
Ballroom Acara Pernikahan Bayu dan Ajeng di St Regis Hotel New York
Omar Zidane memegang tangan Nadya erat sebelum berjalan mengikuti Travis Blair. Rahajeng dan Hasina pun mengikuti kedua pria itu menuju ke sebuah ruangan untuk panitia.
"Kamu itu sudah dilamar OZ? Kapan?" tanya Nelson saat menghampiri Nadya yang masih melihat tunangannya mengikuti Travis.
"Sebelum ke Jakarta" jawab Nadya tanpa menoleh ke arah kakaknya.
"Astagaaa.. Kalian itu !" Nelson menatap gemas ke adiknya yang cantik.
"Cincin nya cantik kan mas?" senyum Nadya sambil melihat cincin kedua yang disematkan di jari manisnya.
"Beneran deh kamu Nad ... " Nelson hanya bisa memeluk adiknya. "Be happy bersama Omar ya."
Nadya membalas pelukan Nelson. "Terimakasih semua dukungannya, mas."
"Always, sister... Always."
***
Ruang Panitia
Travis meminta semua orang di dalam untuk keluar dan meninggalkan keempat orang itu di dalam. Travis tampak berjalan mondar mandir dan untuk saat ini dia lebih memilih membela kliennya daripada menjadi jaksa penuntut umum.
"Omar, apakah benar kamu sudah melamar Nadya sebelumnya?" tanya Travis galak.
Rahajeng dan Hasina duduk di kursi sambil menahan nafas melihat amarah Travis.
"Yes Mr Blair. Saya sudah melamar Nadya" jawab Omar tegas. "Saya melamar Nadya, sebelum keberangkatannya ke Jakarta."
Travis dan Rahajeng melongo. "Jadi selama enam bulan kalian itu sudah bertunangan?" tanya Rahajeng tidak percaya sedangkan Hasina terpekik tertahan.
"Omar, jadi saat kamu datang ke rumah merayakan ulang tahun aku, kamu sudah bertunangan dengan Nadya?" Hasina menatap putranya dengan perasaan campur aduk. Antara ingin menghajar atau memeluknya.
"Iya ibu."
Hasina memegang dadanya dan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Astaghfirullah..."
"Tapi cincinnya tidak terlihat cincin tunangan... Mirip cincin yang biasa dipakai Nadya hari-hari..." Rahajeng tampak berpikir. "Hanya cincin itu yang tidak pernah dilepas Nadya. Ternyata... " Ibu cantik itu mengingat jari manis putrinya terdapat cincin sederhana tapi Rahajeng tidak menyangka kalau itu cincin tunangan dari Omar.
__ADS_1
"So, apa rencana kamu?" tanya Travis.
"Mr Blair, saya memang sengaja melamar Nadya di depan semua keluarganya disini bertepatan dengan acaranya Bayu dan Ajeng supaya tidak dua kali kerja. Nadya bercerita pada saya kalau anda ingin saya datang melamar dengan resmi seperti adat keluarga tapi menurut saya, tadi itu adalah moment yang pas. Semua orang berkumpul, jadi tidak perlu ada acara lagi karena secara official saya melamar Nadya menjadi istri saya" ucap Omar panjang lebar.
Travis menghela nafas panjang. Satu sisi dia membenarkan ucapan Omar yang melamar di depan semua anggota keluarganya tapi satu sisi dia merasa kesal di bohongi selama enam bulan terakhir ini.
"Kalian mau menikah kapan?" tanya Travis pada akhirnya.
"Antara Agustus hingga Oktober. Terus terang Sir, saya dan Nadya lebih suka yang sederhana. Mungkin model Sakura dan Alessandro?" Omar menatap tenang ke Travis dan Rahajeng. "Hanya keluarga yang berada di New York dan sahabat. Saya tahu relasi anda banyak, Mr Blair tapi melihat bagaimana pesta hari ini sangat mewah membuat saya berpikir lebih nyaman jika hanya orang-orang terdekat saja."
Travis dan Rahajeng saling berpandangan lalu menatap Hasina yang tampak bingung dengan keputusan yang dibuat putranya dan kekasihnya.
"Bu Hasina, bagaimana?" tanya Rahajeng. "Kami tahu jika kami yang harusnya punya kerja tapi melihat Omar dan Nadya yang lebih suka private dan simpel..."
"Maafkan saya Mr dan Mrs Blair, tapi saya setuju dengan Omar dan Nadya. Yang saya inginkan hanya mereka berdua menikah dengan sah secara agama dan hukum negara." Hasina menatap dua calon besannya. "Sejujurnya saya lebih nyaman seperti itu..."
Travis dan Rahajeng memandang ibu dan anak itu bergantian. "Bagaimana Jeng? Kamu tidak keberatan jika Nadya dan Omar macam Sakura dan Alessandro?"
Rahajeng tersenyum ke arah Travis. "No, yang penting mereka menikah daripada kena gep terus."
Travis tertawa kecut sedangkan Omar mengusap tengkuknya.
"September. Agustus terlalu dekat dengan Bayu" ucap Travis sebelum Omar berbicara.
"Aku setuju." Rahajeng menatap Hasina dan Omar. "Bagaimana?"
"Kami setuju."
***
Omar keluar dari ruang panitia sendirian sedangkan ibunya sedang berdiskusi dengan Travis dan Rahajeng. Omar melihat sudah tidak banyak tamu undangan dan tinggal para keluarga yang bersiap ke Poughkeepsie.
Nadya datang menghampiri Omar dan gadisnya memeluk tubuh kekar pria itu. "Bagaimana? Daddy memukul mu?" Nadya menatap wajah Omar yang masih mulus.
"No."
"Lalu?"
"Kita akan menikah September atau Oktober tergantung hasil rapat orang tua." Omar tersenyum ke arah Nadya.
"Simpel kan? Bukan yang fancy dan mewah kan?" Nadya melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"No. Kita menikah di mesjid saja Nadya. Hanya keluarga New York dan sahabat saja yang datang. Aku tahu kamu lebih nyaman begitu?"
"Resepsi di RR's Meal. That's it." Nadya tersenyum.
"That's it. Aku suka model begitu." Omar mencium bibir Nadya.
"Seriously kalian berdua ! Sabar kenapaaa!" bentak Luke ke arah Omar dan Nadya.
***
Poughkeepsie New York
Omar menggelengkan kepalanya melihat bagaimana keluarga Nadya memilih acara tembak menembak disaat seharusnya pengantin baru menikmati acara malam pertamanya.
Apa besok aku menikah dengan Nadya, juga akan mengalami hal yang sama?
"Kamu kenapa OZ?" tanya Dante sambil memberikan kopi ke Omar.
"Kalian itu. Bukannya membiarkan pengantin baru menikmati acaranya malah kalian gagalkan seperti ini..." Omar menerima kopi dari Dante. "Thanks Dante."
"Well kata Luke, sudah tradisi dari generasi - generasi sebelumnya jadi mereka tetap jalankan. Beruntung Leia itu termasuk paling besar jadi saat kita menikah, adik-adiknya baru jadi bibit durjana, belum jadi biangnya macam sekarang" kekeh Dante.
"Keluarga Leia dan Nadya memang kacau ya" gumam Omar sambil menyesap kopinya.
"Kamu dan Nadya? Sudah mantap?" Dante menoleh ke arah rivalnya dulu.
"Alhamdulillah sudah. Nadya sampai ikhlas pindah dan itu membuat aku terharu ..." Omar menatap ke arah Nadya yang sedang membantu Ajeng cara memasang magazine salah satu pistol sedangkan Bayu, Radeva dan Kai Tarrant, kekasih Yvonne Al Jordan Rogers sedang asyik menembak.
"Be happy Omar. You deserve it" ucap Dante sambil menepuk bahu Omar.
"Thanks Dante."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1