
Apartemen Keluarga Blair Central Park New York
Nadya meletakkan kepalanya diatas meja kopi setelah lelah memeriksa semua data yang diberikan FBI, BND, Mossad dan Jayde dari komputer Triad Wong yang dibongkar di pihak IT FBI.
"Mataku pedeeeeeeeessss!" rengek gadis itu sambil memejamkan matanya.
Omar yang duduk diatas karpet tebal bersebelahan dengan Nadya, hanya tersenyum mendengar keluhan gadis cantik itu.
"Ditetes, Nad" ucap Travis, ayahnya sembari membenarkan kacamata bacanya.
"Haaaaahhh... pengen healing..." gumam Nadya.
"Kamu sudah healing glundang glundung di kasur apa masih kurang?" tegur Travis.
Nadya pun bangun. "Daddy menjatuhkan Marwah aku di depan Omar!"
"Lha kenyataannya begitu! Omar saja yang bucin sama kamu jadi permisiiiiffff terus" balas Tarvis cuek.
"Lha bagus kan Dad! Ada pria yang bucin sama aku nerimo aku yang kadang tidak jelas malasnya ini!" jawab Nadya sambil merangkul lengan Omar dan meletakkan kepalanya di bahu pria itu.
Omar hanya bisa terdiam dengan kelakuan gadisnya yang cuek saja main rangkul di depan ayahnya. Untung tidak ada senjata, jadi aku selamat dari amukan Oom Travis.
"Dah ah, aku mau jalan-jalan sebentar. Pusing mataku!" Nadya pun berdiri dan masuk ke kamarnya.
"Mau kemana kamu Nadya?" tanya Travis sambil menggelengkan kepalanya. Nadya kalau di rumah memang berubah menjadi khas putri bontot yang seenaknya sendiri dan manja.
"Starbucks! Daddy mau? OZ?" jawab Nadya yang keluar dengan jaket dan tas selempang nya.
"Mau lah. Daddy yang biasanya ya" jawab Travis. Tadi Rahajeng bilang kalau pulang agak malam karena bersama ipar-iparnya hendak lanjut menonton Broadway jadi pria itu melanjutkan kerja bersama Omar dan Nadya.
"Asian Dolce latte?" tanya Nadya sambil mengikat rambutnya yang tebal.
"Yup. Kamu apa OZ?"
"Aku temani Nad?" Omar tidak menjawab pesanannya.
"Nggak usah. Lihat, Starbucks nya tinggal nyebrang." Nadya mengedikkan dagunya karena memang tidak salah kalau kedai kopi itu hanya tinggal menyebrang dari gedung apartemen Keluarga Blair.
"Beneran? Nggak perlu aku temani?" Omar menatap gadis cantik itu.
"Nggak usah." Nadya mengecup dahi Omar. "Kamu caffè mocha kan?"
"Eeeerrrrr iya..." jawab Omar gugup karena Nadya berani mencium dirinya di depan ayahnya! Meskipun hanya dahi!
"Oke. Dad, Omar, pergi duluuu!" Nadya melambaikan tangannya dan berjalan menuju pintu. Tak lama gadis itu pun keluar dari apartemen meninggalkan Omar dan Travis berduaan.
"Enak Omar? Dicium putriku?" tanya Travis dengan tatapan tajam.
Omar hanya menelan salivanya. Lebih baik aku mengejar penjahat daripada harus berhadapan dengan Travis Blair. Omar merutuk perbuatan nekad Nadya. Duh Nad, kok kamu nekad main cium saja sih!
__ADS_1
***
Area Dekat Starbucks Central Park New York
Nadya menyeberang jalan raya menuju area tempat dimana cafe, bristo dan coffee shop berjejeran disana. Gedung apartemen tempat tinggal keluarga Blair selama di New York, memang sangat strategis karena dekat dengan area tempat makan.
Keluarga Blair memiliki banyak aset di berbagai negara karena sebagai pengacara internasional sejak jaman Stephen Blair, mereka terbiasa keliling dunia dan di beberapa ibukota negara, mereka memliki apartemen yang jika kosong, mereka sewakan.
Keluarga Blair hampir mengurus semua legalitas hukum perusahaan milik klan Pratomo. Maka tak heran untuk bisa bergabung ke biro firmanya, hanya orang-orang yang terpilih diluar keluarga Blair dan yang mampu menyimpan rahasia kliennya. Tak heran jika biro hukum mereka sangat laris karena terjamin dengan kerahasiaan dan profesionalitas nya.
Nadya yang sudah terbiasa melihat bagaimana almarhum Opanya, James Blair, dan ayahnya, tidak heran dengan berbagai hal yang berkaitan dengan hukum. Nadya juga terbiasa mendengar pembicaraan ayah dan ibunya di meja makan tentang berbagai istilah termasuk harus menjaga semua anggota keluarganya yang berhubungan dengan hukum. Sejak itu Nelson dan Nadya bertekad akan menjadi pengacara bagi keluarganya karena kalau bukan mereka yang akan menjadi tameng para sepupunya, siapa lagi. Ditambah Nadya adalah gadis yang suka dengan gegeran dan huru hara, digabung dengan para sepupunya yang selalu punya motto no rusuh no life... lengkaplah dunia persilatan.
Nadya pun masuk ke dalam Starbucks dan mengantri disana. Gadis itu memasang airpods nya sembari mendengarkan lagu milik Spacehog berjudul In The Meantime.
We love the all, the all of you
Where lands are green and skies are blue
When all in all, we're just like you
We love the all of you
Nadya berdendang pelan sampai ada seseorang menepuk bahunya. Gadis itu menoleh dan tampak seorang pria tampan berdiri di sebelahnya sembari tersenyum.
"Hai Nadya" sapanya.
"Aku ada urusan dengan Bayu sebentar terus ada bisnis di sekitar sini dan sekarang aku butuh kopi. Kamu sendiri?" jawab Shane O'Grady yang merupakan keponakan Abiyasa O'Grady dari pihak ayahnya Rhett O'Grady.
"Ini beli kopi titipan Daddy dan Omar" senyum Nadya.
"Omar?" Shane O'Grady menaikkan sebelah alisnya.
"Omar Zidane. Agen FBI itu."
"Aaahhh pria tinggi itu. Masih kamu bersamanya?" goda Shane.
"Memang kenapa Shane?" tanya Nadya polos.
"Well, kalau kalian putus, aku ada kans mendekati kamu" jawab Shane dengan wajah serius.
Nadya memukul bahu Shane. "Doamu jelek!"
"Berharap kan boleh Nadya." Shane pun menjajari Nadya saat berada di meja pemesanan.
Nadya mengacuhkan ucapan Shane dan mulai memesan minuman milik Travis, Omar dan dirinya. "Kamu sekalian nggak?"
"Oh sekalian. Aku pesan frappuccino dengan tambahan mix caramel dan coklat diatas cream nya" pinta Shane.
Setelahnya Shane mengeluarkan kartu kredit nya untuk membayar semua pesanan Nadya.
__ADS_1
"Lho? Kok jadi kamu yang bayar?" tanya Nadya.
"Sekali-kali. Oh kamu habis ini kemana?" tanya Shane sambil menunggu pesanan mereka jadi.
"Pulang" jawab Nadya.
"Dimana apartemen kamu?"
"Apartemen keluarga Blair. Aku punya apartemen tapi tidak disini. Aku masih tinggal bersama kedua orangtuaku."
"Oke. Dimana apartemen Keluarga Blair? Apakah aku boleh ikut ke rumahmu? Apalagi aku belum mengucapkan terima kasih atas bantuan Oom Travis atas kasus pabrik aku." Shane menatap Nadya penuh harap.
Nadya tampak bimbang tapi kan sebentar lagi Nelson pulang dari kantor jadi kalau ada apa-apa sama Omar, ada yang menghandle.
"Okelah, aku ajak kamu ke Apartemen Blair."
Shane tersenyum dan keduanya pun berjalan sambil membawa kopi pesanan mereka. Sepuluh menit kemudian Nadya dan Shane pun sampai di apartemen. Kehadiran pria Irlandia itu membuat Omar tampak tidak suka sedangkan Travis tersenyum melihat salah satu kliennya.
"Shane! Apa kabar?" sapa Travis ramah.
"Kabar baik Oom Travis. Halo Omar" senyum Shane.
"Halo Shane" balas Omar dingin.
Nadya langsung berdiri di sebelah Omar seolah menunjukkan bahwa dia memang sudah bersama pria jangkung itu. Melihat itu, Shane hanya tersenyum kecut.
***
Shane O'Grady
Nadya Blair
Omar Zidane
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1