
Desember 29th ... Kediaman keluarga Blair di Central Park New York
Nadya meletakkan punggungnya usai tiba dari Tokyo setelah menghadiri acara pernikahan Sakura Park dan Alessandro Moretti, salah satu pasangan Bucin generasi keenam yang terkadang juga suka lupa berada dimana kalau bermesraan.
Omar memang tidak ikut karena dirinya tetap nekad urus kasus nya begitu keluar dari rumah sakit setelah diberikan ijin oleh Samuel Prasetyo membuat Nadya sempat marah tapi Omar is Omar yang dikenal agen FBI yang sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
"Nad... Kamu kapan kembali ke Jakarta? Tante Amara tanya tuh !" teriak Rahajeng yang sedang melakukan panggilan video dengan para iparnya.
"Habis tanggal 4 Januari. Aku masih ingin di New York !" balas Nadya sama teriaknya.
"Astagaaaa kalian berdua itu !" kekeh Travis mendengar adu Tarzan di apartemennya. Travis dan Nelson sudah terbiasa mendengar dua wanita kesayangan mereka saling teriak unfaedah.
Rahajeng mengacuhkan suaminya dan melanjutkan acara ghibah dengan iparnya. Sementara Nelson memilih pergi bersama dengan Marisol untuk menikmati liburan natal dan tahun Baru.
Nadya sudah nyaris terlelap, ketika dirinya merasa ada seseorang yang menatapnya dan reflek gadis itu terbangun dengan tangan maju lebih cepat untuk meninju makhluk mencurigakan itu.
BUGH !
"Aduh hidungku !" teriak orang itu membuat Nadya melotot tidak percaya.
"Omar ? Astaghfirullah ! Kamu tidak apa-apa?" Nadya melihat tunangannya memegang hidungnya dan darah segar menetes di lantai kamar Nadya. "Oh my God ! Moooommmm ! Daaaadddd !" teriak gadis itu panik.
Omar hanya mengambil tissue dan menahan darah dari hidungnya.
***
Kamar Nadya
Blaze dan Samuel hanya menggelengkan kepalanya usai mengobati Omar Zidane yang mengalami cedera hidungnya akibat terkena jotosan Nadya. Gadis itu tampak bersalah melihat hidung mancung Omar terkena tinju hingga harus diplester dan dikompres. Beruntung bukan luka yang membuat Omar harus menjalankan rhinoplasty karena Samuel bisa melakukan teknik closed reduction.
"Nggak kamu, nggak Bee itu sama-sama kacau !" omel Samuel yang ingat saat sehari usai menikah, kena tinju Blaze hanya gara-gara dokter bedah itu lupa kalau sudah menikah. ( Baca The Bianchis ).
"Salah siapa lihatin orang tidur ! Kan masih belum nyatu nyawanya !" balas Nadya tidak mau disalahkan. Omar sendiri memilih menengadahkan kepalanya diatas kepala sofa agar tidak menetes darahnya meskipun Samuel tadi sudah mengobati agar pendarahan berhenti.
"Tante Nadya, Oom Omar nggak papa?" tanya Rase yang ikut kedua orangtuanya sedangkan Rania berada di penthouse Joey dan Georgina.
"Nggak papa, setidaknya hidungnya miring dikit" jawab Nadya cuek membuat Blaze melotot.
__ADS_1
"Kamu tuh ! Sudah, pokoknya Nadya harus tanggung jawab sama calon imam !" hardik Blaze kesal dengan pasangan Membagongkan jilid sekian.
"Dah yuk, biarkan Oom Omar diurus Tante Nadya. Kita ketemu Opa Travis dan Oma Rahajeng buat ucapin selamat natal. Kan kemarin kita belum ucapin karena mereka pada di Tokyo." Samuel menggandeng tangan Rasendriya. "Nad, obatnya itu ya. Dikompres ya Omar."
"Thanks Dokter Sammy" ucap Omar dengan nada sedikit sengau.
"Omar, marahi Nadya. Jangan kamu cium kalau nggak pengen pendarahan lagi !" Blaze menatap tajam ke kedua pasangan bucin akut itu.
"Iya mbak Bee. Sudah sana, nanti aku bayar tagihannya" ucap Nadya sambil manyun.
Keluarga Bianchi Prasetyo pun keluar dari kamar Nadya meninggalkan pasangan itu.
"Sakit?" tanya Nadya penuh perhatian.
"Sedikit. Maaf tadi aku mengejutkan kamu. Soalnya aku datang, kata Tante Rahajeng, masuk saja ke kamar kamu karena dikira kamu masih bermain ponsel... Dan pintu kamar kamu terbuka kok..." ucap Omar agar Nadya tidak salah paham.
"Aku yang minta maaf Omar. Serius. Aku tidak tahu kalau itu kamu !"
"Aku tadinya ingin mengajak kamu makan siang dan jalan-jalan... Tapi dengan kejadian seperti ini ... " Omar tersenyum ke arah Nadya yang hendak menangis karena membuat pria kesayangannya terluka. "Nad, jangan menangis lah. Beneran, nggak papa..."
"Astaghfirullah gadisku yang cantik. Sini ... Sudah nggak papa" kekeh Omar yang merangkul Nadya yang memeluk tubuh pria itu dan menangis di dadanya.
"Maaf sayang..." ucap Nadya berulang sembari sesenggukan.
"Iya, tidak apa-apa. Sudah jangan nangis. Hidung mu sudah macam tomat deh ..."
"Bang Tomat di Turin ! Jangan dipanggil !" balas Nadya membuat Omar tertawa kecil.
"Nad... Nad... Entah bagaimana besok rumah tangga kita..." senyum Omar.
"Ribut unfaedah tiap hari !"
"Insyaallah kita selalu seperti ini ya Nad..."
"Aamiin. Aku berkaca dari mommy dan Daddy yang selalu berusaha menyelesaikan semua masalah dengan komunikasi yang baik. Mereka berdebat, iya. Tapi juga sama-sama cari solusinya. Prinsip Mommy dan Daddy, malam itu harus sudah selesai jadi pas tidur, sudah bisa saling berpelukan lagi. Memang tidak mudah, tapi aku melihat mereka berdua bisa melaluinya..."
Omar menatap gadisnya yang sudah tidak sesenggukan. "Apakah kamu akan mendidik anak kita nanti seperti bagaimana Tante Rahajeng dan keluarga besarmu ?"
__ADS_1
"Omar sayang, aku akan mendidik anak kita seperti aku dididik mommy termasuk kalau anak kita nakal, akan aku ancam bakalan aku masukan ke dalam perut lagi !" jawab Nadya serius.
"Astaghfirullah ! That's sadis !" Omar terkejut mendengar ucapan gadisnya.
"Well, itu biasa di keluarga kami karena hak prerogatif ibu. Jadi wajar kan Omar?"
Omar hanya mencium pucuk kepala Nadya. "Ya ampun gadisku... Gadisku..."
***
Rahajeng tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya melihat wajah Omar yang sedikit memar dengan perban di hidung mancungnya. Keempatnya sedang menikmati acara makan siang di meja makan.
"Enak Omar kena jotos?" goda Travis yang tersenyum melihat calon menantunya tampak konyol dengan perban dan plester putih di hidung Omar.
"Sudah biasa Oom" jawab Omar kalem sedangkan Nadya hanya mengacuhkan ucapan tunangannya.
"Nad, jangan diulangi lagi ya. Lama-lama hidung Omar bakalan hilang macam Sphinx! Kamu sih selalu manggil Omar manusia Sphinx... Ingat, ucapan adalah doa. So, diganti ya panggilan nya" nasehat Rahajeng ke putrinya yang bar - bar.
"Hah ? Iya kah? Waduh, harus diimplan dong kalau macam Sphinx... Tapi mommy, aku yakin hidung Omar nggak bakalan jadi macam Sphinx karena tidak terbuat dari pasir..." sahut Nadya cuek membuat Omar menoleh ke arah gadisnya.
Duh nih anak malah minta dicium gara-gara asal njeplak ! Omar merasa gemas dengan Nadya yang makin kemari makin Membagongkan.
Nadya menatap Omar. "What? Benar kan hidung kamu tidak terbuat dari pasir."
Travis dan Rahajeng menatap pasangan di hadapannya dengan perasaan sebal. "Ampun deh kamu itu Nadya !"
"What?" Nadya menoleh ke Travis dan Rahajeng dengan wajah polos.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1