Love And Justice

Love And Justice
Dipisah


__ADS_3

Hongkong Markas Triad Chen


Travis dan Nelson tampak geram saat mendengar Jayde dan Omar terluka. Mereka tahu pasti Nadya cemas ke Omar apalagi mereka dimasukkan ke dalam penjara yang pasti pelayanan kesehatannya tidak sebagus diluar.


"Tapi Oom Travis, Omar sempat ditangani oleh Ken jadi aku rasa akan baik-baik saja." Sky Chen berusaha menenangkan ayah dan anak itu.


"Kita ke hotel saja. Kalila, Alexander dan Jayde sudah berada di Ritz-Carlton Hongkong bersama dengan Luca dan Hoshi" ucap Abiyasa.


***


Penjara Federal Hongkong Ruang Interogasi


Nadya menatap dingin ke keempat penyidik yang sedang memandang nya serius. Gadis itu duduk sambil bersedekap tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.


"Miss Blair. Anda kan pengacara. Seharusnya anda tidak ikut dalam peristiwa ini" ucap salah seorang penyidik.


"So?" balas Nadya judes.


"So, sebagai orang yang paham hukum, kenapa anda ..."


"I want my lawyer!" jawab Nadya tegas.


"Pemerintah Hongkong akan..."


"No. I want a lawyer, Travis Blair dan Nelson Blair!"


"Tapi mereka ayah dan kakak anda."


"Apakah suatu masalah? Mereka pengacara berlisensi internasional." Mata hijau kecoklatan Nadya menatap tajam.


"Pemerintah Hongkong akan menyediakan pengacara untuk anda..."


"Saya tidak percaya dengan pemerintah anda, officer. Karena keluarga saya dimanfaatkan oleh kalian! So, I want my lawyer. End of discussion!" Nadya pun kembali tutup mulut.


Keempat penyidik itu tampak kesal dengan putri keluarga Blair yang tampak seperti putri es dengan tatapan dinginnya.


Akhirnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika tahanan sudah meminta pengacara karena memang hak mereka dan mereka membawa Nadya kembali ke blok sel khusus para keluarga Pratomo ditahan. Nadya kembali ke sel bersama dengan Katrin Jaeger dan Chisato Kuchiki.


Tak lama giliran Omar Zidane yang dibawa penyidik ke ruang interogasi dan pria itu pun melewati sel Nadya. Omar menoleh ke arah Nadya yang menatapnya cemas dan hanya mengedipkan sebelah matanya pertanda semua akan baik-baik saja. Nadya memegang jeruji selnya untuk melihat kepergian pria berdarah Mesir itu.


Wajah cantiknya tampak gusar dan cemas mengingat Omar adalah agen FBI aktif yang kemungkinan besar sistem interogasinya lebih brutal dibandingkan dengan dirinya.


"Daijoubu ( tenang saja ) Nadya" ucap Luke yang selnya berhadapan dengan sel adiknya.


"Tapi bang..." Nadya masih menatap pintu blok sel yang sudah tertutup.

__ADS_1


"Mereka tidak akan main tangan ke Omar karena bisa semakin memperkeruh hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Apalagi Omar Zidane dan Pedro Pascal menyelediki kematian para warga negara nya yang terjadi di Hongkong dengan kondisi sama dengan Shota" ucap Luke berusaha menenangkan Nadya.


"Kapan Daddy dan mas Nelson datang? Aku sudah gemas ingin menghajar si Miao Miao itu!" umpat Nadya kesal membuat para saudara nya tertawa.


"Miu Chiao Wei Nad!" koreksi Ken dari sel sebelah.


"Ah enak Miao Miao!" eyel Nadya.


***


"I want a lawyer ( saya mau pengacara ). Hubungi Isoble de Garza dan dia akan mengirimkan pengacara untuk saya dan Pedro Pascal!" ucap Omar dingin.


Keempat penyidik yang sebelumnya menginterogasi Nadya merasa kesal karena mereka tidak bisa menghajar Omar karena negara dan law enforcement mereka saat ini menjadi sorotan dunia terutama empat negara yang agennya terlibat. Bukan tidak mungkin Navy Seals Amerika, Kampfschwimmer Jerman, Kopassus Indonesia dan Shayetet 13 Israel bisa datang kemari untuk membebaskan semua agen.


Begitu juga yang terjadi saat mereka menginterogasi Pedro Pascal. "Hubungi Isobel de Garza!".


Dan keempat penyidik itu pun tidak mendapatkan informasi apapun karena semua orang bilang "Saya mau pengacara!"


***


Penjara Federal Hongkong Malam Harinya


Omar Zidane, Gabriel Luna, Sadawira Yustiono dan Damian Blair mendengar suara ribut-ribut saat mereka terlelap. Dan terdengar Luke dan Pedro memprotes begitu juga Bayu dan Radeva yang mana sel mereka berhadapan dengan sel Nadya.


"Biarkan Nadya, Chisato dan Katrin disana!" timpal Luke.


"Kami akan membawa mereka ke blok wanita! Kalian jangan berisik!" bentak sipir penjara sambil memukul jeruji sel dengan tongkat polisi membuat para kakak Nadya menatap tajam.


"Nadya mau dibawa kemana Luke?" teriak Omar yang mendengar gadisnya dibawa pergi.


"Katanya ke blok wanita" balas Luke.


"Hei! Biarkan mereka disini!" teriak Omar membuat sipir penjara itu mendatangi sel Omar dan memukul jeruji besi hingga nyaris mengenai jari agen FBI itu.


Sadawira langsung maju dan mencengkram kerah baju sipir itu hingga wajahnya menempel jeruji besi dan menatapnya tajam. "Kamu hanya berani karena kami di sel! Jika kamu dan aku satu lawan satu, habis kau! Berani itu lawan para koruptor! Bukan kami!"


"Wira, sudah. Apa kamu tidak lihat dia kehabisan nafas?" bujuk Damian yang sudah tidak heran dengan sikap psycho adiknya.


Sadawira mendorong sipir itu hingga terjatuh dan wajah pria itu tampak pucat membiru karena sempat kesulitan bernafas. "Awas kau!"


"Buka sel ini! Aku akan hadapi kamu dengan tangan kosong!" balas Sadawira dingin.



Vampir satu ini Yaaaaa

__ADS_1


"Wir, sudah!" Damian merangkul adiknya.


"Jari-jari kamu tidak kena kan Omar?" tanya Gabriel.


"Nggak, Alhamdulillah." Omar menatap dingin ke arah sipir yang berdiri dan meninggalkan sel mereka. "Kalau terjadi sesuatu dengan Nadya, aku sendiri yang akan menghabisi nya!"


Damian menepuk jidatnya. "Welcome ke kebucinan yang haqiqi!"


***


Blok Sel Wanita Penjara Federal Hongkong


Nadya, Chisato dan Katrin pun pindah ke sel untuk mereka bertiga tempati. Sebenarnya ketiga wanita itu lebih nyaman jika berdekatan dengan para pria disana karena tahu bahwa mereka berada dengan orang-orang yang mereka kenal.


"Apakah mereka akan menghajar kita disini?" gumam Chisato sambil meletakkan kardus berisikan baju-bajunya.


"Entah. Tapi jika memang iya, kita harus sudah siap. Karena mereka sudah merasa kesal dengan sikap kita yang tidak ada yang mau berbicara soal penyerangan ke markas Wong" ucap Katrin. "Kalian bisa bela diri kan?"


"Aku bisa Kendo, judo dan sedikit taekwondo" jawab Chisato.


"Aku bisa taekwondo dan Kendo tapi akhir-akhir ini sedang mempelajari anggar" jawab Nadya.


"Apakah kalian mempelajari krav maga?" tanya Katrin.


"Belum terlalu bisa. Apakah kamu bisa Katrin?" tanya Nadya.


"Bisa. Kalian mau belajar? Daripada kita bengong seperti tidak berguna?" senyum Katrin Jaeger.


"Hahahaha... dasar orang Jerman! Tidak mau wasting time" gelak Nadya.


"Itulah kenapa bangsa Jerman dan Jepang bisa maju. Time is important!" cengir Chisato.


"Oke. Kita istirahat dulu karena sudah larut. Besok kita mulai latihannya. Bagaimana?" Katrin menatap dua gadis di hadapannya.


"Deal!"


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2