
Apartemen Keluarga Blair Di Central Park New York
"Senator Robert? Bukannya putranya sedang menghadapi kasus penculikan, pemerk0aa@n dan pembunuh... Anda yang menjadi pengacaranya?" Omar menatap Travis dan Nelson bergantian.
"Bukan aku, tapi Nelson. Dan kami sedang mempelajarinya" jawab Travis.
"Minum mu Omar" potong Nadya sambil memberikan botol air mineral ke agen FBI itu.
"Thanks Nadya" senyum Omar dan memberikan ruang ke gadis itu untuk duduk di sebelahnya.
"Daddy, bukankah itu kasus yang berat?" tanya Nadya sembari membuka botol air mineralnya.
"Aku disana Nad, saat Detektif Stabler meminta Mari meminta surat penggeledahan dari hakim Russell" sahut Nelson. "Dan aku harus membawa nama Daddy untuk bisa mendapatkan surat itu karena Mari mengganggu acara bermain poker hakim Russell."
"Kamu bilang apa ke Russell?" Travis menatap putranya.
"Kalian akan pergi golf dan Daddy yang membayar."
Travis menyipitkan mata birunya dengan perasaan sebal. "Kamu tuh!"
"Tunggu Nelson, apakah kamu berada disana saat detektif Stabler membuka tempat yang digeledah?" tanya Omar.
"Yup, aku kesana."
"Apakah kamu tahu apa isinya?" tanya Omar.
"Aku hanya melihat bahwa disana terdapat agenda dan beberapa merchandise yang aku tidak tahu milik siapa." Nelson menoleh ke Travis. "Apakah akan menjadi bias?"
"Selama kamu tidak menyentuh dan melihat detail, Daddy rasa tidak menjadi bias karena bukti-bukti itu pun sudah dilaporkan dan ditunjukkan sebelum sidang kan?" jawab Travis.
"Aku harap anak senator itu dihukum maksimal, Son. Kasus itu menjadi pembicaraan di kantor soalnya" ucap Omar.
"Aku tidak habis pikir! For God's sake, anak itu belum ada 20 tahun! Aku memikirkan bagaimana di saat-saat terakhirnya harus melihat orang yang sudah menyiksa dan melecehkannya... " Nelson mengacak-acak rambutnya kesal.
"Kamu bisa membuatnya dihukum kan Son?" tanya Omar.
"Bisa. Aku sudah gemas !" jawab Nelson.
Tiba-tiba Omar terkejut ketika sebuah kepala menempel ke bahunya dan tampak Nadya yang terlelap bersandar dengan nyaman disana.
"Ya ampun... Nad" kekeh Omar.
"Pelan - pelan Omar." Nelson pun berdiri dan mengambil alih kepala adiknya. "Biar aku gendong ke kamarnya." Nelson lalu menggendong adiknya yang tampaknya tidak terganggu. "Dasar kebo!"
Adikmu dibilang kebo?
__ADS_1
Omar tertawa kecil mendengar umpatan Nelson ke adiknya meskipun dengan nada sayang disana.
"Omar, tolong bukakan pintu kamar Nadya" pinta Rahajeng.
"Baik Tante." Omar pun berdiri dan membantu Nelson membuka pintu kamar gadis itu.
Nelson membawa masuk tubuh Nadya dan meletakkan diatas tempat tidur.
"Biar aku yang melepaskan sepatunya Son" ucap Omar.
"Jangan macam-macam lho..." goda Nelson sambil mengelus sayang pipi Nadya.
"Mana berani aku, Son. Kalian mengerikan!"
Nelson tertawa tertahan karena ingat adiknya sudah tidur kalau tidak, dia sudah terbahak. "Semoga kamu tabah ya di keluarga aku." Nelson menepuk bahu Omar yang masih berdiri di kamar Nadya. "Jangan lama-lama."
Pria bermata hijau itu pun keluar meninggalkan Omar yang duduk di pinggir tempat tidur Nadya untuk melepaskan sepatu yang dikenakannya.
"Nad, dimana - mana itu pangeran nya Cinderella cari sepatu yang pas buka lepasin sepatunya" gumam Omar sambil melepaskan sepatu sneaker gadis itu.
Pria berdarah Mesir itu lalu meletakkan sepatu Nadya di dekat meja riasnya. Omar melihat bagaimana peralatan tempur gadis itu sangat banyak termasuk parfum yang berderet rapi di lemari kaca samping meja rias.
"Pantas kamu selalu wangi, parfumnya saja yang begini..." Omar memperhatikan brand parfum yang memang awet wanginya.
Omar memperhatikan foto-foto yang bertebaran di kamar Nadya. Sebagian besar dia mengenali saudara-saudara gadis itu. Omar tersenyum ketika melihat foto Nadya bersama dengan para sepupunya dari keturunan Edward dan Stephen Blair yang tertulis 'The Blairs'.
Pria itu pun memutuskan untuk keluar karena merasa sudah terlalu lama di kamar Nadya. Omar lalu menghampiri Nadya yang terlelap dengan bibir sedikit terbuka lalu membungkukkan badannya dan mencium kening Nadya.
"Maunya sih bibir tapi bahaya... " senyum Omar. "Have a nice dream, Nad." Pria itu pun keluar dari kamar Nadya dan menutupnya pelan.
***
"Si kebo sudah nyenyak?" tanya Nelson ke Omar yang datang menghampiri keluarga Blair. Rahajeng sudah tidak ada bersama dengan suami dan anaknya.
"Lho Tante Rahajeng kemana?"
"Sudah masuk kamar" jawab Travis.
"Jika begitu, saya juga pamit Oom Travis, Nelson" ucap Omar.
"Oke OZ. Terimakasih sudah mengantarkan Nadya" senyum Travis sambil berdiri dan menyalami Omar Zidane.
"Aku antar sampai ke lift, OZ." Nelson pun berdiri dan berjalan bersama Omar.
"Permisi Oom Travis."
__ADS_1
"Hati - hati OZ" pesan Travis sebelum Omar keluar apartemen.
"I will Sir."
***
Omar dan Nelson berjalan menuju lift. Keduanya tampak saling diam tapi akhirnya Nelson membuka mulutnya.
"Aku senang Nadya bersama kamu, OZ."
Omar menoleh ke Nelson. "Seriously?"
"Yup. Nadya itu memang bar-bar tapi terkadang polos dan sebenarnya dia juga sudah tertarik padamu hanya saja dia masih merasa kamu belum move on dari Mbak Leia. So, apakah kamu masih memikirkan mbak Leia?" Nelson menatap ke Omar dengan sedikit mendongak karena tinggi Nelson 185cm sedangkan Omar Zidane 196cm.
"Honestly? Sejak sering bersama Nadya, aku tidak pernah memikirkan Leia. Lagipula, sudah hampir empat tahun dan adikmu membuat aku melupakan patah hati ku dengan caranya sendiri."
Nelson tersenyum. "Ya itulah Nadya."
"Son, aku mau menanyakan sesuatu."
"Apa itu?" Nelson menatap Omar yang tampak gelisah.
"If... jika aku dan Nadya ditakdirkan bersama, apakah kalian keberatan aku menjadi imam Nadya?"
Nelson tersenyum. "Omar, apakah Nadya sudah pernah menyinggung soal ini?"
"Dia tidak keberatan ikut suaminya nanti asal bisa memberikan bimbingan yang tepat dan menjadi imam yang baik."
"Nah tuh! Itu sinyal dari Nadya jika dia memang serius denganmu Omar. Tapi dia membutuhkan waktu untuk bisa memantapkan hatinya untukmu dan keyakinanmu."
Omar menatap Nelson dengan tatapan tidak percaya. "Kalian tidak apa-apa?"
"Dengar Omar, kami tidak keberatan asalkan kamu bisa membimbingnya dan jadikan makmum mu yang sangat kamu cintai, hargai dan hormati. Keluarga kami, bukannya sombong, sudah kaya dari lahir. Kami tidak silau materi karena yang penting bagi kami adalah personality, inner beauty, akhlak dan ketaatan kamu. Well, kalau akhlak sudah masuk di lingkungan keluarga aku nampaknya minus pakai banget..." kekeh Nelson.
"Memangnya kalian kalau kumpul keluarga, ingat akhlak?" kekeh Omar.
"Jelas tidak!" sahut Nelson sambil tertawa. "Just enjoy your relationship with my sister. Aku tahu kamu orang baik OZ, jangan sampai kepercayaan kami disalahgunakan."
"Insyaallah tidak Son. Tapi jika aku berbuat kesalahan dan membuat Nadya menangis, aku terima jika kalian hajar!" ucap Omar sungguh - sungguh.
"Aku suka gayamu OZ!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️