Love And Justice

Love And Justice
Jalani Saja


__ADS_3

McDonald's Times Square New York


Omar dan Nadya sudah berada di McDonald's dekat dengan Times Square New York. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan Hoodie dan celana jeans biru sedangkan Omar hanya memakai sweater dan jeans hitam.


Keduanya sedang mengantri dengan posisi Omar berdiri di belakang Nadya yang tampak melindungi gadis itu.


"Kamu mau pesan apa Nad?" tanya Omar sambil melihat menu di layar tempat kasir.


"Big Mac!" jawab Nadya yakin.


Omar memperhatikan bentuk badan Nadya yang termasuk sintal. Sintal tapi terlihat sering berolahraga.


"Apa kamu yakin mau Big Mac? Nggak takut gendut?"


Nadya mendongak ke arah Omar. "Apa kamu tidak lihat di gym tadi ada banyak alat olahraga?! Lagipula aku kan tidak setiap hari makan junk food!"


"Oke, oke Nadya. Big Mac and Cola?"


"Yup!" jawab Nadya serius.


Omar memesankan makanan Nadya dan dirinya. Setelahnya keduanya duduk di meja pojok dan Omar melihat bagaimana gadis itu dengan cueknya menekan burger itu dengan kepalan tangannya hingga sedikit gepeng lalu memakannya dengan membuka mulutnya lebar-lebar.


Pria dengan brewok itu hanya tersenyum geli melihat gadis cantik di hadapannya, makan tanpa manner yang propriate.


"Kenapa OZ?" tanya Nadya bingung.


"Kamu itu ... Cantik tapi makannya brutal."


"Dengar, mana ada makan burger pakai pisau dan garpu ala fine dining? Makan burger itu lebih enak pakai tangan, buka mulut lebar - lebar dan hap!" Nadya menatap Omar serius.


"Iya deh tapi...." Omar menyentuh sudut bibir Nadya dengan jempolnya. "Nggak sampai belepotan begini, Nadya..." ucapnya sambil mengelap saus burger.


Nadya sedikit terkejut dan menatap Omar tanpa berkedip. "Sudah bersih?"


"Done. Anak cewek kok jorok sih" goda Omar.


"Iya, aku tuh gadha cantik-cantiknya. Bangun siang, masak sebisanya, makan berantakan, tukang ngeyel... Apa lagi?"


"Cantik, pintar, menyenangkan, menggemaskan..." gumam Omar sambil memakan kentang gorengnya. "It's so balance Nadya. Tidak ada manusia sempurna, karena pasti ada minusnya. Yang sempurna hanyalah Allah semata..."


"Apa kamu bilang? Menggemaskan? Heeeiii..."


"Lho memang iya. Kamu itu kalau lagi keluar gemesinnya, bikin gemes tahu nggak."


Nadya mendekatkan wajahnya ke Omar. "Masa muka seperti ini menggemaskan? Harusnya keponakan aku yang menggemaskan."


"Lho kamu itu asli menggemaskan..." Omar tersenyum.


"Dengar turunannya Ramesses II..."


"Tuh! Gemesin deh!" kekeh Omar. "Mana ada cewek dengan cueknya bilang kalau aku keturunan Ramesses II?"

__ADS_1


"Apa perlu aku bilang Imhotep?" seringai Nadya.


"Dan aku akan bertemu Scorpion King?"


"Sebenarnya kita bahas apa sih OZ?"


"Bahas film the mummy nya Brendan Fraser?"


Nadya terbahak lalu mencium ujung hidung mancung Omar Zidane. "Kamu lucu."


Omar yang tidak menduga mendapatkan ciuman di hidung nya, hanya tersenyum kikuk. "Nadya, jadi aku dimaafkan?"


"Dimaafkan karena sudah aku hajar dan traktir aku McDonald's" senyum Nadya. "So, bagaimana harimu?" Gadis itu lalu duduk dengan posisi kembali semula.


Omar pun menceritakan tentang apa yang dia hadapi seharian tadi hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Omar minta agar Nadya tidak membawa mobilnya karena dia yang akan mengantarkan pulang.


"Besok aku ke kantor nebeng mas Nelson dong" sungut Nadya usai makan burger. Keduanya berada di dalam mobil Omar.


"Jangan kesiangan lagi Nadya, atau nanti dikasih garam oleh mommymu."


"Iiissshh! Kamu kok malah ingetin sih?" Nadya memajukan bibirnya.


"Itu bibir... "


"Kenapa dengan bibir aku?" tanya Nadya sambil menarik sun visor mobil Omar untuk melihat ada apa di bibirnya.


"Nad, jelas nggak kelihatan dong..." kekeh Omar sambil menstater mobilnya.


"Bibir aku ada apanya OZ?" tanya Nadya bingung.


Setelahnya Omar menempelkan dahinya ke dahi Nadya. "Maaf... Nadya... Aku... "


"Omar, apakah... kamu sudah tidak memikirkan mbak Leia?" tanya Nadya dengan nada bergetar. Jujur sebadung-badungnya dia, Nadya tidak pernah mengumbar bibirnya untuk mencium sembarang orang kecuali keluarga nya dan itu pun hanya pipi. Tapi Omar dua kali mencuri ciuman di bibirnya.


"Leia? Aku bahkan sudah tidak memikirkan Leia saat bersamamu..." jawab Omar Zidane jujur.


Nadya menatap Omar dengan pandangan penuh selidik. "Apakah kamu...."


"Aku suka padamu Nadya tapi... aku tidak mau kita terlalu terburu buru... Apakah kamu..."


"Nope. Aku suka hubungan ini. Justru dengan begini, perasaan kita diuji lebih dalam kan? Aku juga harus memantapkan hatiku juga... Karena kita banyak perbedaan dan itu utama..." Nadya memegang wajah Omar. "Tapi kamu, harus bilang pada kedua orangtuaku dan mas Nelson, kalau kita memiliki hubungan spesial pakai sunny side down..."


"Nadya, kita bukan breakfast..." kekeh Omar. "Kenapa sih semua harus dihubungkan dengan makanan?"


"Karena tanpa makanan kita bisa mati" jawab Nadya kalem. "Ayo antarkan aku pulang!"


Omar memegang tangan Nadya dan mencium sisi dalam bagian nadinya membuat gadis itu menahan nafas. "Kita jalani saja pelan-pelan..."


"I...iya... "


Omar lalu kembali ke posisi bagian pengemudi dan mulai menjalankan mobilnya. Nadya sendiri hanya bisa mengelus pelan dadanya yang berdebar kencang. Kenapa dicium di pergelangan dalam itu jauh lebih dahsyat efeknya daripada dicium punggung tangan?

__ADS_1


***


Apartemen Keluarga Blair Central Park New York


Nadya membuka pintu apartemennya dan terkejut melihat ayahnya dan Nelson masih bekerja dengan berkas-berkas disana.


"Baru pulang?" sapa Rahajeng sambil membawakan dua cangkir kopi seperti kebiasaannya kalau suaminya sibuk dengan pekerjaannya.


"Hai mom" sapa Nadya sambil mencium pipi ibunya.


"Hai Omar. Masuk" ajak Rahajeng.


"Thank you Mrs Blair... Eh Tante Rahajeng" jawab Omar kikuk.


"Lho kamu pulang sama Omar?" tanya Travis. "Kok bisa?"


"Ketemu di gym. Mobilku ditinggal disana terus aku ditraktir McDonald's dan diantar Omar kemari" jawab Nadya.


"Kopi OZ?" tawar Nelson. "Silahkan duduk."


"No thank you. Aku sudah kebanyakan cafein" tolak Omar sopan sambil duduk di sofa empuk.


"Aku ambilkan botol air mineral saja." Nadya pun menuju ke dapur untuk mengambil minuman.


"Omar, ada apa?" tanya Travis yang melihat agen FBI itu tampak nervous.


"Mr and Mrs Blair, Nelson... Saya hendak mengatakan sesuatu..."


Ketiga anggota keluarga Blair menatap Omar Zidane yang memilin tangannya.


"Kamu punya hubungan dengan Nadya?" tebak Rahajeng.


"Eh?"


"Aku sih no problem" sahut Nelson.


"Aku juga. So, Omar. Santai saja... Lagipula sudah waktunya ada yang bisa mengatur bar-barnya putriku. Siapa tahu malah lebih rajin bangun pagi?" kekeh Travis santai. "Kami sudah cukup lelah dengan drama guyur air dan kasih garam di bibir."


Omar melongo lalu tertawa kecil. "Oh my God. Saya sungguh tidak menduga kalian semua akan terbuka seperti ini."


"Setidaknya kamu berani mau jujur datang kemari dan bertemu dengan kami semua. We are really respect that" senyum Rahajeng.


"Terima kasih. Saya akan menjaga Nadya."


"Good. Now, apa yang kamu ketahui dari senator Robert?" tanya Travis.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2