
Manhattan New York
Nadya memutuskan untuk berjalan kaki menuju kantor Omar Zidane. Memilih memakai sepatu dengan heels tujuh sentimeter, Nadya berjalan sedikit bergegas karena dia masih harus membuat opening dan mengajukan mosi kasus lainnya.
Nadya sengaja mengikat rambutnya yang indah agar tidak kusut nanti dan perjalanan dari gedungnya ke gedung FBI sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Gadis itu pun tiba di gedung tempat Omar bekerja dan menuju bagian resepsionis untuk mendapatkan tag visitor. Setelahnya Nadya menunggu di depan pintu lift karena Omar hendak turun menemui dirinya.
Tak lama suara lift berhenti terdengar dan dari balik pintu yang terbuka tampak Omar Zidane disana, tersenyum melihat Nadya berdiri menunggu.
"Halo Nadya" sapa Omar ramah.
"Hai. Kenapa kamu membutuhkan file ini?" tanya Nadya sambil masuk ke dalam lift.
"Karena berkaitan dengan kasus yang menimpa Arkananta." Omar menatap Nadya yang berdiri di sebelahnya. "How are you Nad?"
"I'm fine, thank you. Kamu gimana?" Nadya mendongak menatap Omar yang jauh lebih tinggi darinya.
"Busy. Sama denganmu, kasus tidak pernah selesai."
Nadya tersenyum. "Kalau tidak ada cerita, kita jadi pengangguran."
Omar tersenyum dan keduanya tiba di lantai tempat pria jangkung itu bekerja. Omar mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam ruangannya.
***
"Ini berkasnya Nad?" tanya Omar sambil membaca berkas-berkas yang dibawa oleh gadis itu.
"Copy nya. Aku tidak mungkin membawa berkas asli keluar kantor, Omar" jawab Nadya sambil melihat-lihat ruang kerja pria berdarah Mesir itu. "Hei, kembaran kamu!"
Omar mendongakkan kepalanya dari atas meja. "Excuse me?"
"Tuh" ucap Nadya sambil menunjukkan gambar King Ramesses II yang berada di atas lemari. Omar memang memasang beberapa foto dirinya saat bisa pulang ke Kairo. "Ramesses II kan?"
"Kok kamu tahu?" tanya Omar.
"Ada tulisan nya" cengir Nadya sambil menunjukkan tulisan di bawah kotak di foto itu.
Omar tersenyum lalu melanjutkan membaca berkas yang dibawa Nadya.
***
"Kata Omar, dia mendapatkan informasi" ucap Billy Boyd yang berjalan bersama Arkananta dan Pedro Pascal menuju ke ruang kerja Omar.
"Apa kira-kira informasinya?" tanya Arkananta.
"Belum tahu" jawab Pedro.
Ketiga nya tiba di ruang kerja Omar dan melihat Nadya duduk disana. Gadis itu langsung memeluk Arkananta begitu melihat sepupunya.
"Are you okay? Ara gimana? Kok kalian ya aneh-aneh ketemu sama orang edan tho?" cerocos Nadya.
"Alhamdulillah baik-baik tapi Ara takut Oom Dapid datang."
"Memang kenapa?" tanya Nadya bingung karena tahu kalau wajar seorang bapak khawatir.
"Takut Oom Dapid nyamar jadi cewek lagi."
Nadya melongo.
__ADS_1
***
"Kenapa asisten jaksa itu membunuh wanita India itu?" gumam Billy Boyd yang harus mengumpulkan semua bukti - bukti untuk bisa menangkap pria itu.
"Karena mantan istrinya adalah wanita India dan saat bercerai, mantannya berhasil membawa harta Gono gini 75% dari total kekayaan asisten jaksa itu" ucap Nadya Blair yang diundang Omar Zidane karena saat itu kantor advokat Blair and Blair yang mengurus.
"75%?! Berapa itu totalnya Nad?" tanya Pedro.
Nadya membuka filenya. "Hampir $10 juta."
"Pantas dia ngamuk!" ucap Omar.
"Arka, Ara baik-baik saja kan?" tanya Nadya.
"Baik. Oom Dapid dan pak Bima sudah datang di rumah Oom Abi kok" jawab Arka yang masih membongkar praktek web itu.
"Syukurlah." Nadya menatap Omar. "Apa aku masih dibutuhkan? Soalnya aku masih harus membantu Oom Steven Hamilton."
"Sementara itu dulu Nad..." jawab Omar sambil tersenyum sedangkan Nadya melongo.
"Astagaaa demi Empire State building! Kalau cuma tanya itu kenapa tidak via telpon Omar Zidane!" hardik Nadya kesal. "Buang-buang waktu saja!"
Arka, Pedro, Nadya dan Billy sedang berada di ruang Omar Zidane.
Ketiga pria disana hanya melihat wajah kesal Nadya ke Omar.
"Sudah! Aku pulang!" Nadya memasukkan iPad nya ke dalam tas lalu berdiri untuk keluar dari ruangan Omar. "Bang Pedro, Arka, Agen Boyd, aku pulang dulu."
"Hati-hati" ucap ketiga pria yang dipamiti Nadya.
"Aku antar sampai ke bawah, Nad" ajak Omar.
***
Omar Zidane dan Nadya Blair berada di dalam lift tanpa ada pembicaraan diantara keduanya karena Nadya terlalu kesal dengan pria jangkung itu.
"Nad..." panggil Omar pelan.
"Aku marah padamu! Kamu kira aku tidak banyak pekerjaan?! Seriously Omar!" bentak Nadya sambil menghentakkan kakinya pertanda dia jengkel tingkat dewa.
"Lho bukan kah ini bagian dari pekerjaan?" sahut Omar santai.
Nadya hanya bisa mengepalkan tangannya berusaha untuk tidak meninju pria yang jauh lebih tinggi darinya meskipun dirinya sudah mengenakan Stiletto tujuh senti.
TING!
Pintu lift terbuka dan Nadya melangkah lebar-lebar menuju resepsionis untuk mengembalikan tag guestnya dan mengambil id card nya.
"Nadya!" panggil Omar.
"Apa?" balasnya galak namun Omar hanya tersenyum tipis.
"Thanks. Terimakasih sudah mau datang kemari berbagi data."
"Kamu beruntung Zidane, kantorku hanya tiga blok dari sini ! Jika kantorku di Queens, dan hanya seperti ini saja, kamu hutang banyak padaku!" Mata biru Nadya menatap tajam.
"Dinner. Nanti malam? Aku traktir?" tawar Omar.
__ADS_1
"Akan aku pertimbangkan" jawab Nadya melunak. "Aku pulang dulu."
"Hati-hati Nadya."
Nadya hanya melambaikan tangannya lalu keluar dari gedung FBI tanpa menoleh ke Omar Zidane. Sementara pria itu hanya tertawa kecil mengingat di dalam lift, gadis bar-bar itu hampir meninjunya.
***
Blair dan Blair Advocate Office.
Phoenix Hamilton melihat Nadya datang dengan wajah manyun, bisa menebak kalau Omar Zidane membuat gadis itu kesal.
"Are you okay Nad?" tanya pria berambut pirang dan bermata biru itu.
"Nope. Aku lapar! Kita makan yuk P" ajak Nadya.
"I thought you never ask ( kukira kamu tidak akan mengajak )" senyum Phoenix.
***
Restauran Cepat Saji Area Manhattan.
Nadya menikmati kopi nya dan fried chicken bersama dengan Phoenix. Gadis itu mulai membaik mood nya setelah mendapatkan asupan makanan setelah sebelumnya ingin menghajar Omar Zidane.
"Much better Nad?" senyum Phoenix.
"Much better. Rupanya aku lapar jadi mood aku jelek" gelak Nadya. "Dasar keturunan. Lapar, emosi, ngamuk..."
"Gen kamu kan memang begitu sih" sahut Phoenix.
"Yup. Brengseeekkk tuh Omar Zidane! Kalau aku tidak ingat berada di gedung FBI, sudah habis anak itu aku hajar!"
"Nad, kamu akan dituntut melakukan penganiayaan ke agen Federal dan hukuman nya lumayan lho" kekeh Phoenix.
"Harusnya aku tidak dihukum! Kan bukan aku yang salah! Omar yang salah!" eyel Nadya.
Phoenix menggelengkan kepalanya. "Dasar tukang ngeyel!"
"Kalau tidak ngeyel, kita tidak akan menjadi pengacara, P. Kita bakalan ditindas kalau tidak ngeyel! Klien membayar kita mahal untuk ngeyel! Kesimpulannya, hidup ngeyel!" ucap Nadya yakin.
Phoenix terbahak.
Nadya Blair
Phoenix Hamilton
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️