
Manhattan New York
Sore ini Omar menjemput Nadya dari kantornya untuk diajak ke rumah ibunya yang berada di daerah west side Manhattan. Nadya dan Omar sudah meminta ijin ke boss masing-masing untuk pulang lebih cepat dan sekarang mereka dalam perjalanan ke rumah ibu Hasina Zidane.
"Aku nggak bisa bahasa Arab, Omar. Baru bisa baca Al Quran pakai terjemahan bahasa latin..." ucap Nadya ke arah Omar yang menyetir mobilnya.
"Sayang, ibuku sudah menjadi warga negara Amerika Serikat dan keseharian kita ngobrol pakai bahasa Inggris dan jarang menggunakan bahasa Arab."
"Apakah Feme ada?" tanya Nadya.
"Kamu kenal Feme?" Feme adalah adik sepupu Omar Zidane. ( Baca Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena plus The Bianchis ).
"Nggak terlalu cuma kenal gitu saja soalnya Veena pernah memperkenalkan kami" jawab Nadya.
"Feme kan sudah menikah dan pindah ke Oregon, ikut suaminya yang menjadi tentara disana."
"Lha di rumah Bu Hasina sama siapa OZ?"
"Sendirian. Semua anak asuhnya sudah pada keluar rumah karena bekerja dan menikah. Jadi sekarang mommy menikmati hidupnya sendiri."
"Kamu nggak menemani Bu Hasina? Kenapa nggak ikut kamu saja Omar? Kasihan sendirian."
"Masalahnya Nadya, mommy memiliki komunitas disana. Apartemen aku di Lower Manhattan, mom west side dan aku sering pulang malam atau bahkan tidak jelas jika ada kasus pelik. Apartemen aku semuanya individualis, apartemen ibuku banyak orang-orang Mesir. Jadi ibuku merasa tidak sendirian karena banyak teman disana."
Nadya mengangguk.
"Kamu itu kenapa beli brand Morr dan Louis Vuitton sih?" tanya Omar.
"Yang penting kan bukan Hermès !" balas Nadya manyun.
***
Apartemen Hasina Zidane di West Side Manhattan
Seorang wanita yang memiliki wajah mirip Omar tapi dengan versi tua, terlihat di depan pintu apartemen usai membawa beberapa kantongan dan hendak membuka pintu apartemen.
"Mom!" panggil Omar Zidane membuat wanita itu menoleh.
"Omar? Alhamdulillah kamu sudah datang. Mom kira kamu tidak bisa datang, Son" senyum Hasina sambil memeluk Omar yang datang.
"Ayo masuk... Ya ampun, ini yang namanya Nadya?" Hasina melihat seorang gadis cantik di belakang Omar dengan membawa dua paper bag bermerk.
"Assalamualaikum Mrs Zidane. Saya Nadya Blair" senyum Nadya sambil mencium punggung tangan Hasina yang melongo melihat santunnya gadis yang katanya kekasih putra satu-satunya.
"Wa'alaikum salam. Ya Allah, kamu cantik banget..." Hasina langsung memeluk Nadya. "Ayo masuk... masuk." Ketiga nya pun masuk ke dalam apartemen Hasina dan Nadya bisa melihat bagaimana nuansa Mesir dan Islam sangat kental disana.
Omar menutup pintu apartemen dan mengajak Nadya duduk. Gadis itu pun mengangguk dan duduk di sofa ruang tengah. Mata hijau kecoklatan nya melihat foto-foto Omar bersama dengan kedua orangtuanya dan tampak begitu culun.
"Ini ayahmu?" tanya Nadya sambil menunjuk ke sebuah foto yang berada di meja nakas.
"Yup. Itu ayahku. Sayangnya beliau tidak bisa melihat aku lulus dari pendidikan Quantico karena terkena serangan jantung saat di tempat kerja. Ayahku adalah seorang supervisor distributor barang retail di Bronx."
__ADS_1
"Oh ... I'm sorry..." Nadya menatap sendu ke Omar.
"Tak apa Nadya. Sudah lebih dari sepuluh tahun lalu."
"Ayo, kita makan - makan" ajak Hasina sambil mengeluarkan makanan dari oven dan Nadya pun memilih membantu wanita yang melahirkan Omar.
"Saya bantu, Mrs Zidane?"
"Boleh sayang. Tolong ambilkan piring diatas lemari kabinet paling kiri" pinta Hasina dan Nadya pun menuju dapur.
"Omar..." Hasina berbisik ke putranya.
"Yes mom?"
"I like her. Dia cantik dan tampak sayang sama kamu."
Omar hanya tersenyum. "I'm so glad mommy suka Nadya."
Nadya datang dengan membawa tiga piring dan tiga gelas yang kemudian ditatanya di meja makan.
"Wah, apa ini Mrs Zidane?" tanya Nadya saat melihat makanan di meja makan.
"Ini namanya falafel, dibuat dari chickpeas yang dihaluskan dan digoreng lalu dimakan dengan saus tahini. Kalau yang ini kebab dan kofta dan dessert Om Ali yang mirip dengan créme brulee di Perancis" terang Hasina.
"Kebab dan kofta... Macam yang kamu buat ya Omar?" tanya Nadya.
"Yup."
"Enak ! Saya malah sampai tambah" jawab Nadya apa adanya.
"Yuk kita duduk dan mulai acaranya." Omar mengajak dua wanita kesayangannya untuk duduk dan mulai berdoa.
"Ya Allah terima kasih hari ini mommy ku diberikan umur dan kesempatan bertemu dengan calon menantunya... Semoga mommyku selalu sehat, diberikan usia yang panjang dan banyak barokah. Aamiin." Omar menatap Hasina yang tampak terharu dengan doa putranya.
"Aamiin" ucap Nadya dan Hasina bersamaan.
"Ayo kita makan dulu, dingin tidak enak" ajak Hasina.
***
"Jadi kalian pertama kali bertemu di Mexico? Dan Nadya yang menjadi pilotnya?" Hasina menatap gadis cantik yang sedang menikmati hidangannya dengan tatapan tidak percaya. "Kamu memang pilot Nadya?"
"Iya Mrs Zidane. Aku dan kakakku, Nelson, adalah pilot internasional berlisensi."
"Tunggu... Benar kamu putrinya Travis Blair? Pengacara terkenal itu?" tanya Hasina.
"Betul."
"Berarti kamu masih bersaudara dengan Raveena?"
"Veena sepupu kandung saya."
__ADS_1
"Oh Astaghfirullah... Dunia sempit ya Omar. Kamu jatuh cinta dengan sepupu Veena. Sekarang Veena dimana? Duh anak itu recehnya minta ampun. Sudah menikah ya?"
"Veena sudah menikah dan sekarang tinggal di Turin bersama dengan suaminya bang Alexis. Anaknya satu, cowok. Feme sudah pindah ke Oregon ya Mrs Zidane?"
"Kamu kenal Feme juga?"
"Kami sempat berkenalan saat nonton bioskop bersama Veena."
"Jadi kalian bertemu di Mexico terus menjadi dekat dan ... Di Hongkong?" Hasina menatap Omar.
"Aku dan Nadya dipenjara bersama" jawab Omar santai.
"Oh ya Allah. Tapi memang kejam kok mereka itu ! Mommy tidak habis pikir Omar, teganya mereka menjual organ tubuh ke pasar gelap !" Hasina mengelus dadanya.
"Manusia memang jauh lebih kejam dari binatang buas sekalipun" gumam Nadya.
"Kamu seorang pengacara, Nadya? Pasti banyak kasus yang kamu tangani. Bagaimana rasanya membela orang yang benar-benar bersalah?"
"Saya berapa kali nyaris kebablasan ingin membuat klien saya menghilang dari dunia ini biar bumi berkurang orang jahatnya dan penjaga neraka pusing dengan banyaknya penghuni disana..." jawab Nadya cuek membuat Hasina melongo lalu setelahnya tertawa geli.
"Ya ampun, kamu sama saja dengan Veena. Tapi apakah kamu juga sama bar-barnya dengan sepupu kamu itu?" tanya Hasina.
Nadya menatap Hasina sembari tersenyum manis. "Mrs Zidane, jika kami keturunan Blair tidak bar-bar, sangatlah diragukan gen nya."
Hasina melongo sedangkan Omar sudah terbahak.
"Oh ya Allah ... " Hasina tertawa kecil.
***
Hasina menatap dua hadiah dari Nadya yang memang tampak simple tapi ibu Omar itu tahu jika harganya wow karena yang dipilih Nadya semuanya limited edition.
"Ya ampun Nadya... Ini semua kan barang limited edition..." ucap Hasina. "Terimah kasih sayang." Wanita paruh baya itu mencium pipi dan kening Nadya. "Aku sangat suka hadiahnya."
"Alhamdulillah kalau Mrs Zidane suka" ucap Nadya.
"Please panggil saja Hasina..." ( di Amerika Serikat dan negara barat umum nya terbiasa memanggil orangtua dengan nama tanpa embel-embel pak atau bu ).
"Saya panggil Tante Hasina ya, Mrs Zidane. Tidak sopan jika memanggil nama. Mommy saya bisa menjewer telinga saya kalau seperti itu" jawab Nadya sambil tersenyum.
"Omar, aku suka Nadya. Dia sangat lucu dan tahu adab." Hasina menoleh ke Omar.
"Alhamdulillah kalau mommy suka" jawab Omar dengan perasaan lega.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️ q