?"
Li Xiang menghela nafas, "Hah~ kukira kau ingin mengatakan apa. Ya, mataku sudah sembuh."
"Um.. begitu.. lalu.. selama beberapa hari ini kau kemana? Dan kenapa kau ada di bawah tempat tidur tadi?"
"Ah itu.. itu semua karenamu." Ucap Li Xiang dengan jutek.
"Eh? Aku? Kenapa aku?" Heran Lin Hao.
"Aku pergi agar bisa menjauh dari pertanyaan yang akan kau berikan padaku. Aku malas bila harus menjawab semua pertanyaanmu. Maka dari itu, aku pergi. Lalu aku muncul di bawah tempat tidur karena aku menyimpan kertas teleportasi di sana agar kau tidak melihat kertas itu."
Lin Hao mengangguk angguk. "Ada lagi yang ingin kutanyakan. Saat itu sebenarnya apa yang terjadi? Ketika kau membawa Xing Fu pingsan ke dalam."
__ADS_1
Li Xiang menarik nafas dalam dalam dan menceritakan semua yang terjadi pada Lin Hao. Dari saat ia pergi untuk menemui Xiao Xing Fu sampai dengan ia yang akhirnya membawa Bai Nuan ke ruangan yang ada di dekat ruang tamu, agar dekat. "Aku belum menanyakan apa yang terjadi sebelum itu pada Xing Fu. Jadi aku tidak tau bagaimana kejadiannya."
Lin Hao terkejut, "Jadi kau yang memusnahkan roh jahat itu?"
Li Xiang mengangguk angguk dengan ekspresi bangga. Walau kenyataannya bukan perasaan bangga yang ia rasakan, "Begitulah. Bukankah aku ini hebat?"
Lin Hao menggeleng geleng tak percaya, "Aku masih tak percaya. Tapi aku akan mencoba untuk mempercayainya."
Li Xiang memasang ekspresi jengkel, "Sudahlah, kau terus saja meragukanku. Kau sudah menanyakan banyak pertanyaan, aku pergi."
Ia berjalan mendekati pintu kamar dengan kaki yang dihentak hentakan beserta ekspresi sebal.
"Tunggu, ada satu lagi pertanyaan. Apa kau.. memiliki hubungan dengan.. Li.. Xiang?"
Ucapan Lin Hao menghentikan langkah Li Xiang. Pemuda itu gugup saat mengatakan apa yang mengganjal di hati dan pikirannya.
Li Xiang melirik ke belakang dengan tatapan dingin, "Apa maksudmu?"
***
Di kamar Patriarch. Sudah sejak tadi Xiao Xing Fu memilih untuk pergi ke kamar Patriarch karena gurunya dan Lin Hao tidak juga kembali. Karena Patriarch bertanya tentang kebisingan yang sempat terjadi tadi, ia menceritakan semuanya. Bahwa itu dilakukan Li Xiang. Saat mendengar itu Patriarch bahkan terlihat sangat senang. Ia sepertinya ingin mengatakan terimakasih pada Li Xiang.
"Nuan'er, Fu'er.. kalau tidak salah, aku mendengar kalian mengatakan tentang roh jahat. Apa Nuan'er benar benar dirasuki roh jahat? Kapan itu terjadi? Bagaimana kejadiannya?" Ucap Patriarch Bai Wei dengan beruntun. Ia saat ini duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.
"Eh.. itu.." Bai Nuan menjadi gugup saat ditanya. Terlihat raut khawatir dari ayahnya. Padahal ia tidak ingin membuat pria itu khawatir, apalagi saat ini kondisinya masih kurang baik.
Xiao Xing Fu tersenyum ke arah Bai Nuan, mencoba menghilangkan rasa ragu dalam hati gadis itu. "Katakan saja, sebelum Patriarch mengetahuinya dari orang lain."
Bai Nuan melirik Xiao Xing Fu yang tersenyum padanya. Ia menelan ludah dan akhirnya mengangguk pelan. Sebelum mengatakannya, pertama ia menarik nafas terlebih dahulu untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena gugup. "Jadi.. begini.." ia menceritakan semua yang terjadi dari awal sampai akhir pada Bai Wei.
__ADS_1
Dari awal Bai Wei dan Xiao Xing Fu yang masuk ke dalam hutan dengan pemukiman tua sampai dengan ia bertelepostasi ke rumah. "Lalu Ming'er membantuku. Saat aku hampir tertarik oleh kegelapan, dia datang dan menolongku. Hingga akhirnya aku bisa selamat. Lalu saat aku bangun, aku berada di dalam ruangan yang berada dekat dengan ruang tamu. Aku tidak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi semua lukaku sudah diobati saat aku bangun."