Li Xiang Sang Abadi

Li Xiang Sang Abadi
49 -Kucing


__ADS_3

"Apa yang sedang kau lakukan? Ini sudah pagi. Kau ingin tidur lagi?" Heran Xiao Xing Fu.


Xiao Xing Fu saat ini berada di lantai kedua yang mana di lantai dua memiliki 3 ruangan. Dua ruangan adalah kamar, sementara satu ruangan lainnya adalah tempat kerjanya.


Li Xiang yang sedang berbaring di ruangan kamarnya langsung menatap Xiao Xing Fu, "Aku sedang mencoba bunuh diri di mimpi. Mungkin akan berhasil. Pelayanmu yang mengatakannya," ia berucap dengan semangat.


Xiao Xing Fu memandang datar, "Tidak mungkin kau bisa mati hanya dengan mimpi! Apa kau tidak bisa berpikir seperti itu? Kau sudah tua! Bagaimana mungkin kau masih tidak mengerti hal seperti itu?!" Kesalnya.


Li Xiang cemberut, "Jangan katakan aku tua. Aku terlihat seperti masih remaja. Kau lihat? Jadi jangan katakan bila aku sudah tua."


Xiao Xing Fu menghela nafas kasar, "Percuma aku mengatakannya padamu. Kau takkan pernah mau mengerti."


"Aku mengerti, aku mengerti.." Li Xiang berbaring tengkurap di tempat tidur.


"Huh, kau mengatakan mengerti. Tapi tidak pernah mengerti."


***


Di suatu tempat. Di dalam ruangan yang besar dengan kursi singgasana dan beberapa kursi lainnya yang berada di kanan dan kirinya.


Ada beberapa orang yang duduk di bagian kiri dan kanan singgasana. Mereka menatap ke arah singgsana yang kosong. "Sudah sejak ratusan tahun kursi masih kosong. Apa sebaiknya kita memilih Kaisar baru agar tidak ada kekosongan dalam pemerintahan? Jika terus seperti ini, maka dunia kita akan menjadi kacau." Ucap seorang pemuda yang memiliki wajah tegas.


"Itu benar, tapi.."


"Kita semua sudah tahu, Yang Mulia takkan kembali lagi. Yang Mulia sudah mengorbankan dirinya. Dia juga pasti tidak ingin bila dunia ini menjadi kacau. Maka dari itu, kita harus segera mengisi kekosongan dalam pemerintahan." Ucap seorang wanita yang tampak menyetujui ucapan pemuda tadi.


"Yang Mulia takkan bisa digantikan oleh siapapun! Kita tidak bisa menggantikan posisinya!" Tolak seorang pemuda lainnya. Ia memiliki rambut berwarna cokelat tua yang panjang.


"Jadi kau pikir, kita harus terus seperti ini? Sekarang semakin banyak generasi generasi baru yang ingin memberontak. Semakin banyak yang menginginkan posisi Kaisar. Sebelum mereka menggantikannya, bukankah lebih baik jika salah satu dari kita saja yang menggantikannya dan menjalankan pemerintahan seperti sebelumnya?" Ucap seorang wanita dengan mata berwarna hijau.


"Tapi tidak ada yang pantas untuk menggantikan Yang Mulia! Terlebih setelah pengorbanan yang dia lakukan!"


"Jangan keras kepala! Kita–"


"Aku memiliki berita baru! Kemungkinan, kurang dari setahun, musuh akan segera muncul! Dengan munculnya dia, ramalan pasti akan terjadi!" Seseorang tiba tiba saja masuk ke dalam ruangan singgasana sambil berteriak, hingga menghentikan ucapan salah satu dari orang yang berada di dalam ruangan.

__ADS_1


Semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut. Ada rasa senang dan khawatir secara bersamaan. "Akhirnya dia muncul juga."


"Kuharap dia bisa melakukannya dengan baik."


"Aku takut bila dia takkan bisa mengalahkannya meski sudah mendapat bantuan dari Yang Mulia." Ucap seorang gadis yang terlihat berumur 25 tahun. Padahal umurnya sudah sangat tua.


Semua orang orang di tempat ini terlihat seperti masih muda. Berkisar antara 20-30 tahun. Namun ada pula beberapa yang memiliki wajah tua. Tapi sebenarnya semua orang orang di tempat ini memiliki umur yang sudah sangat tua, yaitu ribuan tahun.


"Kita memang tak bisa mengalahkannya. Karena kekuatan kita tidak mempan untuk melukainya. Tapi bagaimana dengan dia? Walaupun dia memiliki kekuatan yang bisa melukainya, bahkan membunuhnya, tapi bukan berarti dia bisa menang melawannya." Lanjut gadis yang terlihat 25 tahun tadi.


"Ya, kita tidak bisa percaya padanya sepenuhnya."


"Tapi kita tidak memiliki pilihan lain. Hanya dia satu satunya yang bisa menjadi harapan kita."


Semua orang mengangguk. Namun beberapa orang terlihat masih tetap ragu.


***


Xiao Xing Fu seperti biasa, ia akan banyak memasak makanan di restoran. Karena yang memasak memang hanya dirinya. Sementara seorang pelayan yang ia pekerjakan adalah untuk mengantarkan dan mengambil pesanan. Selain itu juga untuk bersih bersih di restorannya. Ia membuka restorannya dari pagi sampai sore hari. Namun saat siang hari, ia akan tutup sebentar.


Beberapa kali Li Xiang menabrak orang orang di sekitarnya karena mengejar kucing.


"Hei, berhati hatilah!"


"Jangan berlarian seperti itu! Kau mengganggu!"


Li Xiang tidak mempedulikan ucapan dari beberapa orang yang berteriak padanya. Ia terus mengejar kucing berbulu hitam tadi.


Meoww


Tiba tiba Li Xiang berhenti saat melihat seorang gadis di depannya. Gadis itu menggendong kucing yang sedang ia kejar.


"Kembalikan kucing itu padaku!" Li Xiang mengulurkan kedua tangannya.


Gadis yang tampak berumur 17 tahun itu mengangkat sebelah alisnya. Ia melihat kucing yang ada di tangannya. Hewan itu seperti takut dengan Li Xiang. Bahkan ia menggeram ke arah anak itu. "Tapi dia sepertinya takut denganmu. Tidak mungkin kau pemilik kucing ini."

__ADS_1


Li Xiang mendengus, "Kucing itu memang bukan milikku. Tapi aku menemukannya di jalan tadi dan aku ingin memberinya makan. Tapi dia langsung berlari. Sekarang berikan kucing itu padaku, kakak cantik." Ia mengulurkan kedua tangan dengan senyum lebar hingga memperlihatkan giginya.


Gadis itu nampak ragu. Ia melihat kucing di tangannya yang seakan enggan untuk mendekati Li Xiang. "Dia terlihat ketakutan saat di dekatmu. Kau melakukan apa padanya?"


Li Xiang menggeleng dengan ekspresi polos, "Aku tidak melakukan apapun padanya, kakak cantik. Aku hanya mendekatinya saja dan dia langsung pergi. Jadi aku mengejarnya, karena aku ingin memberinya makan. Dia terlihat kurus dan tidak terawat karena kucing itu adalah kucing jalanan. Tapi kondisinya bahkan lebih kasihan dari pada kucing jalanan lain. Kau lihat sendiri kondisinya 'kan?


Dia bahkan mendapatkan luka di beberapa bagian tubuhnya. Aku ingin membawanya pulang dan mengobatinya. Karena aku sangat menyukai kucing. Apalagi kucing yang memiliki bulu lebat seperti itu. Mereka tampak menggemaskan."


Setelah berpikir sebentar, akhirnya gadis itu menyerahkan kucing di tangannya pada Li Xiang. Kucing hitam itu memberontak saat berada pada tangan Li Xiang. Namun Li Xiang masih terus mendekapnya sambil mengelusnya. "Diamlah. Jika kau terus bergerak seperti itu, lukamu hanya akan bertambah parah. Tenang saja, aku akan membawamu pulang dan mengobatimu."


Bukannya tenang, kucing itu malah semakin memberontak untuk lepas.


"Jaga kucing itu dengan benar." Ucap gadis di depan Li Xiang. Ia mengusap kepala Li Xiang sambil tersenyum.


Li Xiang tersenyum dan mengangguk, "Ya! Terimakasih kakak cantik. Kalau begitu, aku pergi. Sampai jumpa!" Ia langsung berlari menjauh dari gadis itu.


Setelah sampai di restoran Xiao Xing Fu, Li Xiang langsung masuk begitu saja sambil membawa kucing di dekapannya. Ia menghampiri pelayan Xiao Xing Fu, "Lihatlah, aku membawa kucing. Bukankah dia terlihat menggemaskan? Aku hanya perlu membersihkan tubuhnya saja." Ia tersenyum kekanakan.


Pelayan itu melirik Li Xiang. Sekarang restoran akan segera tutup. "Em.. itu bagus, Tuan Muda. Apa Anda menyukai kucing?"


Li Xiang tersenyum tipis, "Ya.. aku sangat menyukainya."


Setelah mengatakan itu, Li Xiang mulai pergi menaiki tangga, "Baiklah, aku sekarang akan membersihkannya agar dia bersih."


"Baik, Tuan Muda."


Tak lama setelah Li Xiang menaiki tangga, seorang gadis yang tadi ditemui oleh Li Xiang masuk ke dalam restoran. Ia sebenarnya ingin membuntuti Li Xiang dan ingin mengetahui dimana rumahnya. Jadi ia mengikutinya. Namun ternyata yang ia dapati adalah sebuah restoran.


Pelayan Xiao Xing Fu menghampiri gadis itu, "Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu?"


Gadis itu melihat sekeliling sebentar. Ia mengangguk, "Um.. aku ingin memesan makanan untuk dibungkus. Sup daging dengan tambahan banyak wortel."


"Baik, Nona. Akan segera saya siapkan. Sementara itu, Nona bisa duduk terlebih dahulu di kursi." Pelayan menunjuk sebuah kursi yang berada di pojok ruangan. Karena hanya ada kursi itu saja yang kosong.


Gadis itu mengangguk dan duduk di tempat yang ditunjuk tadi. Ia melihat sekitar, mencari anak yang dilihatnya tadi. "Dia kemana? Kurasa tadi dia masuk ke tempat ini. Tapi sekarang dimana dia?" Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2