
JFK Airport New York
Pagi ini Nadya akan terbang ke Jakarta dengan ditemani Omar yang mengantarkan gadisnya ke airport. Usai acara merayakan ulang tahun ibu Omar, Hasina, yang secara sederhana tapi bagi Nadya adalah kesempatan untuk mendekatkan hubungannya dengan calon mertua, gadis itu kembali ke Jakarta untuk membereskan kekacauan yang dibuat salah satu pengacara Blair and Blair Advocate.
"Harusnya kamu nggak usah antar deh OZ" ucap Nadya yang hendak masuk ke dalam pintu keberangkatan.
"Ingin saja, Nad. Oh ibuku memberikan ini untukmu... Kemarin dia lupa." Omar menyerahkan sebuah paper bag.
Nadya membuka paper bag itu dan melihat sebuah pashmina. Gadis itu mengambil nya dan tersenyum melihat warnanya yang merupakan favoritnya. "Thanks Omar. Nanti aku telepon Tante Hasina."
"Ibuku sangat senang mendengar kamu sangat serius belajar dan memberikan ini agar kamu semakin Istiqomah..." Omar langsung mendapatkan pelukan erat dari Nadya.
"Terimakasih..." Nadya menatap Omar Zidane dengan mata berkaca-kaca. "Aku sangat terharu..."
"Aku yang berterima kasih... Kamu mau pindah..."
"Itu sudah keputusan aku dan dukungan keluarga aku, kamu dan ibumu adalah sesuatu bagiku."
Omar Zidane mencium kening Nadya. "Aku selalu support kamu, Nad selama itu adalah kebajikan dan kebaikan."
"Aku harus pergi. See you end of January." Nadya tersenyum manis.
"See you..." Omar mencium bibir Nadya lembut dan mesra hingga rasanya tidak ingin ditinggalkan gadis itu tapi dia juga tahu, Nadya hendak menyelesaikan semua proses mualaf nya.
"Love you, princess." Omar melepaskan pagu*tannya.
"Love you too Sphinx." Nadya pun memeluk Omar erat sebelum dirinya masuk ke dalam ruang keberangkatan.
Omar menunggu sampai punggung gadisnya menghilang di banyak orang yang hendak berpergian pagi itu.
Belum ada lima menit, aku sudah kangen saja sama kamu, Nad.
***
Bandara Soekarno-Hatta Jakarta 24 jam kemudian...
Nadya dijemput oleh Arkananta dan mereka pun langsung ke Mansion Giandra. Arkananta bisa melihat sepupunya tampak lelah dan mengantuk apalagi dirinya tiba di Jakarta malam hari.
"Tidur dulu saja Nad. Aku dan Arabella ada di mansion kok apalagi ini kan weekend, aku pasti nginap di Opa dan Oma."
"Tapi aku tidak sabar ingin menghajar orang itu."
"Sabar Nad. Matamu tinggal satu Watt gitu juga" kekeh Arkananta.
__ADS_1
Nadya pun mengangguk dan tampak menyerah dengan aji sirepnya. Setibanya mereka di mansion Giandra, Arkananta pun membangunkan Nadya dan mengancam kalau tidak bangun bakalan tidur di mobil, membuat gadis itu pun terbangun lalu masuk ke dalam kamarnya di mansion Giandra.
***
Nadya sedang sarapan bersama the Giandras saat Omar menelepon nya untuk menanyakan apakah sudah tiba di Jakarta. Gadis itu membalas telepon kekasihnya dengan mengatakan sudah tiba dan sedang sarapan. Omar Zidane menyapa semua orang karena Nadya meloud speaker ponselnya yang dibalas keluarga Giandra.
Setelah mengobrol sebentar, Omar pun pamit membuat keempat opa dan Oma menatap Nadya.
"Serius kamu sama Omar?" tanya Bara.
"Serius lah Opa."
"Sudah bisa menerima kalau Omar bisa nggak pulang karena urus kasus? Ditinggal karena pekerjaan?" Bara mengingat dulu Ghani juga seperti itu apalagi kalau mendapatkan kasus pelik.
"Opa, aku paham banget pekerjaan agen FBI seperti apa. Macam Opa Ghani kan?" Nadya menatap Bara serius.
"Opa senang jika kamu dan Omar bisa saling mengerti beratnya dan resiko pekerjaan masing-masing. Kalian bekerja di bidang yang sangat resiko tinggi, Nadya. Jika tidak ada kewarasan diantara kalian, kalian bisa kacau."
Nadya mengangguk
"Nad, Ethan sudah siap di markas." Arkananta menatap Nadya.
"Thanks mas Arka."
"Iya Opa."
"Go get him, Nad" kompor Anarghya.
"Absolutely Oom."
***
Markas milik Ramadhan Securitas
Nadya datang bersama Arkananta dan Ethan, mantan pengawal Juliet. Mereka masuk ke dalam sebuah bangunan besar yang berada di pinggiran kota Jakarta yang dari luar mirip dengan gudang padahal sebuah markas latihan para pengawal Ramadhan Securitas.
"Nona Nadya, membutuh kan sesuatu?" tanya Ethan.
"Ada baton? Atau gloves?" tanya Nadya.
"Gloves dengan besi ?" tanya Ethan.
"Yes." Nadya tampak dingin membuat Arkananta tersenyum smirk.
__ADS_1
"Right away" jawab Ethan.
Nadya dan Arkananta pun diarahkan ke sebuah ruangan tempat seorang pria duduk dengan baju sudah tampak lusuh.
"Miss Blair, anda masuk sekarang?" tanya seorang pengawal Ramadhan Securitas.
"Tunggu sebentar..." jawab Nadya.
Ethan datang dengan sedikit berlari dan memberikan gloves khusus yang masih dalam bungkusnya. Nadya membukanya dan memakainya.
Military Combat Tactical Gloves.
"Good. Buka pintunya." Nadya menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan.
Pria itu menatap siapa yang masuk dan wajahnya tampak memucat saat tahu orang tersebut.
"Halo, Perry. Bagaimana tinggal dua malam disini? Enak?" Nadya mendekati Perry. "So, sudah tahu kesalahan kamu?"
"Nona Nadya... maafkan saya. Saya benar - benar menyesal..." pinta Perry dengan wajah sangat takut.
"Oh ya? Menyesal karena kamu sudah mendapatkan Rp 20 Milyar?" sindir Nadya sambil memegang tangannya. "We are lawyers. Tugas kita membela klien bukan ikutan di kriminal di dalamnya. Kamu sudah bersumpah, Perry. Gajimu di Blair and Blair sembilan digit untuk ukuran Jakarta, sudah besar belum bonus. Apa masih kurang?"
Nadya mendekati Perry. "Oh ya jelas masih kurang, kalau kamu malam ke club, party dan biaya cicilan Lamborghini, gadis-gadis high class. Dengar Perry, aku tidak perduli dengan kehidupan hedonisme kamu, yang aku perdulikan adalah kamu menyia-nyiakan lisensi pengacara kamu dan kamu mempermalukan biro hukum Blair dan Blair. Kamu..." Nadya memegang bahu Perry dan meremasnya. "Dipecat. Itu yang pertama. Kedua, lisensi pengacara kamu, dicabut, nasional maupun internasional. Ketiga, kamu akan dituntut jaksa penuntut umum bahwa kamu terlibat dengan kasus mereka. Keempat, kami tidak akan membantumu !"
Perry meringis karena bahunya diremas sangat keras oleh Nadya. "Nona Nadya..."
"Kamu tidak akan mendapatkan apapun hanya ruangan pengap penuh dengan orang-orang bau, tingkat stress tinggi, dan mereka akan sangat senang mendapatkan seorang pengacara dengan wajah tampan ... " Nadya menyeringai di depan kaca dua arah dan melihat wajah Perry yang semakin memucat. "You know what I mean kan Perry? Pria-pria haus kasih sayang dan wanita? Kamu sudah tahu kan gosip di penjara seperti apa? Kamu pernah ikut membela klien di Rikers New York... Tahu kan bagaimana?"
Perry tampak menangis karena terbayang hal-hal buruk di penjara.
"So, apakah kamu berpikir kami tidak tahu?! Kamu berurusan dengan keluarga yabg salah, Perry. Masih bagus aku yang datang. Aku tidak yakin Kakakku akan lebih lunak dariku. Pernahkah kamu berpikir sebelum ikutan dengan klien yang kamu bela menjadi kriminal sama dengan mereka?" Nadya berbisik di telinga Perry. "I don't think so. Kamu hanya terbayang, uang yang jauh lebih banyak yang kamu dapatkan demi nafsu hedonisme kamu ! Aku tidak perduli kehidupan kamu diluar pekerjaan tapi, jika saat bekerja kamu ikut menjadi kriminal, you're dead meat !" Nadya semakin keras meremas kedua bahu Perry hingga pria itu berteriak kesakitan.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1