
Ruang Interogasi FBI
Travis, Nelson, Omar, Bily Boyd dan Chief Reid memperhatikan bahasa tubuh Jenelle ketika melihat Agen Cody Walters.
"Aku rasa dia tidak mengira bahwa benar-benar ada agen Cody Walters di CIA" ucap Nelson.
"Kemungkinan dia asal mengambil nama tanpa tahu ada pemilik nama sebenarnya." Omar menatap ke arah kaca dua arah yang menunjukkan ruang interogasi.
"Bagaimana dengan Jamie, pacarnya?" tanya Chief Reid.
"Hasil penyelidikan, tangannya terbukti baru saja menembakkan senjata api karena masih ada sisa mesiu. Dan itu sekitar ertepatan pembunuhan duo Billy" jawab Billy Boyd.
"Apakah dia sudah mengaku?" tanya Travis.
"Sedang diinterogasi oleh Nina" jawab Omar.
***
Jenelle menatap agen Cody dengan tatapan tidak percaya. "Kalian semua hanya bluffing ( menggertak ) aku saja kan? Bilang saja ini hanya agen kalian yang menyamar menjadi agen Cody Walters" ucap Jenelle sinis.
"Baiklah jika tidak percaya." Agen Cody Walters mengeluarkan tanda pengenalnya dan menunjukkan ke Jenelle yang hanya bisa melongo.
"Jadi Jenelle, kamu menghadapi tidak hanya hukum negara tapi juga hukum federal karena sudah mencatut nama agen federal aktif untuk membuatnya seolah 'memberikan email' kepada kamu. Kamulah otak dari semua ini! Kamu yang menciptakan karakter agen Cody Walters! Kamu lah yang membujuk ayah dan pacarmu untuk membunuh Billy Hayworth dan Billie Jean Cotton! Kamulah..."
"I want a lawyer ( aku mau pengacara )" potong Jenelle ketika Maggie sedang membuat tuduhan.
Ketiga agen federal itu menoleh ke jendela kaca lalu keluar karena hukum di Amerika Serikat, jika sudah meminta pengacara, tidak bisa diinterogasi tanpa pendampingan.
Ketiga agen itu lalu berjalan ke ruang kerja mereka di tengah dan bertemu dengan orang-orang yang tadinya berada di ruang interogasi satu.
"Mr Blair, Mr Blair" sapa Agen Cody Walters sambil menyalami Travis dan Nelson. "Saya tahu kita punya sejarah tidak menyenangkan di masa lalu tapi hanya kalian yang bisa membela saya di kasus ini dengan reputasi kalian berdua." ( Baca My Bodyguard is My Boyfriend ).
"Kami profesional Agen Walters. Kasus Gabriel sudah masa lalu dan kami tidak menengok ke belakang. Apa yang ingin anda tuntut ke Miss Potter?" Travis tersenyum ke agen Cody Walters.
"Tuntutan berlapis!" jawab Agen Cody Walters.
"Chief Reid, boleh saya gunakan ruang kosong itu?" tanya Travis sambil menunjuk ruang pantry yang sudah kosong karena hari sudah malam.
"Sure Mr Blair. Take your time ( pakai saja )" jawab Chief Reid.
__ADS_1
Travis, Nelson dan Agen Cody Walters pun menuju ruang kosong itu sedangkan Chief Reid menunggu Nina selesai menginterogasi dengan Kelly Moran.
"Kita tahan mereka semua disini dan besok kita lanjutkan dengan Interogasi Mrs Potter. Jamie sudah ditahan atas tuduhan pembunuhan?" Chief Reid bertanya pada Omar dan Billy.
"Sudah Chief. Sejujurnya kami ingin pulang dan mandi !" sungut Omar yang merindukan berendam di bathtub dengan aroma lavender. Aku sudah tidak tahan dengan bau bajuku!
Tak lama Nina keluar bersama Kelly Moran dan wajah keduanya tampak lelah apalagi mereka juga lembur.
"Bagaimana Nina? Kelly?" tanya Chief Reid.
"Donald Potter awalnya tidak percaya jika putrinya memanipulasi dirinya dan Mrs Potter serta Jamie. Namun setelah aku dan Kelly menunjukkan semua bukti-buktinya, wajahnya langsung memucat dan dia goyah. Akhirnya mengaku bahwa dirinya dan Jamie memang sengaja membunuh dua Billy itu karena mendengar cerita dari Jenelle kalau dia mengalami kekerasan fisik oleh Billy Jean Cotton serta surat dari 'Agen Cody Walters dari CIA' membuatnya harus bertindak lebih dahulu" papar Nina.
"Tadi mereka semua sudah dibacakan Miranda Rights kan?" Chief Reid menatap anak buahnya.
"Tentu saja Chief !" jawab mereka serempak.
"Oke, kita tahan mereka dan besok giliran mrs Potter. Kalian semua pulang. Ya Ampun, anjingku saja baunya lebih baik dari bau kalian !" gelak Chief Reid.
"Oh Chief, kamu tidak pernah tahu apanya yang terjadi pada kami" keluh Maggie sebal.
***
Dua Minggu sudah Nadya tidak Bertemu dengan Omar bahkan pesan saja bisa dibilang jarang. Nadya mendapatkan informasi dari Nelson jika Omar harus bersaksi di pengadilan atas kasus pencemaran dan pencatutan nama baik agen CIA aktif.
"Nadya? Nadya?"
Nadya menoleh dan wajah Phoenix Hamilton berdiri di depannya. "Sejak kapan kamu disitu? Penampakan!"
Phoenix mendelik. "Enak saja penampakan! Aku cuma mau bilang, Marisol menang lagi di pengadilan."
"Kasus apa?"
"Benedict Robert. Dia mengajukan banding..." Phoenix duduk di kursi depan meja Nadya. "Aku yang menjadi pengacara nya karena jika Nelson yang maju, bisa double Jeopardy."
"Lalu?"
"Semua bukti yang diberikan Marisol, sangat akurat dan memberatkan Benedict. Endingnya, dia akan dihukum mati seperti keputusan sebelumnya."
"Apa juri tetap menuntut hukuman mati, bukannya seumur hidup?" tanya Nadya.
__ADS_1
"Juri tetap meminta hukuman mati karena mereka melihat tidak ada penyesalan serta kejahatan ini sangat kejam dan tidak manusiawi."
Nadya mengangguk lalu dirinya melihat notifikasi di ponselnya.
📩 Omar Zidane : Aku perjalanan ke kantormu. Kita makan siang di ruangan mu?
Nadya tersenyum lebar membaca pesan itu dan Phoenix tahu dari siapa. Putra Steven Hamilton itu memang diam-diam menyukai dan jatuh cinta pada Nadya sejak SMA tapi Nadya hanya menganggap nya adik dan keluarga.
Phoenix tahu kalau dirinya tidak bisa bersaing dengan Omar Zidane karena hati Nadya hanya untuk agen FBI itu. Nadya dan Omar sama-sama saling Bucin satu sama lain hingga tidak ada celah diantara mereka.
Nadya membalas pesan dari Omar.
📩 Nadya Blair : Aku tunggu ❤️❤️❤️
"Omar?" tanya Phoenix tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Yup. Siapa lagi" jawab Nadya dengan wajah berbinar.
"Well, kalau begitu aku pergi saja. Tidak betah aku melihat hati bertebaran ! Kasihanilah aku yang masih jomblo ini Ya Tuhan" ucap Phoenix dramatis membuat Nadya terbahak.
"P, sorry kamu kalah kasus Robert" ucap Nadya serius usai tertawa.
"Aku tidak merasa sedih, Nad. Karena sejujurnya, kalau boleh, aku sendiri yang akan membunuhnya!" seringai Phoenix.
***
Omar datang dengan membawa paper bag berisikan makan siang untuk disantap bersama Nadya. Dua Minggu tidak bertemu dengan gadisnya, membuat pria itu belingsatan di kantor. Omar sibuk dengan kasus Potter plus pembunuh berantai yang mulai muncul di New York hingga sering lembur.
Pria tinggi itu mengetuk pintu ruang kerja Nadya dan tampak gadisnya tersenyum dari balik MacBooknya. Omar lalu menutup pintu ruang kerja Nadya dan gadis itu lalu berjalan menghampiri sang agen FBI.
Omar meletakkan paper bag di atas meja kopi depan sofa Nadya. "Halo Nad... "
Omar tidak melanjutkan ucapannya karena Nadya sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya. Omar lalu memeluk tubuh sintal Nadya dan keduanya berciuman di ruang kerja pengacara itu.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️