Love And Justice

Love And Justice
Kasus Kesiangan


__ADS_3

Apartemen Keluarga Blair Di New York


Nadya menikmati masa-masa kencan satu arah dengan kasurnya apalagi tubuhnya terasa lelah luar biasa hingga ayahnya memberikan libur selama seminggu untuk anak gadisnya beristirahat. Apalagi ini pengalaman yang cukup traumatis karena dipenjara cukup lama. Ditambah tiga Minggu lagi mereka akan ke Dubai untuk menghadiri pernikahan Garvita dan Gabriel.


Rahajeng membiarkan putrinya berbuat semaunya selama masih masa liburan bahkan ibu cantik itu tidak mempermasalahkan anak gadisnya menjadi kodok Bangkong karena bangun siang.


Pagi ini adalah hari ketiga Nadya berada di apartemen Keluarganya dan dia baru keluar kamar pukul setengah sembilan membuat Rahajeng berdecak. "Ande ande lumut sudah bangun?" goda Rahajeng.


"Sudah mom..." gumam Nadya sambil setengah terpejam dan rambut acak-acakan.


"Mandi gih! Tuh bekas iler! Jorok ih! Kalau Omar tahu kamu kemproh ( jorok ) nya macam begini, pasti sudah ilfill deh!" omel Rahajeng khas emak-emak.


Nadya mengacuhkan Omelan ibunya lalu duduk di sofa dan tak lama dirinya merebahkan tubuhnya hingga tertidur lagi. Untung gadis itu memakai kaos dan celana pendek tapi tanpa br@ jadi masih sopan. Dirinya tidak memperhatikan lingkungannya dan tetap tidur.


Nadya tidak memperhatikan bahwa di meja makan, terdapat Travis dan Omar Zidane sedang membahas kasus Hongkong terutama pengembalian uang milik Triad Wong ke semua orang yang terdaftar meminjam dana rentenir Wong di komputer mereka.


"Astagaaaa! Nadya!" hardik Rahajeng. "Apa dia tidak melihat ada kamu Omar?"


"Tampaknya tidak Tante Rahajeng" senyum Omar yang diberikan cuti oleh Isobel de Garza apalagi pria itu belum mengambil cuti besarnya yang jika diakumulasikan sejak bergabung dengan FBI sekitar enam bulan jatah cuti yang bisa diambilnya tapi Omar hanya mengambil seminggu. Meskipun cuti, tetap saja Omar bekerja meskipun tidak di kantornya.


"Biarkan saja Omar. Nadya benar - benar harus mengembalikan semua moodnya" senyum Travis. "Kita bekerja lagi?"


Travis memang ingin bekerja di rumah karena seperti halnya Nelson dan Nadya, peristiwa Hongkong sangat menguras tenaga dan emosi mereka semua.


Travis dan Omar sibuk bekerja di meja makan lengkap dengan MacBook dan berbagai macam berkas sedangkan Rahajeng berpamitan ke suaminya hendak bertemu dengan Astuti McCloud, Georgina Bianchi dan Aruna Blair untuk makan siang bersama.


Kedua pria itu langsung memesan pizza karena meskipun sudah dibuatkan makan siang tapi mereka butuh camilan menambah energi juga.


"Astagaaa! Anak gadisku masih molor?" Travis menoleh ke arah sofa dimana Nadya masih lelap tidurnya.


"Apa perlu saya bangunkan?" tawar Omar.


"Biarin saja, paling dia bangun pas gelundung..."


BRUGH!

__ADS_1


"Aduuuuhhhh!!!!" Nadya memegang hidungnya akibat dia gelundung dengan posisi muka menatap karpet tebal. "Siapa sih geser ka..." Gadis yang terduduk setelah gelundung menatap ke arah meja makan dimana terdapat ayahnya dan Omar Zidane berada disana sedang menatap dirinya.


"Hai Nadya..." senyum Omar.


"AAAARRRGGHHHH! Kamu ngapain disini!!!" teriak Nadya heboh dan bergegas berdiri lalu berlari masuk kamarnya dengan membanting pintu.


"Astaghfirullah..." gumam Omar dengan wajah geli melihat ekspresi gadisnya.


"Kamu masih mau sama dengan putriku? Kacau lho dia. Malasnya minta ampun kalau liburan" kekeh Travis dengan nada mengejek.


"Setidaknya Nadya masih kompeten kalau bekerja, Oom."


Travis terbahak. "Well, kita harus tahu plus minusnya seseorang bukan?"


"Touché" jawab Omar.


***


Di dalam kamar Nadya


"HAAAAAHHH? Jam sebelas siang? Kok mommy nggak bangunin sih? AAAARRRGGHHHH! Mana aku nggak pakai br@ ini! Addduuuhhh, si OZ lihat nggak ya!" Nadya ngedumel sambil mondar-mandir di kamarnya. "Ah que sera sera deh! Yang penting aku mandi dulu... Tunggu, berarti Omar sudah disini dari tadi dan melihat aku keluar kamar dengan muka ileran?"


***


Sementara itu Omar yang hendak mengetuk kamar Nadya, mendengar gadis itu ngomel-ngomel nggak jelas, merasa geli. Baginya wajah bangun tidur Nadya, sangatlah natural lengkap dengan ornamen di sudut bibirnya dan bagi Omar, itu sesuatu yang membuatnya semakin gemas dengan Nadya.


Omar mengetuk pintu kamar Nadya. "Nad, diajak makan siang oleh daddymu..."


Nadya membuka pintu kamarnya sedikit. "Aku mandi dulu, Omar." Dengan cepat gadis itu menutup pintu kamarnya nyaris menatap hidung mancung Omar.


Astaghfirullah... Omar tersenyum lalu meninggalkan kamar Nadya.


"Mana Nadya?" tanya Travis.


"Katanya mau mandi dulu" senyum Omar.

__ADS_1


"Kita bereskan dulu ini Omar. Biar makan siangnya enak. Letakkan saja di meja ruang tengah. Nanti kita bekerja lagi usai makan siang" perintah Travis.


Omar meletakkan semua berkas plus MacBook dan iPad mereka. Travis sendiri lalu menata meja dan mulai menyiapkan semua makanan yang sudah disiapkan Rahajeng. Omar pun membantu Travis dan pria berdarah Mesir itu tampak surprise melihat pengacara terkenal itu dengan santainya melakukan pekerjaan rumah.


"Kenapa Omar? Kaget aku bisa menata meja?" senyum Travis.


"Sejujurnya iya... Anda kan seorang pengacara terkenal, Oom."


"Saya dan Rahajeng sepakat jika kami tinggal di New York, kami lakukan sendiri kecuali saat kami sibuk baru memanggil layanan kebersihan rumah. Kamu lihat sendiri apartemen kami memang luas karena semi penthouse tapi tetap bersih karena kami berempat saling bekerja sama untuk menjaganya. Nelson dan Nadya sudah terbiasa pekerjaan rumah dari kecil, begitu juga aku dulu dididik dengan cara yang sama. Kami lahir dari keluarga Sultan tapi ibu


- ibu kami tidak memandang itu. Kamu harus bisa pekerjaan rumah jadi saat kamu tinggal di asrama atau hidup sendirian saat kuliah, kamu tidak kaget, tidak perduli cowok maupun cewek. Jadi kalau hanya menata meja, bukan hal yang wow. Aku bahkan bisa memasak." Travis tersenyum.


Omar mengangguk dan salut dengan pola asuh yang diterapkan oleh keluarga besar klan Pratomo. Diam-diam Omar mencatat dalam hati jika suatu saat dirinya memiliki anak bersama dengan Nadya, akan mendidik hal yang sama karena itu menjadi kebaikannya di masa depan selain manner, etika dan akhlak.


Suara pintu kamar Nadya terbuka dan gadis itu sudah tampak segar dan harum sabun serta parfum lembut yang dihapal Omar, tercium di hidung mancung pria itu.


"Kamu nggak kerja?" tanya Nadya ke Omar.


"Dikasih cuti oleh Isobel dua hari tapi aku sekalian tambah karena jatah cutiku masih banyak. Jadi seminggu ini aku libur" jawab Omar.


"Kok kemari?" Nadya menatap Omar dan Travis bergantian.


"Tuuuuhh..." Travis menunjuk ke arah meja di ruang tengah. "Daddy dan Omar sedang membantu Jayde dan semua Law Enforcement untuk memetakan Keluarga korban Triad Wong. Kan uangnya sudah diambil Jayde jadi sekarang hendak dikembalikan."


Nadya manggut-manggut. "Apa yang bisa Nadya bantu Dad?"


"Yang penting makan dulu, nanti kita lanjutkan" jawab Travis.


Nadya mengangguk lalu duduk di sebelah Omar.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2