Love And Justice

Love And Justice
Boros Shampoo


__ADS_3

Rumah Escape milik Edward Blair dan Yuna Pratomo


Omar Zidane terbangun dengan badan penuh remuk redam macam dirinya habis latihan fisik di Quantico. Pria itu melentangkan tubuhnya yang semalam mereka memiih tidur diatas karpet tebal depan perapian. Dilihatnya Nadya tidak ada di sebelahnya, Omar lalu celingukan mencari istrinya.


Tak lama harum kopi tercium di hidung mancungnya membuat Omar tersenyum tahu istrinya sedang sibuk di dapur. Pria itu pun bangun dan menghampiri Nadya yang hanya memakai kaos kebesaran, celana pendek dan kaos kaki. Bagi Omar, semua aset di badan Nadya itu pas depan belakang.


Pria berdarah Mesir itu lalu memeluk tubuh Nadya dari belakang lalu mencium ceruk leher istrinya.


"Lho manusia Sphinx udah bangun? Yuk sarapan terus kita kembali ke Manhattan..." senyum Nadya sambil menikmati ciuman Omar. "Nih cicipi..." Wanita itu memberikan sepotong sandwich berisikan chicken nuggets dengan tar-tar sauce.


"Mmm...enak" gumam Omar. "Kok pulang sih Nad... Masih enak disini. Nggak ada kasus, nggak ada kejar tersangka..."


"Lalu kamu mau nggak kerja ? Kamu kasih makan apa istrimu ini, hah?" Nadya menoleh ke Omar dengan wajah judes. "Apakah anda lupa sudah minta anak orang? Cinta dan $3ks saja tidak cukup ! Aku juga butuh sepatu baru..."


Omar menatap tidak percaya. "Whaaaatttt? Sepatu baru ? Memang sepatumu yang berjibun mau kamu apain ?"


"Lho kebahagiaan seorang istri itu kalau suaminya pengertian membelikan barang yang diinginkannya..."


Omar melepaskan pelukannya dan menatap melas ke Nadya. "Sayang... Tunggu sebentar..." Pria itu mengambil ponselnya dan mengaktifkan wifi di pondok itu lalu memperlihatkan sisa tabungannya di bank. "Aku belum gajian sayang..."


Nadya menatap nominal saldo uang Omar lalu memandang wajah suaminya. "Oh poor Omar... Kapan kamu gajian?" tanya nya cuek membuat suaminya melongo.


"Seriously Nadya ! Kamu itu menikahi pria miskin, hanya seorang agen FBI yang gajinya dibawah biaya konsultasi mu. Gajiku sebulan sama saja kamu terima konsultasi satu jam per orang ... Anggap saja sepuluh orang dalam waktu seminggu... "


Nadya mencium bibir Omar. "Hei, aku cuma menggoda dirimu, Omar sayang. Janganlah berdrama ... Aku sudah tahu soal keuangan kamu dan kita sudah sepakat untuk saling terbuka soal hal sensitif itu. Aku tidak mau kita ribut hanya karena uang padahal kita tahu bisa menghindari masalah finansial."


"Nadya, aku memang bukan orang kaya..."


"Tapi kamu kaya hati, kaya kebaikan dan banyak cinta untukku... " Nadya merangkul leher Omar sambil berjinjit. "Dan sekarang, kamu mandi !"


***


Nadya dan Omar akhirnya menyudahi acara bulan madu di pondok milik keluarga Blair lalu menuju apartemen agen FBI itu. Sesampainya disana, Nadya tampak takjub melihat apartemen itu sudah berubah dengan ada sentuhan bantal sofa bewarna pink.


"Omar Zidane... Bantal pink?" kekeh Nadya.

__ADS_1


"Demi kamu. Biar ada sentuhan wanita sedikit..."


Suara bel apartemen berbunyi dan Omar pun menuju pintu lalu mengintip dari lubang pintu. Pria itu membukanya dan tampak pengawal dari PRC Group mengirimkan empat koper besar dan Nadya langsung sumringah melihatnya.


"Thanks Matt. Kok tahu aku ada disini ?" tanya Nadya ke pengawal itu.


"Mrs Blair yang bilang karena kemungkinan anda datang sekitar jam-jam segini jadi saya segera membawa barang-barang anda yang sudah dipacking sebelumnya" jawab Matt.


"Thank you."


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Matt pun pergi meninggalkan apartemen Omar yang kemudian menutup pintunya.


"Nad, ini isinya apa?" tanya Omar yang bingung dengan banyaknya koper besar milik Nadya.


"Baju rumah, baju pergi, baju kerja, lingerie..." ucap Nadya sambil membuka kopernya dan memperlihatkan lingerie yang sangat menantang. "Aku pakai nanti malam...atau sekarang ?"


Omar hanya menggelengkan kepalanya. "Oh Nadya ... Dibereskan dulu barang-barangnya ! Aku nggak suka rumah berantakan..."


Nadya lalu berdiri dan menatap Omar dengan wajah meshum. "Tapi kamu suka membuat aku berantakan, Omar... Bahkan sampai seprai pun sudah tidak berbentuk lagi" ucapnya dengan nada dalam dan sedikit mende*sah.


"Kayak nya roti sobekmu minta diciumi deh..." goda Nadya dengan wajah dibuat sok seksih membuat nafas Omar berubah menjadi cepat.


"Naaaadddd..." keluh Omar yang selalu lemah jika digoda oleh istrinya yang bertubuh sintal itu.


"Apaan sih? Nadya disini kok dipanggil panggil... Macam manggil apa saja..." Nadya mulai mengelus milik Omar yang sudah mulai berdiri. "Mau sekarang ya?"


"Hah?"


Nadya dengan cueknya melepaskan kaosnya dan meninggalkan br@ berwarna merah maroon lalu berjalan meninggalkan Omar sambil membebaskan d@d@nya dari penutup membuat suaminya bernafas naik turun akibat adrenalin dan n@fsu jadi satu.


Omar melihat bagaimana Nadya menuju kamar tidurnya sambil melepaskan satu persatu pakaiannya hingga benar-benar polos saat masuk kamar.


"Damn it Nadya ! Kamu memang penyihir adrenalin !" umpat Omar yang melepaskan kaos polonya dan menyusul Nadya di kamar.


***

__ADS_1


Omar menciumi punggung Nadya usai melakukan olah raga menjelang sore dan istrinya manyun.


"Kamu kenapa Nad?" tanya Omar saat tahu wajah istrinya tampak galau. "Apa tadi nggak enak?"


"Bukan itu Omar... Tadi enak banget. Masa kamu tidak dengar apa aku teriak berapa kali..."


"Lha terus?" Sejujurnya Omar sangat senang bisa memuaskan istrinya dan Nadya memang ekspresif di ranjang.


"Aku boros shampoooo... Huwaaa..."


Omar melongo. "Astaghfirullah... "


"Kan sehari bisa keramas berapa kali ... Tapi namanya aku juga suka melakukannya jadi kan sudah resiko ya?" gumam Nadya sambil tengkurap.


"Ya memang haru seperti itu, Nadya."


"Lha kamu rambutnya cepak, aku apa kabar suamiku???" rengek Nadya mendrama membuat Omar hanya mengelus punggung istrinya.


"Ya ampun ... Apakah semua keturunan Blair itu memang sebasurd ini ?" keluh Omar mengingat Raveena pun juga sama kalau sudah sok mendrama dengan Feema, sepupu Omar.


"Keturunan Blair itu nggak ada yang jelek !" protes Nadya.


"Fisik nggak, tapi kelakuan kacau Nadya."


"Well, kalau itu nggak bisa diapa-apain..." cengir Nadya dengan wajah tanpa dosa.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2